FAQ #1

Question:

“Gimana rasanya jadi anak bu Septi dan pak Dodik?”

Answer:

Nano-nano! Panjang kalau diceritain semuanya, but lemme summarize it in an enjoyable way for you 🙂

Gambaran gampangnya, jadi anak orang terkenal itu harus siap dengan berbagai ekspektasi dan asumsi khalayak ramai yang (bahkan) nggak kamu kenal. Harus bisa menerima ketika orang lain hanya menggumam, “pantes, kan anaknya bu Septi dan pak Dodik,” ketika kita meraih sesuatu. Serta harus menyiapkan mental untuk komentar, “padahal anaknya bu Septi sama pak Dodik, ternyata kayak gitu ya kelakuannya.”

Dulu, ketika saya masih remaja (duh ketahuan udah tua), sering banget menghindar dan langsung blocking diri ketika ada orang yang menyangkut pautkan berbagai hal yang saya lakukan dengan bapak dan ibu. Itu pula yang menjadi alasan kuat bagi saya untuk memilih kuliah di Singapura, memulai lagi dari awal kehidupan saya, dimana tidak ada yang mengenal siapa itu ibu Septi Peni Wulandani dan bapak Dodik Mariyanto.

Ini merupakan fase penting bagi setiap remaja, menurut saya. Karena nggak hanya mereka yang anak seorang public figure, hampir setiap anak pasti pernah mengalami dibanding-bandingkan, atau dibayang-bayangi sosok orang disekitarnya. Entah itu orang tua, saudara, teman dekat, kerabat, ada aja deh pokoknya bahan untuk membanding-bandingkan satu sama lain. Dan ini bahaya banget kalau terjadi ketika masa pembentukan jati diri, bisa-bisa kalau nggak tahan, sang anak bisa melabeli dirinya “not worth it.”

Berada di Singapura menjadi turning point bagi saya untuk bisa menerima diri sendiri, bahwa saya itu berbeda dan saya itu juga berbakat kok. Hingga beberapa waktu yang lalu, saya masih kesulitan setiap kali mengisi bagian “prestasi” di CV setiap diminta menjadi pembicara. Karena bagi kebanyakan orang, prestasi itu ya yang terlihat, ada pialanya, ada piagamnya. Padahal, menurut saya, bisa hidup dengan bahagia di Singapura, menjadi anak rantau, mencari penghasilan sendiri itu adalah sebuah prestasi. Berhasil berdamai dengan diri sendiri itu prestasi. Menjadi anak yang berbakti pada orang tua itu prestasi.

Intinya, carilah bagian dari dirimu yang bisa membuatmu sangat bangga. Dan percaya bahwa dirimu itu adalah manusia unik yang paling berharga sedunia.

Seru banget deh pokoknya jadi anaknya bu Septi dan pak Dodik, tapi saya yakin, setiap orang pasti ditempatkan di tempat terbaik dengan keluarga terbaiknya. Karena setiap perjalanan itu seru, tergantung dari sisi mana kita melihatnya. So, nggak boleh iri-irian, nggak boleh sombong-sombongan orang tua ya. Hati-hati dengan kata-kata multi tafsir seperti, “tapi aku tetep lebih milih sama orang tua aku, meskipun bla bla bla, tapi bla bla bla.” Bisa jadi bermakna bahwa orang tua yang lain tidak sebaik orang tua temen-temen. Hati-hati juga dengan kalimat, “enak ya kamu orang tuanya bla bla bla, jadi bisa sukses, bisa pinter, kalo aku kan bla bla bla.” Eits, cik coba atuh ditukar orang tuanya, apakah kamu tetep bisa se-berprestasi dia? Belum tentu.

Selamat menerima diri dan lingkunganmu. Ayo bertumbuh bersama 🙂

Advertisements

Komunikasi Produktif (2)

My friend will come this saturday, and I might be away from home for a night. We plan to go to Temanggung, because there will be Pasar Papringan (a market in the middle of bamboo forest) this Sunday, and we wanna go to that event together. Moreover, my friend just built a start up that focus on farming, maybe this can be a fresh idea for him or at least he could build many good relations there.

Anyway, today’s drama started from the early morning, where I insisted to go to Temanggung by motorcycle, eventhough last night I couldn’t sleep because of the influenza I had. Bapak forced me not to go until I’m totally recover. Meanwhile, I can’t be a bad host that abandon my guest.

The little me inside really just want to be rebel, by just doing what I want, and not thinking of what gonna happened next. Luckily, the mature me can calm myself down, and starting to try finding an agreement with Bapak. In the end, we both agree that I could still go to Temanggung but using bus, not motorcycle (altho it has more complicated route).

I learned that everything can be settled once we calm and communicate each other’s opinion. Easy to say, but difficult to do :’)

WhatsApp Image 2017-11-06 at 21.01.06
Degan bakar papringan. Tersedap.

Tentang Pangandaran (2)

16 September 2017

Setelah 4 bulan tidak mengunjungi rumbel, akhirnya dengan penuh kenekatan kami pergi menuju Pangandaran untuk silaturahmi dengan Unpad Pangandaran dan pak Ade, ketua koperasi Mina Karas sekaligus pemilik madrasah tempat rumbel kami berada.

Perjalanan dimulai pukul 21.00, sengaja malam-malam biar kami tidak perlu menginap di Pangandaran hehe. Ada beberapa point yang harus aku (sebagai supir) datangi, pertama Salman untuk menjemput teh Eka dan teh Zelin, kemudian ke stasiun Bandung menjemput Jems, lanjut ke Metro menjemput teh Dita, Cibiru menjemput kang Ijal dan terakhir Nangor menjemput Gungun.

