あのね…

あのね…

The worst feeling I have ever felt is when I woke up with a sad feeling and I don’t understand why. Looking up at the sky all gloomy and cloudy.

あのね…

Last night I was devastated by the truth that I have lost. I lost my way, I lost the blink inside my eyes and I lost the faith in myself. Pretty much broken am I?

あのね…

It’s not the state where I can be proud of, but I understand that almost every person will have this state in their own orbit of ages. This state is when we doubt on ourself. We don’t understand the purpose in our life anymore.

あのね…

We won’t moving on to the next phase if we can’t accept our current situation. Never deceive yourself with a lullaby, it’s great for a storytelling but not for your life. Face the problem you have, find a solution for it. If you don’t have a plan, say it! Don’t hide behind the sweet words that calm you down by saying “everything gonna be okay. YOU gonna be fine.” BECAUSE IT IS NOT. You are not fine! And you won’t be until you decide it yourself. You are the one responsible of your condition.

あのね…

It’s hard, even when someone trying to help, but you can’t just get out of the devil circle (and even put aside those who really care of you). I know. I’ve felt it. But let’s get out of this hellish situation together won’t ya? Let’s live our life better, cause we deserve it too.

Advertisements

Guru dan Mahasiswa

Saya tergelitik dengan istilah yang dipakai di Indonesia, namun sebelumnya, mari kita melihat definisi dari istilah yang dipakai tersebut.

MAHA- /ma.ha-/ bentuk terikat 1. sangat; amat; teramat; 2. besar

GURU – a spiritual teacher; a teacher and especially intellectual guide in matters of fundamental concern; one who is an acknowledged leader or chief opponent; a person with knowledge or expertise

Saya mencoba mencari tahu asal mula dibentuknya kata “Mahasiswa,” namun belum bisa menemukannya. Karena ini unik, di dalam bahasa Inggris, seluruh murid dari TK hingga Universitas dipanggil dengan sebutan students. Begitupula di dalam bahasa lain (hasil coba-coba dari google translate hehe), kalau diketik kata siswa dan mahasiswa tidak ada bedanya. Hanya di Indonesia yang disematkan kata “Maha” yang berarti besar/teramat di belakang kata “siswa.”

Saya membayangkan, dibalik penyematan kata Maha, terdapat pengharapan besar bahwa Indonesia akan menjadi lebih baik di tangan para Mahasiswa. Begitu pula dengan “Guru,” di luar negeri hanya orang yang paling ahli dan dihormati lah yang layak menyandang sebutan Guru, sedangkan pengajar di sekolah-sekolah disebut “teacher.” Di Indonesia, setiap pengajar mendapat sebutan Guru, pahlawan tanpa tanda jasa. Seseorang yang berjuang demi majunya pendidikan rakyat Indonesia.

“Yang paling hebat bagi seorang Guru adalah mendidik, dan rekreasi yang paling indah adalah mengajar.” – K.H Maimun Zubair

Seorang Guru di luar dikenal dengan kebijaksanaannya yang luar biasa, semangatnya yang terus berkobar serta pengetahuannya yang mumpuni. Maka, dibandingkan mengubah istilah, saya lebih senang jika kita memiliki kesadaran untuk bertingkah laku sesuai dengan “jabatan” yang kita sandang tersebut. Karena rumusnya “Be-Do-Have,” menjadi/bertingkah laku sesuai dengan yang kita inginkan (be, then do), sehingga kita layak untuk mendapatkan apa yang kita harapkan (have).

Jadilah seorang Mahasiswa yang layak menyandang status “Maha” dibalik siswa, lebih banyak aksi dibandingkan keluhan. Jadilah seorang Guru yang layak menyandang status “Guru”, bijaksana, semangat serta mumpuni dalam bidangnya. Pantaskan diri agar mampu untuk “digugu lan ditiru.”

