AKU LULUUSSS

untitled

Pengumuman kelulusan Program Matrikulasi IIP Batch 2 diumumkan bertepatan dengan hari ibu, 22 Desember 2016. Setelah 9 minggu mati-matian mengerjakan tugas, yang disebut NHW (Nice Home Work), akhirnya kami lulus juga.

Padahal saya anaknya founder IIP, tapi kok ya masih kepontal-pontal ya ngerjainnya. Selalu deadliners yang mengumpulkan paling cepat hari Sabtu (deadlinenya setiap Minggu sore), bahkan pernah 2 NHW ditumpuk jadi satu ngiriminnya, karena ga sempet ngerjain pas lagi tour jakarta-bandung bolak-balik. Hanya satu NHW yang saya kumpulkan sehari setelah tugas diberikan, NHW 9, which is yang terakhir! Yippie! High Energy Ending! HAHAHHAHA *maafkan geje, saking senengnya.

Jadi, untuk semua ibu yang berhasil menyelesaikan NHW, bahkan mengumpulkan sangat-sangat tepat waktu, saya super duper salut. Karena saya yang single aja udah telolet banget ngerjainnya, hahaha.

Harus saya akui, program matrikulasi IIP ini sangat-sangat terstruktur dan luar biasa, saya yang anaknya bu Septi saja sampai kagum melihat kecerdasan ibu saya (hampura bu, da di rumah ibu dijadiin bahan bully wae >v<). Dan hebatnya lagi, setiap NHW yang diberikan membuat semua pesertanya berpikir keras, istilah kerennya mah, ber-tafakur gitu yah. Kualitas hasilnya juga bisa terlihat, mana yang hanya teori saja, dan mana yang sudah langsung praktek menjalankan.

Pokoknya program matrikulasi IIP best banget deh, salut. Setelah ini, giliran saya menggarap program matrikulasi untuk pranikah. Super challenging juga, karena broad banget yang harus dirangkum, tapi insyaa Allah mah bisa! Bismillah.

 

Advertisements

Tantrum

Kata tantrum merupakan hal yang tak lagi asing di kalangan para orang tua. Tantrum sendiri merupakan hal alamiah yang dialami setiap anak pada usia dini (10 bulan – 4 tahun) ketika sang anak bingung untuk mengekspresikan emosi yang ia rasakan. Ketika anak masih tantrum pada usia-usia balita ke atas, bisa jadi menandakan bahwa ada yang salah dengan pola asuh anak tersebut.

Saya sendiri dulu masih sering tantrum hingga kelas 5 SD, ketika saya tantrum, pasti saya akan mencari objek untuk dilayangkan atau dibanting. Pernah satu kali saya tidak dapat mengerjakan soal matematika dan tidak ada orang yang bisa saya tanyai, seketika saya bingung dan tidak tahu harus bagaimana sehingga emosi meluap dan menghancurkan seisi kamar saya.

Nah, sebetulnya gimana sih cara mencegah anak agar tidak menjadi-jadi ketika tantrum? Berikut beberapa cara yang dilakukan pak Dodik dan bu Septi selaku “ketua geng” Padepokan Margosari:

1. Lakukan komunikasi yang “selesai” dengan pasangan

Komunikasi yang berbeda antara ayah dengan bunda dapat membuat anak bingung sehingga semakin memperparah emosinya. Contoh, ketika anak merengek pada ibu tidak dihiraukan, namun ketika melakukannya pada ayah selalu membuahkan hasil.

Artikel mengenai pola komunikasi keluarga dapat dilihat disini

2. Ajarkan anak untuk meminta dengan baik

Sebagai orang tua anda harus tega dan mampu menahan emosi ketika anak sudah mulai tantrum. Jangan pernah meladeni sikap tantrum anak, apalagi buru-buru memberikan apa yang ia minta. Tunggu beberapa saat hingga emosinya mereda (anda hanya perlu memastikan tidak ada barang-barang berbahaya disekitarnya), kemudian ajak anak berdiskusi tentang perilakunya tesebut. Buatlah kesepakatan bersama mengenai sikap yang baik ketika meminta sesuatu.

3. Beritahukan kepada anak beberapa cara untuk menyalurkan emosinya

Karena saya bukanlah anak yang senang mengungkapkan sesuatu secara verbal, maka saya menggunakan tulisan sebagai media untuk mengungkapkan berbagai hal yang saya rasakan. Kala itu, saya diajarkan oleh ibu untuk membuat blog, dimana saya bisa mencurahkan seluruh pikiran saya dengan bebas, dan yang terpenting, orang tua bisa memantau emosi anak melalui blog tersebut.

Itu untuk kasus saya, untuk kasus putra-putri ayah bunda bisa berbeda lagi, so, let’s find out!

4. Puji anak ketika ia berbuat benar

Ketika anak sudah meminta dengan baik, maka respon anak dengan sikap yang positif. Seperti memberikan apa yang ia minta, jika belum mampu, maka anda harus menjelaskan alasannya kepada anak. Jangan sampai anak berpikir bahwa, “ah meminta secara baik juga ternyata tidak di respon, sama saja.”

5. Konsisten

Ini nih, hal yang seringkali menjadi hal yang paling susah bagi orang tua, konsisten dengan apa yang sudah disepakati. Entah karena tekanan ekonomi, emosi kita yang sedang labil, atau bisa juga karena gengsi sehingga mengesampingkan apa yang sudah disepakati.

Kembali ke point nomer 1, hal ini dapat memunculkan kebingungan dan rasa tidak percaya anak kepada orang tuanya. Tentu kita sebagai orang tua tidak ingin hal itu terjadi bukan?

 

Yang paling mengetahui tentang anak adalah orang tuanya sendiri, maka dari itu wajib bagi ayah bunda untuk mendampingi putra-putrinya terutama diumur 0-12 tahun, dimana anak masih sangat membutuhkan orang tuanya.