Karena kondisi Bandung yang cukup macet, akhirnya kami baru melaju dari Nangor jam 23.00. Perjalanan kali ini super random dan sangat sangat sangat seru. Meski di awal, teh Dita sudah mabok karena kang Ijal yang nyetirnya udah ngalahin pembalap F1 wkwk. Pasangan supir-navigator kali ini terbagi 2, tim 1 dengan Teh Eka – Kang Ijal dan tim 2 dengan aku – Gungun. Di awal perjalanan full di handle oleh tim 1, hingga akhirnya kang Ijal berhenti di sebuah masjid di Pangandaran saking udah nggak kuat menahan kantuk.

17 September 2017

Selepas sholat shubuh, ganti tim 2 yang bertugas membawa kelompok ini ke Pangandaran. Sebenarnya kami ingin mengejar sunrise, namun apa daya, kami baru sampai di pantai jam 06.00 which is udah tinggi mataharinya. Yaudah deh, kami memutuskan untuk ber-alay ria foto-foto dan bikin video sekalian menyusuri pantai untuk cari sarapan.

Puas dengan foto-foto dan sarapan, kami mampir ke masjid raya Pangandaran, lokasinya tepat di depan gerbang Pantai Timur Pangandaran. Recommended banget untuk temen-temen yang butuh tempat bebersih sekaligus istirahat, karena masjidnya nyaman dan bersih. Setelah selesai dengan keperluan masing-masing, kami pun menuju ke Unpad Pangandaran untuk bertemu dengan teman-teman koordinator disana.

Kami langsung mengetahui lokasi Unpad Pangandaran karena plang namanya yang terpampang dengan besar. Jika dilihat secara sekilas, bangunan Unpad Pangandaran lebih mirip seperti SD dibandingkan kampus, usut punya usut, ternyata bangunan ini hanyalah bangunan sementara sembari menunggu kampusnya jadi. Bagian yang paling kami sukai dari Unpad adalah mushola dan saung-saungnya yang sangat nyaman dipakai untuk diskusi.

Setelah diskusi singkat dengan koordinator Unpad Pangandaran, kami mengetahui bahwa baru ada dua angkatan yang masuk di kampus ini, dan mayoritas merupakan orang asli Pangandaran, meski begitu lokasi rumah para mahasiswanya relatif jauh dari kampus. Hal ini cukup membuat kesulitan jika mengadakan kegiatan di akhir minggu, terlebih lagi mahasiswa yang dari luar Pangandaran juga ikut pulang di hari tersebut.

Akhirnya, di awal kami mencanangkan untuk sosialisasi terlebih dahulu ke seluruh anak Unpad Pangandaran untuk mengenalkan mengenai rumah belajar yang kami miliki, baru setelah itu kami akan membentuk tim inti yang akan menjadi perpanjangan FIM Kece menjalin silaturahmi dengan warga Batu Karas. Agar mempermudah prosesnya, perwakilan FIM Kece juga akan membantu mahasiswa Unpad untuk audiensi dengan para dosen, sehingga ada support dari pihak kampus juga untuk kegiatan ini. So far, kami melihat antusiasme yang tinggi dari pihak Unpad. Semoga program ini bisa berjalan dengan lancar.

Pamit dari Unpad, kami menuju ke Batu Karas untuk menilik keadaan rumah belajar sekaligus silaturahmi dengan pak Ade. Perjalanan dari Unpad ke Batu Karas memakan waktu 30-45 menit, pantas saja anak-anak Unpad cukup menimbang-nimbang untuk berkegiatan di Batu Karas, terutama mereka yang terkendala dari sisi transportasi.

Sesampainya di Batu Karas, kami langsung disambut oleh deburan ombak yang menggugah jiwa-jiwa butuh liburan. Tidak hanya satu-dua dari kami yang tidak sabar untuk bisa menyentuh dinginnya air laut secara langsung. Awalnya, kami mendatangi rumah di samping madrasah, karena terakhir berkegiatan disana, pak Ade sempat beberapa kali keluar masuk dari rumah tersebut, sehingga membuatku berasumsi itu rumah pak Ade.

Beberapa kali diketuk dan tanpa jawaban membuatku sempat putus asa. Dan ketika yang keluar bukanlah pak Ade, aku jadi semakin bertanya-tanya. Ternyata, ini bukan rumah pak Ade, rumah beliau masih masuk lagi ke dalam, tidak jauh sih dari rumah ini. Kontan saja semua yang ada di mobil tertawa, yang paling bahagia sih kang Ijal ya, melihat aku yang dengan PD nya yakin bahwa itu rumah pak Ade.

Rumah pak Ade merupakan bangunan dua tingkat, nampaknya di lantai bawah digunakan sekaligus untuk kantor beliau. Pekarangannya luas dan dipenuhi dengan berbagai tanaman dan sebuah pom pertamini di bagian depan rumah beliau. Kami disambut dengan ramah oleh beliau dan istrinya, kesan pertama beliau yang galak di pertemuan pertama kami langsung sirna di pertemuan kedua. Ternyata beliau menyenangkan untuk diajak berdiskusi. Belum lagi istrinya yang sangat ramah, sampai bilang, “duh, ibu sebenernya masih kangen pengen ngobrol sama akang teteh, tapi ibu harus ikut beberes di kondangan depan. Nanti lain waktu kita ngobrol ya.” Gimana nggak meleleh kami para jomblo digituin.

