Tentang Pangandaran (2)

16 September 2017

Setelah 4 bulan tidak mengunjungi rumbel, akhirnya dengan penuh kenekatan kami pergi menuju Pangandaran untuk silaturahmi dengan Unpad Pangandaran dan pak Ade, ketua koperasi Mina Karas sekaligus pemilik madrasah tempat rumbel kami berada.

Perjalanan dimulai pukul 21.00, sengaja malam-malam biar kami tidak perlu menginap di Pangandaran hehe. Ada beberapa point yang harus aku (sebagai supir) datangi, pertama Salman untuk menjemput teh Eka dan teh Zelin, kemudian ke stasiun Bandung menjemput Jems, lanjut ke Metro menjemput teh Dita, Cibiru menjemput kang Ijal dan terakhir Nangor menjemput Gungun.

Karena kondisi Bandung yang cukup macet, akhirnya kami baru melaju dari Nangor jam 23.00. Perjalanan kali ini super random dan sangat sangat sangat seru. Meski di awal, teh Dita sudah mabok karena kang Ijal yang nyetirnya udah ngalahin pembalap F1 wkwk. Pasangan supir-navigator kali ini terbagi 2, tim 1 dengan Teh Eka – Kang Ijal dan tim 2 dengan aku – Gungun. Di awal perjalanan full di handle oleh tim 1, hingga akhirnya kang Ijal berhenti di sebuah masjid di Pangandaran saking udah nggak kuat menahan kantuk.

17 September 2017

Selepas sholat shubuh, ganti tim 2 yang bertugas membawa kelompok ini ke Pangandaran. Sebenarnya kami ingin mengejar sunrise, namun apa daya, kami baru sampai di pantai jam 06.00 which is udah tinggi mataharinya. Yaudah deh, kami memutuskan untuk ber-alay ria foto-foto dan bikin video sekalian menyusuri pantai untuk cari sarapan.

Puas dengan foto-foto dan sarapan, kami mampir ke masjid raya Pangandaran, lokasinya tepat di depan gerbang Pantai Timur Pangandaran. Recommended banget untuk temen-temen yang butuh tempat bebersih sekaligus istirahat, karena masjidnya nyaman dan bersih. Setelah selesai dengan keperluan masing-masing, kami pun menuju ke Unpad Pangandaran untuk bertemu dengan teman-teman koordinator disana.

Kami langsung mengetahui lokasi Unpad Pangandaran karena plang namanya yang terpampang dengan besar. Jika dilihat secara sekilas, bangunan Unpad Pangandaran lebih mirip seperti SD dibandingkan kampus, usut punya usut, ternyata bangunan ini hanyalah bangunan sementara sembari menunggu kampusnya jadi. Bagian yang paling kami sukai dari Unpad adalah mushola dan saung-saungnya yang sangat nyaman dipakai untuk diskusi.

Setelah diskusi singkat dengan koordinator Unpad Pangandaran, kami mengetahui bahwa baru ada dua angkatan yang masuk di kampus ini, dan mayoritas merupakan orang asli Pangandaran, meski begitu lokasi rumah para mahasiswanya relatif jauh dari kampus. Hal ini cukup membuat kesulitan jika mengadakan kegiatan di akhir minggu, terlebih lagi mahasiswa yang dari luar Pangandaran juga ikut pulang di hari tersebut.

Akhirnya, di awal kami mencanangkan untuk sosialisasi terlebih dahulu ke seluruh anak Unpad Pangandaran untuk mengenalkan mengenai rumah belajar yang kami miliki, baru setelah itu kami akan membentuk tim inti yang akan menjadi perpanjangan FIM Kece menjalin silaturahmi dengan warga Batu Karas. Agar mempermudah prosesnya, perwakilan FIM Kece juga akan membantu mahasiswa Unpad untuk audiensi dengan para dosen, sehingga ada support dari pihak kampus juga untuk kegiatan ini. So far, kami melihat antusiasme yang tinggi dari pihak Unpad. Semoga program ini bisa berjalan dengan lancar.

Pamit dari Unpad, kami menuju ke Batu Karas untuk menilik keadaan rumah belajar sekaligus silaturahmi dengan pak Ade. Perjalanan dari Unpad ke Batu Karas memakan waktu 30-45 menit, pantas saja anak-anak Unpad cukup menimbang-nimbang untuk berkegiatan di Batu Karas, terutama mereka yang terkendala dari sisi transportasi.

Sesampainya di Batu Karas, kami langsung disambut oleh deburan ombak yang menggugah jiwa-jiwa butuh liburan. Tidak hanya satu-dua dari kami yang tidak sabar untuk bisa menyentuh dinginnya air laut secara langsung. Awalnya, kami mendatangi rumah di samping madrasah, karena terakhir berkegiatan disana, pak Ade sempat beberapa kali keluar masuk dari rumah tersebut, sehingga membuatku berasumsi itu rumah pak Ade.

