Matematika Logis #5

Heloww fellas, hari ini saya mau share sesuatu yang mungkin sudah ditunggu-tunggu bagi sebagian orang, yaitu financial planning! Yeay!

Saya mengenal financial planning pertama kali ketika berada di kelas 4 SD. Saat itu Ara sedang entah bagaimana bentuknya, tiba-tiba ingin mempraktekkan membuat kue dengan resep yang didapat dari TV show little bear. Bukan, disana nggak tertulis resepnya, tapi Ara melihat gambar-gambar bahan yang dimasukkan, kemudian dipraktekkan. Bagi kami sih enak.

Kemudian kami jual lah kue itu seharga 500 per potong. Satu loyang ada sekitar 10 apa 20 potong ya, saya lupa. Dari situ saya belajar cara menghitung uang. Kemudian, kami sisihkan dari omset untuk membeli bahan-bahan pembuat kue, sisanya kami tabung buat beli baju renang yang kami idam-idamkan.

Semakin hari kue kami semakin banyak, bertambahlah jadi 2 loyang, sampai jadi 3 loyang. Kami juga mulai merekrut teman dengan sistem komisi untuk membantu penjualan. Ketika uang kami cukup banyak terkumpul untuk beli baju renang, kami berhenti berjualan kue.

Di lain waktu, saya sedang menyortir baju-baju yang sudah tidak ingin dipakai tapi masih layak pakai. Baju-baju tersebut kami pajang di teras rumah. Kemudian kami buat brosur dengan tulisan dan gambar kami, “baju bekas layak pakai hanya 5.000 rupiah saja!” dan kami sebarkan ke rumah-rumah tetangga. Sayangnya tidak ada yang membeli ketika itu. Ugh.

Sebelum berjualan kue, kami juga pernah berjualan alat tulis yang sedang populer seperti pensil jumbo dan pensil inul. Hasilnya lumayan, bisa buat jajan makanan yang kami suka. Pernah juga saya menemukan kancing ibu saya yang terlihat bagus, kemudian saya beri benang kasur dan saya jadikan kalung. Eh tidak disangka, saya bisa menjual dengan harga 3.000. Sampai di rumah saya ditanya bapak dan ibu, saya kira saya akan dimarahi karena menjual kancing ibu saya. Ternyata saya dipuji karena bisa menjual kancing ehehehe.

Dulu juga saya berangan-angan mau jual dingklik, karena saya pikir saya pasti bisa membuatnya sendiri. Belum ada dingkliknya, saya hanya menjual ide, dan banyak teman saya yang sudah tertarik untuk membeli. Sayang, saya keburu keluar dari sekolahan tersebut sebelum benar-benar bisa mewujudkan dingklik pre order tersebut.

Pindah ke Salatiga, saya melihat peluang lain: jualan makanan. Karena di sekolah baru saya tidak ada kantin. Jadilah setiap sepulang sekolah saya pergi berbelanja bahan-bahan untuk membuat es dan jeli (dan jeli es). Saat itu HPP saya hitung sangat detil, sampai ke listrik, air dan juga gas. Es dan jeli yang saya jual cukup laku, setiap bel tanda 5 menit menuju istirahat berbunyi, saya akan berlari ke rumah eyang untuk mengambil dagangan, kemudian saya buka lapak saya. Keuntungan kala itu saya donasikan untuk korban gempa bumi di Yogya. Setelah donasi selesai, bubar juga lah jualan saya. Hanya kadang-kadang berjualan sosis gulung mie ketika penerimaan rapot.

Ketika SMP, saya menjual stationary, karena sekolah kami cukup ketat, sehingga tip X yang diperbolehkan hanya tip X kertas. Jadilah saya pemasok tip X kertas, pulpen dan berbagai perlengkapan lainnya. Lumayan, bisa untuk tambah-tambah uang saku. Di artikel berikutnya akan saya ceritakan bagaimana sistem uang saku saat SD dan SMP saya.

Bahkan sampai di Singapura pun saya berjualan makanan dan juga buku. Mungkin kalau sekarang dikenal dengan jastip. Saya sudah melakukannya dari dulu, setiap pulang ke Singapura saya membawa koper besar berisi makanan, sedangkan jika pulang ke Indonesia, saya bawa buku-buku bahasa Inggris yang diskonan.

Di Bandung pun saya juga jual makanan khas Salatiga ehehhe. Kayaknya mah hidup aku berkutat pada jual menjual. Makin kesini juga makin beragam, seperti menjual diri #ea , maksudnya kan kalau jadi pemateri berarti menjual citra diri dan gagasan ehehehe.

Yah, begitu dulu kehidupan saya. Semoga kelak saya bisa terus berjualan, karena ini juga keinginan mamas. Hehehehe.

Advertisements

Matematika Logis #4

Kehadiran mamas membuat hidupku menjadi (sedikit) lebih terstruktur. Banyak hal ditanyai sebab-akibatnya. Tidak ada lagi namanya gosip-gosip yang bersumber dari “katanya” lebih-lebih kalau belum research secara utuh, tapi udah bisa bilang, “mas kalau orang dari sini begini, kalau lulusan ini begitu atau kalau perempuan gini sedangkan laki-laki begitu,” udah aja siap-siap di bilangin, “jangan stereotyping” atau “jangan generalising.”

