From Your 21 Years Old Child

Dear parents,

I know it must be hard and confusing as it is your first time having a child of 21 years old. As I’ve entered the age of a legal adult in every aspect, I could sign up for my Reksadana, I could also watch any movies that I want in the cinema, and other things that includes me in the group of adults, even I can’t use my insurance card if I’m still included as one with the family.

But then, although my status leap up dramatically in one night, but not with my knowledge. I’m just a mere 20 whole years plus a few days old. I can’t suddenly be the adults you are expecting of. And yes! It’s hard for me here too, as I’m going into the new phase of totally different world (yeah, that’s what happened to me, but terms and conditions applied, okay). As I need to adapt fast with the circumstances as well as finding the true me in the deepest ocean of myself.

So, please. Be patient, as I’m working on it too. I won’t let myself to be destroyed by my own act. It’s enough of myself trying so hard to accept all of my condition while claping at other’s success. I know that it must be hard for you to see me like this, to see your own sweet heart in the worst situation. To see her soul that seems not alive, to see her spirit that’s gone. And yeah, I’m sorry for that, I just couldn’t give you the best of me YET. So please, please, please and please, I do really beg you to be patient, and just watch me struggling with a smile. If you want to help, I’ll gladly accept it, but don’t compare me with anything, specially me in the past. That’s hurt.

Dear parents, to let you know so you won’t be confused, every child have their own cycle of age. Some are at their peak, and some are not (altho they seem in the same biological age). Please do not compare their peak and their downfall, instead, you can try to help them going up. As your help and your smile and your hug and you saying, “I’m proud of you,” means the most for them. Try to understand your child, as they are probably trying their best to make you proud.

Last but not least, this post wasn’t made to blame anybody, just a reflection for both parties to work together toward the success path. For you who are in the same phase as mine, try to change your point of view. Do something different, do something brave! Try something that you never think of (postively kay). Be someone that’s totally ready for walking into the next phase. It will be hard, depressing and pressuring, but then, it’s just the time we have to go through. Bear with it just a few more months. Don’t look away too much from your path, focus on it. Spend your time well to explore yourself. Do something that makes you happy! Be careless for a day! Be crazy (in a positive way)! Close your ears, listen to your heart!

And if you need help, I’ll be here ๐Ÿ™‚ Let’s go out from the valley together will ya?

Dear parents, please support us with your most beautiful smile, as we need a home to go back from this war and saying, “I am home.”

Advertisements

Menjadi Guru

Pada hari guru tahun ini, tepat 4 bulan sudah saya mengajar. Berbagai lika-liku sudah saya lalui. Mulai dari berkeringat dingin ketika pertama kali mengajar, bingung harus mengatakan apa, tidak punya kurikulum, serba salah, di protes orang tua, dsb.

Hingga akhirnya saya bisa menikmati setiap menit yang saya lalui bersama para bocah. Tidak setiap saat saya mendapatkan situasi kelas yang kondusif untuk saya mengajar, ada waktunya dimana saya frustasi karena tidak bisa menyampaikan materi sesuai dengan yang saya harapkan. Di lain waktu saya sangat bahagia hingga rasanya tidak ingin lepas dari anak-anak.

Namun, apapun kondisinya, saya selalu bisa dibuat kagum dengan perilaku mereka dan kebijaksanaan yang sudah terlihat dalam tubuh kecil tersebut. Seringkali mereka justru memberikan insight baru pada kehidupan saya, mereka yang menjadi penguat dikala saya merasa tidak berarti di muka bumi ini. Mereka yang memaksa saya untuk terus belajar agar pantas memberikan yang terbaik bagi mereka.

Selamat hari guru! Untuk seluruh guru hebat di penjuru nusantara ๐Ÿ™‚

FAQ #2

Question:

“Kok bisa dari homeschooling terus sekolah di Singapura dan lulus S1 di usia 18 tahun?”

Answer:

Sebelumnya, mau meluruskan dulu. Jadi, saya pertama kali homeschooling ketika duduk di kelas 4 SD pada tahun 2004, saat itu keluarga kami masih menetap di Depok. Untuk kota sebesar Depok saja, homeschooling masih dianggap aneh dan tidak diterima oleh pemerintah, sehingga kami harus menginduk ke sekolah payung (kalau gak salah Ruhama namanya) untuk melaksanakan ujian.

