Menentukan Prioritas

Berbagai pekerjaan akan lebih efektif hasilnya ketika kita mengetahui prioritas-prioritas di dalamnya. Untuk bisa menentukan prioritas bukanlah hal yang mudah, karena kita harus tahu tujuan dari pekerjaan tersebut. Begitu pula dengan hidup, jika kita tidak memiliki tujuan, maka akan sulit bagi kita untuk menentukan prioritas.

Dalam artikel ilmu dan saya, saya sudah menentukan jurusan apa yang akan saya ambil dalam hidup ini. Kali ini, saya akan coba untuk mengurutkan apa saja prioritas dalam hidup saya. Sebelumnya, mari kita list 3 aktivitas yang paling penting dan 3 yang paling tidak penting:

AKTIVITAS PENTING

  1. Setrika : calming and relaxing, karena bisa sambil nonton film
  2. Membaca/Menulis : produktif, menghasilkan suatu karya
  3. Silaturahmi : bisa mengenal lebih banyak orang, membuka pintu rejeki

AKTIVITAS TIDAK PENTING

  1. Memasak : memakan waktu lama, padahal bisa digantikan dengan beli jadi (tapi gak sehat)
  2. Bersih-bersih rumah : menghabiskan waktu dan besok kotor lagi
  3. Pasang kancing baju : karena belum ahli jadi satu baju bisa sampai 1 jam (biar nggak miring bajunya)

Oke, agar saya bisa lebih fokus dalam mengerjakan aktivitas-aktivitas penting, saya perlu handle dulu nih hal-hal tidak penting dalam hidup saya ini. Untuk mempersingkat waktu, bersih-bersih rumah cukup lah dua hari sekali (please don’t judge me on this :p), bersih-bersih medium (include bersihin WC dan kaca) dua minggu sekali, dan bersih-bersih super (ganti sprei, bersihin taman, pokoknya total deh) sebulan sekali.

Masak biar nggak bingung akan dibuat jadwal menu 10 hari, easy and fun 5 minutes cooking. Setiap bahan-bahannya kalau bisa dipotongin dulu malemnya, jadi tinggal masuk-masukin aja pas masak.

Nah ini yang paling heboh, pasang kancing baju… Mmm… Harus diapain ya? Sepertinya saya harus meningkatkan skill untuk sementara ini, besok-besok sekalian dipasang pas ngelubang kancing aja kayaknya deh.

Next, mari kita bikin gambaran besar dari jadwal harian saya.. Cring!

  • 04.00 – 06.00 Sholat, Ngaji, Olahraga
  • 06.00 – 06.30 Bersih-bersih rumah
  • 06.30 – 07.00 Bersih-bersih badan
  • 07.00 – 08.00 Dhuha time
  • 08.00 – 12.00 Working Time
  • 12.00 – 13.00 Istirahat
  • 13.00 – 16.00 Working Time
  • 16.00 – 18.00 Study Time
  • 18.00 – 19.30 Pray Time
  • 19.30 – 21.00 Me Time
  • 21.00 – 04.00 Sleep Time
Advertisements

Life Curriculum

Sounds so serious isn’t it? Yaps, because life is serious, so I better be too. Dapet tantangan lagi dari Ibu Profesional untuk membuat kurikulum pembelajaran kami sendiri. Well, it kind of frustating tho to structured what I’ve to do, as I usually just live as it is… Never plan anything so serious. But then I think, why not to give it a try, if we want to be professional, we need to really understand what we are doing right? So we won’t make other people go to the wrong way just because we say so.

Okay, jadi disini  karena saya mengambil dua kurikulum pembelajaran, maka saya akan mulai dengan yang paling pertama dulu pranikah.

Setelah berbagai pengalaman yang dialami sendiri maupun mendengarkan cerita dari orang lain, saya menemukan bahwa terdapat 5 tahapan penting dalam pranikah.

  1. Profiling

Dalam tahapan ini, kami harus mengenal lebih dalam tentang diri sendiri, lingkungan serta masa lalu kita. Seiring berjalannya waktu, mulailah mencatat kelebihan diri sendiri, kekurangan, hal yang disukai, masa lalu yang ingin dihindari, trauma, dsb.

