A Dandelion (5)

Day 4

Hari ini ibu harus pulang, meski aku berusaha untuk nggak menunjukkannya, tetap saja ada rasa takut tinggal di rumah ini sendirian. Mana sepanjang jalanan baru ada 3 rumah, satu di kanan dan satu di kiriku, di depan rumahku hanya bukit ilalang dengan berbagai kunang-kunang yang berkelap kelip menghias sang malam.

Untungnya, berawal dari rasa tak tega, akhirnya ibu mengirim Ara dan Elan untuk gantian menemaniku, hitung-hitung aku belajar untuk beradaptasi terlebih dahulu, sebelum akhirnya benar-benar berani sendiri.

Ibu pulang bertepatan dengan pagar raksasa yang menakjubkan itu datang. Ia menakjubkan bukan hanya karena ukurannya, tapi juga harganya yang mencapai 5 juta itu!!! Betulkan, semakin lama tukang-tukang itu disini makin pening pula kepalaku. Antara bingung dan cemas bercampur, aku dan ibu mulai berdebat, suasana tidak terlalu menyenangkan. Ah.. Aku jadi tidak bisa tenang kalau begini caranya. Om Agus membantuku mencari solusi, mulai dari meringankan beban biayaku sampai ide untuk menjual pagarnya setelah selesai masa kontrak.

Akupun tidak kalah gigih, mencoba menghubungi ibu kontrakan untuk bernegosiasi. Alhamdulillah, setelah perdebatan yang cukup panjang, akhirnya ibu kontrakan bersedia mengganti uang perbaikan rumah dengan perpanjangan masa sewaku. Lumayan, setidaknya meringankan rasa bersalahku.

Malampun tiba, dan sudah waktunya ibu untuk pulang. Rasanya sedih ditinggal ibu, apalagi masih ada segudang PR yang harus kulakukan agar rumah ini semakin nyaman ditinggali, salah satunya adalah membeli LPJ. Dan aku baru tahu kalau ribet sekali prosedur untuk membelinya…. Berlanjut di A Dandelion (6)

 

Advertisements

AKU LULUUSSS

untitled

Pengumuman kelulusan Program Matrikulasi IIP Batch 2 diumumkan bertepatan dengan hari ibu, 22 Desember 2016. Setelah 9 minggu mati-matian mengerjakan tugas, yang disebut NHW (Nice Home Work), akhirnya kami lulus juga.

Padahal saya anaknya founder IIP, tapi kok ya masih kepontal-pontal ya ngerjainnya. Selalu deadliners yang mengumpulkan paling cepat hari Sabtu (deadlinenya setiap Minggu sore), bahkan pernah 2 NHW ditumpuk jadi satu ngiriminnya, karena ga sempet ngerjain pas lagi tour jakarta-bandung bolak-balik. Hanya satu NHW yang saya kumpulkan sehari setelah tugas diberikan, NHW 9, which is yang terakhir! Yippie! High Energy Ending! HAHAHHAHA *maafkan geje, saking senengnya.

Jadi, untuk semua ibu yang berhasil menyelesaikan NHW, bahkan mengumpulkan sangat-sangat tepat waktu, saya super duper salut. Karena saya yang single aja udah telolet banget ngerjainnya, hahaha.

Harus saya akui, program matrikulasi IIP ini sangat-sangat terstruktur dan luar biasa, saya yang anaknya bu Septi saja sampai kagum melihat kecerdasan ibu saya (hampura bu, da di rumah ibu dijadiin bahan bully wae >v<). Dan hebatnya lagi, setiap NHW yang diberikan membuat semua pesertanya berpikir keras, istilah kerennya mah, ber-tafakur gitu yah. Kualitas hasilnya juga bisa terlihat, mana yang hanya teori saja, dan mana yang sudah langsung praktek menjalankan.

Pokoknya program matrikulasi IIP best banget deh, salut. Setelah ini, giliran saya menggarap program matrikulasi untuk pranikah. Super challenging juga, karena broad banget yang harus dirangkum, tapi insyaa Allah mah bisa! Bismillah.

 

Being An Agent of Change

The first time I heard about this in NHW (Nice Home Work) of Institut Ibu Profesional, I suddenly remember about a story of being a good agent of Muslim in Europe when I read “99 Cahaya di Negeri Eropa” a book by Hanum Raies. The book tells us about how we keep being good to others in spite of the way they treat us.

To be a change agent, we don’t have to do big things, but it’s a must to be consistent. Because we often out thinking what we’re gonna do, just to end up not doing anything. In order to prevent that, start with a small step, and do not stop walking.

What I have in mind to correlate that idea to my activities and my focus study in life, I want to empower people around me by involving them in my business, Busana Eneska. Because my business focus on doing family and female clothing on many different segments, so my idea is to employ maybe diffabels to be our tailors and household mothers to be our admins/distributors. I will also train them regularly and give many other skill that they may want to have such as driving, cooking, crafting, etc. So they’ll have many experiences which is good for themselves and for their future.

