Cermin

Kenapa kamu menangis?

Apakah kamu bersedih? Sedetik yang lalu kulihat kau masih tertawa. Apakah tawa itu tulus? Ataukah sebuah kamuflase?

Bagaimana aku bisa memahamimu? Apakah aku harus melindungimu? Ataukah aku harus membiarkanmu menyelesaikannya sendiri, sehingga sayapmu dapat terkembang dengan sempurna. Tidak lemah dan tak berguna.

Apa? Aku tidak bisa mendengar. Mereka bilang mereka tidak membutuhkanmu? Bukan? Lantas apa? Mendekatlah. Agar aku bisa mendengar dengan lebih jelas. Aku tidak bisa memahami kata-katamu jika kau jauh disana. Sini, mendekatlah. Biar ku dekap tubuh gemetarmu, agar hilang raut sedih dari wajahmu. Peluk aku, lepaskan tangismu. Berteriaklah jika kau merasa lega setelahnya. Aku disini untuk mendengarmu. Mendengar semua ceritamu yang tak mampu kau utarakan kepada orang lain.

Jangan takut. Aku akan selalu berada di sisimu. Wahai sosok di seberang cermin.

Advertisements

Melebarkan Jurusan

SALAH MELEBARKAN JURUSAN

Nurul Syahid Kusuma, Bsc (Fin)

Yup. Saya adalah lulusan keuangan, bukan pendidikan. Loh? Salah jurusan dong? Nope. Saya tidak merasa salah jurusan, karena saya memang suka keuangan dan saya juga suka pendidikan. Bagi saya, kondisi saat ini merupakan pelebaran jurusan, bukan salah jurusan.

Why?

Bagi saya, salah jurusan adalah situasi dimana kamu tidak memahami jurusan yang kamu pilih dengan baik, pun kamu tidak mengerti konsekuensi dari pilihan tersebut. Atau… Ketika kamu dipaksa oleh apapun (keadaan, orang tua, terpaksa) untuk masuk ke jurusan tersebut.

Sementara saya tidak. Saya melihat dengan baik mata kuliah yang akan saya ikuti, kegiatan yang akan saya lakukan, dosen yang akan saya temui, dan dari situ saya memilih jurusan keuangan dengan sadar.

Plus, hingga saat ini pun saya masih menggunakan (meski tidak sepenuhnya ehehe) ilmu keuangan saya. Kan saya pendidikannya pun di bagian management, jadi masih tetap harus ngeliatin laporan keuangan bulanan dari sekolah.

So, kunci agar tidak salah memilih jurusan adalah memilihlah secara sadar, dan…. pahami pilihanmu beserta konsekuensinya.

RAQ #1

Karena sebelumnya saya bikin sesi FAQ, kali ini ada yang nyelempit di antara FAQ-FAQ yang ditanyakan oleh pemirsa. Nah, pertanyaan nyelempit ini saya sebut dengan RAQ atau Rarely Asked Question. Hehe, wiyos lah nya. So here are my first RAQ from one of my friends.

Question:

“Menurut lo, bagaimanakah bentuk/definisi pendidikan yang ideal?”

Answer:

Sejujurnya, ketika ditanya mengenai kondisi pendidikan yang ideal, saya pribadi juga bingung. Karena ideal untuk satu daerah belum tentu ideal menurut yang lainnya. But, I’ll try to answer it based on my experience in the past one year of my activity in School of Life Lebah Putih.

Sebuah pendidikan yang ideal adalah ketika setiap daerah bisa memiliki karakteristiknya sendiri dalam mendidik, sesuai dengan local wisdomnya. Karena, saat ini pendidikan kita memiliki standar baku yang sama dari Sabang hingga Merauke, padahal, karakteristik serta fasilitas yang dimiliki berbeda-beda.

Selama saya mengajar, saya tidak pernah memaksakan seorang anak untuk menguasai setiap bidang, dan ini akan masuk ke pertanyaan berikutnya….

 

Question:

” Apa yang membedakan murid yang sukses dan yang tidak sukses.”