Beberapa kali diketuk dan tanpa jawaban membuatku sempat putus asa. Dan ketika yang keluar bukanlah pak Ade, aku jadi semakin bertanya-tanya. Ternyata, ini bukan rumah pak Ade, rumah beliau masih masuk lagi ke dalam, tidak jauh sih dari rumah ini. Kontan saja semua yang ada di mobil tertawa, yang paling bahagia sih kang Ijal ya, melihat aku yang dengan PD nya yakin bahwa itu rumah pak Ade.

Rumah pak Ade merupakan bangunan dua tingkat, nampaknya di lantai bawah digunakan sekaligus untuk kantor beliau. Pekarangannya luas dan dipenuhi dengan berbagai tanaman dan sebuah pom pertamini di bagian depan rumah beliau. Kami disambut dengan ramah oleh beliau dan istrinya, kesan pertama beliau yang galak di pertemuan pertama kami langsung sirna di pertemuan kedua. Ternyata beliau menyenangkan untuk diajak berdiskusi. Belum lagi istrinya yang sangat ramah, sampai bilang, “duh, ibu sebenernya masih kangen pengen ngobrol sama akang teteh, tapi ibu harus ikut beberes di kondangan depan. Nanti lain waktu kita ngobrol ya.” Gimana nggak meleleh kami para jomblo digituin.

Dari diskusi bersama pak Ade, tercetuslah agenda untuk mengumpulkan seluruh pemuka desa agar bergotong royong memberikan kontribusi pada rumah belajar. Teu ketang sakedik. Agar setiap lapis masyarakat merasa turut memiliki rumah belajar dan bersedia menjaga dengan sepenuh hati.

Bulan depan, kami akan kesini lagi. Mungkin bukan dengan team yang sama, namun tentunya dengan semangat yang tetap membara.

Hari ini ditutup dengan bermain air di pantai sembari fofotoan, apalagi ada prince KECE yang baru saja di wisuda dan membawa satu set toga lengkap. Komplit.

Sampai bertemu lagi teman-teman ūüôā

Advertisements

October Journey (5)

4 Oktober 2017

Hari ini waktunya silaturahmi, setelah semalam menginap di rumah tante Dita, pagi ini aku akan bertemu dengan bu dosen Unisba cantik, tante Titiek. Ini pertama kalinya aku ketemuan sama tante di kantor beliau, FK Unisba, duh semoga ada mahasiswa yang ganteng #eh

Ketika menunggu di sofa dekat kantor tante, tiba-tiba terdengar suara yang sudah khas, “Bellaaaa! ayo sini!”

Yaps! Aku dipanggil sama tante dengan panggilan Bella, bukan Enes. Gegara saking seringnya pulang (tengah) malam selama di Bandung, kata beliau udah kayak vampire, jadinya dipanggil Bella, pencari Edward, HAHAHAHAHA. Anyway, ketemu sama tante bener-bener recharge energi, dari yang awalnya udah gamang mau S2 atau enggak, kehilangan semangat, nggak tahu harus mulai dari mana, setelah ke klinik tongfang ngobrol sama tante jadi lebih clear harus mulai dari mana.

Saatnya mengumpulkan niat untuk bikin paper! Yosh! Go Bella!

Sepulang dari tante Titiek, aku order gojek untuk pulang ke rumah. Berkali-kali order dan di cancel, aku baru tahu kalau sekarang rumahku sudah menjadi zona merah untuk para gojek online. Duh, sedih kali. Itu ojek-ojek pangkalan nggak bisa nyante apa ya, udah mah harganya mahal banget, udah kayak harga daging di bulan Ramadhan. Huft.

Akhirnya ada juga yang mau accept order ku, dan perjalanan mencari rute aman baru saja dimulai. Seharusnya, rumahku lebih dekat kalau masuk melalui sindanglaya jika dari arah kota, tapi, terpampang tulisan besar “NO OJEK/MOBIL ONLINE”. Ugh. Maju lagi mencari jalan lain, melalui perumahan setelah SMAN 24, lagi-lagi terpampang besar-besar spanduk larangan bagi ojek online. Matek aku. Alternatif terakhir kalau nggak bisa masuk, ya aku turun di Ruko Ujungberung, terus naik ojek atau minta dianter sama temen.

Untungnya rute terakhir terverifikasi aman menurut bapak gojek, naiklah kita melalui Cijambe. Perjalanan aman hingga beberapa ratus meter sebelum rumah, aku teringat nenek tetangga sebelah suka ngajak nongkrong ojek pangkalan di gardu satpam depan rumah, bisa berabe nih kalo ketemu mereka. Akhirnya aku memilih turun sebelum sampai di rumah, demi menyelamatkan sang bapak gojek.

Sesampainya aku di depan rumah, tiba-tiba aku dihampiri oleh seorang satpam, “Teh, kemarin Senin pintunya kebuka, tapi nggak ada siapa-siapa di rumah. Kami sampe masuk ke dalam rumah takut ada yang sembunyi, tapi nggak ada siapa-siapa.”