Postingan ini saya buat bukan untuk menggurui, melainkan untuk menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa ada tanggung jawab yang dipikul oleh masing-masing gelar. Tugas kita adalah memantaskan diri untuk layak memikul jabatan tersebut.

Selamat Hari Guru 🙂

FAQ #2

Question:

“Kok bisa dari homeschooling terus sekolah di Singapura dan lulus S1 di usia 18 tahun?”

Answer:

Sebelumnya, mau meluruskan dulu. Jadi, saya pertama kali homeschooling ketika duduk di kelas 4 SD pada tahun 2004, saat itu keluarga kami masih menetap di Depok. Untuk kota sebesar Depok saja, homeschooling masih dianggap aneh dan tidak diterima oleh pemerintah, sehingga kami harus menginduk ke sekolah payung (kalau gak salah Ruhama namanya) untuk melaksanakan ujian.

Di tahun 2004 akhir, Yangkung sakit parah hingga harus menginap di rumah sakit beberapa minggu, saat itu kami sekeluarga memutuskan untuk pindah ke Salatiga. Di Salatiga, homeschooling layaknya gojek 5 tahun yang lalu. Ada tapi tidak terdengar. Kebetulan, ada SD Muhammadiyah di dekat rumah Yangti yang mau mati, muridnya bisa lah dihitung menggunakan jari. Setelah ngobrol-ngobrol dengan pihak manajemen, saya bisa masuk ke sana dengan syarat harus tetap terdaftar sebagai siswa dan mengikuti berbagai kegiatan belajar mengajar. Sebagai keringanannya, kalau nilai-nilai saya bagus, saya boleh banyak ijin dari sekolah, jadi seperti semi homeschooling kalau saat ini.

Ketika itu, setiap awal buku LKS dibagikan, saya selalu semangat untuk mengerjakan semuanya sampai selesai. Dalam 2 minggu saya kumpulkan seluruh buku LKS untuk diperiksa, dan kemudian saya ijin tidak masuk sekolah dan ikut ibu seminar kemana-mana hehehe.

Memasuki SMP aku memilih untuk ke SMP Negeri karena ingin merasakan berbagai keseruan dan lika-likunya bertahan hidup di SMP Negeri yang pelajarannya banyak, gurunya kaku, seniornya galak, peraturannya ga masuk akal, tapi ekskulnya seru-seru. Banyak banget pengalaman yang saya dapatkan selama berada di SMP Negeri.

Karena keinginan sejak lulus SD untuk merantau, penasaran dengan kehidupan di tempat lain yang jauh dari bapak ibu, sendirian. Semangat untuk mencoba hal baru dan keingin tahuan bisa atau tidaknya mandiri dan bertahan hidup sendiri, membuat saya akhirnya memutuskan untuk melanjutkan SMA di Singapura. Ritual di keluarga kami, setiap akan memasuki sekolah baru, maka kami akan mengunjungi sekolah tersebut untuk memastikan apakah suasananya menyenangkan, vibenya dapet, lingkungannya seperti apa, guru-gurunya bagaimana.

Sesampainya di Singapura, saya diberitahu kalau mau ambil kuliah jurusan bisnis tidak perlu masuk SMA biasa, masuk saja program foundation selama 6 bulan (semacam kelas matrikulasi) kemudian bisa ambil kuliah. Mendengar hal tersebut tentu saja saya senang sekali, bisa menghemat waktu dan uang hahaha.

Jadi, saya tidak aksel sama sekali ya saudara-saudara, tapi memang prosesnya seperti itu. Karena, kalau aksel itu ketika materi yang seharusnya 3 tahun dipadatkan menjadi 2 tahun, sehingga menjadi tidak ideal, menghilangkan banyak waktu untuk melakukan hal lain. Sedangkan yang saya ambil, memang programnya sudah dibuat sedemikian rupa sehingga saya juga masih punya banyak waktu luang untuk mengikuti kegiatan lain di luar sekolah. Itulah mengapa saya bisa lulus di usia 18 tahun hehehe.

