Mendongeng #10

Kata bapakku, salah satu hal yang tidak mungkin ditolak oleh seseorang adalah dongeng (kecuali dia bosen dengernya hehehe). Saya merasakan banyak manfaat dari 23 tahun hidup Bersama dengan berbagai dongeng dan cerita. Saya merasa kemampuan verbal saya cukup baik, imajinasi juga terasah serta percaya diri meningkat.

Dan kabar baiknya, bercerita, atau story telling sekarang adalah metode yang sudah dipakai di berbagai kegiatan. Sehingga, ia menjadi skill yang baik untuk dikuasai oleh siapapun, terutama anak-anak.

Investasikan waktumu untuk menebarkan dongeng bagi orang-orang di sekitarmu, dan rasakan perubahannya. Kalau nggak dianggap penyelamat, ya dianggap gila hahahaha.

Mendongeng #9

Sekarang, anggota keluarga kami bertambah satu. Bertambah pula mahluk yang bisa aku ajak ngobrol. Kadang-kadang ketika sedang berada di rumah sendiri, aku sering bercerita dengan baby K. Baik itu cerita karanganku, maupun cerita tentang perasaan atau kegiatan sehari-hari.

Contohnya, mencari makan adalah hal yang paling susah untukku semenjak hamil, karena aku picky dalam memilih makanan, harus yang hangat, nggak mau kalau sudah dingin. Jadi, kadang aku cerita sama baby, “tahu nggak, masa ya bunda susaaaah banget cari makan buat kita nak, tadi udah lihat-lihat grabfood, ndak ada yang enak. Di gofood pun juga sama. Mau keluar kok ya matahari bersinar secerah masa depanmu. Sabar sebentar ya nak, coba bunda pikirkan solusinya dulu.”

Katanya sih, baby udah bisa denger sejak 2 atau 3 bulan, semoga dia happy di dalam sana direcokin mulu sama  bundanya.

Mendongeng #8

Selain sering ngobrol dengan benda mati, saya juga sering mengajak suami saya bermain peran. Kadang kami jadi adik dan kakak kelas di SMA yang lagi pacaran. Di lain waktu dia jadi bos, saya sekertarisnya. Atau mungkin dibalik, saya princess dia Sebastian hahahaha.

Pokoknya ada aja ide-ide yang saya lontarkan, dan kok ya dia mau-mau aja ngelakuin. Bejomu ya mas.

Dengan bermain peran, saya merasa pernikahan kami jadi lebih hidup. Gak banyak berantem juga, dan seru aja sekali-kali melakukan hal yang berbeda dari kewajiban kami.

Kalau ada yang mau nyoba juga, boleh nih diceritain gimana hasilnya hahahaha.

Mendongeng #7

Di bulan-bulan awal menikah, saya paling bete kalau sudah bercerita banyak, eh nggak didengerin. Mulai lah muncul itu suara-suara aneh dari berbagai benda mati yang ada di sekitar saya. EITS. Bukan karena dihantui kok, tapi karena skenario yang saya buat.

Contohnya, suami saya sangat suka tempe goreng. Saya sebagai istri yang excited menemukan tempe pasar langsung membeli dua sekaligus. Pulang-pulang, saya mengharapkan ada ucapan terimakasih dong, eh yang muncul malah saya ditegur karena beli tempe banyak banget. Akhirnya saya ajak ngomong aja tempenya,

“hei tempe, masak kamu dikatain kebanyakan coba”

“ah masa?”

“tuh kan, kamu juga ngerasa biasa aja kan. Padahal kan aku beli kamu dalam jumlah banyak biar suamiku bisa makan tempe goreng tiap pagi.”

Nah, meskipun bisa-bisa aja ngomong langsung kayak gitu ke suami, tapi dengan saya ngomong sama si tempe, suami saya nangkep maksud saya membeli tempe banyak sekaligus merasa terhibur (mungkin ya aahahahaha).

Atau mungkin dia sedang menyesali, tiwas sudah dinikahi, jebul edan. Hahahahaha.

Mendongeng #6

Aku baru tahu jika profesi mendongeng itu cukup popular akhir-akhir ini. Bukan di kalangan anak-anak yang ku tahu, namun di kalangan pemuda, mahasiswa mahasiswi lah. Menarik juga, selama ini aku tidak pernah bertemu dengan mereka yang mengatakan “saya juru dongeng”, dan tiba-tiba saya dikelilingi dengan para pendongeng-pendongeng luar biasa ini.

Salah satunya, teman saya, Kukuh. Ia datang ke Lebah Putih ketika sedang perjalanan pulang ke Jakarta dari kampung halamannya di Malang. Ia dan teman saya yang lain tergabung dalam komunitas Gendong, yang sudah cukup lama aktif mendongeng ke masyarakat sekitar.

Di Lebah Putih, mas Kukuh membuka kelas dongeng bagi orang tua. Sehingga bisa menjadi lebih menarik bagi Ananda yang mendengar. Teknik yang paling saya ingat adalah Teknik suara, membantu pendengar untuk memahami perbedaan karakter dalam sebuah cerita yang didongengkan oleh satu orang. Suara normal biasa diucapkan dalam huruf “A”, sedangkan anak-anak “I”, “U” biasa digunakan untuk karakter binatang, “E” untuk karakter yang sudah tua serta “O” untuk mahluk yang bertubuh besar.

Hanya dengan perubahan suara saja, sebuah cerita bisa menjadi begitu hidup. Kadang-kadang saya pun menggunakannya di dalam pernikahan saya hehehehe. Salah satunya adalah…..

Mendongeng #5

Kini, aku sudah dinyatakan sebagai manusia dewasa, meski masih sangat menyukai jika ada yang mendongeng, namun aku sadar diri, bahwa sudah saatnya lah aku yang mendongeng kan berbagai cerita saat ini.