Di tahun 2004 akhir, Yangkung sakit parah hingga harus menginap di rumah sakit beberapa minggu, saat itu kami sekeluarga memutuskan untuk pindah ke Salatiga. Di Salatiga, homeschooling layaknya gojek 5 tahun yang lalu. Ada tapi tidak terdengar. Kebetulan, ada SD Muhammadiyah di dekat rumah Yangti yang mau mati, muridnya bisa lah dihitung menggunakan jari. Setelah ngobrol-ngobrol dengan pihak manajemen, saya bisa masuk ke sana dengan syarat harus tetap terdaftar sebagai siswa dan mengikuti berbagai kegiatan belajar mengajar. Sebagai keringanannya, kalau nilai-nilai saya bagus, saya boleh banyak ijin dari sekolah, jadi seperti semi homeschooling kalau saat ini.

Ketika itu, setiap awal buku LKS dibagikan, saya selalu semangat untuk mengerjakan semuanya sampai selesai. Dalam 2 minggu saya kumpulkan seluruh buku LKS untuk diperiksa, dan kemudian saya ijin tidak masuk sekolah dan ikut ibu seminar kemana-mana hehehe.

Memasuki SMP aku memilih untuk ke SMP Negeri karena ingin merasakan berbagai keseruan dan lika-likunya bertahan hidup di SMP Negeri yang pelajarannya banyak, gurunya kaku, seniornya galak, peraturannya ga masuk akal, tapi ekskulnya seru-seru. Banyak banget pengalaman yang saya dapatkan selama berada di SMP Negeri.

Karena keinginan sejak lulus SD untuk merantau, penasaran dengan kehidupan di tempat lain yang jauh dari bapak ibu, sendirian. Semangat untuk mencoba hal baru dan keingin tahuan bisa atau tidaknya mandiri dan bertahan hidup sendiri, membuat saya akhirnya memutuskan untuk melanjutkan SMA di Singapura. Ritual di keluarga kami, setiap akan memasuki sekolah baru, maka kami akan mengunjungi sekolah tersebut untuk memastikan apakah suasananya menyenangkan, vibenya dapet, lingkungannya seperti apa, guru-gurunya bagaimana.

Sesampainya di Singapura, saya diberitahu kalau mau ambil kuliah jurusan bisnis tidak perlu masuk SMA biasa, masuk saja program foundation selama 6 bulan (semacam kelas matrikulasi) kemudian bisa ambil kuliah. Mendengar hal tersebut tentu saja saya senang sekali, bisa menghemat waktu dan uang hahaha.

Jadi, saya tidak aksel sama sekali ya saudara-saudara, tapi memang prosesnya seperti itu. Karena, kalau aksel itu ketika materi yang seharusnya 3 tahun dipadatkan menjadi 2 tahun, sehingga menjadi tidak ideal, menghilangkan banyak waktu untuk melakukan hal lain. Sedangkan yang saya ambil, memang programnya sudah dibuat sedemikian rupa sehingga saya juga masih punya banyak waktu luang untuk mengikuti kegiatan lain di luar sekolah. Itulah mengapa saya bisa lulus di usia 18 tahun hehehe.

Nah, untuk homeschooling saya tidak bisa menceritakan pengalaman saya sendiri, jadi saya akan bercerita sebagai “kakak” dari anak-anak homeschooling lainnya yang rata-rata seumuran sama Elan (bungsu di keluarga kami). Ketika seseorang memilih untuk menggunakan jalur homeschooling, maka dia akan dihadapkan dengan berbagai pilihan yang luas sekali. Tergantung dari tujuan masing-masing individu. Bisa mengambil paket A, B, C untuk mereka yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi di Indonesia. Bisa mengambil GRE, SAT, ACT, dsb untuk mereka yang mau melanjutkan ke perguruan tinggi di luar.ย  Atau bisa juga fokus magang dari satu tempat ke tempat lain, mentoring, membuat bisnis sendiri untuk mereka yang mau fokus pada perusahaan.

Saat ini saya rasa, menjadi homeschooler memberikan banyak kebebasan, terutama bagi mereka yang sudah paham akan hal-hal yang ingin ditekuni. Di kala anak sekolah harus mempelajari 13 mata pelajaran yang belum tentu dipakai separuhnya, anak homeschooling bisa fokus pada bidang yang ia tekuni. Tidak, saya tidak mendiscreditkan sekolah, ataupun mengkafirkannya. Toh saya sangat menyukai sekolah hehehe. Hanya saja, selayaknya ada 1000 jalan menuju Roma, maka ada 1000 jalan juga menuju impian setiap orang. Saling menghargai jalan masing-masing adalah kunci kerjasama terbaik untuk membangun Indonesia kita tercinta.

