Komunikasi Produktif – Day 5

*Hape masih tidak bisa digunakan. Sudah seminggu. Bukan detox.

*kinda frustrated.

 

Okay, jadi mood swing lagi bener-bener parah banget hari ini. But, luckily, using my friend’s phone, I can talk with my father, and he told me that my communication is getting better. Bapak bilang, “kamu udah pinter ya, udah bisa memilih bahasa yang baik untuk menghadapi Eyang yang sedang ngambek.”

Kuncinya adalah kita nggak baperan. Meski kita tahu saat itu Eyang sedang ngambek, tapi jangan terpengaruh dengan kalimat-kalimat ngambeknya, lebih banyak ngobrol tentang selanjutnya akan seperti apa? Eyang ingin bagaimana? Dan kalau Eyang sudah memilih, maka tugas kita hanya meng-iya-kan dan melaksanakan. Jangan ikut-ikutan ngambek.

Itu sedikit cerita tentang komunikasi produktif hari ini. Terus saran bapak, aku harus menjaga intonasi suara agar tidak terlalu tinggi dan berkesan ngajak berantem. Well, aku kalo panic langsung auto tinggi gitu suaranya, mana tadi anak-anak lagi rame-ramenya, jadi khawatir suaranya ga kedengeran sama bapak dan ibu. Jadi begitu deh.

Advertisements

Komunikasi Produktif – Day 4

Ada banyak pola komunikasi di dunia ini yang membuat banyak pihak sering salah paham, padahal rumus dalam komunikasi itu simpel menurut saya: memahami. Memahami kondisi, memahami situasi, memahami lawan bicara, memahami tujuan yang ingin disampaikan, dan memahami diri sendiri.

Mudah diucapkan, tak semudah melakukannya. Ada banyak hal yang harus kita ketahui sebelum bisa memahami. Keterbukaan dan penerimaan menjadi sangat penting di kala dua kebiasaan bersatu. Jangan memaksakan keinginan kita secara sepihak. Itu yang saya pelajari selama menerapkan komunikasi produktif dari kelas bunsay.

Di dalam materi tertera bahwa, “kita sebagai pihak yang mengkomunikasikan bertanggung jawab penuh terhadap penerimaan informasi dari pihak lawan.” Jadi, kalau lawan bicara tidak paham dengan apa yang kita sampaikan, kesalahan ada pada cara komunikasi kita, bukan mereka.

Setelah beberapa kali terjadi dengan saya, saya mulai intropeksi diri, apakah cara bicara saya yang terlalu cepat, apakah saya mudah emosi sehingga pesan yang harusnya tersampaikan secara jelas menjadi rancu dengan emosi. Apakah saya terlalu tinggi dalam berekspektasi, apakah bahasa yang saya pakai bukan bahasa yang sering mereka dengar sehari-hari. Satu per satu pertanyaan apakah saya tanyakan pada diri sendiri, hingga akhirnya saya tahu letak dimana saya bisa memperbaiki diri.

Saya belajar untuk tidak mudah menyalahkan orang lain, melainkan lihat dulu ke dalam diri sendiri.

Komunikasi Produktif – Day 3

Makin lama saya makin frustasi ketika nggak ada HP. Nope, saya bukan tipe anak yang harus selalu lihat HP. Tapi saat ini saya sedang sangat membutuhkan alat komunikasi yang satu itu untuk berbagai hal, termasuk untuk menjalankan tugas bunsay kali ini. Ugh.

Ternyata, komunikasi produktif juga bisa menjadi bersabar yang produktif ya ehehehe. Saya coba mengalihkan rasa frustasi saya dengan mencari-cari gambar dekor untuk sanggar lebah putih, mencari inspirasi untuk kegiatan pesta kebun, dan olahraga tentunya. Nothing can exhaust you enough other than exercising. And when you are exhausted you don’t have enough room to think about anything else.

H-5.

Ketika anggota keluargamu yang lain super sibuk, dan satu-satunya cara menghubungi hanya melalui HP (atau telpon rumah which is so not recommended for the price), disitu baru terasa betapa pentingnya gadget yang satu itu. Ah..