Nah, untuk homeschooling saya tidak bisa menceritakan pengalaman saya sendiri, jadi saya akan bercerita sebagai “kakak” dari anak-anak homeschooling lainnya yang rata-rata seumuran sama Elan (bungsu di keluarga kami). Ketika seseorang memilih untuk menggunakan jalur homeschooling, maka dia akan dihadapkan dengan berbagai pilihan yang luas sekali. Tergantung dari tujuan masing-masing individu. Bisa mengambil paket A, B, C untuk mereka yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi di Indonesia. Bisa mengambil GRE, SAT, ACT, dsb untuk mereka yang mau melanjutkan ke perguruan tinggi di luar.  Atau bisa juga fokus magang dari satu tempat ke tempat lain, mentoring, membuat bisnis sendiri untuk mereka yang mau fokus pada perusahaan.

Saat ini saya rasa, menjadi homeschooler memberikan banyak kebebasan, terutama bagi mereka yang sudah paham akan hal-hal yang ingin ditekuni. Di kala anak sekolah harus mempelajari 13 mata pelajaran yang belum tentu dipakai separuhnya, anak homeschooling bisa fokus pada bidang yang ia tekuni. Tidak, saya tidak mendiscreditkan sekolah, ataupun mengkafirkannya. Toh saya sangat menyukai sekolah hehehe. Hanya saja, selayaknya ada 1000 jalan menuju Roma, maka ada 1000 jalan juga menuju impian setiap orang. Saling menghargai jalan masing-masing adalah kunci kerjasama terbaik untuk membangun Indonesia kita tercinta.

Lini manapun yang dipilih untuk menuju impian, ketika berbicara mengenai edukasi, faktor terpenting adalah fasilitator utamanya, baik di sekolah swasta maupun negeri, homeschooling, unschooling, travelschooling, uncollege, dsb. Di sekolah tanpa sarana apapun, selama fasilitatornya mampu mendeliver pembelajaran dengan baik, maka anak-anaknya pun bisa unggul. Sama dengan di homeschooling, orang tua sebagai fasilitator utama, ketika tidak bisa membersamai anak dengan baik (ps. hingga usia SD hingga SMP awal, di atas itu anak sudah mampu memfasilitasi dirinya sendiri), ya hancurlah.

Tolong dipahami baik-baik bahwa anak berhak memilih jalur yang diinginkannya, hanya perlu dikenalkan dan diajarkan untuk konsisten. Jangan sampai memilih homeschooling karena orang tuanya merasa itu bagus, padahal anaknya nggak mau. Dan hati-hati juga, jangan sampai salah menjadi school at home. Mengundang guru les untuk 13 mata pelajaran yang dipelajari di sekolah, membuatkan jadwal sama dengan sekolah, hanya lokasinya saja pindah ke rumah. Jangan juga homeschooling dijadikan pelarian ketika anaknya dibully di sekolah, ajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya. Dulu saya dibully, sekarang saya membully (ups) bisa membela diri, karena memang diajarkan bahwa kalau benar jangan takut.

Huhuu, maaf jadi banyak kata-kata “jangan”, tapi ini penting banget soalnya. Sering saya miris melihat anak yang menjalani kehidupannya karena egoisme orang tua. Merdekakan anak untuk memilih, belajar sesuai yang diinginkannya, ajari ia iman, adab, akhlak dan bicara, namun bebaskan ia menentukan apa bidang yang ingin ditekuninya.

Akhir kata, sebagai siapapun kita, anak maupun orang tua, belajar untuk memahami pihak lain. Pendidikan itu milik bersama, because it takes a village to raise a child. Maka, musyawarahkan, pilih, dan jalani!

Perjalanan

Sebuah perjalanan kehidupan.

Suatu hari, ada seorang teman yang bertanya pada saya, “apakah pernah kamu menyesali pilihan yang sudah kamu ambil?”

