Melebarkan Jurusan

SALAH MELEBARKAN JURUSAN

Nurul Syahid Kusuma, Bsc (Fin)

Yup. Saya adalah lulusan keuangan, bukan pendidikan. Loh? Salah jurusan dong? Nope. Saya tidak merasa salah jurusan, karena saya memang suka keuangan dan saya juga suka pendidikan. Bagi saya, kondisi saat ini merupakan pelebaran jurusan, bukan salah jurusan.

Why?

Bagi saya, salah jurusan adalah situasi dimana kamu tidak memahami jurusan yang kamu pilih dengan baik, pun kamu tidak mengerti konsekuensi dari pilihan tersebut. Atau… Ketika kamu dipaksa oleh apapun (keadaan, orang tua, terpaksa) untuk masuk ke jurusan tersebut.

Sementara saya tidak. Saya melihat dengan baik mata kuliah yang akan saya ikuti, kegiatan yang akan saya lakukan, dosen yang akan saya temui, dan dari situ saya memilih jurusan keuangan dengan sadar.

Plus, hingga saat ini pun saya masih menggunakan (meski tidak sepenuhnya ehehe) ilmu keuangan saya. Kan saya pendidikannya pun di bagian management, jadi masih tetap harus ngeliatin laporan keuangan bulanan dari sekolah.

So, kunci agar tidak salah memilih jurusan adalah memilihlah secara sadar, dan…. pahami pilihanmu beserta konsekuensinya.

Advertisements

RAQ #2

Question:

“Dulu gimana ceritanya bisa nyasar ke Shafco?” – pertanyaan dari seorang teman di Shafco

Answer:

Once upon a time….

Adik saya dijapri oleh bu Feny Mustafa, founder Shafco untuk mengantar keluarga beliau berkeliling Singapura, mencari sekolah untuk anak-anak beliau. Kala itu, saya belum tahu, apa itu Shafira, Zoya, dan kawan-kawannya. Maklum ya, di Salatiga nggak begitu update. Udah gitu, tiap pulang ke Indonesia ga banyak waktu buat main ke mall (padahal mah emang ga suka hahahaha).

Saat bu Feny berkata bahwa beliau memiliki perusahaan baju di Bandung, saya kira beliau hanya memiliki satu toko dan jualan baju-baju mahal ala ibu-ibu sosialitah atau ibu-ibu arisan. Ternyata, ketika saya diajak berkunjung ke pabrik beliau di Bandung, perusahaannya gede juga (duh, ketauan kudet nih).

Karena saya adalah anak yang hobinya magang ke berbagai tempat –pengalaman magang pertama saya ketika saya berusia 14 tahun di UOB Kayhian Solo, sebagai customer service dan bendahara– jadilah saya bertanya apakah saya diijinkan untuk magang di Shafco?

Dan begitulah, awal mula saya mendamparkan diri di Shafco. Hingga akhirnya saya bertemu bapak Gilarsi yang saat ini menjabat sebagai direktur utama PT Pos Indonesia, yang membuat saya bertahan lama di Shafco.

FAQ #4

Question:

“Dulu homeschoolingnya seperti apa, mbak?”

Answer:

Disclaimer dulu ya, saya dulu homeschooling hanya 2 tahun, setahun saat usia 8 tahun di kelas 4 dan ketika keluar dari pondok di kelas 1 SMP. Sisanya, saya menjalani home based education.

Meski hanya 2 tahun, saya cukup mengalami turbulence yang sering dialami oleh mereka yang baru menjalani homeschooling. Ketika SD, saya sangat senang dengan homeschooling, karena saya bisa belajar dimana saja dan kapan saja. Saya bisa belajar di atas pohon jambu, di tempat mandi bola, di ragunan, dan masih banyak lagi. Saya juga belajar langsung dengan cara praktek, sehingga saya tidak bosan.

Saat itu, saya tidak mengenal apa itu jadwal, dan apa saja yang harus saya pelajari di luar text book. Saya hanya mengikuti kegiatan yang sudah di desain oleh ibu saya. Celakanya, ketika saya menjalani homeschooling di SMP (kelas 5 dan 6 SD saya masuk kembali ke sekolah karena harus pindah ke Salatiga, dan saat itu homeschooling tidak diakui sebagai satuan pendidikan legal di Salatiga) ibu saya sudah tidak sanggup lagi mengajari saya dengan pelajaran yang semakin beragam, akhirnya saya mencari buku paket dan belajar sendiri.