Dari diskusi bersama pak Ade, tercetuslah agenda untuk mengumpulkan seluruh pemuka desa agar bergotong royong memberikan kontribusi pada rumah belajar. Teu ketang sakedik. Agar setiap lapis masyarakat merasa turut memiliki rumah belajar dan bersedia menjaga dengan sepenuh hati.

Bulan depan, kami akan kesini lagi. Mungkin bukan dengan team yang sama, namun tentunya dengan semangat yang tetap membara.

Hari ini ditutup dengan bermain air di pantai sembari fofotoan, apalagi ada prince KECE yang baru saja di wisuda dan membawa satu set toga lengkap. Komplit.

Sampai bertemu lagi teman-teman 🙂

Tentang Pangandaran (1)

12 Mei 2017

Pagi ini, aku, Gungun dan Qaulan sudah sibuk kesana kemari membeli berbagai perlengkapan untuk menuju ke Pangandaran. Semalam sebelumnya, aku dan Qaulan pun sudah mulai keliling bergerilya mengambil berbagai buku yang sudah terkumpul di beberapa titik. Yaps! Kami akan membuat sebuah rumah belajar di Pangandaran. Rumah belajar pertama FIM KECE (Forum Indonesia Muda Regional Bandung) di luar Bandung, semoga lancar ya Allah.

Setelah bagasi penuh dengan berbagai perkakas rumbel, saatnya menjemput teh Elis, senior kami di FIM sekaligus seorang ventriloquist professional, untuk kemudian langsung cuss menuju ke Pangandaran.

Ini pertama kalinya aku ke Pangandaran, jadi deg-degan pisan euy.  Seharusnya perjalanan ini akan kami tempuh selama 6 jam, namun karena ini adalah hari Jum’at, jadi kami berhenti sebentar di Tasik untuk Gungun menunaikan kewajiban sholat Jum’at. Sembari menunggu Gungun, kami ciwi-ciwi mencari berbagai jajanan yang bisa kami makan ^^ urusan perut itu penting.

Sepanjang perjalanan kami habiskan untuk bercengkrama, saling berkenalan dan bercerita berbagai hal. Kami berhenti dulu di Banjar untuk mengambil buku dan (alhamdulillahnya dapet) makan. Dari Banjar menuju Batu Karas, Pangandaran menghabiskan waktu 2,5-3 jam, memasuki wilayah Pangandaran kami disuguhkan dengan perkampungan khas pesisir, angin yang berhembus pun sudah hawa-hawa pantai. Duh, makin tidak sabar.

Sekitar jam 7 malam kami sampai di rumah keluarga besar tante Ilva, seorang kawan dari grup homeschooling (senengnya sama group ini, sangat helpful banget jika ada berbagai kegiatan), setelah menaruh berbagai barang dan tag kamar, kami lanjut survey ke lokasi untuk acara besok. Serunya di Pangandaran, kami harus back to the old way, menggunakan GPS untuk mencari lokasi. Eits, bukan Global Positioning System yak, tapi Gunakan Penduduk Sekitar. HAHAHAHA.

Saat menuju ke lokasi, aku nyoba untuk nyetir manual, setelah 3 tahun nyetir matic terus. Dan dengan epicnya, baru mundur aja udah mengeluarkan teriakan “OY! Ini gas sama remnya sebelah mana?!”

Terus disuruh pindah ke kursi penumpang. Selesai. Gak berani nyoba lagi hahahahaha. At least, nggak dengan mobil orang lain (mobilnya luxio, gede, posisinya beda, kzl).

Back to the topic, ternyata ada miskom antara narahubung di Pangandaran dengan kami, disangkanya kami mau menggunakan penginapan koperasi, padahal kami mau nengok lokasi. Akhirnya, kami jalan-jalan di pantai (yang sedang pasang) aja malem-malem. So romantic! Hahahaha.

Perjalanan pulang kembali ke tempat penginapan kami harus melalui jalanan yang super duper gelap tanpa penerangan satupun kecuali lampu mobil kami. Di saat seperti itu, teh Elis justru bercerita horor, tentang seorang temannya yang pergi ke Bali, sebut saja dia Mawar ^^ Mawar diberitahu oleh penduduk sekitar untuk ikut berdo’a di pura, berdo’a saja sesuai dengan agama masing-masing, intinya meminta keselamatan selama berada di lokasi. Tapi, karena dia berpikir bahwa itu hanya takhayul, Mawar tidak mau mengikuti hal tersebut. Ketika waktunya makan malam, Mawar yang bertugas memasak dikelilingi oleh banyak monyet. Monyetnya tidak melakukan apa-apa, hanya diam menatap ke arah Mawar. Untungnya, salah satu teman Mawar ada yang datang dan melihat bahwa Mawar……. SEDANG MEMOTONG JARINYA SENDIRI!!!!!!

Kebayang kan pas lagi gelap pisan jalanan, diceritain begitu, kek mana ekspresi kita. Hahaha, intinya, orang lokal nows the best about their place, jadi ikutin aja yang mereka minta meskipun terdengar absurd. For your own sake, guys.

Akhirnya, malam ditutup dengan kami yang langsung tepar di kamar masing-masing. Menunggu 4 mobil lagi yang akan datang menyusul.