Lini manapun yang dipilih untuk menuju impian, ketika berbicara mengenai edukasi, faktor terpenting adalah fasilitator utamanya, baik di sekolah swasta maupun negeri, homeschooling, unschooling, travelschooling, uncollege, dsb. Di sekolah tanpa sarana apapun, selama fasilitatornya mampu mendeliver pembelajaran dengan baik, maka anak-anaknya pun bisa unggul. Sama dengan di homeschooling, orang tua sebagai fasilitator utama, ketika tidak bisa membersamai anak dengan baik (ps. hingga usia SD hingga SMP awal, di atas itu anak sudah mampu memfasilitasi dirinya sendiri), ya hancurlah.

Tolong dipahami baik-baik bahwa anak berhak memilih jalur yang diinginkannya, hanya perlu dikenalkan dan diajarkan untuk konsisten. Jangan sampai memilih homeschooling karenaย orang tuanya merasa itu bagus, padahal anaknya nggak mau. Dan hati-hati juga, jangan sampai salah menjadi school at home. Mengundang guru les untuk 13 mata pelajaran yang dipelajari di sekolah, membuatkan jadwal sama dengan sekolah, hanya lokasinya saja pindah ke rumah. Jangan juga homeschooling dijadikan pelarian ketika anaknya dibully di sekolah, ajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya. Dulu saya dibully, sekarang saya membullyย (ups) bisa membela diri, karena memang diajarkan bahwa kalau benar jangan takut.

Huhuu, maaf jadi banyak kata-kata “jangan”, tapi ini penting banget soalnya. Sering saya miris melihat anak yang menjalani kehidupannya karena egoisme orang tua. Merdekakan anak untuk memilih, belajar sesuai yang diinginkannya, ajari ia iman, adab, akhlak dan bicara, namun bebaskan ia menentukan apa bidang yang ingin ditekuninya.

Akhir kata, sebagai siapapun kita, anak maupun orang tua, belajar untuk memahami pihak lain. Pendidikan itu milik bersama, because it takes a village to raise a child. Maka, musyawarahkan, pilih, dan jalani!

FAQ #1

Question:

“Gimana rasanya jadi anak bu Septi dan pak Dodik?”

Answer:

Nano-nano! Panjang kalau diceritain semuanya, but lemme summarize it in an enjoyable way for you ๐Ÿ™‚

Gambaran gampangnya, jadi anak orang terkenal itu harus siap dengan berbagai ekspektasi dan asumsi khalayak ramai yang (bahkan) nggak kamu kenal. Harus bisa menerima ketika orang lain hanya menggumam, “pantes, kan anaknya bu Septi dan pak Dodik,” ketika kita meraih sesuatu. Serta harus menyiapkan mental untuk komentar, “padahal anaknya bu Septi sama pak Dodik, ternyata kayak gitu ya kelakuannya.”

Dulu, ketika saya masih remaja (duh ketahuan udah tua), sering banget menghindar dan langsung blocking diri ketika ada orang yang menyangkut pautkan berbagai hal yang saya lakukan dengan bapak dan ibu. Itu pula yang menjadi alasan kuat bagi saya untuk memilih kuliah di Singapura, memulai lagi dari awal kehidupan saya, dimana tidak ada yang mengenal siapa itu ibu Septi Peni Wulandani dan bapak Dodik Mariyanto.

Ini merupakan fase penting bagi setiap remaja, menurut saya. Karena nggak hanya mereka yang anak seorang public figure, hampir setiap anak pasti pernah mengalami dibanding-bandingkan, atau dibayang-bayangi sosok orang disekitarnya. Entah itu orang tua, saudara, teman dekat, kerabat, ada aja deh pokoknya bahan untuk membanding-bandingkan satu sama lain. Dan ini bahaya banget kalau terjadi ketika masa pembentukan jati diri, bisa-bisa kalau nggak tahan, sang anak bisa melabeli dirinya “not worth it.”

Berada di Singapura menjadi turning point bagi saya untuk bisa menerima diri sendiri, bahwa saya itu berbeda dan saya itu juga berbakat kok. Hingga beberapa waktu yang lalu, saya masih kesulitan setiap kali mengisi bagian “prestasi” di CV setiap diminta menjadi pembicara. Karena bagi kebanyakan orang, prestasi itu ya yang terlihat, ada pialanya, ada piagamnya. Padahal, menurut saya, bisa hidup dengan bahagia di Singapura, menjadi anak rantau, mencari penghasilan sendiri itu adalah sebuah prestasi. Berhasil berdamai dengan diri sendiri itu prestasi. Menjadi anak yang berbakti pada orang tua itu prestasi.