Aku cukup bisa membanggakan imajinasiku untuk hal yang satu ini, tidak hanya dongeng biasa, dongeng horror pun bisa kuselipkan berbagai hikmah. Seperti, ketika aku memberikan nasihat untuk tidak mengangkat telpon dari orang yang tidak dikenal kepada anak kelas 3. Anak-anak ini hanya mempan dengan cerita horror, yang lain mendal men. Akhirnya kurangkai-rangkai lah cerita bernama “hantu poncil”, hantu yang hanya bisa muncul jika kita mengangkat teleponnya.

Tidak disangka, reaksinya justru, “Kak Enes! Aku mau cerita serem yang ada hikmah-hikmahnya dong!” BLAIK. Kapok kon Nes.

Betul saja, tidak usah menunggu lama, saya dapat laporan complain dari orang tua. Hahahaha. Cerita horror ini tidak ku lanjutkan.

Mendongeng #4

Hingga hari ini, kegiatan yang paling saya suka adalah sesi bercengkerama Bersama dengan keluarga di meja makan. Ada banyak cerita yang bisa saya dengarkan, cerita-cerita itu menjadi guidance dalam kehidupanku serta adik-adik. Aku yakin, itu lah cara bapak dan ibu menyamakan value kami sebagai keluarga.

Meski ada juga saat-saat dimana petuah yang diberikan dinyatakan secara eksplisit, namun biasanya itu hanya ketika saat-saat genting saja, dan jarang sekali terjadi.

Mendongeng #3

Eyang putri sudah ambil peran, ibu pun sudah, teman imajinasi juga sudah habis masanya, kali ini giliran Eyang kakung dan bapak muncul perannya.

Ketika kami remaja, kami tidak lagi terbuai dengan cerita-cerita khayalan. Kami masih suka kalua didongengi, tapi kami tahu mana yang nyata dan mana yang buatan. Sehingga, cerita yang kala itu kami sukai bergeser menjadi kisah heroic masa lalu, baik itu Yangkung dengan masa gerilyanya, maupun bapak dengan masa-masa sebagai demonstran (oh tidak, bapakku tidak pernah turun ke jalan, nanti kena matahari ga mulus lagi dong kulitnya hohoho).

Meski keduanya cukup galak eh, keras, namun cerita-ceritanya sangat berkesan dalam jiwa korsa kami berdua (hahahah). Kami jadi mengerti bahwa kemerdekaan ini bukan sesuatu yang gratis, ada banyak nyawa yang harus dibayarkan sebagai ganti dari kemerdekaan. Jika sudah begitu, bukankah kita harus banyak berterimakasih kepada kakek dan nenek kita yang sudah berjuang.

Dari bapak, saya belajar mengenai keberanian untuk tetap berdiri jika yakin kita benar. Meski rintangan banyak menghalang, namun kita tak pernah gentar.

“Bola akan terpantul tinggi di atas alas yang keras, bukan empuk,” menjadi quote yang paling saya ingat dari bapak.

Mendongeng #2

Sejujurnya, aku juga tidak begitu ingat nama si teman imajinasi ini hahahaha. Yang aku ingat, kami punya adik kembar, jadi satu sama aku, satu sama Ara. Serta dua ekor anjing, kembali lagi, kami masing-masing memiliki satu. Kemanapun kami pergi, mereka akan ikut serta. Dan tidak tanggung-tanggung, jika naik ojek (jaman dulu ga ada gojek ya bu, apalagi grab), tangan kami akan mengarah ke belakang dengan telapak mengepal, seakan memegang tali si anjing. Tidak jarang kami akan memberi semangat, “ayo! lari lebih kencang, kamu pasti bisa!”

Mungkin bapak ojek kasian juga ya sama ibuku, anaknya dua gila semua hahahaha.

Hal tersebut berlangsung selama beberapa bulan. Padahal ya kami bisa-bisa aja main berdua, entah dari mana ide untuk memiliki adik kembar imajinasi itu muncul.

Lambat laun kami menginjak masa remaja, bukan lagi dongeng-dongeng imajinatif yang mengisi hari-hari kami. Ada kisah lain yang lebih seru, kisah-kisah tersebut adalah…..

Mendongeng #1

Sebelum masuk ke dalam kegiatan mendongeng yang saya biasa lakukan, baik ketika masih single maupun sudah double, triple, quadruple #loh. Biarkan saya bercerita mengenai awal dari semua ini.

Saya beruntung memiliki bapak dan ibu yang luar biasa. Saya juga beruntung lahir di jaman yang menyenangkan. Hampir setiap mau tidur saya pasti akan mendapat sebuah dongeng sebelum tidur, baik dari ibu saya maupun dari yangti (saat saya sedang dititipkan di Salatiga). Yangti banyak bercerita dari legenda atau fable maupun cerita rakyat, seperti kancil mencuri timun (hahahaha sungguh cerita yang tidak berfaedah sebetulnya). Lain lagi dengan ibu, ibu banyak bercerita dari buku anak-anak maupun karangan ibu sendiri. Yang paling kami bertiga ingat, tentunya series Penelope dan penelopi, dua orang kakak beradik berukuran mikro yang sering terpisah dan entah kenapa tidak pernah bertemu.

Kalau ibu sibuk, seringkali aku dan Ara juga bergantian bercerita untuk saudaranya, lebih sering aku yang meminta sih hahahha. Ara soalnya nempel bantal molor, ga perlu dicerita-ceritain gitu.

Cerita dan imajinasi begitu memenuhi hari-hariku di masa kecil. Oh! Aku dan Ara juga punya teman imajinasi loh, namanya…..