Keluarga Multimedia #5

Pernah mendengar super apps nya Indonesia? Baru-baru ini si aplikasi habis ganti logo. Yak, dia adalah:

Go Life (Gojek)

Bagi saya aplikasi ini merupakan aplikasi penjaga kewarasan bagi para ibu rumah tangga. Karena seringkali kegiatan kerumah tanggaan penuh dengan rutinitas dan repetisi, sehingga bisa jadi ibu rumah tangga (seperti saya ini hoho) jenuh dengan kegiatannya. Dengan adanya Go Life yang include berbagai hal, mamak bisa istirahat sejenak atau mengerjakan pekerjaan lainnya, mungkin upgrade diri atau meeting dengan orang lain.

Yang sekarang saya sering pakai adalah Go Clean dan Go Massage, karena kedua aplikasi ini sudah teruji providernya tahan banting. Ada satu lagi yang bagus, yaitu go Auto, tetangga saya sering pakai, namun berhubung saya tidak punya mobil, jadi ya tidak perlu hehehee.

Btw, yang mau download aplikasi Go Life atau baru pertama kali pakai bisa masukin kode referral ENESKUSUCRDK dan dapatkan hadiah menarik 🙂

Keluarga Multimedia #4

Apakah teman-teman pernah mendengar strategi pomodoro? Pomodoro berarti tomat dalam bahasa Italia, ia merupakan manajemen waktu yang membagi pengerjaan tugas ke dalam 20 menitan. Setiap 20 menit nanti akan ada jeda, jika sudah mencapai 4x sesi, atau 4x 20 menit, maka akan ada jeda istirahat yang lama. Teknik ini bisa untuk menjaga fokus, apalagi jika faktor yang menentukan kesuksesannya hanya diri kita sendiri, tidak ada gangguan eksternal.

Nah, ada aplikasi yang saya sering pakai dan mendukung sistem pomodoro ini. Namanya:

Forest: Stay Focused

Aplikasi ini akan mengunci handphone kita selama waktu yang ditentukan, sehingga kita tidak akan tergoda untuk bolak-balik membuka handphone. Hal ini sangat berguna mengingat handphone bisa menjadi pemecah fokus terberat dan mengakibatkan tertundanya pekerjaan kita untuk selesai.

Serunya lagi, aplikasi ini memungkinkan kita untuk menanam pohon di “hutan” setiap kali berhasil menjaga fokus dengan tidak membuka handphone. Seru kan! :))

Keluarga Multimedia #3

Aplikasi berikutnya yang akan saya review adalah:

Google Health/Health Application/30 Days Fitness

Ini adalah aplikasi yang getol saya pakai akhir-akhir ini untuk memastikan bahwa saya minimal sudah cukup berolahraga, akan lebih baik lagi jika saya juga bisa sampai tracking makanan, minuman, serta jam tidur.

Karena dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Rasulullah saw pun juga mendorong umatnya agar menjaga kesehatan badannya. Sesibuk apapun, sempatkan waktu ya untuk minimal stretching dan jalan kaki 30 menit sehari.

Keluarga Multimedia #2

Ngobrolin sosial media tanpa aplikasi yang satu ini rasanya tidak afdhol, apalagi mengingat jasanya dalam mendekatkan keluarga yang begitu besar, yak aplikasi ini tak lain dan tak bukan adalah:

Whatsapp

Siapa sih yang nggak punya grup keluarga di whatsapp, rasa-rasanya menjadi dekat dengan keluarga merupakan hal yang mudah karena keberadaan aplikasi ini. Terutama bagi mereka yang LDM. Bisa merasa terhubung dan “hadir” di tengah-tengah keluarganya, makan bersama, jalan-jalan bersama serta update tentang keadaan masing-masing.

Namun tetap saja, ada adab sosialisasi yang tetap berlaku, karena jika tidak dijaga, maka bisa menciptakan keretakan di antara keluarga. Apalagi whatsapp kebanyakan bahasa teks, sehingga tidak ada intonasi, dan bisa saja ada perbedaan persepsi atas penggunaan emoji.

Keluarga Multimedia #1

Di tantangan terakhir dari bunda sayang kali ini, kami ditantang untuk bisa mereview berbagai teknologi/aplikasi yang bisa memudahkan ibu dan calon ibu dalam:

  1. Mendidik/memantau perkembangan anak
  2. Manajemen diri/anak/keluarga
  3. Meningkatkan produktivitas
  4. Menambah amalan ibu agar bisa lebih bermanfaat bagi banyak orang

Hmm.. Kalau dilihat dari 4 kriteria ini sebetulnya cukup banyak ya aplikasi yang bisa saya review. Mari kita mulai dari yang pertama terlebih dahulu:

Instagram/Facebook/Sosial Media lainnya

Betul adanya jika sosial media bagai pedang bermata dua, bisa membuat seseorang menjadi lebih bermanfaat atau justru menebar keburukan atau menghabiskan waktu. Hal ini tidak lain karena sosial media hanyalah sebuah alat yang akan berfungsi sebagaimana kita memakainya.