Jika dirasa terlalu berat untuk dilakukan sendiri, kita bisa meminta tolong kepada orang lain, seperti sahabat, orang tua, maupun psikolog untuk membantu kita mengisinya. Bisa juga dengan menggunakan alat assessment yang sudah disediakan, seperti talent mapping, 16 personality, dsb.

  1. Accepting

Setelah mengetahui dengan baik tentang diri kita, lingkungan dan masa lalu, sekarang saatnya untuk menerima segalanya. Nggak gampang dan butuh waktu lama, tapi jika tidak dimulai, maka hal ini tidak akan pernah selesai.

Again, jika dirasa terlalu berat, kita bisa minta bantuan professional kok.

  1. Communicating

Akan banyak hal yang harus dikomunikasikan dengan calon, keluarga, keluarga dari calon maupun keluarga besar. Kita harus belajar cara berkomunikasi efektif, sehingga bisa menyampaikan apa yang dimaksud dengan baik tanpa menyinggung siapapun.

Ini nggak gampang, apalagi tipe-tipe perempuan seperti saya yang biasa hidup sendiri, sehingga nggak terlalu  peduli dengan perasaan orang lain. Huft, hayati yeyah.

  1. Evaluating

Setelah dapat apa yang diinginkan serta menyusun tahapan untuk mencapainya, sekarang kita harus tahu nih, posisi kita ada dimana. Misal, keuangan kita (aku dan calon-yang masih dinanti) bagaimana, dari segi pendidikan ada yang ingin dipelajari bersama kah? Dan hal-hal lainnya.

  1. Team Building

Di tahap ini, kami melakukan projek bersama agar team jadi semakin solid. Ada yang prefer dilakukan setelah menikah, tapi bagi yang mau, bisa juga kok dilakukan saat sebelum menikah. Misalkan menulis buku bersama atau membuat bisnis bersama (untuk yang satu ini pembagian keuangannya harus jelas ya, karena belum sah kan, jadi bisa pisah kapan aja… orang yang udah sah juga masih bisa pisah).

 

Masing-masing tahapan tidak ada waktu yang pasti kapan harus dilakukannya, idealnya sih 2-3 bulan, sehingga betul-betul memahami diri sendiri dan juga pasangan.

 

Tadi itu bagian pranikahnya, sekarang kita masuk ke fashion bisnis. Sebenernya disini masih ngawang banget sih, soalnya baru 4 bulan terjun di area ini, kalau bayi berarti baru bisa bolak-balik tengkurep. Huhuuu.

 

Disini aku ga terlalu rinci kayak diatas ya, kurang lebihnya seperti ini:

  1. Team Building

Disini dilakukan di awal karena jika team saja belom terbentuk, jangan muluk-muluk mikir mencapai target deh.

Cara yang dilakukan bisa berbagai rupa, mulai dari ngobrol bareng, ngadain sesi diskusi, atau saling share mimpi masing-masing dengan bergabung dalam team ini.

  1. System Building

Dengan sistem yang kuat, kita nggak akan bergantung pada orangnya, jadi bisnis akan tetap berjalan meskipun ada karyawan/partner yang keluar.

  1. Marketing and Production

Dua hal ini yang menopang hidup suatu bisnis, makanya saya sangat concern dengan dua hal ini. Apalagi dijaman sekarang marketing sudah sangat banyak caranya, jadi kita harus bisa menentukan akan bermain di ceruk yang mana.

  1. Innovating

Ini tahap terakhir untuk mempertahakan keberadaan dan market share sebuah perusahaan. Di tahap ini butuh orang yang sangat kreatif serta bisa membaca tren ke depannya agar perusahaan bisa tetap hidup.

 

Masih rough banget ya, nanti deh di detailinnya. Untuk sekarang segitu dulu ya, lagi super duper banyak yang harus dikerjain. Hayati bingung. Huehehe.

 

See ya next Saturday.

Tantrum

Kata tantrum merupakan hal yang tak lagi asing di kalangan para orang tua. Tantrum sendiri merupakan hal alamiah yang dialami setiap anak pada usia dini (10 bulan – 4 tahun) ketika sang anak bingung untuk mengekspresikan emosi yang ia rasakan. Ketika anak masih tantrum pada usia-usia balita ke atas, bisa jadi menandakan bahwa ada yang salah dengan pola asuh anak tersebut.

