Do it because you want to do it

“Nes, gimana sih caranya biar bisa masuk ke program ini, apapun caranya dilakuin deh!”

I was like that before, 9 years ago, fitting myself into the (so called) winner criteria just to get into an organization, tho I haven’t accomplished something big enough I would say. And to be honest with you, it really haunt me…. up till now. Currently, I’m more into doing what I wanna do without rushingly going through a competition til I’ve settled enough. Because I really wanna do all things I believe I have to do it, being recognized because what I do is just the side dish of all course.

So yap, I’m more suited for telling truth rather than made up things, turns out it also gives me more peaceful life, ehe! Don’t be seeking for recognition too much, it’s not worth your time.

 

Advertisements

Malam

Hai malam, banyak hal yang telah terjadi hari ini. Mulai dari pelepas rindu yang lama mengganggu, hingga pertemuan tak terduga dengan seseorang yang telah lama terlupa.

Kamu tau malam, aku kira aku telah berhasil menyelesaikan berbagai fase pahit di kehidupanku, tapi hari ini aku hanya menemukan diriku yang selalu berlari menghindar. Aku hanya ingin melupakannya, tanpa tahu bagaimana caranya mengikhlaskan.

Seseorang berkata bahwa melepaskan artinya tak mengungkit kembali, menjalani hidup tanpa meributkan yang telah lalu. Tapi ternyata aku tidak. Aku masih menyimpan setiap memori yang bisa saja menyeruak sewaktu-waktu. Aku masih menggenggam erat rasa itu satu persatu.

Malam, sepertinya kau akan menjadi saksi bagaimana detik ini aku memutuskan untuk memaafkan semuanya. Dia, aku dan semua yang terjadi di antara kita. Aku harus melangkah. Menuju sebuah tujuan yang baru.

 

Sekolah itu BUKAN Pengganti Orang Tua

Tidak jarang ditemui orang tua siswa yang menyalahkan sekolah akan ketidak mampuan anaknya atau perubahan yang terjadi pada anak tersebut. Menurut saya, fenomena ini super lucu, bahkan udah melebihi srimulat.

Anak merupakan tanggung jawab penuh orang tua dan sekolah merupakan support system untuk membantu orang tua dalam memberikan warna baru dalam hidup sang anak. Ibarat orang tua adalah penjahit, sekolah merupakan mesin jahitnya, atau bahkan hanya berupa gunting kainnya. Penjahit harus memilih mesin jahit dan guntingnya sendiri, agar menghasilkan produk yang sesuai dengan keinginan. Kalau hasilnya kurang memuaskan, coba dilihat lagi, jangan-jangan penjahitnya memilih mesin jahit yang tidak compatible, atau ternyata ada yang salah dengan teknik jahitnya.

Oh, dan jangan lupa, satu orang guru itu mengampu 20 orang murid minimal. Bisa mencapai 50 bahkan. Bandingkan dengan orang tua yang maksimal memiliki 5-10 anak (jaman sekarang ya, kalau jaman dulu bisa sampai 19 hohoho), kalau apple to apple jelas lebih unggul orang tua dong.

Maka, plis plis dan plissss banget. Jangan sampai anda melewatkan privilege yang sudah anda miliki tanpa perlu bersusah payah, privilege untuk mengasuh anak. Terutama di Indonesia, yang kalau orang tuanya masih fakir ilmu pun anaknya nggak ditarik negara. Bayangkan anda di Eropa, yang nggak mengajak anak jalan-jalan selama 1 x 24 jam saja bisa diperkarakan.

Jadilah orang tua yang profesional, not a baby that has a baby. Untuk sekolah juga jadilah support system keluarga yang profesional, bukan mesin penghancur masa depan anak. Jangan berjuang sendiri, berat. Mending bareng-bareng.

Tertanda,

Murid yang sekarang menjadi guru.

From Your 21 Years Old Child

Dear parents,

I know it must be hard and confusing as it is your first time having a child of 21 years old. As I’ve entered the age of a legal adult in every aspect, I could sign up for my Reksadana, I could also watch any movies that I want in the cinema, and other things that includes me in the group of adults, even I can’t use my insurance card if I’m still included as one with the family.

But then, although my status leap up dramatically in one night, but not with my knowledge. I’m just a mere 20 whole years plus a few days old. I can’t suddenly be the adults you are expecting of. And yes! It’s hard for me here too, as I’m going into the new phase of totally different world (yeah, that’s what happened to me, but terms and conditions applied, okay). As I need to adapt fast with the circumstances as well as finding the true me in the deepest ocean of myself.

