Komunikasi Produktif – Day 7

16 September 2018

D-Day

Maaf ya, skip 3 hari dari yang terakhir di tanggal 13 September. Hari ini seluruh keluarga saya sudah berkumpul, dan kami mau mengadakan pesta kebun. Sebagai panitia tunggal (iyes, tunggal, karena pada baru dateng H-3, H-2 dan H-1) saya harus bersabar menghadapi berbagai pertanyaan. Terlebih karena saya menetapkan dress code, sehingga bikin rame peserta yang lain (baca: keluarga besar) wkwkwk.

Di saat seperti ini, saya memilih untuk lebih banyak mendengarkan dan menjawab dengan bahasa yang sudah 3 kali di filter macam minyak goreng ^.^

Ketika hari H, ibu mulai panik pada hal-hal kecil. Di lain sisi, bapak justru sangat menikmati acaranya. Tidak terlalu heboh dengan detil-detil. Saya? Hooo.. Saya tidak bisa bernapas kawan-kawan. Asam lambung langsung naik karena panik. Berusaha untuk tenang. Berusaha untuk tidak heboh sendiri. Which kinda works, but not really. Wkwkwk.

Intinya? Yo nggak ada, penting akeh senyum nek gek kodeng ki. Wkwkwk.

 

Advertisements

Guru dan Mahasiswa

Saya tergelitik dengan istilah yang dipakai di Indonesia, namun sebelumnya, mari kita melihat definisi dari istilah yang dipakai tersebut.

MAHA- /ma.ha-/ bentuk terikat 1. sangat; amat; teramat; 2. besar

GURU – a spiritual teacher; a teacher and especially intellectual guide in matters of fundamental concern; one who is an acknowledged leader or chief opponent; a person with knowledge or expertise

Saya mencoba mencari tahu asal mula dibentuknya kata “Mahasiswa,” namun belum bisa menemukannya. Karena ini unik, di dalam bahasa Inggris, seluruh murid dari TK hingga Universitas dipanggil dengan sebutan students. Begitupula di dalam bahasa lain (hasil coba-coba dari google translate hehe), kalau diketik kata siswa dan mahasiswa tidak ada bedanya. Hanya di Indonesia yang disematkan kata “Maha” yang berarti besar/teramat di belakang kata “siswa.”

Saya membayangkan, dibalik penyematan kata Maha, terdapat pengharapan besar bahwa Indonesia akan menjadi lebih baik di tangan para Mahasiswa. Begitu pula dengan “Guru,” di luar negeri hanya orang yang paling ahli dan dihormati lah yang layak menyandang sebutan Guru, sedangkan pengajar di sekolah-sekolah disebut “teacher.” Di Indonesia, setiap pengajar mendapat sebutan Guru, pahlawan tanpa tanda jasa. Seseorang yang berjuang demi majunya pendidikan rakyat Indonesia.

“Yang paling hebat bagi seorang Guru adalah mendidik, dan rekreasi yang paling indah adalah mengajar.” – K.H Maimun Zubair

Seorang Guru di luar dikenal dengan kebijaksanaannya yang luar biasa, semangatnya yang terus berkobar serta pengetahuannya yang mumpuni. Maka, dibandingkan mengubah istilah, saya lebih senang jika kita memiliki kesadaran untuk bertingkah laku sesuai dengan “jabatan” yang kita sandang tersebut. Karena rumusnya “Be-Do-Have,” menjadi/bertingkah laku sesuai dengan yang kita inginkan (be, then do), sehingga kita layak untuk mendapatkan apa yang kita harapkan (have).

Jadilah seorang Mahasiswa yang layak menyandang status “Maha” dibalik siswa, lebih banyak aksi dibandingkan keluhan. Jadilah seorang Guru yang layak menyandang status “Guru”, bijaksana, semangat serta mumpuni dalam bidangnya. Pantaskan diri agar mampu untuk “digugu lan ditiru.”

Postingan ini saya buat bukan untuk menggurui, melainkan untuk menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa ada tanggung jawab yang dipikul oleh masing-masing gelar. Tugas kita adalah memantaskan diri untuk layak memikul jabatan tersebut.

Selamat Hari Guru 🙂

Memahami Orang Tua

Ada dua mata sisi ketika kita menemui seseorang yang berlaku berbeda dari apa yang dikatakan oleh orang terdekatnya, baik orang tua maupun tetangganya.

Dulu, saya senang sekali ketika seorang anak yang diwanti-wanti memilki sikap yang nakal, justru menjadi anak yang baik di kelas saya. Seringkali saya bercerita dengan nada bangga, “oh enggak kok, di kelas saya anaknya baik banget,” sembari memberikan kesan bahwa mungkin-dia-nggak-nyaman-sama-kamu.

Saya lupa, dan mungkin tidak bisa memahami, bagaimana perasaan sang orang terdekat yang setiap hari berusaha memahami sang anak, dan dengan entengnya saya membantah setiap hal yang dinyatakan oleh orang tersebut. Apalagi saya hanya beberapa kali bertemu dengan anak-anak itu, saya tidak tiap hari berkutat dengan mereka, berusaha menertibkan, rela menjadi si-galak demi bisa menjelaskan mana yang boleh dan yang tidak, menghadapi berbagai trik dan kerewelan mereka. Setiap hari adalah hari yang berat bagi orang tersebut, dan saya justru mengatakan, “ah enggak, anaknya baik kok.” Dan tidak memberi solusi. Betapa jahatnya saya.