Saya sendiri dulu masih sering tantrum hingga kelas 5 SD, ketika saya tantrum, pasti saya akan mencari objek untuk dilayangkan atau dibanting. Pernah satu kali saya tidak dapat mengerjakan soal matematika dan tidak ada orang yang bisa saya tanyai, seketika saya bingung dan tidak tahu harus bagaimana sehingga emosi meluap dan menghancurkan seisi kamar saya.

Nah, sebetulnya gimana sih cara mencegah anak agar tidak menjadi-jadi ketika tantrum? Berikut beberapa cara yang dilakukan pak Dodik dan bu Septi selaku “ketua geng” Padepokan Margosari:

1. Lakukan komunikasi yang “selesai” dengan pasangan

Komunikasi yang berbeda antara ayah dengan bunda dapat membuat anak bingung sehingga semakin memperparah emosinya. Contoh, ketika anak merengek pada ibu tidak dihiraukan, namun ketika melakukannya pada ayah selalu membuahkan hasil.

Artikel mengenai pola komunikasi keluarga dapat dilihat disini

2. Ajarkan anak untuk meminta dengan baik

Sebagai orang tua anda harus tega dan mampu menahan emosi ketika anak sudah mulai tantrum. Jangan pernah meladeni sikap tantrum anak, apalagi buru-buru memberikan apa yang ia minta. Tunggu beberapa saat hingga emosinya mereda (anda hanya perlu memastikan tidak ada barang-barang berbahaya disekitarnya), kemudian ajak anak berdiskusi tentang perilakunya tesebut. Buatlah kesepakatan bersama mengenai sikap yang baik ketika meminta sesuatu.

3. Beritahukan kepada anak beberapa cara untuk menyalurkan emosinya

Karena saya bukanlah anak yang senang mengungkapkan sesuatu secara verbal, maka saya menggunakan tulisan sebagai media untuk mengungkapkan berbagai hal yang saya rasakan. Kala itu, saya diajarkan oleh ibu untuk membuat blog, dimana saya bisa mencurahkan seluruh pikiran saya dengan bebas, dan yang terpenting, orang tua bisa memantau emosi anak melalui blog tersebut.

Itu untuk kasus saya, untuk kasus putra-putri ayah bunda bisa berbeda lagi, so, let’s find out!

4. Puji anak ketika ia berbuat benar

Ketika anak sudah meminta dengan baik, maka respon anak dengan sikap yang positif. Seperti memberikan apa yang ia minta, jika belum mampu, maka anda harus menjelaskan alasannya kepada anak. Jangan sampai anak berpikir bahwa, “ah meminta secara baik juga ternyata tidak di respon, sama saja.”

5. Konsisten

Ini nih, hal yang seringkali menjadi hal yang paling susah bagi orang tua, konsisten dengan apa yang sudah disepakati. Entah karena tekanan ekonomi, emosi kita yang sedang labil, atau bisa juga karena gengsi sehingga mengesampingkan apa yang sudah disepakati.

Kembali ke point nomer 1, hal ini dapat memunculkan kebingungan dan rasa tidak percaya anak kepada orang tuanya. Tentu kita sebagai orang tua tidak ingin hal itu terjadi bukan?

 

Yang paling mengetahui tentang anak adalah orang tuanya sendiri, maka dari itu wajib bagi ayah bunda untuk mendampingi putra-putrinya terutama diumur 0-12 tahun, dimana anak masih sangat membutuhkan orang tuanya.

Starting From Km 0

Dalam artikel “Ilmu dan Saya”, saya mendedikasikan diri saya untuk mempelajari perihal pranikah sembari menunggu sang pangeran datang. Selain ilmu pranikah, saat ini sendiri saya sedang menekuni bidang fashion melalui media Busana Eneska, baju keluarga/sarimbit custom untuk menunjukkan keunikan keluarga ayah dan bunda.

