Keluarga Multimedia #2

Ngobrolin sosial media tanpa aplikasi yang satu ini rasanya tidak afdhol, apalagi mengingat jasanya dalam mendekatkan keluarga yang begitu besar, yak aplikasi ini tak lain dan tak bukan adalah:

Whatsapp

Siapa sih yang nggak punya grup keluarga di whatsapp, rasa-rasanya menjadi dekat dengan keluarga merupakan hal yang mudah karena keberadaan aplikasi ini. Terutama bagi mereka yang LDM. Bisa merasa terhubung dan “hadir” di tengah-tengah keluarganya, makan bersama, jalan-jalan bersama serta update tentang keadaan masing-masing.

Namun tetap saja, ada adab sosialisasi yang tetap berlaku, karena jika tidak dijaga, maka bisa menciptakan keretakan di antara keluarga. Apalagi whatsapp kebanyakan bahasa teks, sehingga tidak ada intonasi, dan bisa saja ada perbedaan persepsi atas penggunaan emoji.

Semua Anak adalah Bintang #1

Hamdalah setelah saya menikah merupakan libur panjang dalam sejarah kelas bunsay saya, meski ada yang hampa karena tidak mengerjakan apapun. Tidak pula memeras otak buat mikir “nulis apa lagi ya.” Pun tidak juga dikejar-kejar deadline.

Kali ini saya akan mengerjakan kelas bunsay sebagai Enes yang baru, Enes yang udah jadi istri orang. wkwkwkw. Meski belom punya anak, dan tetep weh sama dengan kelas pranikah, tapi tak apa. Yang penting kita tetap menulis dan mengerjakan.

Di edisi kali ini, saya diharuskan untuk menuliskan tentang kegiatan yang membuat saya berbinar, dan kali ini kegiatan itu adalah ngobrol bersama suamik #eh berkegiatan di dunia pendidikan anak usia dini serta pengembangan ibu muda. Mungkin karena topik ini sangat relatable untuk saya, sehingga saya merasa enjoy menjalankannya. Ditambah lagi, selalu ada hal baru yang bisa saya dapatkan selama menjalankan proses ini.

Prosesnya memang lama dan tak mudah, sepertinya saya pernah menceritakan sepenggal kisah mengenai hal ini. Tapi tak apa, marilah saya ceritakan lagi….

 

Gaya Belajar – Day 3

Lanjut dari postingan sebelumnya, bagaimana sih cara orang tua menumbuhkan rasa tanggung jawab untuk belajar pada anak?

Meski mungkin bapak sama ibu belum tahu ilmunya dulu ketika kami masih kecil, tapi secara tidak langsung bapak dan ibu memberi tahukan pada kami mengenai konsekuensi dari setiap pilihan serta memberikan kebebasan penuh pada kami untuk memilih.

Kami selalu menerapkan setiap masuk ke suatu area baru, kami harus tahu bagaimana cara keluar, pintu darurat dimana saja, dsb. Begitu pula dengan sekolah, ketika kami memilih untuk masuk, bapak dan ibu memberitahukan bahwa jika mau keluar, maka kami harus menyelesaikan 1 tahun ajaran (2 semester), baru diperbolehkan untuk keluar. Kalau masih di tengah-tengah, kami harus bertahan, mencari cara agar bisa fit dengan kondisi yang ada disana.

Kemudian, setiap tahun, saya dan adik-adik pasti ditanya masih mau lanjut di sekolah yang sekarang atau mau berganti? Kalau mau berganti, berganti ke sekolah yang mana? A, B, C atau homeschooling?

Dari situ kami belajar bahwa semua yang kami lakukan harus kami jalani dengan penuh kesadaran, bukan keterpaksaan. Maka dari itu, kami jadi bertanggung jawab untuk menjadi yang terbaik sebagai definisi dari prinsip kami: High energy ending!

Next artikel bakal lebih detil membahas tentang gaya belajar saya dari tahun ke tahun, tunggu ya!

Gaya Belajar – Day 2

Hari ini, di Lebah Putih sudah mulai kegiatan Semester Ceria! Yeay! Buat yang belum tau, Semester Ceria adalah kegiatan PAS (Pelatihan Akhir Semester) ala Lebah Putih yang kadang suka nganeh-nganehi. Untuk kali ini, temanya masih belum bisa move on dari Open House, yaitu…

Treasury Hunting!