13 Mei 2017

Akhirnya rombongan kedua datang juga, bertepatan dengan adzan shubuh hari ini. Sebenarnya, kami mau lihat sunrise, tapi berhubung kondisinya tidak memungkinkan, akhirnya kami memilih mencari sarapan saja. Di rombongan kedua ini ada 5 orang, Litya, teh Amel, teh Nay, Umam (teman Litya) dan Abdul (temen SMP ku yang kuliah di ITB).

Lokasi penginapan kami tidak jauh dari pasar, sehingga kami tinggal perlu berjalan sedikit untuk mencari sarapan. Menu hari ini adalah nasi lengko! Murah meriah, hanya 10rb per bungkus, sudah bisa mendapatkan nasi/lontong+bihun+kuah yang yumm yumm. Berbeda dengan nasi lengko Cirebon, nasi lengko di Pangandaran lebih seperti soto, manis dan berkuah.

Selepas makan, kami langsung siap-siap menuju lokasi, karena acara akan dimulai jam 09.00. Beberapa jam sebelum berangkat, akhirnya rombongan ketiga serta rombongan Aruna (2 mobil) sampai juga. Rombongan Aruna menginap di wisma koperasi pinggir pantai Batu Karas, sedangkan rombongan FIM tetap di penginapan awal di Cijulang.

Peresmian rumah belajar FIM x Aruna dihadiri oleh ketua Koperasi Mina Karas sekaligus pemilik madrasah yang menjadi lokasi rumbel kami, kepala desa serta pengajar madrasah. Selesai acara pembukaan, kami langsung menuju ke madrasah untuk berkegiatan bersama adek-adek SD Batu Karas.

Seru bangeeeet, mulai dari sharing mengenai profesi dari Yuli Setiawan (staff Kemendikbud), Panglima Nagari (staff Limakilo) serta Indraka Fadhillah (founder Aruna Indonesia). Disini kami ingin mengenalkan ke adik-adik Batu Karas, bahwa apapun tidak ada cita-cita yang sepele dan tidak mungkin digapai, asalkan bersungguh-sungguh berusaha menggapainya. Pengenalan berbagai jenis profesi ini juga diharapkan membuka wawasan adik-adik Batu Karas bahwa setiap profesi itu penting, apalagi kalau menjadi petani dan nelayan, sumber kehidupan di negara agraris dan maritim ini.

Acara ditutup dengan dongeng dari teh Elis dan Cetta (bonekanya), luar biasa sekali kemampuan teh Elis mendongeng, bahkan kami yang sudah dewasa pun dibuat terpukau oleh teh Elis. Keren pisan lah.

Selesai acara, tim FIM terpisah menjadi dua, satu bantu nukang di rumah belajar, satu lagi menuju ke SMK Bakti Karya Parigi milik salah satu senior FIM Kece untuk sesi sharing. Edisi nukang kali ini penuh dengan keprimitifan, mulai dari masang paku pakai batu, besi, dan berbagai alat yang ada. Karna gasuka susah anaknya teh, aku samperin aja rumah tetangga buat pinjem palu dan berbagai alat nukang lainnya wkwkwk.

Menjelang ashar, akhirnya rumah belajar kami jadi juga. So proud of every effort we’ve put. Terharu.

Tim FIM melanjutkan perjalanan ke SMK Bakti Karya, sedangkan tim Aruna memilih untuk beristirahat di penginapan. Sesampainya di Bakti Karya, kami disuguhkan dengan sebuah sekolah beruangan super kreatif. Setiap ruangan memiliki tema yang unik, ada ruang facebook yang bergambarkan laman facebook berukuran besar di salah satu dindingnya, ada juga ruang musik, ruang baca, dsb. Terlihat sekali bahwa anak-anak serta guru disini sangat diberikan kebebasan untuk berekspresi. Setiap hari sebelum memulai kelas, tiap anak diharuskan untuk membaca selama 15 menit, dan ketika sudah selesai membaca mereka akan presentasi di kelasnya masing-masing.

Selepas sesi sharing, kami diajak untuk bermain game mengurai rafia. Setiap kelompok berisikan 3 orang, dan kami harus mempresentasikan yel-yel masing-masing sebelum memulai kegiatan. Kala itu, aku sekelompok dengan kang Ijal dan kang Yuli, kami menamai kelompok kami “Bajigur.”

Yel-yelnya simpel, cukup meneriakkan… “teng-tereng-teng-teng, bajigur, bajigur, bajigur, OYE!” Hahahahhaa.

Di awal game, setiap kelompok diberikan rafia kusut untuk kemudian berlomba untuk menjadi yang paling cepat mengurai. Game ini memiliki makna bahwa setiap orang memiliki masalah masing-masing yang dianalogikan dengan rafia kusut, ada yang sangat banyak masalahnya, sehingga menjadi sangat kusut rafianya dan lama mengurainya. Ada yang sedikit masalahnya, sehingga lebih cepat waktu penguraiannya. Namun, baik itu banyak atau sedikit, yang paling penting adalah kesabaran kita untuk mengurainya. Bagi yang memiliki rafia dengan lebih sedikit kekusutan, sebaiknya lah untuk saling menolong dan memberikan semangat pada mereka yang memiliki rafia lebih kusut.

Sesi berikutnya, kami disuguhkan dongeng perwayangan dari guru tersepuh di SMK Bakti Karya yang juga merupakan seorang dalang. Pengetahuan beliau dalam dunia wayang tidak perlu diragukan lagi, terlihat dari kefasihan beliau dalam menuturkan kata demi kata menjadi sebuah cerita yang mampu membuat kami tertarik sekaligus tertawa terbahak-bahak ketika satu dua lelucon disampaikan.