Sebagai perwujudan dari kesungguhan saya dalam mempelajari jurusan yang telah saya pilih di dalam universitas kehidupan ini, saya membuat checklist dari berbagai hal yang harus saya lakukan secara konsisten di “Menjadi Saya, Menjadi Istri dan Menjadi Ibu“. Meski semangat masih membara, namun prakteknya saya masih belum konsisten menjalankan apa yang saya tulis tersebut. Beberapa hari ini saya masih sibuk mengatur ritme bekerja serta belajar saya, sehingga seringkali saya justru melewatkan berbagai hal yang sudah saya tulis. Ah… Saya perlu mulai melakukan apa yang saya tulis tersebut mulai dari sekarang. Bismillah.

Yang paling seru tentu saja di artikel “Hai Calon Imam”, tolong itu lirikannya nggak usah penuh arti begitu, iya saya tahu saya jomblo. Memiliki misi hidup sebagai seorang “pembabat alas”, tentu bukan sesuatu yang mudah, namun saya yakin Allah telah memberikan tools yang saya butuhkan dalam menjalankan misi tersebut.

Di artikel kali ini, saya akan membahas lebih lanjut mengenai misi hidup. Selama ini saya sering diributkan dengan bidang apa yang harus saya tekuni, karena tergiur dengan ucapan berbagai orang sukses bahwa, “pekerjaan yang paling menyenangkan adalah hobi yang dibayar.” Akhirnya saya sibuk mencari hobi apa yang sangat saya sukai hingga membawa saya menuju kesuksesan.

Namun ternyata, itu hanya menghabiskan waktu saya – yang tidak banyak – dan menjadi excuse bagi saya menolak berbagai hal yang hadir di depan saya karena “nggak gue banget.” Akhirnya, sejak saya tinggal di Singapura, saya berusaha untuk melakukan berbagai hal yang hadir di depan saya dengan sebaik-baiknya, siapa tahu dari situlah jalan hidup saya bermula. Dan saya pun masuk ke Shafira Corporation karena bertemu dengan foundernya yang ciamik, ibu Feny Mustafa, di detik-detik terakhir menjelang kelulusan.

Hampir dua tahun saya mengeksplorasi dunia kerja bersama Shafco, hingga akhirnya saya lulus pada Agustus 2016 lalu dan mulai membuka usaha saya sendiri di bidang baju keluarga. Awal mulanya cukup simpel, bisa dilihat di “Awal Mula Busana Eneska,” disitu saya menceritakan berbagai pertimbangan kenapa memilih bidang ini, meski awalnya saya sangat buta mengenai fashion.

Seiring berjalannya waktu, saya semakin meyakini bahwa apapun bidangnya, saya terlahir dengan peran sebagai seorang pembabat alas, yaitu mereka yang memasuki hal baru dan setting up the system. Dengan peran tersebut, apapun bidang yang saya masuki, saya harus sadar diri bahwa saya akan selalu mengalami masa-masa berat meraba dan mempelajari berbagai hal yang di luar jangkauan saya.

Setiap manusia hebat pasti berjalan dari KM 0, tidak ada kesuksesan yang tiba-tiba. Maka, saya perlu menentukan KM 0 saya, agar saya tahu kapan saya akan sampai ke tujuan. Menilik ke life plan saya sendiri, saya ingin sukses (dengan artian dapat melepas bisnis secara mandiri) di usia 25 tahun, 5 tahun kurang dari sekarang. Jika sebulan saya bekerja selama 25 hari, maka saya memiliki waktu kurang lebih 56 bulan lagi, atau 1.400 hari untuk menggapai mimpi saya. Jika menurut teori, seseorang bisa sukses setelah 10.000 jam, maka saya harus mendedikasikan waktu 7 jam setiap harinya agar bisa sukses di usia 25 tahun.

Karena ada 2 jurusan yang saya ambil, maka saya akan membaginya ke dalam 7 jam pranikah dan 4 jam desain dan textile.

KM 0 saya akan saya mulai pada Senin, 14 November 2016. Sepanjang KM 0 – KM 1 (1 tahun), saya akan mempelajari tentang: berbagai macam jenis kain, design, dan ilmu management. Dari sisi pranikah sendiri, saya akan menulis buku, serta menuntaskan ilmu komunikasi pranikah, bagaimana caranya saya berkomunikasi dengan suami, anak, saudara dari suami, keluarga dari suami, mertua, serta keluarga kita sendiri. Karena saya kelak akan menjadi representatif dari keluarga kandung saya dan juga keluarga kecil saya sendiri.