Setiap anak nantinya bisa membawa pulang sesuatu ketika sudah menyelesaikan seluruh rangkaian PAS hari itu.

Melihat anak-anak bersiap untuk ujian, saya jadi teringat, biasanya weekend sebelum ujian saya sibuk menghias kamar atau (semenjak UN SD saya jadi suka) spa. Karena menurut penelitian juga, otak akan bekerja dengan lebih baik dalam keadaan rileks, jadi salah banget buat yang suka SKS (sistem kebut semalam) nih.

Oh dan dari dulu sampai sekarang saya tidak pernah merepotkan orang tua untuk belajar, karena saya dan adik-adik sudah dilatih untuk bisa bertanggung jawab dengan cara belajar mandiri. Kami sendiri yang memilih masuk ke sekolah formal, maka bentuk tanggung jawab kami adalah dengan lulus sesuai dengan sistem sekolah tersebut.

Kalau saya senang membuat rangkuman dan mind map jauh-jauh hari sebelum ujian. Biasanya dulu kalau tidak ada PR, saya suka iseng ngerangkum-ngerangkum atau bikin gambar yang memudahkan saya memahami atau menghafal sesuatu. Kebiasaan ini berguna ketika saya sudah kuliah, saya jadi terbiasa untuk membaca materi sebelum masuk ke kelas, meski hanya nge stabilo-stabilo in, tapi udah lumayan lah untuk amunisi.

Gimana sih cara orang tua saya membentuk rasa tanggung jawab untuk belajar? Tunggu post berikutnya ya :)))

Komunikasi Produktif – Day 7

16 September 2018

D-Day

Maaf ya, skip 3 hari dari yang terakhir di tanggal 13 September. Hari ini seluruh keluarga saya sudah berkumpul, dan kami mau mengadakan pesta kebun. Sebagai panitia tunggal (iyes, tunggal, karena pada baru dateng H-3, H-2 dan H-1) saya harus bersabar menghadapi berbagai pertanyaan. Terlebih karena saya menetapkan dress code, sehingga bikin rame peserta yang lain (baca: keluarga besar) wkwkwk.

Di saat seperti ini, saya memilih untuk lebih banyak mendengarkan dan menjawab dengan bahasa yang sudah 3 kali di filter macam minyak goreng ^.^

Ketika hari H, ibu mulai panik pada hal-hal kecil. Di lain sisi, bapak justru sangat menikmati acaranya. Tidak terlalu heboh dengan detil-detil. Saya? Hooo.. Saya tidak bisa bernapas kawan-kawan. Asam lambung langsung naik karena panik. Berusaha untuk tenang. Berusaha untuk tidak heboh sendiri. Which kinda works, but not really. Wkwkwk.

Intinya? Yo nggak ada, penting akeh senyum nek gek kodeng ki. Wkwkwk.

 

Guru dan Mahasiswa

Saya tergelitik dengan istilah yang dipakai di Indonesia, namun sebelumnya, mari kita melihat definisi dari istilah yang dipakai tersebut.

MAHA- /ma.ha-/ bentuk terikat 1. sangat; amat; teramat; 2. besar

GURU – a spiritual teacher; a teacher and especially intellectual guide in matters of fundamental concern; one who is an acknowledged leader or chief opponent; a person with knowledge or expertise

Saya mencoba mencari tahu asal mula dibentuknya kata “Mahasiswa,” namun belum bisa menemukannya. Karena ini unik, di dalam bahasa Inggris, seluruh murid dari TK hingga Universitas dipanggil dengan sebutan students. Begitupula di dalam bahasa lain (hasil coba-coba dari google translate hehe), kalau diketik kata siswa dan mahasiswa tidak ada bedanya. Hanya di Indonesia yang disematkan kata “Maha” yang berarti besar/teramat di belakang kata “siswa.”