HAAAAAAH?

HAAAHHHHHHHH?!!!

HHHHAAAAAAAHHHHHHH???!!!!!

Beberapa detik setelah mencerna perkataan bapak satpam, aku pun memilih masuk ke rumah dan mengecek berbagai perabotan yang ada. Memang benar ruang tamu terlihat kotor seperti ada jejak seseorang, tapi anehnya, aku merasa baik-baik saja, tidak deg-degan ataupun tegang. Setelah mengucapkan terimakasih kepada pak Satpam, aku mulai memeriksa lebih teliti lagi, seorang teman yang punya kunci cadangan rumah kami pun kutanyai. Anehnya, tidak ada yang hilang satupun, dan pintu rumahku dalam keadaan terkunci. Hhmmm… Sebuah misteri yang menegangkan.

Setelah berpikir dan menimbang beberapa hal, mengingat malam ini aku harus pergi ke Pangandaran dengan anak-anak KECE, kuputuskan untuk meminta tolong seorang teman membelikan beberapa grendel dan gembok. Waktunya nukang.

Saat ini, rumahku memiliki kunci 3 lapis (gilz, udah kayak rumah pejabat aja), yang membuatku super duper repot saat keluar rumah. Huhuuu. Tapi gapapa lah ya, demi keamanan, sebelum malam ini kutinggal ke Pangandaran….

Bismillah.

October Journey (4)

2 Oktober 2017 – Perjalanan Panjang

16.25 WIB

Kami berangkat menuju ke kediaman Eyang Bambang Ismawan di Bogor, jika sesuai dengan google map, maka kami hanya membutuhkan 30 menit untuk menuju kesana. Karena Eyang Bambang baru ada di rumah setelah jam 17.00, should be having enought time lah ya kita.

Namun, mobil grab yang kami tumpangi memilih jalan-jalan kecil yang katanya-lebih–cepat-sampai-dan-menghindari-macet, tapi kok ya daritadi kayaknya never ending journey gitu ya. Hmm…

17.01 WIB

Duh kok di google map daritadi tulisannya 36 menit lagi akan sampai ya. Ini google mapnya yang eror, mas grabnya yang salah jalan, apa sayanya yang ga paham-paham ya. Kulihat Elan dan Ara yang masih tertidur lelap, berharap mereka bangun dan merasakan kepanikan yang sama.

Well, seharusnya kami sudah sampai disana, lagipula janjian ketemuannya jam 17.00! huff… tarik nafas, lepaskan… tarik nafas, lepaskan….all is well….

17.38 WIB

Tetiba mas grabnya bingung karena nggak nyampe-nyampe ke lokasi tujuan. Kamipun sudah panik, seharusnya tidak memakan waktu selama ini, apa bener ini jalannya?

Buka google map, ada sedikit perubahan, yang tadinya 36 menit, menjadi 22 menit lagi. But still, it’s not helping! Because we are already late. Moreover, mas-mas grabnya malah marah ke kita, bilang-bilang harusnya udah nyampe, ini jalannya kemana, dsb. Lah? Sampeyan sehat? Kudunya kita yang marah, bukan sampeyan.

Tarik napas, istighfar, tahan… Jangan marah-marah. Laa taghdab walakal jannah.

18.05 WIB

Sampai juga akhirnya kami di kediaman Eyang Bambang, gerbang besar yang terlihat gelap dari luar tersebut terbuka, menyambut kami untuk memasuki pekarangan yang sangat luas dan rimbun. Pekarangan Eyang Bambang selalu mengingatkanku pada kampung halaman Yangti di Ngawi, penuh dengan pepohonan yang besar menaungi bagai atap dari terik matahari dan derasnya hujan. Kerikil yang tersebar di seluruh pekarangan menjadi solusi di kala hujan, sekaligus alat refleksi di pagi atau sore hari.

Tak berapa lama kemudian, muncullah sesosok lelaki lanjut usia yang sangat karismatik, jalannya masih tegap, menunjukkan semangatnya yang tak kalah dengan usia. Beliau adalah alasan mengapa kami datang mengunjungi rumah ini, Eyang Bambang yang selalu penuh dengan cerita mengenai perjuangan beliau menegakkan hak-hak rakyat kecil.

Suara beliau yang ramah dan tegas menyapa kami semua, mempersilahkan untuk duduk di kursi teras sembari mengobrol bertukar sapa dan kabar. Melalui beliau kami belajar bahwa¬†“untuk bisa memberi, kita harus kaya. Kaya dalam berbagai hal, bukan hanya mengenai harta. Kalau harta ya jelas saya kalah dari Silvi (eyang Mami, istri eyang Bambang), saya nggak punya apa-apa. Tapi setiap ada orang yang membutuhkan bantuan, saya selalu bisa refer mereka ke orang yang saya kenal, karena saya kaya network.”

“Saya ini generalis,” kata beliau, “i know a little about many things, till I know nothing about all of that.”

