Apresiasi Tulisan Temanmu! #6

Seperti biasa fellas. Saya konsisten dalam mengapresiasi tulisan dari teh Zelina Venesia. Ahahahahahah.

Seperti biasa ya, beliao memang bisa melihat sesuatu secara sederhana dan terstruktur. Jadi, si teteh ini bisa dilihat di blognya kalau tulisannya itu rinci dan memberikan pandangan lain. Bisa dibilang yin dan yang banget dengan tulisan ku yang cerita sampe ke mana-mana, bahkan masa lalu dibawa-bawa. HAHAHAHA.

Ku bersyukur bisa mengenal si teteh in person. Jadi bisa menjadi rem buat aku yang seluruh pedalnya berisi gas ini.

Aliran Rasa Matematika Logis

Alhamdulillah selesai lah sudah tugas 10 hari menuliskan mengenai matematika logis. Jujur, ini adalah tugas yang paling bikin saya bingung. Secara, apa pula matematika logis yang ada di sekitar saya. Namun dengan berbekal pengetahuan yang minim, dibumbui dengan imajinasi dan kemampuan bercerita, bisa juga tugas ini terselesaikan.

Ya begimana ya, saya belum punya anak buat diajarin matematika e. Anak yang di Lebah Putih udah ada sendiri yang ngajarin, takutnya kalo pas saya nawarin diri buat ngajarin matematika malah kena zonk suruh ngajar seharian penuh hahahaha.

Saya juga berterimakasih banyak buat mas Pandu yang mau diajak ngobrol dan sampe nyariin di google sebenernya apa sih matematika logis dan bagaimana kita mengaplikasikan dalam kehidupan. You are my saviour!

Buat temen-temen lain yang berhasil menyelesaikan tantangan ini, boleh lah kita berbahagia bersama. Hihi. Setahap menuju lulusan bunda sayang!

Matematika Logis #10

Sebagai penutup pada artikel terakhir mengenai matematika logis, saya mau bercerita mengenai pengalaman saya sebagai seorang wanita. Jujur, dibandingkan teman wanita, saya lebih banyak memiliki teman lelaki dibandingkan perempuan. Mungkin karena seringkali saya gemes dengan kerempongan perempuan (termasuk diri saya sendiri) dalam mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari. Bisa juga karena saya perempuan, jadi ya tertariknya sama lelaki. Ngapain pulak saya tertarik sama perempuan. Hellowww.

Untuk urusan berlogika sebetulnya saya cukup faseh, bagaimana tidak, di rumah dididik langsung oleh bapak saya untuk itu. Kalau ga ada sebab akibat, nggak bisa memberitahukan alasan, atau tiba-tiba ngamuk ga jelas, siap-siap aja bakal disidang atau kena hukuman. Tapi saya juga tetap seorang perempuan yang perasaannya lebih halus dibandingkan lelaki, jadi tetep gampang nangis, tetep gampang emosi, dan tetep ada hal-hal yang “perempuan banget”.

Cuman, kembali lagi ke rumus logika vs perasaan, ketika logika menguat, perasaan melemah. Perasaan menguat, logika melemah. Dan kita harus bisa mencari titik ternyaman agar bisa bahagia dalam menjalankan serta tidak menyakiti orang lain dalam berkegiatan. Mengenai logika dan perasaan ini memang tidak ada habisnya, mematikan salah satu dan mengunggulkan yang lain pun tidak akan pernah benar. Yang penting kita punya kontrol terhadapnya dan tidak menjadi pribadi yang tidak kita sukai.

Logika tersimpel dalam hidup: lakukanlah yang menurutmu benar dan hindari hal-hal yang kau tau salah. Selamat bertumbuh!

Matematika Logis #9

Kalau kemarin ngobrolin tentang pengaturan jadwal di matematika logis, mari sekarang kita ngobrolin tentang masak memasak. Ada banyak sekali peran matematika dalam menunjang keberhasilan suatu masakan. Meski tetap jam terbang tidak bisa mengalahkan teori ya, tapi paling tidak dengan teori yang baik kita yang pemula bisa menghasilkan makanan yang “acceptable”.

Ketika memasak, kita pasti pertama akan memikirkan mengenai takaran untuk setiap bahan makanan. Belum lagi  ketika kita tidak punya timbangan bahan atau alat ukur yang mumpuni, maka kreatifitaslah yang bermain. Mulai dari mengira-ira, sampai mencari alat-alat lain dengan daya takar yang hampir mendekati.

Kemudian masuk ke dalam masak-memeasak, diperlukan logika yang tepat agar bahan makanan bisa matang secara bersamaan, tidak gosong sebagian pun masih mentah. Bahan-bahan dengan tingkat kematangan lebih lama seperti daging, atau sayuran keras pastinya harus dimasukkan terlebih dahulu sebelum bahan-bahan yang bersifat cepat matang.