Berikutnya, setiap anak FIM diminta untuk memperkenalkan diri, kemudian siswa-siswi Bakti Karya akan memilih siapa yang akan mereka “culik” untuk digali lebih lanjut mengenai kegiatannya. Seru banget, jadi kayak sesi mini mentoring gitu.

Kegiatan di Bakti Karya ditutup dengan pentas karya siswa-siswi Bakti Karya yang diadakan setiap malam minggu. Ada yang menampilkan drama, lagu, puisi, dsb. Anak-anak disini sangat PD dengan kemampuan mereka, dan itu jarang sekali terlihat dari anak-anak SMP, SMA maupu SMK saat ini. Salut banget buat bang Ai yang mampu mendidik putra dan putri bangsa ini. Dan, terlebih lagi, anak-anak disini merupakan anak-anak daerah perbatasan Indonesia. Memang, di sekolah ini, anak-anak diajarkan menerima perbadaan suku-suku bangsa di Indonesia, ada anak dari Aceh, Batak, Pangandaran, dan berbagai suku bangsa lainnya. Pokoknya must visit banget sekolah ini!

Karena sudah malam, akhirnya kami pamit kembali ke penginapan.

14 Mei 2017

Hari terakhir kami di Pangandaran. Pagi-pagi sekali, aku dan segenap geng konsumsi sudah jalan-jalan ke pasar untuk membeli bahan-bahan sarapan hari ini. Yaps, kami akan masak-masak untuk hari ini. Yay!

Agenda kami hari ini full rekreasi, kami akan menikmati jasa river tubing yang dikelola oleh anak-anak SMK Bakti Karya. Setelah sarapan dan packing, kami menuju ke lokasi river tubing. Sebuah lapangan dengan joglo-joglo yang terletak di beberapa titik menjadi tempat kami berkumpul untuk mengenakan peralatan dan briefing singkat. WE ARE READY!

Yang berbeda dari river tubing lainnya, river tubing Bakti Karya langsung membuka perjalanan dengan lompat dari atas jembatan setinggi 10m. Buat aku yang emang udah lama pengen banget loncat-loncat begitu, udah kayak dream comes true banget! Langsung aja ngacung buat jadi cewek pertama yang loncat. Meskipun ketika berada di pinggir jembatan, rasanya langsung gemeter pisan. Duh, hilang semua keberanian di awal. Tapi, da udah terlanjut, malu lah kalo balik lagi. Bismillah, HAP! Eta rasanya, duh, lamaaaaa pisan sampe akhirnya menyentuh air. Tapi nagih! HAHAHAHA.

Rute river tubing kali ini super seru. Kami menyusuri goa tanpa cahaya sembari menyanyikan lagu-lagu perjuangan (ett.. berasa diujung itu bakal ditembak belanda aja kite, siap mati bosque!). Ada satu spot untuk loloncatan lagi di ujung perjalanan kami. Bisa loncat gitu aja, bisa naik ke atas pohon terus loncat juga. Dan… saya pilih yg naik ke atas pohon HAHAHAHA. Sampe orang tour guidenya nanya, “itu cewek yang loncat?”

Perjalanan ditutup dengan mengunjungi goa lanang yang cukup mendebarkan karena jalanannya yang naik turun, licin, dan kecil. Overall, kami sukaaaakkkk sekali dengan trip kali ini. Terimakasih Bakti Karya :)))

Akhirnya rombongan kami kembali ke “habitat” nya masing-masing. Terimakasih Pangandaran untuk 3 hari dua malam yang tak terlupakan.

October Journey (5)

4 Oktober 2017

Hari ini waktunya silaturahmi, setelah semalam menginap di rumah tante Dita, pagi ini aku akan bertemu dengan bu dosen Unisba cantik, tante Titiek. Ini pertama kalinya aku ketemuan sama tante di kantor beliau, FK Unisba, duh semoga ada mahasiswa yang ganteng #eh

Ketika menunggu di sofa dekat kantor tante, tiba-tiba terdengar suara yang sudah khas, “Bellaaaa! ayo sini!”

Yaps! Aku dipanggil sama tante dengan panggilan Bella, bukan Enes. Gegara saking seringnya pulang (tengah) malam selama di Bandung, kata beliau udah kayak vampire, jadinya dipanggil Bella, pencari Edward, HAHAHAHAHA. Anyway, ketemu sama tante bener-bener recharge energi, dari yang awalnya udah gamang mau S2 atau enggak, kehilangan semangat, nggak tahu harus mulai dari mana, setelah ke klinik tongfang ngobrol sama tante jadi lebih clear harus mulai dari mana.

Saatnya mengumpulkan niat untuk bikin paper! Yosh! Go Bella!

Sepulang dari tante Titiek, aku order gojek untuk pulang ke rumah. Berkali-kali order dan di cancel, aku baru tahu kalau sekarang rumahku sudah menjadi zona merah untuk para gojek online. Duh, sedih kali. Itu ojek-ojek pangkalan nggak bisa nyante apa ya, udah mah harganya mahal banget, udah kayak harga daging di bulan Ramadhan. Huft.

Akhirnya ada juga yang mau accept order ku, dan perjalanan mencari rute aman baru saja dimulai. Seharusnya, rumahku lebih dekat kalau masuk melalui sindanglaya jika dari arah kota, tapi, terpampang tulisan besar “NO OJEK/MOBIL ONLINE”. Ugh. Maju lagi mencari jalan lain, melalui perumahan setelah SMAN 24, lagi-lagi terpampang besar-besar spanduk larangan bagi ojek online. Matek aku. Alternatif terakhir kalau nggak bisa masuk, ya aku turun di Ruko Ujungberung, terus naik ojek atau minta dianter sama temen.