Intinya, carilah bagian dari dirimu yang bisa membuatmu sangat bangga. Dan percaya bahwa dirimu itu adalah manusia unik yang paling berharga sedunia.

Seru banget deh pokoknya jadi anaknya bu Septi dan pak Dodik, tapi saya yakin, setiap orang pasti ditempatkan di tempat terbaik dengan keluarga terbaiknya. Karena setiap perjalanan itu seru, tergantung dari sisi mana kita melihatnya. So, nggak boleh iri-irian, nggak boleh sombong-sombongan orang tua ya. Hati-hati dengan kata-kata multi tafsir seperti, “tapi aku tetep lebih milih sama orang tua aku, meskipun bla bla bla, tapi bla bla bla.” Bisa jadi bermakna bahwa orang tua yang lain tidak sebaik orang tua temen-temen. Hati-hati juga dengan kalimat, “enak ya kamu orang tuanya bla bla bla, jadi bisa sukses, bisa pinter, kalo aku kan bla bla bla.” Eits, cik coba atuh ditukar orang tuanya, apakah kamu tetep bisa se-berprestasi dia? Belum tentu.

Selamat menerima diri dan lingkunganmu. Ayo bertumbuh bersama ๐Ÿ™‚

Komunikasi Produktif (2)

My friend will come this saturday, and I might be away from home for a night. We plan to go to Temanggung, because there will be Pasar Papringan (a market in the middle of bamboo forest) this Sunday, and we wanna go to that event together. Moreover, my friend just built a start up that focus on farming, maybe this can be a fresh idea for him or at least he could build many good relations there.

Anyway, today’s drama started from the early morning, where I insisted to go to Temanggung by motorcycle, eventhough last night I couldn’t sleep because of the influenza I had. Bapak forced me not to go until I’m totally recover. Meanwhile, I can’t be a bad host that abandon my guest.

The little me inside really just want to be rebel, by just doing what I want, and not thinking of what gonna happened next. Luckily, the mature me can calm myself down, and starting to try finding an agreement with Bapak. In the end, we both agree that I could still go to Temanggung but using bus, not motorcycle (altho it has more complicated route).

I learned that everything can be settled once we calm and communicate each other’s opinion. Easy to say, but difficult to do :’)

WhatsApp Image 2017-11-06 at 21.01.06
Degan bakar papringan. Tersedap.

Komunikasi Produktif (1)

Sebetulnya beberapa hari terakhir ini tidak pernah ada masalah antar anggota di keluarga kami, rasanya komunikasi kami jadi membaik dibandingkan dulu awal-awal sebelum saya merantau. Iseng-iseng saya mulai melakukan pengamatan mengenai hal-hal yang berubah di dalam keluarga, biar makin yakin kalau memang komunikasinya yang membaik, bukan kami yang menghindar dari masalah.

Kalau dilihat-lihat intonasi bicara ketika kami bercakap-cakap makin riang dan nggak banyak ngajak gelut. Saya rasa ini adalah bagian terpenting, dibandingkan dengan pemilihan diksi dalam berbicara. Intonasi yang menyenangkan akan mengundang kebahagiaan dari orang lain, sebaliknya, meski kata-kata yang digunakan baik, intonasi yang tidak enak bisa membuat segalanya jadi runyam. Mm… pantes aja ya kalau ngobrol via chat sering miskom, intonasinya kan ga kedengeran.

Tapi selain intonasi, raut wajah ketika ngobrol juga penting. Apalagi bapak adalah orang paling sarkas sejagad raya, kalau raut wajahnya mencurigakan, intonasi yang menyenangkan tadi jadi dipenuhi tanda tanya. Saya pun begitu, seringkali nggak bisa kontrol raut wajah, apalagi kalau ditanyain masalah kerjaan. Maklum ya, punya orang tua sekaligus atasan itu kan double degree sesuatunya (mereka yang ngelanjutin usaha keluarga itu…. TANGGUH), ngobrol santai aja bisa berujung ribut. Yang satu merasa diserang, yang satu lagi merasa “lah kan gue cuman nanya,” atau “lah gue kan cuman cerita.”