Sebuah pertanyaan klise yang sering ditanyakan pada saya, terutama jika topik pembahasannya adalah tentang saya yang melompati jenjang SMA. Sejujurnya, saya tipe anak yang tidak pernah melihat kembali ke masa lalu dan menyesali segalanya. Saya percaya bahwa setiap orang memiliki jalannya masing-masing. Dan sama seperti sebuah cerita dengan sisi gelap dan terangnya, begitulah kehidupan akan berlangsung. Ketika sedang dalam sisi gelap mungkin kita akan frustasi, tapi jika tidak kita jalani, maka kita tidak akan bisa melangkah ke halaman berikutnya yang mungkin saja merupakan titik yang kita nantikan.

“We live in the present, we think for the future and we learn from the past.”

Saat ini, saya merasa banyak berubah dan berkembang dengan berada di Lebah Putih, menjalani dua peran sebagai guru dan sebagai ketua yayasan. Ketika saya menjadi guru, saya harus menjaga sikap dan perilaku hingga ke detil-detil kecilnya, karena saya merupakan contoh dari anak-anak. Ketika saya menjadi ketua yayasan, saya harus menjaga sikap dan perilaku hingga ke skala besarnya. Mampu mengelola berbagai permasalahan yang ada di sekolah.

Disini saya belajar bahwa banyak hal yang saya sangka tidak mampu untuk saya lakukan, ternyata bisa. Seperti menghafal nama. Dalam satu kelas terdapat kurang lebih 20 anak, saya memiliki waktu 1 hari untuk menghafal minimal separuhnya, karena harus memanggil nama, menegur, dsb. Dan surprisingly, saya bisa. Setelah 10 tahun lebih saya selalu melupakan nama orang yang pertama kali berkenalan dengan saya. Ternyata bukan karena saya tidak mampu, namun saya tidak mau. Saya secara tidak sadar menempatkan itu ke dalam hal tidak penting, sehingga membuat saya selalu gagal dalam melakukannya.

Ini menjadi titik balik bagi saya, bahwa selama saya mau melakukan sesuatu, tentu saya akan bisa melakukannya. Kalaupun sulit, saya pasti akan menemukan caranya.

Being a teacher is surely hard, but then again, it remind us to keep learning, no matter how old we are.

Today, I learn and grow from being a teacher, who knows what I will gonna do in the future. But, whatever it is, I just wanna keep doing the best of it.

Baginda Raja dan Negeri Porak Poranda

Bolehkah aku menyampaikan sesuatu baginda Raja? Sebuah rasa yang kupendam dan kebingungan yang tak kunjung hilang. Sebuah mimpi yang hanya jadi angan, tentang Negerimu yang terombang-ambing oleh jaman. Di saat anak muda tak lagi paham makna berbeda dan dan para sesepuh tak lagi mampu untuk bersatu.

Kenapa kami tak lelah mencela sesama, tapi lupa untuk memperbaiki diri dan lingkungannya? Kenapa kami begitu ambisius untuk dianggap benar, padahal kebenaran hanya milik Allah semata? Kenapa tujuan kami sama namun tak boleh mengambil jalan yang berbeda, meski seribu jalan terbentang menuju Roma, Yang Mulia?

Haruskah kami kembali terjun ke dalam jurang kesulitan untuk dapat memaknai kebahagiaan? Atau perlukah untuk darah tertumpah sebelum kami paham bagaimana cara meminta maaf? Kekuasaan semu yang dikejar seluruh penjuru Negeri ini, melalaikan mata dan hati kami bagaimana cara untuk berbagi. Semua berlomba menjadi Robinhood, dermawan dengan uang colongan. Apakah itu Negeri yang Engkau inginkan Baginda?