Untungnya rute terakhir terverifikasi aman menurut bapak gojek, naiklah kita melalui Cijambe. Perjalanan aman hingga beberapa ratus meter sebelum rumah, aku teringat nenek tetangga sebelah suka ngajak nongkrong ojek pangkalan di gardu satpam depan rumah, bisa berabe nih kalo ketemu mereka. Akhirnya aku memilih turun sebelum sampai di rumah, demi menyelamatkan sang bapak gojek.

Sesampainya aku di depan rumah, tiba-tiba aku dihampiri oleh seorang satpam, “Teh, kemarin Senin pintunya kebuka, tapi nggak ada siapa-siapa di rumah. Kami sampe masuk ke dalam rumah takut ada yang sembunyi, tapi nggak ada siapa-siapa.”

HAAAAAAH?

HAAAHHHHHHHH?!!!

HHHHAAAAAAAHHHHHHH???!!!!!

Beberapa detik setelah mencerna perkataan bapak satpam, aku pun memilih masuk ke rumah dan mengecek berbagai perabotan yang ada. Memang benar ruang tamu terlihat kotor seperti ada jejak seseorang, tapi anehnya, aku merasa baik-baik saja, tidak deg-degan ataupun tegang. Setelah mengucapkan terimakasih kepada pak Satpam, aku mulai memeriksa lebih teliti lagi, seorang teman yang punya kunci cadangan rumah kami pun kutanyai. Anehnya, tidak ada yang hilang satupun, dan pintu rumahku dalam keadaan terkunci. Hhmmm… Sebuah misteri yang menegangkan.

Setelah berpikir dan menimbang beberapa hal, mengingat malam ini aku harus pergi ke Pangandaran dengan anak-anak KECE, kuputuskan untuk meminta tolong seorang teman membelikan beberapa grendel dan gembok. Waktunya nukang.

Saat ini, rumahku memiliki kunci 3 lapis (gilz, udah kayak rumah pejabat aja), yang membuatku super duper repot saat keluar rumah. Huhuuu. Tapi gapapa lah ya, demi keamanan, sebelum malam ini kutinggal ke Pangandaran….

Bismillah.

October Journey (4)

2 Oktober 2017 – Perjalanan Panjang

16.25 WIB

Kami berangkat menuju ke kediaman Eyang Bambang Ismawan di Bogor, jika sesuai dengan google map, maka kami hanya membutuhkan 30 menit untuk menuju kesana. Karena Eyang Bambang baru ada di rumah setelah jam 17.00, should be having enought time lah ya kita.

Namun, mobil grab yang kami tumpangi memilih jalan-jalan kecil yang katanya-lebih–cepat-sampai-dan-menghindari-macet, tapi kok ya daritadi kayaknya never ending journey gitu ya. Hmm…

17.01 WIB

Duh kok di google map daritadi tulisannya 36 menit lagi akan sampai ya. Ini google mapnya yang eror, mas grabnya yang salah jalan, apa sayanya yang ga paham-paham ya. Kulihat Elan dan Ara yang masih tertidur lelap, berharap mereka bangun dan merasakan kepanikan yang sama.

Well, seharusnya kami sudah sampai disana, lagipula janjian ketemuannya jam 17.00! huff… tarik nafas, lepaskan… tarik nafas, lepaskan….all is well….

17.38 WIB

Tetiba mas grabnya bingung karena nggak nyampe-nyampe ke lokasi tujuan. Kamipun sudah panik, seharusnya tidak memakan waktu selama ini, apa bener ini jalannya?

Buka google map, ada sedikit perubahan, yang tadinya 36 menit, menjadi 22 menit lagi. But still, it’s not helping! Because we are already late. Moreover, mas-mas grabnya malah marah ke kita, bilang-bilang harusnya udah nyampe, ini jalannya kemana, dsb. Lah? Sampeyan sehat? Kudunya kita yang marah, bukan sampeyan.

Tarik napas, istighfar, tahan… Jangan marah-marah. Laa taghdab walakal jannah.

18.05 WIB

Sampai juga akhirnya kami di kediaman Eyang Bambang, gerbang besar yang terlihat gelap dari luar tersebut terbuka, menyambut kami untuk memasuki pekarangan yang sangat luas dan rimbun. Pekarangan Eyang Bambang selalu mengingatkanku pada kampung halaman Yangti di Ngawi, penuh dengan pepohonan yang besar menaungi bagai atap dari terik matahari dan derasnya hujan. Kerikil yang tersebar di seluruh pekarangan menjadi solusi di kala hujan, sekaligus alat refleksi di pagi atau sore hari.

Tak berapa lama kemudian, muncullah sesosok lelaki lanjut usia yang sangat karismatik, jalannya masih tegap, menunjukkan semangatnya yang tak kalah dengan usia. Beliau adalah alasan mengapa kami datang mengunjungi rumah ini, Eyang Bambang yang selalu penuh dengan cerita mengenai perjuangan beliau menegakkan hak-hak rakyat kecil.