Karena hanya memindahkan kurikulum sekolah ke rumah, akhirnya saya menjadi bosan dan jenuh. Saya lebih menikmati ikut ibu saya berkeliling Indonesia untuk seminar Jarimatika, dibanding di rumah dan belajar sendirian. Sudah begitu, bapak saya saat itu masih sangat galak, jadi kami sering berantem.

Setelah melihat metode homeschooling yang dijalani oleh adik saya, saya sadar bahwa saat itu saya salah. Seharusnya homeschooling bukanlah memindahkan kurikulum sekolah ke rumah, tapi lebih berfokus pada apa yang diinginkan anak, dijalankan dan dikaji lebih dalam sehingga menjadi projek yang terstruktur.

Seperti kurikulum 13 yang memiliki tema pembelajaran, homeschooling pun begitu.

FAQ #3

Question:

“Apa yang bikin mbak Enes merasa dunia pendidikan adalah bagian dari mbak Enes?”

Answer:

Hmm.. Saya lupa saya sudah pernah cerita mengenai ini atau belum. Tapi, kalaupun sudah, saya tidak keberatan untuk menceritakannya lagi.

Cerita ini dimulai dari lama, namun baru menemukan titik baliknya ketika saya harus menentukan apakah saya akan melanjutkan Busana Eneska atau tidak. Dulu, saya sangat tidak suka bergerak di bidang pendidikan, karena sama saja saya terjun ke dunia dimana saya pasti akan dibandingkan dengan ibu saya. Maka dari itu, di usia 16 tahun saya memilih untuk kuliah di jurusan keuangan, bukan pendidikan.

But, saya bukan salah jurusan kok (bagian ini saya ceritakan lebih detilnya nanti, di postingan lain ya ^^), saya menyukai keuangan dengan segala renik-reniknya. Namun, ketika ditanya, “apa yang membuat mata saya berbinar? Apa yang membuat saya ingin terus melakukannya meski berbagai rintangan menghalang?” membuat saya menilik kembali hidup saya jauh ketika saya masih berusia 9 tahun. Kala itu, ibu saya sedang bersinar dengan Jarimatika, dan saya menjadi pengajar termuda di Jarimatika sebagai pengampu kelas level 1 yang berisikan murid kelas 1 dan TK. Mereka memanggil saya, Bu Enes.

Kemudian dilanjutkan ketika saya pergi ke Singapura, salah satu jalur rejeki saya adalah pendidikan, melalui private tutoring saya bisa memenuhi kebutuhan hidup saya sehari-hari. Dan saya menikmati setiap detik bersama anak-anak. Bahkan tidak jarang saya diajak lomba lari, atau bermain berbagai hal yang lucu-lucu.

Akhirnya, saya putuskan, apapun yang terjadi, saya akan memilih pendidikan sebagai jalur hidup saya. Meski nanti akan diremehkan atau dipandang sebelah mata, saya tidak apa-apa, karena saya sudah yakin memilih dengan berbagai konsekuensinya.

So, here I am, in the middle of my beloved students and my solid team. And I love my life.

 

DSC00489.JPG

Olah Rasa

Sehat itu tidak melulu soal olah raga, tapi juga olah rasa. Bagaimana merespon terhadap hal-hal yang diluar nalar, bagaimana memahami orang lain, bagaimana berdamai antara yang seharusnya dilakukan dan yang ingin dilakukan (apalagi kalau seharusnya senyum tapi pengen ngaplok #ups).

Sama seperti olah raga, olah rasa juga bisa dilakukan sendiri, semacam berdamai dengan berbagai pemikiran diri yang suka ajaib ya terkadang. Apalagi kalau perempuan ketika PMS (pre menstruation syndrome, pas menstruation syndrome dan post menstruation syndrome, nayolooooh sisanya seminggu doang. Wkwkwk) lebih susah lagi mengendalikannya. Harus banyak-banyak tarik nafas. Tenang. Inget yang bahagia aja, yang lucu juga boleh, asal jangan ketawa sendiri weh. Serem.

Ketika sudah terbiasa olah rasa, hidup jadi lebih menyenangkan juga. Saya masih belajar, makanya hidupnya masih kayak roller coaster. Ohohoho.