“Kebalikannya adalah spesialis,” tambah Eyang, “those who knows a lot about one thing, till they know a lot about nothing. Hahahhaha.”

Selalu menyenangkan mendengar dongeng dari Eyang, banyak hal yang bisa kami dapatkan dari beliau. Bertemu dan berbicang dengan beliau menghapus kepanikan serta kekesalan kami sepanjang perjalanan. It’s really worth it after all.

There are still a lot of things we have to learn from you Eyang, we wish you to have a long and wonderful life ahead.

3 Oktober 2017 – Perjuangan

08.00 WIB

Kami bertiga memanggil mobil online untuk menuju ke stasiun Depok Lama, hari ini kami akan bertemu abah Rama, founder dari Talents Mapping (TM) di daerah Tebet. Jika lancar, perkiraan kami sampai disana sekitar jam 10.00-an.

08.30 WIB

Entah mengapa, jalan menuju ke stasiun sangat macet hari ini, padahal di hari lain biasanya sudah lowong jam-jam segini. Huft. Awal perjalanan yang sudah bikin kami gagal sampai di tempat bertemu tepat waktu, masih ditambah dengan rel kereta yang anjlok di Manggarai, membuat kereta berhenti sekitar 20 menit di setiap stasiun. Suasana panik dan banyaknya penumpang kereta membuat gerbong kami jadi sangat pengap.

Untunglah abah bilang beliau sedang tidak ada jadwal untuk hari ini, sehingga tetap menunggu jam berapapun kami sampainya. Aku hanya membayangkan kalau ada dari salah satu penumpang di KRL ini yang harus mengejar kereta jarak jauh via Gambir, bagaimana perasaannya saat ini. Ah tentunya dia akan panik sekali.

11.30 WIB

Akhirnya sampai juga di Tebet, langsung saja kami memesan mobil online lagi, suasana stasiun tidak kalah ricuhnya dengan di dalam kereta. Para penumpang yang gerah menunggu di dalam memutuskan untuk duduk-duduk di luar, memenuhi lorong stasiun. Ah… Jakarta… Jakarta…

12.00 WIB

Ketika masih di dekat stasiun jalanan super duper macet, namun semakin jauh mendekati tujuan, jalanan menjadi semakin longgar. Akhirnya, kami sampai juga di kantor abah, disambut dengan hujan yang tak bisa turun dengan santai. Kantor abah yang baru merupakan sebuah ruko tiga lantai, tidak luas namun nyaman, homie banget, saking homie-nya, begitu memasuki ruangan kami langsung disuguhi sayur bening dan gorengan buat makan siang. Seru banget deh.

Setelah saling bertukar kabar dan bercerita kesana kemari mengenai berbagai hal yang terjadi di Indonesia, terutama mengenai anak-anak muda zaman now.

13.00 WIB

Karena aku harus mengejar kereta ke Bandung jam 15.30, meski di google map tertulis hanya 30 menit dari kantor abah menuju stasiun gambir, namun kami memutuskan untuk pamit sekarang, mengingat kemacetan di luar schedule yang terjadi berkali-kali hari ini.

15.00 WIB

Tuh kan… Bener…. kami hanya tinggal 1km dari lokasi, tapi macetnya luar biasa paraaaaah. Bener-bener mandek ga jalan, kalaupun jalan sedikit-sedikit banget. Huft. Tarik napas…. Keluarkan…. Tarik Napas…. Keluarkan…. Everything’s gonna be fine.

15.15 WIB

Alhamdulillah, akhirnya nyampe juga di stasiun, langsung aja aku lari-lari menuju kereta. Kali kedua nih naik kereta dari gambir baru nyampe 15 menit sebelum keberangkatan. Ingin nangis rasanya…. Huhu… Luar bi(n)asa.

18.30 WIB

Lagi-lagi sampai di tempat tujuan disambut dengan hujan yang sangat deras. Berkali-kali mencoba untuk pesen go-blu*bird namun gagal, akhirnya aku pun memutuskan untuk pesen melalui layanan call center blu*bird. Sayangnya, aku tidak mendapatkan jawaban yang pasti dari mas-mas call center. Duh, gini-gini amat idup, mas-mas call center aja ga mampu ngasih kepastian :’ #plak

Iseng-iseng aku menuju lobby stasiun dan melihat kalau-kalau ada taksi kosong yang bisa aku pesan. Pas sampai di depan lobby, saat itu juga ada taxi yang baru menurunkan penumpang, langsung aja aku masuk. Lucunya, saat menyebutkan lokasi tujuan, mas supirnya bengong, terus bilang “lah, barusan saya jemput dari sana mbak, balik¬† lagi ke tujuan awal ya saya.”

HAHAHA. Hidup ini penuh dengan kejutan. Pengalaman hari ini mengajarkan saya untuk pintar-pintar menata hati, jangan terpaku  pada hal-hal negatif, namun pada apa yang harus dilakukan ketika bertubi-tubi hal yang tidak disukai datang. Stay positive and keep smile!