Suara beliau yang ramah dan tegas menyapa kami semua, mempersilahkan untuk duduk di kursi teras sembari mengobrol bertukar sapa dan kabar. Melalui beliau kami belajar bahwa “untuk bisa memberi, kita harus kaya. Kaya dalam berbagai hal, bukan hanya mengenai harta. Kalau harta ya jelas saya kalah dari Silvi (eyang Mami, istri eyang Bambang), saya nggak punya apa-apa. Tapi setiap ada orang yang membutuhkan bantuan, saya selalu bisa refer mereka ke orang yang saya kenal, karena saya kaya network.”

“Saya ini generalis,” kata beliau, “i know a little about many things, till I know nothing about all of that.”

“Kebalikannya adalah spesialis,” tambah Eyang, “those who knows a lot about one thing, till they know a lot about nothing. Hahahhaha.”

Selalu menyenangkan mendengar dongeng dari Eyang, banyak hal yang bisa kami dapatkan dari beliau. Bertemu dan berbicang dengan beliau menghapus kepanikan serta kekesalan kami sepanjang perjalanan. It’s really worth it after all.

There are still a lot of things we have to learn from you Eyang, we wish you to have a long and wonderful life ahead.

3 Oktober 2017 – Perjuangan

08.00 WIB

Kami bertiga memanggil mobil online untuk menuju ke stasiun Depok Lama, hari ini kami akan bertemu abah Rama, founder dari Talents Mapping (TM) di daerah Tebet. Jika lancar, perkiraan kami sampai disana sekitar jam 10.00-an.

08.30 WIB

Entah mengapa, jalan menuju ke stasiun sangat macet hari ini, padahal di hari lain biasanya sudah lowong jam-jam segini. Huft. Awal perjalanan yang sudah bikin kami gagal sampai di tempat bertemu tepat waktu, masih ditambah dengan rel kereta yang anjlok di Manggarai, membuat kereta berhenti sekitar 20 menit di setiap stasiun. Suasana panik dan banyaknya penumpang kereta membuat gerbong kami jadi sangat pengap.

Untunglah abah bilang beliau sedang tidak ada jadwal untuk hari ini, sehingga tetap menunggu jam berapapun kami sampainya. Aku hanya membayangkan kalau ada dari salah satu penumpang di KRL ini yang harus mengejar kereta jarak jauh via Gambir, bagaimana perasaannya saat ini. Ah tentunya dia akan panik sekali.

11.30 WIB

Akhirnya sampai juga di Tebet, langsung saja kami memesan mobil online lagi, suasana stasiun tidak kalah ricuhnya dengan di dalam kereta. Para penumpang yang gerah menunggu di dalam memutuskan untuk duduk-duduk di luar, memenuhi lorong stasiun. Ah… Jakarta… Jakarta…

12.00 WIB

Ketika masih di dekat stasiun jalanan super duper macet, namun semakin jauh mendekati tujuan, jalanan menjadi semakin longgar. Akhirnya, kami sampai juga di kantor abah, disambut dengan hujan yang tak bisa turun dengan santai. Kantor abah yang baru merupakan sebuah ruko tiga lantai, tidak luas namun nyaman, homie banget, saking homie-nya, begitu memasuki ruangan kami langsung disuguhi sayur bening dan gorengan buat makan siang. Seru banget deh.

Setelah saling bertukar kabar dan bercerita kesana kemari mengenai berbagai hal yang terjadi di Indonesia, terutama mengenai anak-anak muda zaman now.

13.00 WIB

Karena aku harus mengejar kereta ke Bandung jam 15.30, meski di google map tertulis hanya 30 menit dari kantor abah menuju stasiun gambir, namun kami memutuskan untuk pamit sekarang, mengingat kemacetan di luar schedule yang terjadi berkali-kali hari ini.

15.00 WIB

Tuh kan… Bener…. kami hanya tinggal 1km dari lokasi, tapi macetnya luar biasa paraaaaah. Bener-bener mandek ga jalan, kalaupun jalan sedikit-sedikit banget. Huft. Tarik napas…. Keluarkan…. Tarik Napas…. Keluarkan…. Everything’s gonna be fine.

15.15 WIB

Alhamdulillah, akhirnya nyampe juga di stasiun, langsung aja aku lari-lari menuju kereta. Kali kedua nih naik kereta dari gambir baru nyampe 15 menit sebelum keberangkatan. Ingin nangis rasanya…. Huhu… Luar bi(n)asa.

18.30 WIB

Lagi-lagi sampai di tempat tujuan disambut dengan hujan yang sangat deras. Berkali-kali mencoba untuk pesen go-blu*bird namun gagal, akhirnya aku pun memutuskan untuk pesen melalui layanan call center blu*bird. Sayangnya, aku tidak mendapatkan jawaban yang pasti dari mas-mas call center. Duh, gini-gini amat idup, mas-mas call center aja ga mampu ngasih kepastian :’ #plak

Iseng-iseng aku menuju lobby stasiun dan melihat kalau-kalau ada taksi kosong yang bisa aku pesan. Pas sampai di depan lobby, saat itu juga ada taxi yang baru menurunkan penumpang, langsung aja aku masuk. Lucunya, saat menyebutkan lokasi tujuan, mas supirnya bengong, terus bilang “lah, barusan saya jemput dari sana mbak, balik  lagi ke tujuan awal ya saya.”

HAHAHA. Hidup ini penuh dengan kejutan. Pengalaman hari ini mengajarkan saya untuk pintar-pintar menata hati, jangan terpaku  pada hal-hal negatif, namun pada apa yang harus dilakukan ketika bertubi-tubi hal yang tidak disukai datang. Stay positive and keep smile!