Tiba-tiba saya teringat mengenai ungkapan seseorang bahwa, “jangan membandingkan apa yang kamu miliki dengan orang lain. Bisa jadi, kehidupan mereka menyenangkan karena kamu hanya melihat sekilas. Sedangkan ia yang berjibaku setiap harinya, mendapat berbagai tantangan yang harus diselesaikan.”

Hati saya terasa sedih ketika suatu hari seorang ABK (anak berkebutuhan khusus) di Lebah Putih memberikan makanannya pada seorang guru di kelas. Guru tersebut dengan bangga menceritakan pengalamannya. Ia tidak tahu bahwa kemarin saya harus menahan nangis untuk membawa ABK tersebut kembali duduk ke tempat semula. Sang anak yang meronta pulang hingga menendang, memukul, menggigit dan meludahi saya dengan berbagai cara. Melihat saya yang begitu dibenci oleh ABK, saya yang setiap saat berusaha mendekatkan diri dengan ABK tersebut, tapi dia justru memilih orang lain. Rasanya… sesuatu.

Berhati-hati dalam menceritakan, jangan sampai  terselip sombong di dalamnya. Ceritakan yang baik dan tetap menjaga sopan santun.

Perjalanan

Sebuah perjalanan kehidupan.

Suatu hari, ada seorang teman yang bertanya pada saya, “apakah pernah kamu menyesali pilihan yang sudah kamu ambil?”

Sebuah pertanyaan klise yang sering ditanyakan pada saya, terutama jika topik pembahasannya adalah tentang saya yang melompati jenjang SMA. Sejujurnya, saya tipe anak yang tidak pernah melihat kembali ke masa lalu dan menyesali segalanya. Saya percaya bahwa setiap orang memiliki jalannya masing-masing. Dan sama seperti sebuah cerita dengan sisi gelap dan terangnya, begitulah kehidupan akan berlangsung. Ketika sedang dalam sisi gelap mungkin kita akan frustasi, tapi jika tidak kita jalani, maka kita tidak akan bisa melangkah ke halaman berikutnya yang mungkin saja merupakan titik yang kita nantikan.

“We live in the present, we think for the future and we learn from the past.”

Saat ini, saya merasa banyak berubah dan berkembang dengan berada di Lebah Putih, menjalani dua peran sebagai guru dan sebagai ketua yayasan. Ketika saya menjadi guru, saya harus menjaga sikap dan perilaku hingga ke detil-detil kecilnya, karena saya merupakan contoh dari anak-anak. Ketika saya menjadi ketua yayasan, saya harus menjaga sikap dan perilaku hingga ke skala besarnya. Mampu mengelola berbagai permasalahan yang ada di sekolah.

Disini saya belajar bahwa banyak hal yang saya sangka tidak mampu untuk saya lakukan, ternyata bisa. Seperti menghafal nama. Dalam satu kelas terdapat kurang lebih 20 anak, saya memiliki waktu 1 hari untuk menghafal minimal separuhnya, karena harus memanggil nama, menegur, dsb. Dan surprisingly, saya bisa. Setelah 10 tahun lebih saya selalu melupakan nama orang yang pertama kali berkenalan dengan saya. Ternyata bukan karena saya tidak mampu, namun saya tidak mau. Saya secara tidak sadar menempatkan itu ke dalam hal tidak penting, sehingga membuat saya selalu gagal dalam melakukannya.

Ini menjadi titik balik bagi saya, bahwa selama saya mau melakukan sesuatu, tentu saya akan bisa melakukannya. Kalaupun sulit, saya pasti akan menemukan caranya.

Being a teacher is surely hard, but then again, it remind us to keep learning, no matter how old we are.

Today, I learn and grow from being a teacher, who knows what I will gonna do in the future. But, whatever it is, I just wanna keep doing the best of it.

Baginda Raja dan Negeri Porak Poranda

Bolehkah aku menyampaikan sesuatu baginda Raja? Sebuah rasa yang kupendam dan kebingungan yang tak kunjung hilang. Sebuah mimpi yang hanya jadi angan, tentang Negerimu yang terombang-ambing oleh jaman. Di saat anak muda tak lagi paham makna berbeda dan dan para sesepuh tak lagi mampu untuk bersatu.

Kenapa kami tak lelah mencela sesama, tapi lupa untuk memperbaiki diri dan lingkungannya? Kenapa kami begitu ambisius untuk dianggap benar, padahal kebenaran hanya milik Allah semata? Kenapa tujuan kami sama namun tak boleh mengambil jalan yang berbeda, meski seribu jalan terbentang menuju Roma, Yang Mulia?