I will also mentor a young person (around teenager age) to encourage them to have their own business by doing an intenship in my business. The goal is to at least introduce a professional world to that person and improve their skill.

And because I love to learn and share (and also analyzing), I want to share any knowledge that I have once a month to public, for those who can’t come could access the content in my blog or youtube channel.

Those are a temporary things that I will do in my mind, hopefully there will be more things I can be done along with the grow of my business and experience.

A Dandelion (3)

Day 2

Pagi-pagi setelah bersih-bersih rumah dan membuka beberapa kardus, teman ibu, om Agus datang dan langsung melakukan inspeksi, hihi. Om Agus ini adalah salah satu vendor yang membangun jalan-jalan tol di Indonesia, jadi semua tentang konstruksi bangunan kurang lebih paham lah yaw, ditambah lagi rumah om Agus sendiri di blok C (rumahku blok B) dibangun berdasarkan instruksi beliau. Maka, saya sebagai anak magang (eh) pasrah saja pada sesepuh.

Bagian belakang rumah, di dekat dapur diberi saluran air serta ditinggikan beberapa cm untuk mesin cuci. Bagian samping diberi pagar tambahan, dan di bagian depan ditambahkan jalan untuk sepeda motor masuk, sehingga aku tidak kesusahan angkat-angkat sepeda motor. Belum lagi ditambah keinginan ibu untuk cat ulang beberapa bagian di rumah. Huft rasanya banyak sekali yang harus dikerjakan 😦

Rencananya, besok pagi tukang-tukang sudah mulai berdatangan untuk membereskan rumah, hari ini kami mau pergi dulu mencari furniture-furniture yang dibutuhkan, kemarin aku sudah membuat denah petak rumahnya. Waktunya berburu!

Pemberhentian pertama, Jl Ahmad Yani. Sepanjang jalan ini dipenuhi dengan toko-toko mebel, tentunya akan banyak option yang bisa kami pilih disini. Meskipun aku bukan tipe pemilih sih, asalkan sesuai kriteria dan memenuhi budget, angkut! Di toko pertama kami mencari kasur dan lemari, kriterianya Queen (agar muat sampe nanti menikah, hihi, tapi tidak menuh-menuhin kamar yang hanya 3,5×3,5 m) dan tanpa dipan. Dapat yang kualitas medium (lupa merknya) dengan harga Rp 3jt.

Furniture lainnya kami memilih untuk beli di informa, selain modelnya yang lucu-lucu, biayanya jadi lebih murah jika memiliki kartu kredit, karena bisa mendapatkan cicilan up to 2 tahun dengan bunga 0%.

Setelah capek berkeliling, kami makan sebentar, kemudian pulang dan menunggu barang-barang yang dipesan datang. Oh ya, untuk informa biasanya dikirim 3 hari setelah pembelian dan di instalasi 1 hari setelah dikirim.

What a long day, rumah sekarang sudah terang (habis beli lampu), lumayan bersih, tapi kami masih tidur di bawah karena belum beli sprei huehehe.

 

Bersambung ke “A Dandelion (4)”….

A Dandelion (2)

Day 1

Hari ini waktunya packing dan pindahan, deg-degan banget karena akan beranjak dari sarang ternyaman se-Bandung Raya, mana toko Eiger baru buka lagi di sebelah. Deket banget sama jalan raya dan diapit dua supermarket besar. Kurang nyaman apa kos ini. Tapi ya, kita tidak akan berkembang jika terus berada di zona nyaman. Bismillah, waktunya melangkah.

Kontrakan baruku berada di Komplek Girimekar Permai, aku mendapatkan infonya dari teman SMA ibu, om Agus Himawan, yang juga tinggal disana. At least, ada tempat untuk dimintai tolong jika ada hal-hal urgent. Yang bikin aku kesengsem sama rumah ini adalah suasananya yang masih di kampung, hawa pegunungannya serta perumahannya dijaga satpam, sehingga lebih aman untuk aku tinggali.

Rumahnya luas, tipe 45 dengan 2 kamar dan 1 kamar mandi. Dapurnya super luas dan terletak di area belakang yang meski dikelilingi tembok, tapi masih tembus ke halaman depan rumah. Ada taman kecil yang bisa ditanami serta garasi mobil (siapa tahu nanti mobilnya datang menyusul). Airnya super dingin dan bersih, katanya sih sebetulnya air disini bisa diminum langsung jika pipa-pipanya didesain untuk itu.