So, please. Be patient, as I’m working on it too. I won’t let myself to be destroyed by my own act. It’s enough of myself trying so hard to accept all of my condition while claping at other’s success. I know that it must be hard for you to see me like this, to see your own sweet heart in the worst situation. To see her soul that seems not alive, to see her spirit that’s gone. And yeah, I’m sorry for that, I just couldn’t give you the best of me YET. So please, please, please and please, I do really beg you to be patient, and just watch me struggling with a smile. If you want to help, I’ll gladly accept it, but don’t compare me with anything, specially me in the past. That’s hurt.

Dear parents, to let you know so you won’t be confused, every child have their own cycle of age. Some are at their peak, and some are not (altho they seem in the same biological age). Please do not compare their peak and their downfall, instead, you can try to help them going up. As your help and your smile and your hug and you saying, “I’m proud of you,” means the most for them. Try to understand your child, as they are probably trying their best to make you proud.

Last but not least, this post wasn’t made to blame anybody, just a reflection for both parties to work together toward the success path. For you who are in the same phase as mine, try to change your point of view. Do something different, do something brave! Try something that you never think of (postively kay). Be someone that’s totally ready for walking into the next phase. It will be hard, depressing and pressuring, but then, it’s just the time we have to go through. Bear with it just a few more months. Don’t look away too much from your path, focus on it. Spend your time well to explore yourself. Do something that makes you happy! Be careless for a day! Be crazy (in a positive way)! Close your ears, listen to your heart!

And if you need help, I’ll be here 🙂 Let’s go out from the valley together will ya?

Dear parents, please support us with your most beautiful smile, as we need a home to go back from this war and saying, “I am home.”

あのね…

あのね…

The worst feeling I have ever felt is when I woke up with a sad feeling and I don’t understand why. Looking up at the sky all gloomy and cloudy.

あのね…

Last night I was devastated by the truth that I have lost. I lost my way, I lost the blink inside my eyes and I lost the faith in myself. Pretty much broken am I?

あのね…

It’s not the state where I can be proud of, but I understand that almost every person will have this state in their own orbit of ages. This state is when we doubt on ourself. We don’t understand the purpose in our life anymore.

あのね…

We won’t moving on to the next phase if we can’t accept our current situation. Never deceive yourself with a lullaby, it’s great for a storytelling but not for your life. Face the problem you have, find a solution for it. If you don’t have a plan, say it! Don’t hide behind the sweet words that calm you down by saying “everything gonna be okay. YOU gonna be fine.” BECAUSE IT IS NOT. You are not fine! And you won’t be until you decide it yourself. You are the one responsible of your condition.

あのね…

It’s hard, even when someone trying to help, but you can’t just get out of the devil circle (and even put aside those who really care of you). I know. I’ve felt it. But let’s get out of this hellish situation together won’t ya? Let’s live our life better, cause we deserve it too.

Guru dan Mahasiswa

Saya tergelitik dengan istilah yang dipakai di Indonesia, namun sebelumnya, mari kita melihat definisi dari istilah yang dipakai tersebut.

MAHA- /ma.ha-/ bentuk terikat 1. sangat; amat; teramat; 2. besar

GURU – a spiritual teacher; a teacher and especially intellectual guide in matters of fundamental concern; one who is an acknowledged leader or chief opponent; a person with knowledge or expertise

Saya mencoba mencari tahu asal mula dibentuknya kata “Mahasiswa,” namun belum bisa menemukannya. Karena ini unik, di dalam bahasa Inggris, seluruh murid dari TK hingga Universitas dipanggil dengan sebutan students. Begitupula di dalam bahasa lain (hasil coba-coba dari google translate hehe), kalau diketik kata siswa dan mahasiswa tidak ada bedanya. Hanya di Indonesia yang disematkan kata “Maha” yang berarti besar/teramat di belakang kata “siswa.”

Saya membayangkan, dibalik penyematan kata Maha, terdapat pengharapan besar bahwa Indonesia akan menjadi lebih baik di tangan para Mahasiswa. Begitu pula dengan “Guru,” di luar negeri hanya orang yang paling ahli dan dihormati lah yang layak menyandang sebutan Guru, sedangkan pengajar di sekolah-sekolah disebut “teacher.” Di Indonesia, setiap pengajar mendapat sebutan Guru, pahlawan tanpa tanda jasa. Seseorang yang berjuang demi majunya pendidikan rakyat Indonesia.