Answer:

Setiap anak lahir dengan misi dan bakat yang dibawanya. Saya yakin bahwa seorang anak bisa hidup meski hanya memiliki satu keahlian. Dan itu terjadi di budhe saya, budhe saya mengidap down syndrome yang membuat beliau dipandang berbeda dari anak sepantarannya. Tapi beliau mampu hidup hanya dengan satu keahlian, beliau bisa mengkristik (cross stich, bukan kritik ya :p). Dari situ beliau bisa mendapatkan penghasilan dan bisa mendapatkan aktualisasi dirinya juga bahwa beliau mampu untuk menghasilkan karya.

Bagi saya, murid yang sukses adalah ia yang tidak pernah menyerah. Ia yang tidak kalah oleh rintangan di sekitarnya. Dan deifinisi sukses bagi setiap orang berbeda-beda, cukuplah kita saling menghargai dan membantu, tanpa perlu membandingkan.

 

Question:

“Apa yang membedakan pengajar yang sukses dan yang tidak sukses.”

Answer:

Pengajar, atau saya lebih suka menyebut dengan fasilitator. Sekolah yang memiliki fasilitas yang buruk namun fasilitator yang baik memiliki kesempatan sukses lebih tinggi dibandingkan sekolah dengan fasilitas baik namun fasilitator yang buruk. Nah, fasilitator yang baik dalam pandangan saya adalah ia yang bisa melihat kelebihan dari setiap anak dan memaksimalkan potensi anak tersebut.

Fasilitator yang baik juga tidak akan menyerah dengan berbagai keadaan dan tantangan yang dihadapi, justru ia bisa membalikkan kekurangan menjadi kelebihan bagi proses belajar mengajar.

Kelihatannya klise ya, tapi memang begitulah kenyataannya. Mereka yang sukses bukanlah mereka yang mengeluh, tapi yang mencari solusi dalam setiap tantangan.

 

Regards,

 

Enes sang Motivator

Do it because you want to do it

“Nes, gimana sih caranya biar bisa masuk ke program ini, apapun caranya dilakuin deh!”

I was like that before, 9 years ago, fitting myself into the (so called) winner criteria just to get into an organization, tho I haven’t accomplished something big enough I would say. And to be honest with you, it really haunt me…. up till now. Currently, I’m more into doing what I wanna do without rushingly going through a competition til I’ve settled enough. Because I really wanna do all things I believe I have to do it, being recognized because what I do is just the side dish of all course.

So yap, I’m more suited for telling truth rather than made up things, turns out it also gives me more peaceful life, ehe! Don’t be seeking for recognition too much, it’s not worth your time.

 

Malam

Hai malam, banyak hal yang telah terjadi hari ini. Mulai dari pelepas rindu yang lama mengganggu, hingga pertemuan tak terduga dengan seseorang yang telah lama terlupa.

Kamu tau malam, aku kira aku telah berhasil menyelesaikan berbagai fase pahit di kehidupanku, tapi hari ini aku hanya menemukan diriku yang selalu berlari menghindar. Aku hanya ingin melupakannya, tanpa tahu bagaimana caranya mengikhlaskan.

Seseorang berkata bahwa melepaskan artinya tak mengungkit kembali, menjalani hidup tanpa meributkan yang telah lalu. Tapi ternyata aku tidak. Aku masih menyimpan setiap memori yang bisa saja menyeruak sewaktu-waktu. Aku masih menggenggam erat rasa itu satu persatu.

Malam, sepertinya kau akan menjadi saksi bagaimana detik ini aku memutuskan untuk memaafkan semuanya. Dia, aku dan semua yang terjadi di antara kita. Aku harus melangkah. Menuju sebuah tujuan yang baru.

 

Sekolah itu BUKAN Pengganti Orang Tua

Tidak jarang ditemui orang tua siswa yang menyalahkan sekolah akan ketidak mampuan anaknya atau perubahan yang terjadi pada anak tersebut. Menurut saya, fenomena ini super lucu, bahkan udah melebihi srimulat.