Bantu hamba, Baginda. Bantu hamba untuk menjadi bagian dari perubahan yang mampu memancarkan cinta bagi semesta. Meski hamba sadar bahwa akan banyak aral melintang, namun jangan hilangkan rasa cinta hamba kepada NegeriMu, Baginda. Karena hanya rasa itu yang tersisa di antara porak poranda, hanya rasa itu yang mampu menghapuskan kebencian yang melanda.

Sekian hamba bercerita, salam dan kehormatan selalu terlantun untuk Baginda.

Starting From Km 0

Dalam artikel “Ilmu dan Saya”, saya mendedikasikan diri saya untuk mempelajari perihal pranikah sembari menunggu sang pangeran datang. Selain ilmu pranikah, saat ini sendiri saya sedang menekuni bidang fashion melalui media Busana Eneska, baju keluarga/sarimbit custom untuk menunjukkan keunikan keluarga ayah dan bunda.

Sebagai perwujudan dari kesungguhan saya dalam mempelajari jurusan yang telah saya pilih di dalam universitas kehidupan ini, saya membuat checklist dari berbagai hal yang harus saya lakukan secara konsisten di “Menjadi Saya, Menjadi Istri dan Menjadi Ibu“. Meski semangat masih membara, namun prakteknya saya masih belum konsisten menjalankan apa yang saya tulis tersebut. Beberapa hari ini saya masih sibuk mengatur ritme bekerja serta belajar saya, sehingga seringkali saya justru melewatkan berbagai hal yang sudah saya tulis. Ah… Saya perlu mulai melakukan apa yang saya tulis tersebut mulai dari sekarang. Bismillah.

Yang paling seru tentu saja di artikel “Hai Calon Imam”, tolong itu lirikannya nggak usah penuh arti begitu, iya saya tahu saya jomblo. Memiliki misi hidup sebagai seorang “pembabat alas”, tentu bukan sesuatu yang mudah, namun saya yakin Allah telah memberikan tools yang saya butuhkan dalam menjalankan misi tersebut.

Di artikel kali ini, saya akan membahas lebih lanjut mengenai misi hidup. Selama ini saya sering diributkan dengan bidang apa yang harus saya tekuni, karena tergiur dengan ucapan berbagai orang sukses bahwa, “pekerjaan yang paling menyenangkan adalah hobi yang dibayar.” Akhirnya saya sibuk mencari hobi apa yang sangat saya sukai hingga membawa saya menuju kesuksesan.

Namun ternyata, itu hanya menghabiskan waktu saya – yang tidak banyak – dan menjadi excuse bagi saya menolak berbagai hal yang hadir di depan saya karena “nggak gue banget.” Akhirnya, sejak saya tinggal di Singapura, saya berusaha untuk melakukan berbagai hal yang hadir di depan saya dengan sebaik-baiknya, siapa tahu dari situlah jalan hidup saya bermula. Dan saya pun masuk ke Shafira Corporation karena bertemu dengan foundernya yang ciamik, ibu Feny Mustafa, di detik-detik terakhir menjelang kelulusan.

Hampir dua tahun saya mengeksplorasi dunia kerja bersama Shafco, hingga akhirnya saya lulus pada Agustus 2016 lalu dan mulai membuka usaha saya sendiri di bidang baju keluarga. Awal mulanya cukup simpel, bisa dilihat di “Awal Mula Busana Eneska,” disitu saya menceritakan berbagai pertimbangan kenapa memilih bidang ini, meski awalnya saya sangat buta mengenai fashion.

Seiring berjalannya waktu, saya semakin meyakini bahwa apapun bidangnya, saya terlahir dengan peran sebagai seorang pembabat alas, yaitu mereka yang memasuki hal baru dan setting up the system. Dengan peran tersebut, apapun bidang yang saya masuki, saya harus sadar diri bahwa saya akan selalu mengalami masa-masa berat meraba dan mempelajari berbagai hal yang di luar jangkauan saya.