 

October Journey (3)

1 October 2017 – Masih di Jakarta

Selepas dari kegiatan Ibu Profesional, kami segera bertolak ke apartemen Kuningan untuk kemudian bertemu dengan bapak dan ibu. Jika ada aplikasi yang bisa melihat alur gerakan seseorang, mungkin pertemuan keluarga kami memiliki pattern yang unik. Bertemu – terbagi 2 – bertemu – terbagi 5 – bertemu – terbagi 3, dan seterusnya. Memasuki usia dewasa, aku dan Ara mulai sering memiliki kegiatan sendiri di luar kota, begitupun dengan Elan yang tidak mau kalah. Jadilah keluarga kami sering melakukan kegiatannya masing-masing di berbagai kota yang berbeda.

Sepanjang perjalanan, aku, Ara, Elan dan Rahma (anak salah seorang ibu profesional yang merupakan mantan peserta Masterchef Indonesia Junior dan juga atlit golf – duh dek, jangan terlalu bersinar, aku tak sanggup) bercerita tentang berbagai macam hal serta mengomentari beberapa pengemudi kendaraan yang melintas. Maafkan kids jaman now yang suka alay ini, hahaha.

Sesampainya di Kuningan Suites, kami langsung merebahkan badan, menghilangkan seluruh rasa capek yang melanda. Rasanya, tenagaku sudah tinggal sisa-sisa kehidupan saja. Lemes sebadan-badan karena harus membawakan materi yang baru pertama kali dipresentasikan. Tremor hayati bang~

Kami selalu menyukai apartemen ini, selain karena kamar yang bagus dengan interior yang tertata rapi, elemen paling penting bagi keluarga kami adalah: ia memiliki ruang tamu yang luas. Bagi kami yang sangat menyukai ngobrol bareng, serta sesekali mengadakan meeting keluarga, ruangan besar menjadi sesuatu yang hampir wajib sifatnya. Sesekali kami pun menonton CSI atau NCIS bersama ketika sudah lelah dengan topik serius yang diangkat dalam diskusi keluarga.

Bapak dan ibu baru sampai di apartemen sekitar jam 9 malam. Bertukar cerita mengenai betapa ibu juga grogi saat membawakan materi (yang juga baru bagi ibu) di Serang. Ah, memang kami masih harus banyak belajar. Semoga jadwal manggung selanjutnya, penampilanku sudah lebih baik lagi. Sekarang waktunya istirahat sembari menunggu si bungsu pulang dari jalan-jalan bersama gengnya.

2 Oktober 2017 – Berpisah untuk Bertemu Lagi

Pagi-pagi sekali Ara sudah siap menuju ke Bogor, meninggalkan kami yang masih lusuh baru bangun tidur. Salah satu kliennya di Spedagi sedang mantu, sebagai kenalan yang baik, ia hadir untuk memberikan beberapa kado. Karyawan teladan sekali anak itu. Sayangnya, ia pergi dengan meninggalkan banyak barang yang belum di packing dan menjadi PR bagi kita semua. Ah sudahlah~ namanya juga saudara kan, kalau nggak menyusahkan ya disusahkan #eh.

Tepat jam 10 aku dan Elan yang gantian berangkat ke Depok, anak lanang itu harus menemui beberapa temannya untuk meeting, entah apa pula yang dibicarakan, semoga sesuatu yang bisa bermanfaat bagi dirinya, syukur-syukur bagi ummat. Tinggallah bapak dan ibu di hotel yang pusing dengan banyaknya barang yang harus dibawa. Padahal, tidak sedikit pula yang sudah di oper ke aku dan Elan untuk dititip bawa melalui bulek – adek bapak. Serunya mengisi di acara IIP ya begini, penuh kejutan dan hadiah, bikin kita awet muda setiap waktunya :)))

Sesampainya di Depok, Elan langsung menuju ke Margo City, bahkan belum genap ia berpamitan denganku, sudah ngacir saja menjumpai teman-temannya. Memang tega nian dua adikku itu, ndak tau pula mereka kakaknya ini juga mau jalan-jalan ke Bogor menemui seorang teman. Sayangnya, rencana itu harus kubatalkan, karena tidak mungkin barang-barang ini bisa bergerak sendiri tanpa ada yang membawa dan menatanya dengan rapi disudut kamar seperti yang saat ini sedang kulakukan.

Rumah bulek terlihat lengang, karena separuh penghuninya sedang beraktifitas di ibu kota, tinggallah mbak Sarmi, ART bulek dan om Arief, suami bulek yang sedang cuti untuk memasang pintu jaring agar kucing-kucing tidak bisa masuk rumah mereka sembarangan. Layaknya rumah sendiri, langsung saja aku pilih spot ternyaman untuk selonjor dan guling-guling meregangkan badan yang terasa kaku setelah 1,5 jam perjalanan. Segelas teh hangat dari mbak Sarmi terasa begitu sedap di tengah siang yang mendung.

