Aliran Rasa

Kamu tau apa yang akan terjadi pada air yang menggenang? Yap, dia akan jadi bau dan kotor. Begitu juga rasa.

Maka biarkan kali ini aku mengalirkan rasa, tentang sebuah perjalanan seorang anak manusia yang membiarkan dirinya hanyut dalam sebuah proses.

Dimulai dari keinginan untuk tertantang dalam perkuliahan bunda sayang, akhirnya saya memberanikan diri untuk kembali masuk dalam kelas. Ternyata, subhanallah susah bener. Tantangan pertama tentang komunikasi produktif alhamdulillah bisa diselesaikan dengan susah payah. Bukan hanya tentang sebuah usaha untuk menjaga komunikasi dengan bapak (sebagai partner saya), namun juga usaha untuk konsisten dalam menuliskan hasil dari pembelajaran. Kadang saya stuck juga, karena tidak ada bahan yang bisa ditulis.

Semakin parah dalam tantangan kedua. Saya sama sekali lupa untuk menulis, hingga akhirnya terlewat sama sekali.

Memang butuh tekad yang kuat, dibantu dengan reminder dari pihak eksternal, alarm HP misalkan, dan manajemen waktu sih. Sejujurnya ku sangat keteteran untuk menata waktu. Masih banyak yang harus dipelajari, masih banyak yang perlu untuk dimengerti.

Sampai jumpa di tantangan ketiga (meski sepertinya ku akan tetap mengerjakan tantangan kedua meski telat).

Apresiasi Karya Teman

Well, saya sangat menunggu karyanya teh Zelin sih, karena bahasa yang dipakai cukup logically romantic. Ehehehe. Tapi apa daya, doi masih sibuk ngerapel. Jadi saya lihat karya dari teman yang lain.

http://catatantiaraannisaa.blogspot.com/2018/09/tentang-kawan-baru.html

Ini punya Tiara, adek angkatan di FIM tapi seumuran. Membahas mengenai sudut pandang dari seorang kawan yang nikah muda. Bukan, bukan nikah mudanya yang dibahas, melainkan bagaimana kita harus memahami sudut pandang orang lain sebelum menyampaikan gagasan yang kita miliki.

Menarik untuk dilaksanakan tapi memiliki tantangan tersendiri. Because we have to put ourself on their shoes. Memahami dari sudut pandang orang lain bisa menjadi kompleks karena kita juga harus memahami suasana hati, pola pikir, perasaan serta lingkungan tempat ia tinggal. Banyak aspek yang harus kita pahami yang (kalo saya) ndak usah meremet dipikir, tapi diasah saja feelingnya. Pasti bisa.

Komunikasi itu unik dan menyenangkan. Karena terbentuk dari berbagai aspek budaya, agama, pendidikan, dsb.

Komunikasi Produktif – Day 10

21 September 2018

PTS sudah berlalu, namun petualangan masih terbilang baru. Hari ini saya mengalami dan menjadi saksi dalam indahnya komunikasi. Dimulai dari kecup hangat di pagi hari dari anak yang sudah saya pedekate-in selama 1,5 tahun. YES FINALLY! Mungkin bagi banyak orang komunikasi kami tidak terlihat produktif, tapi pesan yang saya sampaikan bisa diterima dengan baik. Buktinya, saya kena kecup. Unch.

Kemudian hari ini saya berhasil membujuk seorang anak untuk stay di ruang suntik. Meski pada akhirnya harus disuntik paksa, tapi saya berhasil ngajak cerita tentang gajah, tentang landak bernama baim yang berwarna biru. Apa aja pokoknya, biar dia sibuk dengan saya, sampai lupa kalo mau disuntik.

Terakhir, saya melihat komunikasi yang sangat berbeda dengan yang lain. Very concise if I could say. Seorang anak yang tantrum dan baru memiliki kosakata sedikit, sehingga kata-kata yang kita gunakan pun tidak banyak agar bisa dimengerti. Namun justru disitulah keasyikannya.

Hari ini, aku mengalami banyak hal. Ada yang membuat sedih dan ada yang membuat senang, namun semua itu lah yang membuat hariku begitu berwarna. Love you all my kiddos and kakak-kakak lebah putih.