Bismillah, langkah-langkah awal memang tidak selalu mudah, namun jika bisa konsisten berjalan selangkah demi selangkah, insyaa Allah kita akan mencapai tujuan.

Hai Calon Imam

Hai calon imam, meski kita belum bertemu, bolehkah aku menulis sepatah dua patah kata tentangku yang mungkin perlu kau ketahui. Berjaga-jaga saja, siapa tahu saking gugupnya aku ketika bertemu denganmu, ada hal-hal yang lupa untuk kukatakan. Jika itu terjadi, kau bisa melihatnya disini, tentangku dan anganku tentang kita. Selamat membaca, calon imam.

Aku terlahir dari rahim seorang ibu yang luar biasa, beliau tidak hanya menjadi idolaku, tapi juga idola banyak ibu dan calon ibu di luar sana. Bapakku adalah imam keluarga yang tangguh, melalui ide-ide dan keteguhan prinsip beliau lah keluarga kami bisa menjadi seperti sekarang. Aku sendiri, seorang gadis belia yang masih meraba-raba jalan hidupnya. Tidak jarang aku tersesat dan harus berbalik arah untuk kemudian kembali ke jalur hidupku. Seorang pembuka jalan.

Terlahir sebagai anak pertama membentuk diriku dengan sifat keras kepala dan selalu menyukai tantangan. Ketika adik-adikku hanya menempuh satu atau dua jenis pendidikan, aku sudah mencoba sekitar 4 jenis diantaranya: formal swasta, formal negeri, pesantren dan homeschool. Selepas SMP aku memutuskan untuk kuliah di luar negeri, bukan… bukan karena rencana, lebih karena nekat. Gimana nggak nekat, tanpa kenalan, tanpa saudara, hanya berbekal bahasa inggris seadanya dan modal keras kepala. Takut? Iya. Sedih? Iya. Mundur? Pantang!

Itulah aku dan sedikit dari kisahku yang bisa kuceritakan padamu. Jika kau bersedia mendampingiku, maka kamu akan resmi menjadi imam dari seorang Oda Nobunaga versi perempuan (just to give you clue). Sanggupkah dirimu? Tidak akan pernah mudah, karna aku ditakdirkan untuk hidup keras, penuh tantangan. Namun aku janji untuk melewati segalanya bersamamu, aku juga akan berusaha sekuat tenaga untuk memahamimu.

 

Jadi, jika kamu sanggup…. Selamat datang di duniaku, Calon imamku….

Menjadi Saya, Menjadi Istri dan Menjadi Ibu

Sebagai seorang the bright bride to be, tentu saja saya tidak boleh berleha-leha dan terus bergerak menjadi versi diri yang lebih baik. Sudah dua minggu ini saya mengikuti kelas matrikulasi IIP Bandung, sungguh luar biasa melihat semangat para ibu untuk terus belajar dan belajar. Tugas-tugas yang diberikan juga tidak main-main, it really feels likethe old time, back when I was in University.

So, tugas kali ini cukup menyita pikiran, karena saya harus membayangkan apa yang harus saya perbaiki dari diri saya andai kata saya adalah seorang istri DAN seorang ibu. Jeng-jeng-jeng, waktunya memejamkan mata dan mencoba melompati waktu dimana saya sudah memiliki suami dan anak. Rasanya lucu, karna wajah suami seperti apa saja masih belum terbayang (jomblo cuy). Bismillah, mari kita menjelajah waktu…

Yang harus saya perbaiki dari segi:

INDIVIDU

  • Tidak tidur setelah shubuh dan mengisi kegiatan dengan membaca/mengaji
  • Mengikuti kelas/seminar tentang parenting tiap minggu.
  • Menulis di blog 1D1P serta menulis buku min. 2 halaman per hari
  • Menghafal Qur’an minimal 1 Ayat 1 Hari

(ANDAI) ISTRI

  • Mempelajari ilmu komunikasi dengan pasangan, sehingga meminimalisir adanya konflik
  • Membuat goals bersama setiap minggunya
  • Mempelajari 2 menu masakan baru tiap minggu
  • Belajar untuk mendengarkan dan mengapresiasi setiap suami bercerita

(ANDAI) IBU

  • Belajar cara mendongeng
  • Mempelajari 1 mainan anak setiap harinya
  • Belajar mendengarkan dan mengapresiasi setiap anak bercerita
  • Belajar 2 menu baru tentang bekal anak setiap minggunya

Wow… Rasanya lucu ketika membayangkan hal-hal tersebut. Bercerita bersama suami, bermain bersama anak, fun cooking bersama. Kya kya, jadi makin ga sabar nih.