Tidak begitu lama setelahnya, Ara datang dari Bogor, meski 2 jam lagi kami tiga bersaudara pun kembali menuju Bogor. Memang sudah seperti setrikaan saja perjalanan si tengah itu. Beginilah kami, berpisah untuk bertemu kembali, atau bertemu untuk berpisah lagi. Namanya juga hidup, terkadang kita berada di jalan yang sama untuk kemudian kembali menapaki jalannya masing-masing. Disyukuri dan nikmati saja, selama masih bisa bernafas, selalu ada kemungkinan untuk menjadi lebih baik.

 

 

 

 

October Journey (2)

1 Oktober 2017 – The D Day

Memasuki ruangan seminar, vibe semangatnya mulai terasa. Satu dua wajah yang tak lagi asing, senyum terkembang bersamaan dengan ratusan pasang mata yang memandang tatkala nama kami disebut. Sensasi ini, sudah lama tidak aku rasakan.

Kami bertiga duduk di bangku tamu, tepat di depan panggung. Ku perhatikan dekorasi panggung kali ini tidak main-main, bunga-bunga kertas bernuansa abu-navy ukuran besar tersebar di berbagai penjuru, tidak lupa dengan kain-kain jersey yang mempermanis panggung utama. Panitia pun mengenakan baju dan jilbab yang senada warnanya dengan dekorasi panggung. Semua terlihat apik dan ditata dengan sungguh-sungguh. Tidak heran, kemarin Mbak Ami – ketua panitia yang menjemput kami – langsung pamit ijin kembali ke lokasi acara karena panitia masih ramai menyiapkan acara.

Acara dimulai dengan sambutan dari ketua koordinator IIP Jakarta serta ketua panitia, dan dilanjutkan dengan prosesi wisuda kelas matrikulasi batch 4. Teringat ketika aku masih merupakan wisudawati kelas matrikulasi batch 2 tepat setahun yang lalu. Rasanya seru sekali berkenalan dengan banyak teman baru, serta berhasil menyelesaikan 9 NHW (Nice Home Work). Setidaknya, seorang Enes Kusuma masih pantas menyandang takdir sebagai anak ibu Septi Peni, founder IIP. Hehehehe.

Tepat sebelum sesi kami, para wisudawati mempersembahkan drama yang menceritakan dua tipe ibu yang berbeda. Yang pertama merupakan wanita karier yang menghadapi tantangan dalam pekerjaannya dan mulai merasa gelisah karena sering meninggalkan keluarga. Yang kedua merupakan ibu rumah tangga total yang bingung mau melakukan apa selain hanya bebersih rumah dan printilannya. Keduanya pun berkenalan dengan IIP dan lika-liku pengerjaan NHW nya, hingga akhirnya tanpa sadar, mereka sudah sangat jatuh cinta dengan IIP.

Drama yang di desain jenaka namun penuh makna ini sangat menghibur kami, meski aku sendiri masih tetap grogi karena akan tampil. Berkali-kali membolak-balik script, mengecek ulang apa yang harus dikatakan, mempersiapkan materi presentasi di HP, karena layar yang posisinya terlalu di depan, membuatku tidak bisa melihat isi slide berikutnya. Ketegangan sebelum maju ke depan yang berkesan serius, tercampur dengan kebodoran karena mau memakai pointer pemberian adek ibu yang super canggih tapi nirfungsi karena tidak kami pasangi batre. Semacam punya laptop canggih yang bisa download drama korea 500 episode dalam waktu 5 menit, tapi kagak ada internetnya. Percumah. Akhirnya kembalilah kami ke cara primitif, “Next mbak…”

Akhirnya, tiba juga saatnya ketika nama kami dipanggil. Ara dan Elan sudah bersekongkol untuk membuatku menjadi presenter tunggal di acara ini, mereka berdua hanya akan menjadi mesin penjawab pertanyaan peserta. Huft. Kerjasama adek memang mengerikan.

Meski sudah mencoba menarik nafas berkali-kali dan berusaha untuk setenang mungkin dalam presentasi, tetap saja keringat dingin mengalir tanpa henti, ditambah dengan tangan yang tidak berhenti bergetar. Masih bagus aku tidak mengeluarkan suara terjepit bak penyanyi falset yang salah lirik lagu.

15 menit terasa begitu lama. Tatapan mata peserta yang menyiratkan berjuta makna makin membuatku tidak karuan. Belum lagi, Elan berpesan untuk anak-anak kecil diminta tenang atau keluar, karena presentasi kali ini tergolong berat, berbicara tentang arsitek peradaban.

Selesai menyampaikan presentasi, dibukalah sesi tanya jawab, sesi yang paling menyenangkan – bagiku – karena bisa mengetahui apa yang diinginkan oleh peserta. Beberapa pertanyaan yang masih aku ingat merupakan seputar adab, HS (homeschooling), dan metode pembelajaran di rumah.