Okay, back to the packing, karena barangku tidak terlalu banyak (well, kos seluas 3x4m bisa menampung berapa banyak sih), jadi hanya diperlukan waktu kurang dari 1 hari untuk mengepak semua barang ke dalam beberapa koper dan kardus. Tadinya kami mau membawa barang-barangnya pakai go box, hanya saja setelah di cek harganya, kok ya tidak masuk akal budget. Dari kos ku ke kontrakan hanya berjarak +/- 5km, tapi biaya angkutnya bisa mencapai Rp200 rb, kan sesuatu. Setelah bingung, galau, dan uring-uringan, akhirnya dapet juga kontak supir mobil box dari om Agus (untung ada teman ibu!). Dan kamipun meluncur~

Saat itu keadaan rumah masih super kotor dan sangat gelap. Hanya ada 1 lampu yang terpasang serta belum ada furniture apapun. Pokoknya keadaan rumah mirip banget sama pengungsian korban bencana alam, kardus belom dibuka, kami tidur menggunakan kasur gulung yang dibawa dari kontrakan. Makan juga apa yang ada dan apa yang lewat aja. Malam ini kami tidur dengan super gelap.

 

Bersambung ke “A Dandelion (3)”….

A Dandelion (1)

Tahun ke enam lepas dari sarang induk, sejak perjalanan dari Singapura hingga ke Bandung. Dan akhirnya tepat di umur ke- 20, mulai membuka usaha sendiri, yaitu Busana Eneska yang bergerak di bidang baju keluarga.

Awalnya saya hanya meng-handle bagian marketing saja dan menyerahkan produksi ke orang lain, tapi karena ingin memberikan pelayanan yang lebih baik pada customer, akhirnya saya memutuskan untuk memiliki production house sendiri, which is  saya harus pindah dari kos nan menyenangkan ke kontrak rumah sendiri. Jujur, saya lebih parno tinggal di Indonesia ketimbang Singapura, jadi perpindahan dari kos ke kontrakan ini benar-benar dihitung mulai dari cost hingga kenyamanan.

Alhamdulillah, sudah hampir 2 bulan menempati rumah baru, saya sudah mulai terbiasa dan kerasan. Walau di awal  (sampai sekarang juga sih hehe) masih banyak shock nya. Mari kita mulai dari hari pertama pindah….

 

Bersambung ke “A Dandelion (2)”….

DO WHAT YOU LOVE

Saya percaya bahwa setiap fase kehidupan memiliki persimpangan, dimana setiap jalur bebas kita pilih untuk lalui. Tidak ada kata terpaksa bagi saya, dan saya yakin terpaksa juga tidak berlaku untuk semua orang, jika mereka paham bahwa sejatinya setiap orang berhak memilih. Karna hidup hanya dua, memilih atau dipilihkan.

Maka, saya akan optimalkan kemampuan saya untuk memilih hal-hal yang saya suka, dan menyukai hal-hal yang tidak bisa saya pilih. Jreng-jreng. Enough for the prolog, let’s go to the core. So, i’ve ranged my activities into four quadrans: Suka-Bisa, Suka-Tidak Bisa, Tidak Suka-Bisa, Tidak Suka-Tidak Bisa. But let’s focus on what I like and I’m able to do it.

There are four things that I can think of to fill this quadran, those are:

  1. Analyzing
  2. Learning new things
  3. Meeting people
  4. Writing

Jika mengambil satu dari empat hal tersebut dan menghubungkannya dengan jurusan kehidupan yang saya ambil (baca: Ilmu dan Saya), maka saya bisa mencanangkan beberapa hal. Bahwa saya akan (versi lebih kuat dari ingin) menjadi ahli dalam bidang pranikah, salah satu media di dalamnya adalah membangun BUSANA ENESKA yang bergerak di bidang busana keluarga. Membantu para keluarga untuk mengenali dan membentuk jati diri melalui busana. Visi besarnya #SaveSiSulung agar tidak lagi menjadi korban ketidak mampuan orangtuanya. Karna kesalahan kecil dari orang tua bisa berakibat fatal pada anak, bahkan bisa menjadi rantai dari keburukan-keburukan di generasi selanjutnya.

Dengan menganalisa berbagai kasus dan fenomena yang ada, serta terus belajar hal baru dan berbagi, saya ingin ke depannya, saya bisa memiliki one stop service centre untuk sebelum-saat-dan sesudah menikah.

I am a teacher and a learner di bidang ini, my lifetime purpose is to learn and share. Sharing what I learn, and learning from what I and other people ‘s share. Agar apa yang saya inginkan dapat tercapai, maka setidak-tidaknya, 5 tahun dari sekarang saya sudah menjadi ahli dari bidang yang saya tekuni, serta sukses dalam bisnis yang saya jalani (menembus pasar internasional). Maka, satu tahun dari sekarang, sistem sudah harus terbangun, baik The Bright Bride maupun Busana Eneska.

Plan your life, so at least you know where you are heading to. And in the end, you can choose how you gonna live your life.