Komunikasi Produktif – Day 9

18 September 2018

Hari kedua PTS. Saya belajar banyak dari anak-anak, karena saya bertugas menemani ABK, pola komunikasi pun menjadi berubah. Tidak boleh ada kalimat majemuk, tidak boleh ada kalimat yang tidak jelas, tidak boleh ada kata-kata yang terlalu sulit. Semua harus diperhatikan dengan seksama, agar anak yang didampingi bisa mengerjakan soal dengan sebaik mungkin.

Hari ini saya menjaga 3 anak sekaligus. Luar biasa sih rasanya, energi yang keluar juga cukup besar, karena setiap anak harus dieja satu per satu hurufnya. Bayangno nda, kowe ngeja “kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan” tekan taun ngarep yo kelu ilatmu. Wkwkwk.

Di saat-saat seperti ini, baik kakak maupun anak yang didampingi harus memiliki mindset positif, sehingga bisa melalui 2 sesi PTS dengan nyaman, aman, bahagia, dan kreatip! wwkwkkw.

Maaf ya, subjectnya pindah, bukan bapak lagi. Ya mo begimana yak, ditinggal terus enengnya, bang.

Komunikasi Produktif – Day 8

17 September 2018

Komunikasi yang baik erat hubungannya dengan perasaan dan pikiran yang sehat. Hari ini, keluarga saya yang numpang lewat kayak iklan di film Hachi yang cuma sebiji itu pulang ke haribaan masing-masing. Ugh. Zad.

Perasaan saya? Jelas nggak karu-karuan. Kalau saya tidak memfilter semua hal yang saya ungkapkan, pengen rasanya nangis sambil melukin guling. Tapi ya apa daya, saya udah harus segera switch emotion dan berpikir mau main apa di PTS tahun ini.

Switch emotion ini saya pelajari semenjak SMP. Karena saya tidak suka jika orang lain harus terkena dampak buruk dari emosi saya yang sering berubah-ubah, sehingga saya harus tampil prima dan memberikan yang terbaik. Ketika bisa mengatur emosi dengan baik, maka komunikasi pun akan membaik seiring berjalannya waktu.

Selamat sendirian lagi :’ ndang rabio nes, gen ono sing ngancani (padahal nk suami tugas luar kota yo podo ae).

Komunikasi Produktif – Day 7

16 September 2018

D-Day

Maaf ya, skip 3 hari dari yang terakhir di tanggal 13 September. Hari ini seluruh keluarga saya sudah berkumpul, dan kami mau mengadakan pesta kebun. Sebagai panitia tunggal (iyes, tunggal, karena pada baru dateng H-3, H-2 dan H-1) saya harus bersabar menghadapi berbagai pertanyaan. Terlebih karena saya menetapkan dress code, sehingga bikin rame peserta yang lain (baca: keluarga besar) wkwkwk.

Di saat seperti ini, saya memilih untuk lebih banyak mendengarkan dan menjawab dengan bahasa yang sudah 3 kali di filter macam minyak goreng ^.^

Ketika hari H, ibu mulai panik pada hal-hal kecil. Di lain sisi, bapak justru sangat menikmati acaranya. Tidak terlalu heboh dengan detil-detil. Saya? Hooo.. Saya tidak bisa bernapas kawan-kawan. Asam lambung langsung naik karena panik. Berusaha untuk tenang. Berusaha untuk tidak heboh sendiri. Which kinda works, but not really. Wkwkwk.

Intinya? Yo nggak ada, penting akeh senyum nek gek kodeng ki. Wkwkwk.

 

Komunikasi Produktif – Day 6

Finally! Hapenya udah bener! Yes!

Mengenai komunikasi produktif kali ini, saya mau membahas tentang intonasi suara. Sebelumnya di materi sudah di jelaskan mengenai intonasi suara yang berperan +/- 33% dalam komunikasi kita. Cukup besar bukan, makanya jika pemilihan intonasi sudah salah, mau perkataan kita benar sekalipun, sikap lawan bicara akan cenderung defensive.

Biasanya, intonasi yang salah terjadi ketika kita panic atau out of control. Di kondisi itu, otak tidak lagi mampu membedakan, mana yang seharusnya kita lakukan dan mana yang tidak. Itu sering terjadi pada saya, dan salah satu cara menyiasatinya adalah dengan berhenti sejenak. Mengatur nafas dan memilih kata yang akan diucapkan selanjutnya.

