Membenci Seperlunya, Mencintai Sewajarnya

Seringkali terbersit dalam hati ini komentar di bawah sadar tentang seseorang. Terkadang sebatas “eh cantik,” atau “eh ganteng.” Namun yang saya takuti adalah komentar bawah sadar mengenai ketidak sukaan saya pada seseorang. Meski sejatinya saya tahu bahwa ada yang namanya “frekuensi” yang berperan banyak dalam cocok atau tidaknya kita dengan orang lain. Namun, bukan berarti kita bebas menganggap orang-orang di luar frekuensi kita lebih buruk, atau sekedar anggapan bahwa dia “tidak asik.”

Sesungguhnya kita tidak pernah tahu akan pribadi seseorang 100%, apalagi yang baru sekilas kita temui. Akan selalu ada setitik kebaikan di dalam diri orang paling jahat sekali pun, dan mungkin saja ada keburukan yang tertutupi pada orang yang terlihat sangat baik. Maka, “ojo kagetan, ojo gumunan,” biasa aja terhadap setiap perubahan yang kamu lihat, apalagi pada seseorang.

Membenci seperlunya, mencintai sewajarnya. Karena sesungguhnya kita hanyalah manusia biasa, bukan Nabi. Wajar jika seseorang berbuat salah, wajar jika seseorang merasa kecewa, dan hal yang wajar jika kita tidak disukai. Hal yang pantang adalah memutus silaturahmi. Jangan karena hal sepele jadi saling membenci, bedakan mana yang sunnah dan mana yang wajib. Jangan sampai hal sunnah membatalkan wajibmu.

Hingga saat ini saya pun masih belajar untuk membedakan rasa tidak suka, bahwa yang kita tidak sukai itu sifatnya, perilakunya, agamanya, pilihan hidupnya,┬ábukan orangnya. Dengan begini kita bisa lebih objektif ketika melihat seseorang yang “berbeda” dengan kita. Karena perbedaan merupakan apa yang menyatukan Negara ini bukan?

Selamat merangkul perbedaan dalam tiap lini persahabatan ­čÖé

Advertisements

A Dandelion (4)

Day 3

Tukang-tukang sudah mulai berdatangan untuk meninggikan area mesin cuci serta menambahkan jalur untuk sepeda motor masuk. Sejujurnya, I feel uneasy ketika ada tukang berkeliaran di rumah. Bukan takut kenapa-kenapa, melainkan semakin lama mereka ada disini, semakin banyak pula uang yang kukeluarkan, gimana aku ga cemas hahaha. Belum lagi aku masih ga paham berbagai hal kalau-kalau tukangnya nanya sesuatu. Why having a house could be this hard. Sigh.

Okey, jadi hari ini jadwal aku dan ibu untuk mencari perabotan dapur seperti kompor dan aksesorisnya. Karena sungkan untuk meminta tolong lagi pada om Agus, kami memutuskan bermotor ria ke Mutiara Kitchen mencari berbagai perlengkapan yang diinginkan.

Oh iya, untuk temen-temen yang baru pindah dan nggak punya tempat untuk naruh kompor, mendingan beli meja kompor saja, biasanya tersedia di toko-toko yang jual lemari piring, dkk. Kemarin sayangnya aku udah terlanjur beli di Mutiara Kitchen, harganya Rp 300.000,- tapi bahan dan warnanya ga bagus-bagus amat, bagusan beli di toko-toko kecil itu. Dengan harga yang sama bisa dapet meja yang atasnya keramik dan ada tempat piringnya juga. Irit dan terlihat cantik hehehe (emak-emak banget yak).

Untungnya Mutiara Kitchen punya layanan antar barang, sehingga kami tidak perlu bingung bagaimana cara membawa meja kompor beserta kompor dan peralatan makan itu. Hanya beberapa barang pecah belah yang kami bawa, itupun udah banyak banget. Ditambah lagi dengan berat badan ibu dan rasa takut diboncengin motor sama aku, lengkap sudah penderitaan berkendara ini hahaha.

Kalau misalkan di tempat temen-temen nggak ada jasa antar, jangan khawatir, temen-temen bisa panggil uber/grab car/go car aja, pastikan mobilnya cukup gede ya, biar muat menampung berbagai macam barang.

Oke 1/2 isi rumah sudah mulai ada, lanjut ke A Dandelion (5) yak :*