IMG_20170519_113418
Ini adalah contoh raut muka ngajak ribut + patut dicurigai

Makanya, setiap aspek saat ngobrol jadi penting, apalagi kalau ngebahas hal yang serius (terutama NIKAH! Huft).

Yang saya rasakan beberapa hari ini, pemosisian peran serta penataan hati itu penting banget sebelum ngobrol. Yang biasanya saya lakuin selama ini ya set mood dulu, apalagi kalau pembahasannya serius. Kudu legawa. Kalau udah set mood, baru deh masukin peran + pembawaannya. Misal, hari ini jadi anak kecil: ceria, murah senyum, fun, ceplas ceplos. Atau, hari ini jadi ketua yayasan: serius, cerdas, pembawaannya tegas.

Boleh dong di share, apa hal-hal yang dilakukan oleh teman-teman, terutama buat yang punya intonasi suara tinggi dan default muka ngajak berantem seperti saya, huhuuu.

 

Komunikasi Produktif (0)

Assalamu’alaikum semuanya~

Lama tak melihat postinganku mengenai Ibu Profesional ya, itu semua dikarenakan sebuah kesibukan dan ke-skip-an saya untuk daftar lagi dari cuti Bunda Sayang yang tertunda. Ah sudahlah.

Eniwei, saya kembali lagi ketika keadaan sudah damai dan tenang (entah kenapa saya selalu skip tahap awal di IIP. Sungguh anak founder yang kurang teladan :’ mungkin tugas saya memang melanjutkan di yang kedua dan seterusnya ya #acie). Seperti yang sebelumnya (dan tidak pernah saya kerjakan di Bunsay 1), kelas pertama Bunsay mengenalkan mengenai Komunikasi Produktif, bagaimana kita harus menyamakan FOR (frame of reference) dan FOE (frame of experience) kita dan pasangan lawan bicara (duh ga usah ngaku-ngaku pasangan deh, mblo).

Hal ini penting banget karena kita sebagai pihak yang mengkomunikasikan mempunyai kewajiban dan kepentingan untuk memastikan apa yang kita komunikasikan mampu tersalur dengan benar. Karena, apa yang diterima oleh orang yang mendengarkan merupakan tanggung jawab mereka yang mengkomunikasikan sepenuhnya, jadi jangan gampang menyalahkan lawan bicara ya, rubah cara komunikasimu! (mengutip dari tulisan Profesor Doktor Bunda Agung Septi Peni Wulandani, Guru Besar Institut Ibu Profesional).

Di tantangan pertama kali ini, saya disuruh untuk memilih satu anggota keluarga yang mau ditingkatkan lagi pola komunikasinya, dan saya memilih…. eng ing eng.. setelah pariwara yang berikut ini #digaplokpembaca.

Oke, back to topic, saya memilih Bapak untuk menjadi partner tantangan saya kali ini. Alasannya super simpel, karena beliau adalah teman berantem saya sejak jaman orde baru sampe millenial (berapa periode coba kami lalui bersama. Unch). Jarang sekali kami berdiskusi hal serius tanpa adu urat, selalu saja ada bahan untuk kami permasalahkan bersama, dan ujung-ujungnya komunikasi kedua belah pihak tidak tersalur dengan baik.

Well, kami berdua sama-sama keras kepala dan gengsinya tinggi, jadi susah untuk menurunkan ego masing-masing dan mencoba untuk saling mengerti. Maka, di hari ini, saya mencoba mengerti apa yang menjadi FOR dan FOE bapak (bohong banget! seharian kamu di luar rumah Nes) saya berkomunikasi dengan bapak seperti biasa, kami mengobrol sembari perjalanan menuju ke Lebah Putih, banyak membicarakan Ara dan tidak membicarakan saya (pengalih isu).

Oke. Aku mau pengakuan dosa aja deh. Hari ini saya belum membuat improvement apa-apa dengan bapak, masih seperti biasa, hanya tidak ada hal yang membuat kami bersitegang saja. Besok karena akan berada seharian di rumah, saya berjanji akan berkomunikasi lebih baik lagi dengan bapak, mencoba memahami FOR dan FOE bapak, agar ada FOR dan FOE kita.

Terimakasih Ibu Profesional, yang telah menyatukan lagi aku dan bapakku (jiga program tali kasih wkwkwk).

IMG_20170518_140728

Gambar 1. Bapak mencoba mendinginkan kepalanya menggunakan keranjang buah. Sepertinya efektif, boleh dicoba manteman.