Untuk target individu akan dilakukan rutin selama 3 bulan, mempelajari ilmu komunikasi sebagai istri, mendongeng, dan mainan anak akan dimulai dari sekarang, targetnya nanti saat menikah sudah bisa menguasai hal-hal tersebut. Sisanya, nunggu pangerang dateng dulu ya, yuhuuu~

All of these will be reviewed every 3 months.

 

 

Ilmu dan Saya

“Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat”

Menuntut ilmu merupakan hak (saya lebih suka menyebut demikian, karena nature kita untuk menghindari kewajiban dan menuntut hak-hak kita hihi) bagi setiap manusia yang lahir di bumi ini. Tanpa pandang bulu, tanpa terkecuali. Seringkali kita mengkaitkan ilmu pada suatu tempat tertentu, seperti sekolah, tempat pengajian, dsb. Padahal, sejatinya kita bisa menuntut ilmu dimana saja, kapan saja, dengan siapa saja, bahkan dari orang yang kita benci sekalipun. Saking banyaknya sumber ilmu di dunia ini, sehingga seringkali kita bingung akan apa yang mau difokuskan.

 

Saya sendiri sangat menyukai dunia pernikahan baik dari persiapannya, hari H, hingga setelahnya. Karena saya merasa ada banyak hal yang bisa dipelajari berkaitan dengan hal ini. Mungkin juga karena saya sendiri masih terus mempersiapkan diri menuju hari istimewa tersebut, sehingga saya menjadi lebih fokus mempelajari ilmu-ilmunya. Yang pasti, alasan terkuat saya untuk terus belajar untuk kelak menjadi makmum terbaik bagi imam saya serta ibu terbaik bagi malaikat-malaikat kecil semata karena saya tidak ingin menyesal karena telah menelantarkan amanah yang diberikan oleh Allah SWT. Ketika Allah gerakkan hati seseorang untuk datang mengetuk pintu rumah saya dan melamar saya, saya yakin bahwa Allah percaya saya akan menjadi pendamping terbaik bagi seseorang itu. Ketika Allah tiupkan ruh pada mahluk kecil di rahim saya, saya yakin bahwa Allah percaya saya mampu menjadi ibu terbaik bagi bayi-bayi kecil tersebut.

 

Untuk mendapatkan kepercayaan tersebut tidaklah semudah membalik tangan, karena sangatlah berbahaya ketika sebuah tanggung jawab diberikan dalam keadaan tidak siap. Tentulah banyak hal yang harus saya persiapkan dimulai dari hari ini, akan ada biaya yang WAJIB disisihkan untuk menuntut ilmu, akan ada waktu dan tenaga yang dikorbankan. Sayangnya, semangat pasti akan naik dan turun seiring berjalannya waktu, untuk itulah saya membentuk komunitas The Bright Bride, wadah bagi calon para mempelai wanita untuk saling sharing dan menuntut ilmu bersama. Dari kelompok inilah diharapkan lahir calon-calon ibu yang siap untuk mendidik generasi-generasi penerus bangsa.

 

Ilmu tidak akan datang pada ia yang menolaknya (meski secara tidak sadar), maka dari itu saya harus terus memperbaiki adab dalam menuntut ilmu. Satu hal jelek saya adalah ketidak mampuan untuk mendengarkan dan menganggap enteng suatu ilmu yang sedang disampaikan (seringkali malah fokus ke hal-hal yang OOT). Karena itu, mulai dari sekarang saya akan mencoba untuk mendengarkan dan menerima dulu semua hal yang disampaikan dalam forum ilmu, baru saya saring kemudian. Membuka rasa ingin tahu sebesar-besarnya, agar lebih banyak lagi ilmu yang bisa diserap.

Terus belajar, terus semangat. The Bright Bride, be the right bride

 

Bandung, 22 Oktober 2016

Tugas dari kelas Matrikulasi IIP Batch 2