 

October Journey (3)

1 October 2017 – Masih di Jakarta

Selepas dari kegiatan Ibu Profesional, kami segera bertolak ke apartemen Kuningan untuk kemudian bertemu dengan bapak dan ibu. Jika ada aplikasi yang bisa melihat alur gerakan seseorang, mungkin pertemuan keluarga kami memiliki pattern yang unik. Bertemu – terbagi 2 – bertemu – terbagi 5 – bertemu – terbagi 3, dan seterusnya. Memasuki usia dewasa, aku dan Ara mulai sering memiliki kegiatan sendiri di luar kota, begitupun dengan Elan yang tidak mau kalah. Jadilah keluarga kami sering melakukan kegiatannya masing-masing di berbagai kota yang berbeda.

Sepanjang perjalanan, aku, Ara, Elan dan Rahma (anak salah seorang ibu profesional yang merupakan mantan peserta Masterchef Indonesia Junior dan juga atlit golf – duh dek, jangan terlalu bersinar, aku tak sanggup) bercerita tentang berbagai macam hal serta mengomentari beberapa pengemudi kendaraan yang melintas. Maafkan kids jaman now yang suka alay ini, hahaha.

Sesampainya di Kuningan Suites, kami langsung merebahkan badan, menghilangkan seluruh rasa capek yang melanda. Rasanya, tenagaku sudah tinggal sisa-sisa kehidupan saja. Lemes sebadan-badan karena harus membawakan materi yang baru pertama kali dipresentasikan. Tremor hayati bang~

Kami selalu menyukai apartemen ini, selain karena kamar yang bagus dengan interior yang tertata rapi, elemen paling penting bagi keluarga kami adalah: ia memiliki ruang tamu yang luas. Bagi kami yang sangat menyukai ngobrol bareng, serta sesekali mengadakan meeting keluarga, ruangan besar menjadi sesuatu yang hampir wajib sifatnya. Sesekali kami pun menonton CSI atau NCIS bersama ketika sudah lelah dengan topik serius yang diangkat dalam diskusi keluarga.

Bapak dan ibu baru sampai di apartemen sekitar jam 9 malam. Bertukar cerita mengenai betapa ibu juga grogi saat membawakan materi (yang juga baru bagi ibu) di Serang. Ah, memang kami masih harus banyak belajar. Semoga jadwal manggung selanjutnya, penampilanku sudah lebih baik lagi. Sekarang waktunya istirahat sembari menunggu si bungsu pulang dari jalan-jalan bersama gengnya.

2 Oktober 2017 – Berpisah untuk Bertemu Lagi

Pagi-pagi sekali Ara sudah siap menuju ke Bogor, meninggalkan kami yang masih lusuh baru bangun tidur. Salah satu kliennya di Spedagi sedang mantu, sebagai kenalan yang baik, ia hadir untuk memberikan beberapa kado. Karyawan teladan sekali anak itu. Sayangnya, ia pergi dengan meninggalkan banyak barang yang belum di packing dan menjadi PR bagi kita semua. Ah sudahlah~ namanya juga saudara kan, kalau nggak menyusahkan ya disusahkan #eh.

Tepat jam 10 aku dan Elan yang gantian berangkat ke Depok, anak lanang itu harus menemui beberapa temannya untuk meeting, entah apa pula yang dibicarakan, semoga sesuatu yang bisa bermanfaat bagi dirinya, syukur-syukur bagi ummat. Tinggallah bapak dan ibu di hotel yang pusing dengan banyaknya barang yang harus dibawa. Padahal, tidak sedikit pula yang sudah di oper ke aku dan Elan untuk dititip bawa melalui bulek – adek bapak. Serunya mengisi di acara IIP ya begini, penuh kejutan dan hadiah, bikin kita awet muda setiap waktunya :)))

Sesampainya di Depok, Elan langsung menuju ke Margo City, bahkan belum genap ia berpamitan denganku, sudah ngacir saja menjumpai teman-temannya. Memang tega nian dua adikku itu, ndak tau pula mereka kakaknya ini juga mau jalan-jalan ke Bogor menemui seorang teman. Sayangnya, rencana itu harus kubatalkan, karena tidak mungkin barang-barang ini bisa bergerak sendiri tanpa ada yang membawa dan menatanya dengan rapi disudut kamar seperti yang saat ini sedang kulakukan.

Rumah bulek terlihat lengang, karena separuh penghuninya sedang beraktifitas di ibu kota, tinggallah mbak Sarmi, ART bulek dan om Arief, suami bulek yang sedang cuti untuk memasang pintu jaring agar kucing-kucing tidak bisa masuk rumah mereka sembarangan. Layaknya rumah sendiri, langsung saja aku pilih spot ternyaman untuk selonjor dan guling-guling meregangkan badan yang terasa kaku setelah 1,5 jam perjalanan. Segelas teh hangat dari mbak Sarmi terasa begitu sedap di tengah siang yang mendung.

Tidak begitu lama setelahnya, Ara datang dari Bogor, meski 2 jam lagi kami tiga bersaudara pun kembali menuju Bogor. Memang sudah seperti setrikaan saja perjalanan si tengah itu. Beginilah kami, berpisah untuk bertemu kembali, atau bertemu untuk berpisah lagi. Namanya juga hidup, terkadang kita berada di jalan yang sama untuk kemudian kembali menapaki jalannya masing-masing. Disyukuri dan nikmati saja, selama masih bisa bernafas, selalu ada kemungkinan untuk menjadi lebih baik.