Lucunya, ketika ibu saya mulai tinggi intonasinya, bapak saya menjadi rendah dan renyah. Begitu pula sebaliknya. Seringkali tidak terduga-duga siapa yang tinggi dan siapa yang rendah. Seimbang di antara keduanya 🙂

Komunikasi Produktif – Day 5

*Hape masih tidak bisa digunakan. Sudah seminggu. Bukan detox.

*kinda frustrated.

 

Okay, jadi mood swing lagi bener-bener parah banget hari ini. But, luckily, using my friend’s phone, I can talk with my father, and he told me that my communication is getting better. Bapak bilang, “kamu udah pinter ya, udah bisa memilih bahasa yang baik untuk menghadapi Eyang yang sedang ngambek.”

Kuncinya adalah kita nggak baperan. Meski kita tahu saat itu Eyang sedang ngambek, tapi jangan terpengaruh dengan kalimat-kalimat ngambeknya, lebih banyak ngobrol tentang selanjutnya akan seperti apa? Eyang ingin bagaimana? Dan kalau Eyang sudah memilih, maka tugas kita hanya meng-iya-kan dan melaksanakan. Jangan ikut-ikutan ngambek.

Itu sedikit cerita tentang komunikasi produktif hari ini. Terus saran bapak, aku harus menjaga intonasi suara agar tidak terlalu tinggi dan berkesan ngajak berantem. Well, aku kalo panic langsung auto tinggi gitu suaranya, mana tadi anak-anak lagi rame-ramenya, jadi khawatir suaranya ga kedengeran sama bapak dan ibu. Jadi begitu deh.

Komunikasi Produktif – Day 4

Ada banyak pola komunikasi di dunia ini yang membuat banyak pihak sering salah paham, padahal rumus dalam komunikasi itu simpel menurut saya: memahami. Memahami kondisi, memahami situasi, memahami lawan bicara, memahami tujuan yang ingin disampaikan, dan memahami diri sendiri.

Mudah diucapkan, tak semudah melakukannya. Ada banyak hal yang harus kita ketahui sebelum bisa memahami. Keterbukaan dan penerimaan menjadi sangat penting di kala dua kebiasaan bersatu. Jangan memaksakan keinginan kita secara sepihak. Itu yang saya pelajari selama menerapkan komunikasi produktif dari kelas bunsay.

Di dalam materi tertera bahwa, “kita sebagai pihak yang mengkomunikasikan bertanggung jawab penuh terhadap penerimaan informasi dari pihak lawan.” Jadi, kalau lawan bicara tidak paham dengan apa yang kita sampaikan, kesalahan ada pada cara komunikasi kita, bukan mereka.

Setelah beberapa kali terjadi dengan saya, saya mulai intropeksi diri, apakah cara bicara saya yang terlalu cepat, apakah saya mudah emosi sehingga pesan yang harusnya tersampaikan secara jelas menjadi rancu dengan emosi. Apakah saya terlalu tinggi dalam berekspektasi, apakah bahasa yang saya pakai bukan bahasa yang sering mereka dengar sehari-hari. Satu per satu pertanyaan apakah saya tanyakan pada diri sendiri, hingga akhirnya saya tahu letak dimana saya bisa memperbaiki diri.

Saya belajar untuk tidak mudah menyalahkan orang lain, melainkan lihat dulu ke dalam diri sendiri.

Komunikasi Produktif – Day 3

Makin lama saya makin frustasi ketika nggak ada HP. Nope, saya bukan tipe anak yang harus selalu lihat HP. Tapi saat ini saya sedang sangat membutuhkan alat komunikasi yang satu itu untuk berbagai hal, termasuk untuk menjalankan tugas bunsay kali ini. Ugh.

Ternyata, komunikasi produktif juga bisa menjadi bersabar yang produktif ya ehehehe. Saya coba mengalihkan rasa frustasi saya dengan mencari-cari gambar dekor untuk sanggar lebah putih, mencari inspirasi untuk kegiatan pesta kebun, dan olahraga tentunya. Nothing can exhaust you enough other than exercising. And when you are exhausted you don’t have enough room to think about anything else.

H-5.

Ketika anggota keluargamu yang lain super sibuk, dan satu-satunya cara menghubungi hanya melalui HP (atau telpon rumah which is so not recommended for the price), disitu baru terasa betapa pentingnya gadget yang satu itu. Ah..

Oh, anyway, kalau saya mulai overthinking bout something biasanya saya menuliskan semua hal yang harus saya lakukan, ingin saya lakukan atau hanya menuliskan perasaan saya. It helps to get my mind back in its place. ehe.