“Yang paling hebat bagi seorang Guru adalah mendidik, dan rekreasi yang paling indah adalah mengajar.” – K.H Maimun Zubair

Seorang Guru di luar dikenal dengan kebijaksanaannya yang luar biasa, semangatnya yang terus berkobar serta pengetahuannya yang mumpuni. Maka, dibandingkan mengubah istilah, saya lebih senang jika kita memiliki kesadaran untuk bertingkah laku sesuai dengan “jabatan” yang kita sandang tersebut. Karena rumusnya “Be-Do-Have,” menjadi/bertingkah laku sesuai dengan yang kita inginkan (be, then do), sehingga kita layak untuk mendapatkan apa yang kita harapkan (have).

Jadilah seorang Mahasiswa yang layak menyandang status “Maha” dibalik siswa, lebih banyak aksi dibandingkan keluhan. Jadilah seorang Guru yang layak menyandang status “Guru”, bijaksana, semangat serta mumpuni dalam bidangnya. Pantaskan diri agar mampu untuk “digugu lan ditiru.”

Postingan ini saya buat bukan untuk menggurui, melainkan untuk menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa ada tanggung jawab yang dipikul oleh masing-masing gelar. Tugas kita adalah memantaskan diri untuk layak memikul jabatan tersebut.

Selamat Hari Guru 🙂

FAQ #2

Question:

“Kok bisa dari homeschooling terus sekolah di Singapura dan lulus S1 di usia 18 tahun?”

Answer:

Sebelumnya, mau meluruskan dulu. Jadi, saya pertama kali homeschooling ketika duduk di kelas 4 SD pada tahun 2004, saat itu keluarga kami masih menetap di Depok. Untuk kota sebesar Depok saja, homeschooling masih dianggap aneh dan tidak diterima oleh pemerintah, sehingga kami harus menginduk ke sekolah payung (kalau gak salah Ruhama namanya) untuk melaksanakan ujian.

Di tahun 2004 akhir, Yangkung sakit parah hingga harus menginap di rumah sakit beberapa minggu, saat itu kami sekeluarga memutuskan untuk pindah ke Salatiga. Di Salatiga, homeschooling layaknya gojek 5 tahun yang lalu. Ada tapi tidak terdengar. Kebetulan, ada SD Muhammadiyah di dekat rumah Yangti yang mau mati, muridnya bisa lah dihitung menggunakan jari. Setelah ngobrol-ngobrol dengan pihak manajemen, saya bisa masuk ke sana dengan syarat harus tetap terdaftar sebagai siswa dan mengikuti berbagai kegiatan belajar mengajar. Sebagai keringanannya, kalau nilai-nilai saya bagus, saya boleh banyak ijin dari sekolah, jadi seperti semi homeschooling kalau saat ini.

Ketika itu, setiap awal buku LKS dibagikan, saya selalu semangat untuk mengerjakan semuanya sampai selesai. Dalam 2 minggu saya kumpulkan seluruh buku LKS untuk diperiksa, dan kemudian saya ijin tidak masuk sekolah dan ikut ibu seminar kemana-mana hehehe.

Memasuki SMP aku memilih untuk ke SMP Negeri karena ingin merasakan berbagai keseruan dan lika-likunya bertahan hidup di SMP Negeri yang pelajarannya banyak, gurunya kaku, seniornya galak, peraturannya ga masuk akal, tapi ekskulnya seru-seru. Banyak banget pengalaman yang saya dapatkan selama berada di SMP Negeri.

Karena keinginan sejak lulus SD untuk merantau, penasaran dengan kehidupan di tempat lain yang jauh dari bapak ibu, sendirian. Semangat untuk mencoba hal baru dan keingin tahuan bisa atau tidaknya mandiri dan bertahan hidup sendiri, membuat saya akhirnya memutuskan untuk melanjutkan SMA di Singapura. Ritual di keluarga kami, setiap akan memasuki sekolah baru, maka kami akan mengunjungi sekolah tersebut untuk memastikan apakah suasananya menyenangkan, vibenya dapet, lingkungannya seperti apa, guru-gurunya bagaimana.

Sesampainya di Singapura, saya diberitahu kalau mau ambil kuliah jurusan bisnis tidak perlu masuk SMA biasa, masuk saja program foundation selama 6 bulan (semacam kelas matrikulasi) kemudian bisa ambil kuliah. Mendengar hal tersebut tentu saja saya senang sekali, bisa menghemat waktu dan uang hahaha.