Saya membayangkan, dibalik penyematan kata Maha, terdapat pengharapan besar bahwa Indonesia akan menjadi lebih baik di tangan para Mahasiswa. Begitu pula dengan “Guru,” di luar negeri hanya orang yang paling ahli dan dihormati lah yang layak menyandang sebutan Guru, sedangkan pengajar di sekolah-sekolah disebut “teacher.” Di Indonesia, setiap pengajar mendapat sebutan Guru, pahlawan tanpa tanda jasa. Seseorang yang berjuang demi majunya pendidikan rakyat Indonesia.

“Yang paling hebat bagi seorang Guru adalah mendidik, dan rekreasi yang paling indah adalah mengajar.” – K.H Maimun Zubair

Seorang Guru di luar dikenal dengan kebijaksanaannya yang luar biasa, semangatnya yang terus berkobar serta pengetahuannya yang mumpuni. Maka, dibandingkan mengubah istilah, saya lebih senang jika kita memiliki kesadaran untuk bertingkah laku sesuai dengan “jabatan” yang kita sandang tersebut. Karena rumusnya “Be-Do-Have,” menjadi/bertingkah laku sesuai dengan yang kita inginkan (be, then do), sehingga kita layak untuk mendapatkan apa yang kita harapkan (have).

Jadilah seorang Mahasiswa yang layak menyandang status “Maha” dibalik siswa, lebih banyak aksi dibandingkan keluhan. Jadilah seorang Guru yang layak menyandang status “Guru”, bijaksana, semangat serta mumpuni dalam bidangnya. Pantaskan diri agar mampu untuk “digugu lan ditiru.”

Postingan ini saya buat bukan untuk menggurui, melainkan untuk menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa ada tanggung jawab yang dipikul oleh masing-masing gelar. Tugas kita adalah memantaskan diri untuk layak memikul jabatan tersebut.

Selamat Hari Guru 🙂

Memahami Orang Tua

Ada dua mata sisi ketika kita menemui seseorang yang berlaku berbeda dari apa yang dikatakan oleh orang terdekatnya, baik orang tua maupun tetangganya.

Dulu, saya senang sekali ketika seorang anak yang diwanti-wanti memilki sikap yang nakal, justru menjadi anak yang baik di kelas saya. Seringkali saya bercerita dengan nada bangga, “oh enggak kok, di kelas saya anaknya baik banget,” sembari memberikan kesan bahwa mungkin-dia-nggak-nyaman-sama-kamu.

Saya lupa, dan mungkin tidak bisa memahami, bagaimana perasaan sang orang terdekat yang setiap hari berusaha memahami sang anak, dan dengan entengnya saya membantah setiap hal yang dinyatakan oleh orang tersebut. Apalagi saya hanya beberapa kali bertemu dengan anak-anak itu, saya tidak tiap hari berkutat dengan mereka, berusaha menertibkan, rela menjadi si-galak demi bisa menjelaskan mana yang boleh dan yang tidak, menghadapi berbagai trik dan kerewelan mereka. Setiap hari adalah hari yang berat bagi orang tersebut, dan saya justru mengatakan, “ah enggak, anaknya baik kok.” Dan tidak memberi solusi. Betapa jahatnya saya.

Tiba-tiba saya teringat mengenai ungkapan seseorang bahwa, “jangan membandingkan apa yang kamu miliki dengan orang lain. Bisa jadi, kehidupan mereka menyenangkan karena kamu hanya melihat sekilas. Sedangkan ia yang berjibaku setiap harinya, mendapat berbagai tantangan yang harus diselesaikan.”

Hati saya terasa sedih ketika suatu hari seorang ABK (anak berkebutuhan khusus) di Lebah Putih memberikan makanannya pada seorang guru di kelas. Guru tersebut dengan bangga menceritakan pengalamannya. Ia tidak tahu bahwa kemarin saya harus menahan nangis untuk membawa ABK tersebut kembali duduk ke tempat semula. Sang anak yang meronta pulang hingga menendang, memukul, menggigit dan meludahi saya dengan berbagai cara. Melihat saya yang begitu dibenci oleh ABK, saya yang setiap saat berusaha mendekatkan diri dengan ABK tersebut, tapi dia justru memilih orang lain. Rasanya… sesuatu.

Berhati-hati dalam menceritakan, jangan sampai  terselip sombong di dalamnya. Ceritakan yang baik dan tetap menjaga sopan santun.