Cerdas Finansial #3

Budgeting dimulai dengan menjabarkan seluruh kekayaan yang kami punya. Disana kami membagi menjadi: cash, bank (terbagi lagi ke dalam akun-akun bank), online wallet (seluruh online wallet yang kami punya), investasi, dan tabungan cash (kami commit untuk menabung seluruh 20.000 an yang kami punya hehehe, nanti dibahas ya).

Dari sini, kami jadi tahu, sebetulnya kita perlu mengurangi pengeluaran, atau bisa menambah pemasukkan? Sudah bisa investasi kah? Bagaimana dengan dana darurat?

Kemudian kita masuk ke hal yang lebih detail…

Cerdas Finansial #2

Karena mendekati hari H semakin sensitiflah orang-orang, maka kami bersepakat untuk tidak membahas mengenai ini sampai setelah menikah. Setelah menikah pun kami berencana untuk membuat budgeting di akhir bulan ke-2.

Mencari titik tengah, mencoba menggabungkan caraku dengan cara mas Pandu.

Akhirnya, selama sebulan kami hanya rajin mencatat saja. Mas Pandu yang memang senang utak-utik excel sampai hafal semua rumus-rumusnya, membuatkan platform untuk kami bisa mencatat dengan bahagia.

Semua happy ending, dan ketika sudah harus waktunya budgeting, kami pun bisa melakukan dengan bahagia….

Cerdas Finansial #1

Dahulu kala, sebelum menikah, finansial merupakan bahasan pemicu berantem. Bukan, bukan karena adanya kekurangan, melainkan karena cara menyusun pencatatan yang berbeda antara aku dengan mas pandu.

Mas Pandu ingin akuĀ mengandaikan jika nanti di Bandung, maka akan pergi kemana saja? Akan bekerja di area mana saja? Dsb. Menurut mas Pandu, dengan cara itu, kita bisa mencapai bottom up, budget yang sesuai dengan kebutuhan, bukan keinginan.

Tapi bagi saya, astaghfirullahal’adzim ya, susahnya setengah mati. Karena saya paling tidak bisa mengandai-andai, dan posisi saya masih di Salatiga, dengan kegiatan yang tidak tetap di Bandung. Saya tidak akan secara rutin pergi ke satu wilayah, bisa saja hari ini berdiam diri di rumah, esoknya jalan-jalan. Jadi saya tidak sanggup untuk menuliskan budgeting sesuai dengan yang mas Pandu mau, karena saya tahu, hasilnya pasti akan sangat jauh dari realita, dan akan menjadi pemicu pertengkaran berikutnya: kenapa gede banget kebutuhannya?

Selama ini, saya selalu memakai cara yang sama: jalani dulu selama sebulan, yang penting dicatat, dari situ baru diotak atik.

Akhirnya kami mencapai sebuah kesepakatan…..