Alhamdulillah hingga sekarang belum ada yang keracunan makan hasil masakan saya. Ndak tau deh nanti suami seperti apa ekekekeke.

Matematika Logis #8

Pertama kali saya harus mengajarkan mengenai konsep bilangan itu ketika saya mengajar privat anak-anak di Singapura. Apalagi saya harus mengajarkan lambang bilangan baru di Jarimatika yang notabenenya berbeda dengan yang diketahui orang pada umumnya.

Yang saya lakukan saat itu, saya akan menggunakan benda konkrit terlebih dahulu untuk memahami bilangan 1-10, kemudian saya kenalkan lambang bilangan dalam bentuk tulisan, barulah saya kenalkan lambang dalam jarimatika.

Sejauh ini saya tidak pernah menemui kendala, bahkan anak-anak bahagia jika mengenalkannya dengan berbagai permainan. Kadang saya kombinasi dengan main ular tangga, atau main engklek, atau mainan yang lain. Untungnya, saya itu suka main, dan kreatif kalau bikin mainan, jadi ya anak-anak makin suka, karena tidak monoton permainannya.

Kapan-kapan saya coba share ya permainan-permainan yang pernah saya lakukan bersama anak-anak.

Matematika Logis #7

Seringkali kita tidak menyadari bahwa banyak kegiatan yang sehari-hari kita lakukan melibatkan logika di dalamnya. Menjadi tidak terasa karena kita sudah sering dan terbiasa menjalankan kegiatan tersebut. Saya termasuk orang yang suka memadatkan jadwal, tidak jarang juga ada jadwal yang akhirnya bertabrakan karena terlalu padat. Seperti efek domino.

Ternyata untuk menyusun jadwal, apalagi yang padat dan butuh ketelitian, kita harus jeli dalam melihat jarak, waktu, moda transportasi serta rute. Oh! Dan ketersediaan orang yang akan kita temui. Seperti ketika mas Pandu datang ke Salatiga kemarin, saya sudah siapkan banyak agenda.

Saya berangkat untuk menjemput jam 4 pagi, karena mas Pandu sampai jam 5. Kemudian perjalanan kurang lebih 1 jam, plus minus 30 menit, sampai Salatiga jam setengah 7. Langsung menuju ke RS untuk gantian jaga sampai jam 12 siang.

Jadwal hari ini kita mau facial, nganter undangan sama ngisi acara jam 7 malam. Karena lokasi facial deket rumah, maka dia didahulukan, sedangkan nganter undangan lokasinya di deket tempat acara, jadi nganter undangan nanti sekalian sholat maghrib baru ke tempat acara.

Nah kemampuan buat menata jadwal ini penting, sehingga kita bisa menggunakan waktu dengan efektif dan efisien. Maka dari itu ada yang namanya manajemen waktu, apalagi buat mereka yang aktif dan punya banyak kegiatan.

Matematika Logis #6

Ketika berada di bangku SD dan SMP dulu, seperti apakah sistem pemberian uang jajan teman-teman? Apakah harian? Mingguan? Atau bulanan? Apakah sudah ditentukan orang tua? Atau teman-teman yang mengajukan besarannya?

Saat saya SD, saya ingat sekali jumlah uang saku kala itu Rp2.500 seminggu, atau Rp500 per hari. Pertama kali saya diberi uang saku ketika saya berada di kelas 4, kurang lebih 15 tahun yang lalu. Hehehe. Kala itu, dengan Rp500 saya bisa memilih, apakah mau dibelanjakan untuk es teler seharga Rp300 atau telor puyuh ceplok seharga Rp100 per telurnya. Atau bisa juga saya belanjakan mainan seharga Rp100 hingga Rp1.000, tergantung kebutuhan dan keinginan saya saat itu.

Di akhir semester, karena pembangunan sekolah sudah selesai, saya tidak lagi masuk setengah hari, maka saya butuh untuk makan siang. Harga catering makan siang subsidi dari sekolah adalah Rp1.000. Maka uang saku saya ditambah menjadi Rp1.500 per hari.

Disini saya diberikan uang per minggu, sehingga saya harus mengatur bagaimana caranya saya bisa bahagia dengan uang sebesar itu. Kalau kurang, ya jualan lah, apalagi. Udah baca artikel saya yang sebelumnya kan? Hehehe.

Alhamdulillah kala itu saya cukup rajin melakukan pencatatan. Kemudian bisa menabung juga, sedikit-sedikit cari pendapatan sampingan. Kayak kerja jadi tukang ketik di perusahaan ibu saya. Dari aktifitas mengelola keuangan di saat SD, saya mendapati diri saya sebagai seorang anak kecil memiliki kemampuan mengontrol keinginan saya untuk menghabiskan uang dengan baik. Sehingga saya nyaris tidak pernah untuk meminta uang orang tua saya, kecuali jika dikasih, saya tidak menolak ahhahaha.