Belajar dari suami saya yang memang menggunakan sosial medianya murni untuk mencari ilmu, saya pun mencoba kembali mencari arti mengapa saya harus bersosial media. Sempat off total hingga sekarang tidak terlalu aktif membuat saya memilah lagi siapa saja akun yang saya follow, lebih banyak berisi pembelajaran bermanfaat atau hanya hura-hura.

Setelah memilah akun yang difollow, kemudian aku kembali berpikir, hal apa yang mau aku bagikan sehingga menjadi akun yang bermanfaat. Sejauh ini memang sosial media merupakan tools yang paling tipis jarak antara baik buruknya. Maka dari itu, jangankan anak-anak, kita yang orang dewasa juga harus bijak dan hati-hati ketika aktif di dalamnya.

Sex Education #10 FAQ

Materi terakhir ini cukup menarik, saatnya membahas mengenai Frequently Asked Questions yang diajukan oleh anak-anak. Mari kita mulai:

  1. Ibu, menikah itu apa?
    • Menikah itu menjadi suami dan istri, seperti ibu dan ayah. Menikah hanya boleh dilakukan oleh orang yang sudah dewasa.
  2. Seks itu apa?
    • Seks itu jenis kelamin, ada yang laki-laki dan ada yang perempuan

Tentunya, kita juga harus mengklarifikasi apa yang sebetulnya ditanyakan oleh anak, jangan buru-buru menjawab. Jangan sampai kita menjelaskan apa, yang dimaksud anak apa, seperti cerita ini,

“Ayah, aku itu dari mana sih?”

“Oh… Hmmm. Hmmm jadi ayah dan ibu menikah, kemudian sperma dan ovum bersatu, sehingga kamu ada di perut ibu selama 9 bulan. Kemudian kamu lahir. Memangnya, kenapa kamu bertanya begitu?”

“Enggak, tadi temenku bilang dia dari Amerika, makanya aku pengen tahu aku dari mana.”

Jreng jreng….

Dulu, ketika saya kecil, ibu menggunakan video Harun Yahya untuk menjelaskan konsep sperma bertemu ovum, sehingga kami mengetahui cara kami “tercipta” dari video itu.

Kalau ayah dan bunda bagaimana?

Sex Education #9 Peran Lingkungan dan Perlindungan dari Kejahatan Seksual

Seperti sudah kita ketahui, dampak dari kejahatan seksual bertahan lama pada anak dan memiliki kemungkinan lebih besar untuk merusak mentalnya. Ia bisa mengalami depresi, gangguan stres pasca trauma, kegelisahan, kecenderungan untuk menjadi korban lebih lanjut di masa depan. YUP, bayangkan, menjadi korban satu kali saja sudah traumatis, apalagi ada kemungkinan untuk menjadi korban berikutnya.

Salah satu situasi yang mendukung hal ini untuk terjadi adalah karena tidak adanya pemahaman yang baik pada masyarakat. Biasanya, korban dari pelecehan seksual dianggap sebagai “pelaku” juga. Loh, kok bisa? Korban dianggap melakukan atau menggunakan sesuatu yang “memancing” pelaku, secara tidak langsung masyarakat menurunkan harga diri korban serendah-rendahnya. Sekali, dua kali mendengar hal seperti itu mungkin masih kuat, jika berkali-kali bahkan hingga bulanan, tahunan, pasti korban juga ikut menjatuhkan harga dirinya sendiri. Dan akhirnya menjadi tidak defensive ketika ada yang melakukan kekerasan seksual padanya.

Jahatnya lagi, pelaku biasanya justru yang mengetahui bahwa korban pernah terkena pelecehan seksual, “ah kamu kan dulu juga udah pernah, no big deal lah kalau sekali lagi.” Astaghfirullah.

Selain itu, bisa juga justru korban lah yang di masa depan menjadi pelaku dari kejahatan seksual. Untuk hal ini saya tidak terlalu paham teorinya, nanti coba saya cari sumber terpercaya dulu. Keluarga yang tidak harmonis dan menimbulkan kekurangan kasih sayang juga memiliki andil besar dalam membuat seseorang menjadi pelaku kejahatan seksual. Bisa juga seseorang benci pada anak-anak atau memiliki kelainan seksual yang membuatnya menjadi pelaku kejahatan, dan masih banyak faktor penyebab lainnya.

Untuk itu, diperlukan bantuan dari orang tua untuk bisa memilihkan lingkungan yang baik bagi anak. Pun pengasuhan yang tepat sehingga membentuk anak dengan karakter yang kuat, salah satunya melalui pendidikan seks yang benar. Hendaknya pengetahuan mengenai pendidikan seks diberikan secara bertahap, sedikit demi sedikit, sehingga anak mudah untuk mencerna dan tidak kaget. Pendidikan seks terbanyak diberikan ketika menjelang anak memasuki masa puber, sekitar 10-14 tahun.

Di beberapa artikel sebelum ini ada banyak hal yang bisa diterapkan pada kegiatan keluarga mengenai pendidikan seks. Bukan untuk menakut-nakuti orang tua, namun untuk mempersiapkan orang tua dan ananda untuk mantap menghadapi situasi yang terjadi di masa kini.

Sumber: Presentasi kelompok 9 Bunda Sayang Pranikah #4