Menjadi Guru

Pada hari guru tahun ini, tepat 4 bulan sudah saya mengajar. Berbagai lika-liku sudah saya lalui. Mulai dari berkeringat dingin ketika pertama kali mengajar, bingung harus mengatakan apa, tidak punya kurikulum, serba salah, di protes orang tua, dsb.

Hingga akhirnya saya bisa menikmati setiap menit yang saya lalui bersama para bocah. Tidak setiap saat saya mendapatkan situasi kelas yang kondusif untuk saya mengajar, ada waktunya dimana saya frustasi karena tidak bisa menyampaikan materi sesuai dengan yang saya harapkan. Di lain waktu saya sangat bahagia hingga rasanya tidak ingin lepas dari anak-anak.

Namun, apapun kondisinya, saya selalu bisa dibuat kagum dengan perilaku mereka dan kebijaksanaan yang sudah terlihat dalam tubuh kecil tersebut. Seringkali mereka justru memberikan insight baru pada kehidupan saya, mereka yang menjadi penguat dikala saya merasa tidak berarti di muka bumi ini. Mereka yang memaksa saya untuk terus belajar agar pantas memberikan yang terbaik bagi mereka.

Selamat hari guru! Untuk seluruh guru hebat di penjuru nusantara 🙂

FAQ #2

Question:

“Kok bisa dari homeschooling terus sekolah di Singapura dan lulus S1 di usia 18 tahun?”

Answer:

Sebelumnya, mau meluruskan dulu. Jadi, saya pertama kali homeschooling ketika duduk di kelas 4 SD pada tahun 2004, saat itu keluarga kami masih menetap di Depok. Untuk kota sebesar Depok saja, homeschooling masih dianggap aneh dan tidak diterima oleh pemerintah, sehingga kami harus menginduk ke sekolah payung (kalau gak salah Ruhama namanya) untuk melaksanakan ujian.

Di tahun 2004 akhir, Yangkung sakit parah hingga harus menginap di rumah sakit beberapa minggu, saat itu kami sekeluarga memutuskan untuk pindah ke Salatiga. Di Salatiga, homeschooling layaknya gojek 5 tahun yang lalu. Ada tapi tidak terdengar. Kebetulan, ada SD Muhammadiyah di dekat rumah Yangti yang mau mati, muridnya bisa lah dihitung menggunakan jari. Setelah ngobrol-ngobrol dengan pihak manajemen, saya bisa masuk ke sana dengan syarat harus tetap terdaftar sebagai siswa dan mengikuti berbagai kegiatan belajar mengajar. Sebagai keringanannya, kalau nilai-nilai saya bagus, saya boleh banyak ijin dari sekolah, jadi seperti semi homeschooling kalau saat ini.

Ketika itu, setiap awal buku LKS dibagikan, saya selalu semangat untuk mengerjakan semuanya sampai selesai. Dalam 2 minggu saya kumpulkan seluruh buku LKS untuk diperiksa, dan kemudian saya ijin tidak masuk sekolah dan ikut ibu seminar kemana-mana hehehe.

Memasuki SMP aku memilih untuk ke SMP Negeri karena ingin merasakan berbagai keseruan dan lika-likunya bertahan hidup di SMP Negeri yang pelajarannya banyak, gurunya kaku, seniornya galak, peraturannya ga masuk akal, tapi ekskulnya seru-seru. Banyak banget pengalaman yang saya dapatkan selama berada di SMP Negeri.

Karena keinginan sejak lulus SD untuk merantau, penasaran dengan kehidupan di tempat lain yang jauh dari bapak ibu, sendirian. Semangat untuk mencoba hal baru dan keingin tahuan bisa atau tidaknya mandiri dan bertahan hidup sendiri, membuat saya akhirnya memutuskan untuk melanjutkan SMA di Singapura. Ritual di keluarga kami, setiap akan memasuki sekolah baru, maka kami akan mengunjungi sekolah tersebut untuk memastikan apakah suasananya menyenangkan, vibenya dapet, lingkungannya seperti apa, guru-gurunya bagaimana.

Sesampainya di Singapura, saya diberitahu kalau mau ambil kuliah jurusan bisnis tidak perlu masuk SMA biasa, masuk saja program foundation selama 6 bulan (semacam kelas matrikulasi) kemudian bisa ambil kuliah. Mendengar hal tersebut tentu saja saya senang sekali, bisa menghemat waktu dan uang hahaha.