Q: Kapan kira-kira anak mulai kalem? Karena anak saya masih sangat aktif berlarian dan menanyakan berbagai macam hal.

Sebetulnya, tidak ada patokan pasti kapan anak akan kalem (serta kenapa pula anak harus kalem, emak-emak juga banyak yang pecicilan), ada banyak faktor yang bermain. Bisa dari lingkungan, tipe serta pembawaan anak, pengalaman yang sudah dijalani oleh anak, dan masih banyak lagi.

Yang perlu dikenalkan bukanlah mengenai anak harus menjadi kalem, tapi bahwa anak paham mengenai adab di berbagai tempat. Ketika di rumah, silahkan pecicilan sepuasnya, di lapangan maupun tempat bermain pun boleh. Hanya saja, ketika sedang berkunjung ke rumah orang lain, menghadiri acara orang dewasa, dikunjungi oleh tamu di rumah, dsb. anak harus bisa menempatkan diri dengan baik. Istilah Jawanya, empan papan, tau tempat.

Namun, perlu di highlight bahwa adab bukanlah pengekang bagi anak, justru dengan adab, anak jadi paham bahwa pecicilan pada tempatnya itu boleh banget (kalau di kasus ini mengenai pecicilan), bukan suatu hal yang tabu.

Q: Bagaimana metode ibu mengajarkan mengenai adab pada Ara, Enes dan Elan? Kan pasti berbeda-beda ya cara belajarnya.

Setiap kali mengajarkan sesuatu pada kami, ibu selalu melihat cara ternyaman bagi kami untuk belajar. Ketika bersama saya yang visual, maka ibu mengajarkan melalui buku-buku. Ibu yang tidak suka membaca pun juga ikut baca buku, agar bisa nyambung diskusi dengan saya. Lain lagi saat bersama Ara, doi sangat auditory, sehingga ibu akan merekamkan berbagai hal untuk didengarkan Ara saat mau tidur.

Untuk Elan yang kinestetik, selain menggunakan metode belajar sambil bergerak, ibu juga memperbanyak kegiatan yang penuh dengan gerak di awal pembelajaran. Sehingga, ketika Elan sudah capek, dia akan lebih fokus memperhatikan.

Itu tentang perbedaan cara belajar, untuk mengajarkan adab, ibu dan bapak lebih banyak memberi contoh pada kami. Setiap pergi ke acara-acara penting, atau berkunjung ke rumah teman bapak dan ibu, kami selalu di bawa. Sehingga kami tidak canggung ketika berada dalam situasi yang serupa.

Sejak kecil, kami sudah terbiasa untuk menginap di rumah saudara atau teman bapak dan ibu. Setiap kali akan menginap, kami selalu dikenalkan mengenai adab di rumah tersebut, karena berbeda dengan akhlak yang universal, adab sangatlah bervariasi. Maka, setiap akan mengunjungi tempat baru, kami sekeluarga akan bersama-sama belajar mengenai adab setempat.

Q: Apa yang dirasakan sebagai anak Homeschooling? Dan bagaimana caranya agar bisa lulus S1 di usia 18 tahun?

Disclaimer, saya hanya menjalani homeschooling selama 3 tahun, dengan 2 tahun semi homeschooling (menginduk ke sekolah payung). Sejujurnya, saya merupakan anak yang senang sekolah dari sisi non akademisnya. Ketika SMP pun tujuan saya untuk masuk adalah demi bisa berorganisasi sebanyak-banyaknya. Sedangkan adek saya yang kedua, Ara, dia sangat menyukai sekolah dari sisi akademisnya. Nilainya selalu bagus, setiap mengerjakan tugas pasti diteliti berulang kali, pokoknya the straight A kids banget deh. Barulah si bungsu, Elan, merupakan satu-satunya anak yang kekeuh memilih homeschooling sejak TK.

Bagi saya, baik homeschooling maupun sekolah formal atau informal merupakan pilihan yang sah-sah saja, tidak ada yang lebih baik satu dari yang lainnya. Karena ada 1000 jalan menuju roma, begitupun jalan menuju ke cita-cita seseorang. Sehingga, tidak perlu semua orang menempuh jalan yang sama, yang penting tempuhlah jalan yang benar untuk mencapai tujuan.

Saya bisa lulus pada usia 18 tahun, murni karena kehebatan ibu dalam mencari informasi mengenai sekolah dan kenekatan saya untuk pergi ke luar negeri. Saat itu usia saya 14 tahun dan berniat untuk keluar dari Salatiga. Kepergian kami ke negeri Singa pun untuk mencari SMA normal, atau A Level. Salah satu sekolah yang kami kunjungi menawarkan program business foundation untuk anak-anak yang akan mengambil jurusan bisnis S1 nya. Business foundation ini bisa dibilang pengganti SMA yang fokus hanya membahas tentang hal-hal seputar bisnis saja. Jika SMA biasa memakan waktu 3 tahun, business foundation hanya memerlukan 6 bulan, dan saya bisa langsung melanjutkan S1 setelahnya. Begitulah kenapa saya lulus S1 di usia 18 tahun, no acceleration, just different process.