Untuk aku pribadi, kadang kesel sih digituin, tapi kalau dipikir-pikir ada benernya juga, jadi ga asal jeplak sebelum dipikirkan dengan matang. Apalagi untuk kaum hawa yang super duper pintar dalam membumbui kalimat yang kurang mumpuni. Saya yakin, sepertinya kaum hawa lebih jago bikin clickbait wkwkw.

Kalau katanya, ada rumus sederhana untuk logika dan perasaan. Jika logika menguat, maka perasaan akan melemah, begitu pula sebaliknya. Jadi, jangan membuat keputusan ketika sedang emosi. Bisa membahayakan diri sendiri dan juga orang di sekitar kita.

Matematika Logis #3

Kali ini saya mau ngobrol tentang mengklasifikasikan masalah tantangan. Menurut buku 7 habits, tantangan terbagi menjadi 3 bagian (cmiiw): yang berhubungan dengan diri sendiri, yang berhubungan dengan orang lain, yang berhubungan dengan sesuatu di luar kontrol kita.

Nah, ketika sebuah tantangan berhubungan dengan diri sendiri, maka selama kita mau berusaha pasti akan terselesaikan. Contoh: malas ketika mau mengerjakan tugas bunda sayang, maka solusinya bisa kita pecahkan sendiri.

Beda jika ternyata ketika kita sudah bersemangat untuk melakukan kerja kelompok, kemudian teman-teman malah tidak suportif, malas-malasan dan berbicara tentang hal di luar tugas. Maka ini faktor orang lain. Kita bisa menegur teman kita, tapi kita tidak bisa mengontrol respon yang diberikan oleh teman-teman kita. Untuk tantangan yang satu ini, saya memilih untuk menyelesaikan ketika saya ingin melakukannya. Karena dibutuhkan usaha yang cukup besar, atau bahkan tidak mungkin, untuk merubah seseorang. Jika teman-teman tetap tidak bisa melakukan sesuatu seperti yang kita inginkan, ya tugas kita hanya tinggal tarik napas dan buang jauh-jauh.

Terakhir adalah sesuatu yang tidak bisa kita kontrol, seperti badai atau hujan angin. Jika memang terjadi saya biasanya sudah menyiapkan plan B. Tapi jika tidak ada, maka saya akan nikmati saja saat-saat kesel dsb. Kata bapak juga kalo ga ada duit itu sandal aja putus. Jadi ya, apapun yang terjadi kita harus tetap berbahagia.

Matematika Logis #2

Postingan kali ini akan saya mulai dengan sharing sebuah kebiasaan yang saya cukup banggakan. Ahahaha.

Okay, so, sudah setahun kami tidak punya pembantu, dan itu membuat kami harus berbagi peran dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Peranku adalah mencuci dan menyetrika (well, terkadang kalo lagi nggak ada waktu ya minta tolong orang lain nyetrikain ehe, tapi kan tetep aku yang ngontak).

Jujur saja, di saat orang lain sebisa mungkin tidak mendapatkan tugas mencuci dan menyetrika, aku justru sangat suka tugas itu. Rasanya bahagia saja menjalankan setiap rutinitasnya, mulai dari angkut-angkut baju ke lantai 2 (iya, tempat cucinya di atas) yang membuatku stay fit, healthy and slim! yes! (fyi, sekarang bobotku udah susut 5 kg, salah satunya ya karena angkut-angkut ini ahahaha).

Lanjut mengklasifikasikan jenis baju, mana yang urgent untuk dicuci duluan, dan yang terpenting adalah memisahkan antara yang luntur dan yang tidak. Kalau dulu ibu kosku selalu mencuci 2 kali, satu untuk yang warna terang, satunya lagi untuk warna gelap. Ini juga mengurangi kemungkinan kelunturan.

Terus, selama proses pencucian, aku suka banget mengklasifikasikan hanger, kubagi jadi 5 bagian: hanger untuk baju-baju ringan, hanger untuk kelas berat, hanger untuk jilbab, hanger untuk celana-celana jeans dan hanger untuk daleman.

Terakhir adalah memilah-milah mana jemuran yang harus ditaruh dekat sinar matahari, mana yang di dalem, dan mana yang bisa dimana aja.

Lumayan penuh logika kan rutinitas mencuciku. Ehe.

Matematika Logis #1

Hal pertama yang saya lakukan ketika membaca tantangan kali ini adalah…

Mengernyitkan dahi.

Untuk para ibu yang sudah punya anak, selamat! Anda hanya tinggal mengajarkan bagaimana penerapan matematika logis ini ke anak. Which is… hanya mengenal angka, klasifikasi warna, dan hal-hal lain yang ada pada buku perkembangan anak pada umumnya.

Buat kami yang belum menikah atau belum punya anak, nah ini cukup muter otak. Mencari penerapan matematika logis pada kehidupan sehari-hari. Hmm.. Begimana yak, kami perempuan biasanya pake perasaan ga pake logika #eh

Anyway, sebenernya matematika logis itu apa sih? Well, saya searching-searching di google dan menyimpulkan bahwa matematika logis itu adalah keterampilan mengolah angka dengan baik atau menggunakan logika dengan benar. Kalau untuk saya mungkin jadi seperti merencanakan keuangan, kemampuan mengklasifikasi barang-barang, kecepatan dan ketepatan dalam mengambil keputusan. Mm.. mungkin kurang lebih begitu ya. Mari lah kita coba saja!