Anak merupakan tanggung jawab penuh orang tua dan sekolah merupakan support system untuk membantu orang tua dalam memberikan warna baru dalam hidup sang anak. Ibarat orang tua adalah penjahit, sekolah merupakan mesin jahitnya, atau bahkan hanya berupa gunting kainnya. Penjahit harus memilih mesin jahit dan guntingnya sendiri, agar menghasilkan produk yang sesuai dengan keinginan. Kalau hasilnya kurang memuaskan, coba dilihat lagi, jangan-jangan penjahitnya memilih mesin jahit yang tidak compatible, atau ternyata ada yang salah dengan teknik jahitnya.

Oh, dan jangan lupa, satu orang guru itu mengampu 20 orang murid minimal. Bisa mencapai 50 bahkan. Bandingkan dengan orang tua yang maksimal memiliki 5-10 anak (jaman sekarang ya, kalau jaman dulu bisa sampai 19 hohoho), kalau apple to apple jelas lebih unggul orang tua dong.

Maka, plis plis dan plissss banget. Jangan sampai anda melewatkan privilege yang sudah anda miliki tanpa perlu bersusah payah, privilege untuk mengasuh anak. Terutama di Indonesia, yang kalau orang tuanya masih fakir ilmu pun anaknya nggak ditarik negara. Bayangkan anda di Eropa, yang nggak mengajak anak jalan-jalan selama 1 x 24 jam saja bisa diperkarakan.

Jadilah orang tua yang profesional, not a baby that has a baby. Untuk sekolah juga jadilah support system keluarga yang profesional, bukan mesin penghancur masa depan anak. Jangan berjuang sendiri, berat. Mending bareng-bareng.

Tertanda,

Murid yang sekarang menjadi guru.

From Your 21 Years Old Child

Dear parents,

I know it must be hard and confusing as it is your first time having a child of 21 years old. As I’ve entered the age of a legal adult in every aspect, I could sign up for my Reksadana, I could also watch any movies that I want in the cinema, and other things that includes me in the group of adults, even I can’t use my insurance card if I’m still included as one with the family.

But then, although my status leap up dramatically in one night, but not with my knowledge. I’m just a mere 20 whole years plus a few days old. I can’t suddenly be the adults you are expecting of. And yes! It’s hard for me here too, as I’m going into the new phase of totally different world (yeah, that’s what happened to me, but terms and conditions applied, okay). As I need to adapt fast with the circumstances as well as finding the true me in the deepest ocean of myself.

So, please. Be patient, as I’m working on it too. I won’t let myself to be destroyed by my own act. It’s enough of myself trying so hard to accept all of my condition while claping at other’s success. I know that it must be hard for you to see me like this, to see your own sweet heart in the worst situation. To see her soul that seems not alive, to see her spirit that’s gone. And yeah, I’m sorry for that, I just couldn’t give you the best of me YET. So please, please, please and please, I do really beg you to be patient, and just watch me struggling with a smile. If you want to help, I’ll gladly accept it, but don’t compare me with anything, specially me in the past. That’s hurt.

Dear parents, to let you know so you won’t be confused, every child have their own cycle of age. Some are at their peak, and some are not (altho they seem in the same biological age). Please do not compare their peak and their downfall, instead, you can try to help them going up. As your help and your smile and your hug and you saying, “I’m proud of you,” means the most for them. Try to understand your child, as they are probably trying their best to make you proud.

Last but not least, this post wasn’t made to blame anybody, just a reflection for both parties to work together toward the success path. For you who are in the same phase as mine, try to change your point of view. Do something different, do something brave! Try something that you never think of (postively kay). Be someone that’s totally ready for walking into the next phase. It will be hard, depressing and pressuring, but then, it’s just the time we have to go through. Bear with it just a few more months. Don’t look away too much from your path, focus on it. Spend your time well to explore yourself. Do something that makes you happy! Be careless for a day! Be crazy (in a positive way)! Close your ears, listen to your heart!

And if you need help, I’ll be here 🙂 Let’s go out from the valley together will ya?

Dear parents, please support us with your most beautiful smile, as we need a home to go back from this war and saying, “I am home.”