Semoga perjalanan kali ini bisa memberi banyak insight bagi teman-teman ya :)))

Perjalanan

Sebuah perjalanan kehidupan.

Suatu hari, ada seorang teman yang bertanya pada saya, “apakah pernah kamu menyesali pilihan yang sudah kamu ambil?”

Sebuah pertanyaan klise yang sering ditanyakan pada saya, terutama jika topik pembahasannya adalah tentang saya yang melompati jenjang SMA. Sejujurnya, saya tipe anak yang tidak pernah melihat kembali ke masa lalu dan menyesali segalanya. Saya percaya bahwa setiap orang memiliki jalannya masing-masing. Dan sama seperti sebuah cerita dengan sisi gelap dan terangnya, begitulah kehidupan akan berlangsung. Ketika sedang dalam sisi gelap mungkin kita akan frustasi, tapi jika tidak kita jalani, maka kita tidak akan bisa melangkah ke halaman berikutnya yang mungkin saja merupakan titik yang kita nantikan.

“We live in the present, we think for the future and we learn from the past.”

Saat ini, saya merasa banyak berubah dan berkembang dengan berada di Lebah Putih, menjalani dua peran sebagai guru dan sebagai ketua yayasan. Ketika saya menjadi guru, saya harus menjaga sikap dan perilaku hingga ke detil-detil kecilnya, karena saya merupakan contoh dari anak-anak. Ketika saya menjadi ketua yayasan, saya harus menjaga sikap dan perilaku hingga ke skala besarnya. Mampu mengelola berbagai permasalahan yang ada di sekolah.

Disini saya belajar bahwa banyak hal yang saya sangka tidak mampu untuk saya lakukan, ternyata bisa. Seperti menghafal nama. Dalam satu kelas terdapat kurang lebih 20 anak, saya memiliki waktu 1 hari untuk menghafal minimal separuhnya, karena harus memanggil nama, menegur, dsb. Dan surprisingly, saya bisa. Setelah 10 tahun lebih saya selalu melupakan nama orang yang pertama kali berkenalan dengan saya. Ternyata bukan karena saya tidak mampu, namun saya tidak mau. Saya secara tidak sadar menempatkan itu ke dalam hal tidak penting, sehingga membuat saya selalu gagal dalam melakukannya.

Ini menjadi titik balik bagi saya, bahwa selama saya mau melakukan sesuatu, tentu saya akan bisa melakukannya. Kalaupun sulit, saya pasti akan menemukan caranya.

Being a teacher is surely hard, but then again, it remind us to keep learning, no matter how old we are.

Today, I learn and grow from being a teacher, who knows what I will gonna do in the future. But, whatever it is, I just wanna keep doing the best of it.

A Dandelion (5)

Day 4

Hari ini ibu harus pulang, meski aku berusaha untuk nggak menunjukkannya, tetap saja ada rasa takut tinggal di rumah ini sendirian. Mana sepanjang jalanan baru ada 3 rumah, satu di kanan dan satu di kiriku, di depan rumahku hanya bukit ilalang dengan berbagai kunang-kunang yang berkelap kelip menghias sang malam.

Untungnya, berawal dari rasa tak tega, akhirnya ibu mengirim Ara dan Elan untuk gantian menemaniku, hitung-hitung aku belajar untuk beradaptasi terlebih dahulu, sebelum akhirnya benar-benar berani sendiri.

Ibu pulang bertepatan dengan pagar raksasa yang menakjubkan itu datang. Ia menakjubkan bukan hanya karena ukurannya, tapi juga harganya yang mencapai 5 juta itu!!! Betulkan, semakin lama tukang-tukang itu disini makin pening pula kepalaku. Antara bingung dan cemas bercampur, aku dan ibu mulai berdebat, suasana tidak terlalu menyenangkan. Ah.. Aku jadi tidak bisa tenang kalau begini caranya. Om Agus membantuku mencari solusi, mulai dari meringankan beban biayaku sampai ide untuk menjual pagarnya setelah selesai masa kontrak.

Akupun tidak kalah gigih, mencoba menghubungi ibu kontrakan untuk bernegosiasi. Alhamdulillah, setelah perdebatan yang cukup panjang, akhirnya ibu kontrakan bersedia mengganti uang perbaikan rumah dengan perpanjangan masa sewaku. Lumayan, setidaknya meringankan rasa bersalahku.

Malampun tiba, dan sudah waktunya ibu untuk pulang. Rasanya sedih ditinggal ibu, apalagi masih ada segudang PR yang harus kulakukan agar rumah ini semakin nyaman ditinggali, salah satunya adalah membeli LPJ. Dan aku baru tahu kalau ribet sekali prosedur untuk membelinya…. Berlanjut di A Dandelion (6)