Haruskah kami kembali terjun ke dalam jurang kesulitan untuk dapat memaknai kebahagiaan? Atau perlukah untuk darah tertumpah sebelum kami paham bagaimana cara meminta maaf? Kekuasaan semu yang dikejar seluruh penjuru Negeri ini, melalaikan mata dan hati kami bagaimana cara untuk berbagi. Semua berlomba menjadi Robinhood, dermawan dengan uang colongan. Apakah itu Negeri yang Engkau inginkan Baginda?

Bantu hamba, Baginda. Bantu hamba untuk menjadi bagian dari perubahan yang mampu memancarkan cinta bagi semesta. Meski hamba sadar bahwa akan banyak aral melintang, namun jangan hilangkan rasa cinta hamba kepada NegeriMu, Baginda. Karena hanya rasa itu yang tersisa di antara porak poranda, hanya rasa itu yang mampu menghapuskan kebencian yang melanda.

Sekian hamba bercerita, salam dan kehormatan selalu terlantun untuk Baginda.

Membenci Seperlunya, Mencintai Sewajarnya

Seringkali terbersit dalam hati ini komentar di bawah sadar tentang seseorang. Terkadang sebatas “eh cantik,” atau “eh ganteng.” Namun yang saya takuti adalah komentar bawah sadar mengenai ketidak sukaan saya pada seseorang. Meski sejatinya saya tahu bahwa ada yang namanya “frekuensi” yang berperan banyak dalam cocok atau tidaknya kita dengan orang lain. Namun, bukan berarti kita bebas menganggap orang-orang di luar frekuensi kita lebih buruk, atau sekedar anggapan bahwa dia “tidak asik.”

Sesungguhnya kita tidak pernah tahu akan pribadi seseorang 100%, apalagi yang baru sekilas kita temui. Akan selalu ada setitik kebaikan di dalam diri orang paling jahat sekali pun, dan mungkin saja ada keburukan yang tertutupi pada orang yang terlihat sangat baik. Maka, “ojo kagetan, ojo gumunan,” biasa aja terhadap setiap perubahan yang kamu lihat, apalagi pada seseorang.

Membenci seperlunya, mencintai sewajarnya. Karena sesungguhnya kita hanyalah manusia biasa, bukan Nabi. Wajar jika seseorang berbuat salah, wajar jika seseorang merasa kecewa, dan hal yang wajar jika kita tidak disukai. Hal yang pantang adalah memutus silaturahmi. Jangan karena hal sepele jadi saling membenci, bedakan mana yang sunnah dan mana yang wajib. Jangan sampai hal sunnah membatalkan wajibmu.

Hingga saat ini saya pun masih belajar untuk membedakan rasa tidak suka, bahwa yang kita tidak sukai itu sifatnya, perilakunya, agamanya, pilihan hidupnya, bukan orangnya. Dengan begini kita bisa lebih objektif ketika melihat seseorang yang “berbeda” dengan kita. Karena perbedaan merupakan apa yang menyatukan Negara ini bukan?

Selamat merangkul perbedaan dalam tiap lini persahabatan 🙂

A Dandelion (4)

Day 3

Tukang-tukang sudah mulai berdatangan untuk meninggikan area mesin cuci serta menambahkan jalur untuk sepeda motor masuk. Sejujurnya, I feel uneasy ketika ada tukang berkeliaran di rumah. Bukan takut kenapa-kenapa, melainkan semakin lama mereka ada disini, semakin banyak pula uang yang kukeluarkan, gimana aku ga cemas hahaha. Belum lagi aku masih ga paham berbagai hal kalau-kalau tukangnya nanya sesuatu. Why having a house could be this hard. Sigh.

Okey, jadi hari ini jadwal aku dan ibu untuk mencari perabotan dapur seperti kompor dan aksesorisnya. Karena sungkan untuk meminta tolong lagi pada om Agus, kami memutuskan bermotor ria ke Mutiara Kitchen mencari berbagai perlengkapan yang diinginkan.

Oh iya, untuk temen-temen yang baru pindah dan nggak punya tempat untuk naruh kompor, mendingan beli meja kompor saja, biasanya tersedia di toko-toko yang jual lemari piring, dkk. Kemarin sayangnya aku udah terlanjur beli di Mutiara Kitchen, harganya Rp 300.000,- tapi bahan dan warnanya ga bagus-bagus amat, bagusan beli di toko-toko kecil itu. Dengan harga yang sama bisa dapet meja yang atasnya keramik dan ada tempat piringnya juga. Irit dan terlihat cantik hehehe (emak-emak banget yak).

Untungnya Mutiara Kitchen punya layanan antar barang, sehingga kami tidak perlu bingung bagaimana cara membawa meja kompor beserta kompor dan peralatan makan itu. Hanya beberapa barang pecah belah yang kami bawa, itupun udah banyak banget. Ditambah lagi dengan berat badan ibu dan rasa takut diboncengin motor sama aku, lengkap sudah penderitaan berkendara ini hahaha.

Kalau misalkan di tempat temen-temen nggak ada jasa antar, jangan khawatir, temen-temen bisa panggil uber/grab car/go car aja, pastikan mobilnya cukup gede ya, biar muat menampung berbagai macam barang.

Oke 1/2 isi rumah sudah mulai ada, lanjut ke A Dandelion (5) yak :*