Oh, anyway, kalau saya mulai overthinking bout something biasanya saya menuliskan semua hal yang harus saya lakukan, ingin saya lakukan atau hanya menuliskan perasaan saya. It helps to get my mind back in its place. ehe.

Komunikasi Produktif – Day 2

Oke, ternyata HP saya masih dalam proses perbaikan hingga detik ini, sehingga saya tidak bisa menghubungi bapak saya. Ditambah lagi dengan kondisi bapak yang sedang berkemah di tempat yang susah sinyal.

Jadi, di kesempatan kali ini, saya mau share mengenai pengalaman saya mencoba komunikasi produktif bersama bapak. Yang paling saya rasakan penting dalam komunikasi dengan bapak (dan siapapun) adalah suasana hati. Mungkin karena saya orangnya sangat mudah untuk menunjukkan suasana hati, sehingga komunikasi pun jadi kebawa mood.

Ketika saya bisa menangani suasa hati saya, atau istilahnya olah rasa , maka saya bisa lebih memilah jenis diksi yang akan saya pakai. Sama dengan olah raga, olah rasa pun akan membaik seiring latihan yang dilakukan.

Kalau bapak saya sering bilang (tuh kan, sebenernya saya Ce Es sama bapak mah), “kalau sedang marah, tahan air dalam mulutmu. Tahan terus sampai akhirnya kamu nggak marah.” Maksudnya, ketika sedang marah, jangan berbicara apapun, karena kata-kata yang keluar seringkali akan menyakiti lawan bicaranya. Dengan menahan air, akhirnya kita jadi nggak bisa ngomong hehe, dan punya lebih banyak waktu untuk berpikir, memilih dan memilah kata yang akan dikeluarkan.

Komunikasi Produktif (Lagi) – Day 1

Haloo semuanya! Assalamu’alaikum wr.wb

Kembali lagi di kelas bunda sayang yang ketiga kalinya dari saya, iyes TIGA KALI. Dan kali ini, untuk mendaftar di kelas bunsay, membutuhkan kesabaran, kuota dan mata yang baik, karena KUDU MANTENGIN HAPE COY! Jadi sayang banget kalo di kelas bunsay kali ini, saya (lagi lagi) tidak lulus.

Nah, seperti biasa, tantangan pertama di kelas bunsay adalah mengenai komunikasi produktif. Kembali lagi, saya memilih bapak saya sebagai partner. Kenapa? Jelas karena bapak saya adalah teman berantem saya. *Hurray!*

Meski begitu, semakin hari, saya dengan tulus semakin ingin memperbaiki pola komunikasi dengan bapak saya. Terutama akhir-akhir ini, sebelum saya berpindah menjadi milik orang lain. Hehew. Sebetulnya, kalau tidak sedang marah atau moody, bapak saya merupakan orang yang sangat baik, lucu, menyenangkan dan manis. Maka dari itu, dalam menjaga komunikasi produktif kali ini, saya pun harus menjaga hati bapak saya.

Alhamdulillah semenjak masuk ke Lebah Putih, saya merasakan pola komunikasi saya jadi membaik. Mungkin karena terbiasa ngobrol dengan anak-anak, sehingga komunikasi saya cenderung lebih concise – singkat, padat, jelas, langsung pada intinya – dan lebih nggak baperan. Penting banget nih buat nggak baperan, karena biasanya kalau udah baper, uuww, kemana-mana deh itu kata-kata, inginnya menghujam tajam bak pisau jagal pasar.

Unfortunately, di hari pertama ini, saya dan bapak lagi LDR. Dan… HP saya rusak. Jadi komunikasi produktif kali ini akan menggunakan TELEPATI. Yes! Back to the nature! Nothing is impossible. Saya akan kirimkan pesan saya melalui do’a, kata-kata yang diucapkan di bumi dan terkirim hingga ke langit (azek).

Sebelum saya mulai ngelantur dan muncul elang raksasa versus kalajengking. Saya mohon do’a saja, semoga HP saya bisa segera membaik, sehingga saya bisa melakukan tantangan ini dengan benar.

Wassalamu’alaikum wr.wb