Di SMP, saya diminta untuk mengajukan proposal mengenai berapa uang saku per hari yang ingin saya dapatkan, dan itu akan dibelanjakan untuk apa saja. Kala itu saya meminta Rp5.000 per hari, atau Rp125.000 per bulan. Dari sini saya akan menyisihkan uang untuk beli buku pelajaran tambahan (dari SD saya sangat suka mengerjakan soal. I know, hobi yang aneh. Yet, saya ga pernah menang lomba. Jadi saya juga bingung, saya ngapain aja sih sebenernya hahaha), kemudian biaya iuran kelas, serta seragam kelas (biar gaul).

Tips yang saya dapatkan dari dulu hingga sekarang, irit-iritlah di awal dalam batas wajar, maka nanti kamu akan mengakhiri bulan dengan penuh foya-foya hahaha. Kadang-kadang kalau saya diajakin ke cafe sama temen-temen tapi budget saya ga ada, ya saya cuma pesen minum es teh atau ga pesen apa-apa, dengan berbagai alasan yang dikemukakan. Enggak, saya masih punya harga diri dan empati lah! Bukan model manusia yang cuma pesen es teh tapi nongkrongnya 24 jam.

Bagi yang mengikuti kisah hidup saya pasti tahu setelah lulus SMP saya langsung kuliah di Singapura. Ketika teman-teman yang lain struggle untuk mengatur keuangan, saya sudah terbiasa, dan ini merupakan skill penting yang menunjang kelangsungan hidup saya di Singapura hingga sekarang hihihi.

Matematika Logis #5

Heloww fellas, hari ini saya mau share sesuatu yang mungkin sudah ditunggu-tunggu bagi sebagian orang, yaitu financial planning! Yeay!

Saya mengenal financial planning pertama kali ketika berada di kelas 4 SD. Saat itu Ara sedang entah bagaimana bentuknya, tiba-tiba ingin mempraktekkan membuat kue dengan resep yang didapat dari TV show little bear. Bukan, disana nggak tertulis resepnya, tapi Ara melihat gambar-gambar bahan yang dimasukkan, kemudian dipraktekkan. Bagi kami sih enak.

Kemudian kami jual lah kue itu seharga 500 per potong. Satu loyang ada sekitar 10 apa 20 potong ya, saya lupa. Dari situ saya belajar cara menghitung uang. Kemudian, kami sisihkan dari omset untuk membeli bahan-bahan pembuat kue, sisanya kami tabung buat beli baju renang yang kami idam-idamkan.

Semakin hari kue kami semakin banyak, bertambahlah jadi 2 loyang, sampai jadi 3 loyang. Kami juga mulai merekrut teman dengan sistem komisi untuk membantu penjualan. Ketika uang kami cukup banyak terkumpul untuk beli baju renang, kami berhenti berjualan kue.

Di lain waktu, saya sedang menyortir baju-baju yang sudah tidak ingin dipakai tapi masih layak pakai. Baju-baju tersebut kami pajang di teras rumah. Kemudian kami buat brosur dengan tulisan dan gambar kami, “baju bekas layak pakai hanya 5.000 rupiah saja!” dan kami sebarkan ke rumah-rumah tetangga. Sayangnya tidak ada yang membeli ketika itu. Ugh.

Sebelum berjualan kue, kami juga pernah berjualan alat tulis yang sedang populer seperti pensil jumbo dan pensil inul. Hasilnya lumayan, bisa buat jajan makanan yang kami suka. Pernah juga saya menemukan kancing ibu saya yang terlihat bagus, kemudian saya beri benang kasur dan saya jadikan kalung. Eh tidak disangka, saya bisa menjual dengan harga 3.000. Sampai di rumah saya ditanya bapak dan ibu, saya kira saya akan dimarahi karena menjual kancing ibu saya. Ternyata saya dipuji karena bisa menjual kancing ehehehe.

Dulu juga saya berangan-angan mau jual dingklik, karena saya pikir saya pasti bisa membuatnya sendiri. Belum ada dingkliknya, saya hanya menjual ide, dan banyak teman saya yang sudah tertarik untuk membeli. Sayang, saya keburu keluar dari sekolahan tersebut sebelum benar-benar bisa mewujudkan dingklik pre order tersebut.