Jadi, saya tidak aksel sama sekali ya saudara-saudara, tapi memang prosesnya seperti itu. Karena, kalau aksel itu ketika materi yang seharusnya 3 tahun dipadatkan menjadi 2 tahun, sehingga menjadi tidak ideal, menghilangkan banyak waktu untuk melakukan hal lain. Sedangkan yang saya ambil, memang programnya sudah dibuat sedemikian rupa sehingga saya juga masih punya banyak waktu luang untuk mengikuti kegiatan lain di luar sekolah. Itulah mengapa saya bisa lulus di usia 18 tahun hehehe.

Nah, untuk homeschooling saya tidak bisa menceritakan pengalaman saya sendiri, jadi saya akan bercerita sebagai “kakak” dari anak-anak homeschooling lainnya yang rata-rata seumuran sama Elan (bungsu di keluarga kami). Ketika seseorang memilih untuk menggunakan jalur homeschooling, maka dia akan dihadapkan dengan berbagai pilihan yang luas sekali. Tergantung dari tujuan masing-masing individu. Bisa mengambil paket A, B, C untuk mereka yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi di Indonesia. Bisa mengambil GRE, SAT, ACT, dsb untuk mereka yang mau melanjutkan ke perguruan tinggi di luar.  Atau bisa juga fokus magang dari satu tempat ke tempat lain, mentoring, membuat bisnis sendiri untuk mereka yang mau fokus pada perusahaan.

Saat ini saya rasa, menjadi homeschooler memberikan banyak kebebasan, terutama bagi mereka yang sudah paham akan hal-hal yang ingin ditekuni. Di kala anak sekolah harus mempelajari 13 mata pelajaran yang belum tentu dipakai separuhnya, anak homeschooling bisa fokus pada bidang yang ia tekuni. Tidak, saya tidak mendiscreditkan sekolah, ataupun mengkafirkannya. Toh saya sangat menyukai sekolah hehehe. Hanya saja, selayaknya ada 1000 jalan menuju Roma, maka ada 1000 jalan juga menuju impian setiap orang. Saling menghargai jalan masing-masing adalah kunci kerjasama terbaik untuk membangun Indonesia kita tercinta.

Lini manapun yang dipilih untuk menuju impian, ketika berbicara mengenai edukasi, faktor terpenting adalah fasilitator utamanya, baik di sekolah swasta maupun negeri, homeschooling, unschooling, travelschooling, uncollege, dsb. Di sekolah tanpa sarana apapun, selama fasilitatornya mampu mendeliver pembelajaran dengan baik, maka anak-anaknya pun bisa unggul. Sama dengan di homeschooling, orang tua sebagai fasilitator utama, ketika tidak bisa membersamai anak dengan baik (ps. hingga usia SD hingga SMP awal, di atas itu anak sudah mampu memfasilitasi dirinya sendiri), ya hancurlah.

Tolong dipahami baik-baik bahwa anak berhak memilih jalur yang diinginkannya, hanya perlu dikenalkan dan diajarkan untuk konsisten. Jangan sampai memilih homeschooling karena orang tuanya merasa itu bagus, padahal anaknya nggak mau. Dan hati-hati juga, jangan sampai salah menjadi school at home. Mengundang guru les untuk 13 mata pelajaran yang dipelajari di sekolah, membuatkan jadwal sama dengan sekolah, hanya lokasinya saja pindah ke rumah. Jangan juga homeschooling dijadikan pelarian ketika anaknya dibully di sekolah, ajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya. Dulu saya dibully, sekarang saya membully (ups) bisa membela diri, karena memang diajarkan bahwa kalau benar jangan takut.

Huhuu, maaf jadi banyak kata-kata “jangan”, tapi ini penting banget soalnya. Sering saya miris melihat anak yang menjalani kehidupannya karena egoisme orang tua. Merdekakan anak untuk memilih, belajar sesuai yang diinginkannya, ajari ia iman, adab, akhlak dan bicara, namun bebaskan ia menentukan apa bidang yang ingin ditekuninya.

Akhir kata, sebagai siapapun kita, anak maupun orang tua, belajar untuk memahami pihak lain. Pendidikan itu milik bersama, because it takes a village to raise a child. Maka, musyawarahkan, pilih, dan jalani!