Jadi, saya tidak aksel sama sekali ya saudara-saudara, tapi memang prosesnya seperti itu. Karena, kalau aksel itu ketika materi yang seharusnya 3 tahun dipadatkan menjadi 2 tahun, sehingga menjadi tidak ideal, menghilangkan banyak waktu untuk melakukan hal lain. Sedangkan yang saya ambil, memang programnya sudah dibuat sedemikian rupa sehingga saya juga masih punya banyak waktu luang untuk mengikuti kegiatan lain di luar sekolah. Itulah mengapa saya bisa lulus di usia 18 tahun hehehe.

Nah, untuk homeschooling saya tidak bisa menceritakan pengalaman saya sendiri, jadi saya akan bercerita sebagai “kakak” dari anak-anak homeschooling lainnya yang rata-rata seumuran sama Elan (bungsu di keluarga kami). Ketika seseorang memilih untuk menggunakan jalur homeschooling, maka dia akan dihadapkan dengan berbagai pilihan yang luas sekali. Tergantung dari tujuan masing-masing individu. Bisa mengambil paket A, B, C untuk mereka yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi di Indonesia. Bisa mengambil GRE, SAT, ACT, dsb untuk mereka yang mau melanjutkan ke perguruan tinggi di luar.  Atau bisa juga fokus magang dari satu tempat ke tempat lain, mentoring, membuat bisnis sendiri untuk mereka yang mau fokus pada perusahaan.

Saat ini saya rasa, menjadi homeschooler memberikan banyak kebebasan, terutama bagi mereka yang sudah paham akan hal-hal yang ingin ditekuni. Di kala anak sekolah harus mempelajari 13 mata pelajaran yang belum tentu dipakai separuhnya, anak homeschooling bisa fokus pada bidang yang ia tekuni. Tidak, saya tidak mendiscreditkan sekolah, ataupun mengkafirkannya. Toh saya sangat menyukai sekolah hehehe. Hanya saja, selayaknya ada 1000 jalan menuju Roma, maka ada 1000 jalan juga menuju impian setiap orang. Saling menghargai jalan masing-masing adalah kunci kerjasama terbaik untuk membangun Indonesia kita tercinta.

Lini manapun yang dipilih untuk menuju impian, ketika berbicara mengenai edukasi, faktor terpenting adalah fasilitator utamanya, baik di sekolah swasta maupun negeri, homeschooling, unschooling, travelschooling, uncollege, dsb. Di sekolah tanpa sarana apapun, selama fasilitatornya mampu mendeliver pembelajaran dengan baik, maka anak-anaknya pun bisa unggul. Sama dengan di homeschooling, orang tua sebagai fasilitator utama, ketika tidak bisa membersamai anak dengan baik (ps. hingga usia SD hingga SMP awal, di atas itu anak sudah mampu memfasilitasi dirinya sendiri), ya hancurlah.

Tolong dipahami baik-baik bahwa anak berhak memilih jalur yang diinginkannya, hanya perlu dikenalkan dan diajarkan untuk konsisten. Jangan sampai memilih homeschooling karena orang tuanya merasa itu bagus, padahal anaknya nggak mau. Dan hati-hati juga, jangan sampai salah menjadi school at home. Mengundang guru les untuk 13 mata pelajaran yang dipelajari di sekolah, membuatkan jadwal sama dengan sekolah, hanya lokasinya saja pindah ke rumah. Jangan juga homeschooling dijadikan pelarian ketika anaknya dibully di sekolah, ajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya. Dulu saya dibully, sekarang saya membully (ups) bisa membela diri, karena memang diajarkan bahwa kalau benar jangan takut.

Huhuu, maaf jadi banyak kata-kata “jangan”, tapi ini penting banget soalnya. Sering saya miris melihat anak yang menjalani kehidupannya karena egoisme orang tua. Merdekakan anak untuk memilih, belajar sesuai yang diinginkannya, ajari ia iman, adab, akhlak dan bicara, namun bebaskan ia menentukan apa bidang yang ingin ditekuninya.

Akhir kata, sebagai siapapun kita, anak maupun orang tua, belajar untuk memahami pihak lain. Pendidikan itu milik bersama, because it takes a village to raise a child. Maka, musyawarahkan, pilih, dan jalani!