Pindah ke Salatiga, saya melihat peluang lain: jualan makanan. Karena di sekolah baru saya tidak ada kantin. Jadilah setiap sepulang sekolah saya pergi berbelanja bahan-bahan untuk membuat es dan jeli (dan jeli es). Saat itu HPP saya hitung sangat detil, sampai ke listrik, air dan juga gas. Es dan jeli yang saya jual cukup laku, setiap bel tanda 5 menit menuju istirahat berbunyi, saya akan berlari ke rumah eyang untuk mengambil dagangan, kemudian saya buka lapak saya. Keuntungan kala itu saya donasikan untuk korban gempa bumi di Yogya. Setelah donasi selesai, bubar juga lah jualan saya. Hanya kadang-kadang berjualan sosis gulung mie ketika penerimaan rapot.

Ketika SMP, saya menjual stationary, karena sekolah kami cukup ketat, sehingga tip X yang diperbolehkan hanya tip X kertas. Jadilah saya pemasok tip X kertas, pulpen dan berbagai perlengkapan lainnya. Lumayan, bisa untuk tambah-tambah uang saku. Di artikel berikutnya akan saya ceritakan bagaimana sistem uang saku saat SD dan SMP saya.

Bahkan sampai di Singapura pun saya berjualan makanan dan juga buku. Mungkin kalau sekarang dikenal dengan jastip. Saya sudah melakukannya dari dulu, setiap pulang ke Singapura saya membawa koper besar berisi makanan, sedangkan jika pulang ke Indonesia, saya bawa buku-buku bahasa Inggris yang diskonan.

Di Bandung pun saya juga jual makanan khas Salatiga ehehhe. Kayaknya mah hidup aku berkutat pada jual menjual. Makin kesini juga makin beragam, seperti menjual diri #ea , maksudnya kan kalau jadi pemateri berarti menjual citra diri dan gagasan ehehehe.

Yah, begitu dulu kehidupan saya. Semoga kelak saya bisa terus berjualan, karena ini juga keinginan mamas. Hehehehe.

Matematika Logis #4

Kehadiran mamas membuat hidupku menjadi (sedikit) lebih terstruktur. Banyak hal ditanyai sebab-akibatnya. Tidak ada lagi namanya gosip-gosip yang bersumber dari “katanya” lebih-lebih kalau belum research secara utuh, tapi udah bisa bilang, “mas kalau orang dari sini begini, kalau lulusan ini begitu atau kalau perempuan gini sedangkan laki-laki begitu,” udah aja siap-siap di bilangin, “jangan stereotyping” atau “jangan generalising.”

Untuk aku pribadi, kadang kesel sih digituin, tapi kalau dipikir-pikir ada benernya juga, jadi ga asal jeplak sebelum dipikirkan dengan matang. Apalagi untuk kaum hawa yang super duper pintar dalam membumbui kalimat yang kurang mumpuni. Saya yakin, sepertinya kaum hawa lebih jago bikin clickbait wkwkw.

Kalau katanya, ada rumus sederhana untuk logika dan perasaan. Jika logika menguat, maka perasaan akan melemah, begitu pula sebaliknya. Jadi, jangan membuat keputusan ketika sedang emosi. Bisa membahayakan diri sendiri dan juga orang di sekitar kita.

Matematika Logis #3

Kali ini saya mau ngobrol tentang mengklasifikasikan masalah tantangan. Menurut buku 7 habits, tantangan terbagi menjadi 3 bagian (cmiiw): yang berhubungan dengan diri sendiri, yang berhubungan dengan orang lain, yang berhubungan dengan sesuatu di luar kontrol kita.

Nah, ketika sebuah tantangan berhubungan dengan diri sendiri, maka selama kita mau berusaha pasti akan terselesaikan. Contoh: malas ketika mau mengerjakan tugas bunda sayang, maka solusinya bisa kita pecahkan sendiri.

Beda jika ternyata ketika kita sudah bersemangat untuk melakukan kerja kelompok, kemudian teman-teman malah tidak suportif, malas-malasan dan berbicara tentang hal di luar tugas. Maka ini faktor orang lain. Kita bisa menegur teman kita, tapi kita tidak bisa mengontrol respon yang diberikan oleh teman-teman kita. Untuk tantangan yang satu ini, saya memilih untuk menyelesaikan ketika saya ingin melakukannya. Karena dibutuhkan usaha yang cukup besar, atau bahkan tidak mungkin, untuk merubah seseorang. Jika teman-teman tetap tidak bisa melakukan sesuatu seperti yang kita inginkan, ya tugas kita hanya tinggal tarik napas dan buang jauh-jauh.

Terakhir adalah sesuatu yang tidak bisa kita kontrol, seperti badai atau hujan angin. Jika memang terjadi saya biasanya sudah menyiapkan plan B. Tapi jika tidak ada, maka saya akan nikmati saja saat-saat kesel dsb. Kata bapak juga kalo ga ada duit itu sandal aja putus. Jadi ya, apapun yang terjadi kita harus tetap berbahagia.