Setiap manusia hebat pasti berjalan dari KM 0, tidak ada kesuksesan yang tiba-tiba. Maka, saya perlu menentukan KM 0 saya, agar saya tahu kapan saya akan sampai ke tujuan. Menilik ke life plan saya sendiri, saya ingin sukses (dengan artian dapat melepas bisnis secara mandiri) di usia 25 tahun, 5 tahun kurang dari sekarang. Jika sebulan saya bekerja selama 25 hari, maka saya memiliki waktu kurang lebih 56 bulan lagi, atau 1.400 hari untuk menggapai mimpi saya. Jika menurut teori, seseorang bisa sukses setelah 10.000 jam, maka saya harus mendedikasikan waktu 7 jam setiap harinya agar bisa sukses di usia 25 tahun.

Karena ada 2 jurusan yang saya ambil, maka saya akan membaginya ke dalam 7 jam pranikah dan 4 jam desain dan textile.

KM 0 saya akan saya mulai pada Senin, 14 November 2016. Sepanjang KM 0 – KM 1 (1 tahun), saya akan mempelajari tentang: berbagai macam jenis kain, design, dan ilmu management. Dari sisi pranikah sendiri, saya akan menulis buku, serta menuntaskan ilmu komunikasi pranikah, bagaimana caranya saya berkomunikasi dengan suami, anak, saudara dari suami, keluarga dari suami, mertua, serta keluarga kita sendiri. Karena saya kelak akan menjadi representatif dari keluarga kandung saya dan juga keluarga kecil saya sendiri.

Bismillah, langkah-langkah awal memang tidak selalu mudah, namun jika bisa konsisten berjalan selangkah demi selangkah, insyaa Allah kita akan mencapai tujuan.

Ramadhan Notes #2

RESPECTING OTHERS

We often found ourselves in the midst of debate, just because we can’t accept other’s perspective and holding on to ours too tight. Whereas there is no absolute truth other than Thee, and in my opinion, there is no need of debating for what’s been said by Him.

My family and I believe that children should be educated by their parents, not by others, even the grandparents. Because those children are given to us, not other, and we are fully responsible of everything happened to them. Taken care of them is one of the ways to show our gratitude for what have been given to us. That’s our belief.

As a family that active in homeschooling, we found that not all parents agree in the same ways to educate their children, in fact, every parents have their own ways. That’s what form my way of thinking, that it’s okay to be different, we can’t force others to think the way we are. The same as “there are many ways to Rome,” there are also many ways to achieve what we believe as GREAT.

We might hold on to something today we really believe in, but we found another perspective that seems logic tomorrow, and we change. That’s okay, as long as we know where our faith comes from, and we are consistent to it.

My Dad once told me, “Girl, when you go on to the outside world, you’ll find many kind of person, sometimes they’re not walking in the same path as you. Do not distress yourself to make others be like you, it’ll just waste your time. Despite, focus on your goal, determine your path, and consistent with it. You’ll not make yourself right by making other’s wrong.”

One day, I met with someone that believe by entrusting her child to her parents (the grandparents), it will give some kind of happiness to her parents. Supported by the fact of her parents been succeeding on raising her. That’s definitely contradicting with my belief, the youthful side of me really want to say “NO IT’S NOT LIKE THAT,” debating on every single thing that can prove I AM THE ONLY PERSON THAT’S RIGHT. But then, I just take my breath slowly to calm myself down and said, “Yes, mam, I agree, your mother has been successfully raising you into a wonderful woman. There is nothing as which is the correct one and which isn’t, what we need to find is which is the most appropriate way for our situation. We both can raise our children exceptionally using different methods.

Because in my opinion, there is no wrong way in raising our child, you’ll only be wrong if you don’t raise them.”

And… PAP. No need of debating, and no need to hold on grudge on to someone hahaha. Now, I try to see something with many perspectives. Trying to not debate on the way, but on the goal. It’s worthier of the effort.

Happy Fasting All.