Apresiasi Karya Teman

Well, saya sangat menunggu karyanya teh Zelin sih, karena bahasa yang dipakai cukup logically romantic. Ehehehe. Tapi apa daya, doi masih sibuk ngerapel. Jadi saya lihat karya dari teman yang lain.

http://catatantiaraannisaa.blogspot.com/2018/09/tentang-kawan-baru.html

Ini punya Tiara, adek angkatan di FIM tapi seumuran. Membahas mengenai sudut pandang dari seorang kawan yang nikah muda. Bukan, bukan nikah mudanya yang dibahas, melainkan bagaimana kita harus memahami sudut pandang orang lain sebelum menyampaikan gagasan yang kita miliki.

Menarik untuk dilaksanakan tapi memiliki tantangan tersendiri. Because we have to put ourself on their shoes. Memahami dari sudut pandang orang lain bisa menjadi kompleks karena kita juga harus memahami suasana hati, pola pikir, perasaan serta lingkungan tempat ia tinggal. Banyak aspek yang harus kita pahami yang (kalo saya) ndak usah meremet dipikir, tapi diasah saja feelingnya. Pasti bisa.

Komunikasi itu unik dan menyenangkan. Karena terbentuk dari berbagai aspek budaya, agama, pendidikan, dsb.

Advertisements

Komunikasi Produktif – Day 10

21 September 2018

PTS sudah berlalu, namun petualangan masih terbilang baru. Hari ini saya mengalami dan menjadi saksi dalam indahnya komunikasi. Dimulai dari kecup hangat di pagi hari dari anak yang sudah saya pedekate-in selama 1,5 tahun. YES FINALLY! Mungkin bagi banyak orang komunikasi kami tidak terlihat produktif, tapi pesan yang saya sampaikan bisa diterima dengan baik. Buktinya, saya kena kecup. Unch.

Kemudian hari ini saya berhasil membujuk seorang anak untuk stay di ruang suntik. Meski pada akhirnya harus disuntik paksa, tapi saya berhasil ngajak cerita tentang gajah, tentang landak bernama baim yang berwarna biru. Apa aja pokoknya, biar dia sibuk dengan saya, sampai lupa kalo mau disuntik.

Terakhir, saya melihat komunikasi yang sangat berbeda dengan yang lain. Very concise if I could say. Seorang anak yang tantrum dan baru memiliki kosakata sedikit, sehingga kata-kata yang kita gunakan pun tidak banyak agar bisa dimengerti. Namun justru disitulah keasyikannya.

Hari ini, aku mengalami banyak hal. Ada yang membuat sedih dan ada yang membuat senang, namun semua itu lah yang membuat hariku begitu berwarna. Love you all my kiddos and kakak-kakak lebah putih.

Komunikasi Produktif – Day 9

18 September 2018

Hari kedua PTS. Saya belajar banyak dari anak-anak, karena saya bertugas menemani ABK, pola komunikasi pun menjadi berubah. Tidak boleh ada kalimat majemuk, tidak boleh ada kalimat yang tidak jelas, tidak boleh ada kata-kata yang terlalu sulit. Semua harus diperhatikan dengan seksama, agar anak yang didampingi bisa mengerjakan soal dengan sebaik mungkin.

Hari ini saya menjaga 3 anak sekaligus. Luar biasa sih rasanya, energi yang keluar juga cukup besar, karena setiap anak harus dieja satu per satu hurufnya. Bayangno nda, kowe ngeja “kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan” tekan taun ngarep yo kelu ilatmu. Wkwkwk.

Di saat-saat seperti ini, baik kakak maupun anak yang didampingi harus memiliki mindset positif, sehingga bisa melalui 2 sesi PTS dengan nyaman, aman, bahagia, dan kreatip! wwkwkkw.

Maaf ya, subjectnya pindah, bukan bapak lagi. Ya mo begimana yak, ditinggal terus enengnya, bang.

Komunikasi Produktif – Day 8

17 September 2018

Komunikasi yang baik erat hubungannya dengan perasaan dan pikiran yang sehat. Hari ini, keluarga saya yang numpang lewat kayak iklan di film Hachi yang cuma sebiji itu pulang ke haribaan masing-masing. Ugh. Zad.

Perasaan saya? Jelas nggak karu-karuan. Kalau saya tidak memfilter semua hal yang saya ungkapkan, pengen rasanya nangis sambil melukin guling. Tapi ya apa daya, saya udah harus segera switch emotion dan berpikir mau main apa di PTS tahun ini.

Switch emotion ini saya pelajari semenjak SMP. Karena saya tidak suka jika orang lain harus terkena dampak buruk dari emosi saya yang sering berubah-ubah, sehingga saya harus tampil prima dan memberikan yang terbaik. Ketika bisa mengatur emosi dengan baik, maka komunikasi pun akan membaik seiring berjalannya waktu.

Selamat sendirian lagi :’ ndang rabio nes, gen ono sing ngancani (padahal nk suami tugas luar kota yo podo ae).

Komunikasi Produktif – Day 7

16 September 2018

D-Day

Maaf ya, skip 3 hari dari yang terakhir di tanggal 13 September. Hari ini seluruh keluarga saya sudah berkumpul, dan kami mau mengadakan pesta kebun. Sebagai panitia tunggal (iyes, tunggal, karena pada baru dateng H-3, H-2 dan H-1) saya harus bersabar menghadapi berbagai pertanyaan. Terlebih karena saya menetapkan dress code, sehingga bikin rame peserta yang lain (baca: keluarga besar) wkwkwk.

Di saat seperti ini, saya memilih untuk lebih banyak mendengarkan dan menjawab dengan bahasa yang sudah 3 kali di filter macam minyak goreng ^.^

Ketika hari H, ibu mulai panik pada hal-hal kecil. Di lain sisi, bapak justru sangat menikmati acaranya. Tidak terlalu heboh dengan detil-detil. Saya? Hooo.. Saya tidak bisa bernapas kawan-kawan. Asam lambung langsung naik karena panik. Berusaha untuk tenang. Berusaha untuk tidak heboh sendiri. Which kinda works, but not really. Wkwkwk.

Intinya? Yo nggak ada, penting akeh senyum nek gek kodeng ki. Wkwkwk.

 

Komunikasi Produktif – Day 6

Finally! Hapenya udah bener! Yes!

Mengenai komunikasi produktif kali ini, saya mau membahas tentang intonasi suara. Sebelumnya di materi sudah di jelaskan mengenai intonasi suara yang berperan +/- 33% dalam komunikasi kita. Cukup besar bukan, makanya jika pemilihan intonasi sudah salah, mau perkataan kita benar sekalipun, sikap lawan bicara akan cenderung defensive.

Biasanya, intonasi yang salah terjadi ketika kita panic atau out of control. Di kondisi itu, otak tidak lagi mampu membedakan, mana yang seharusnya kita lakukan dan mana yang tidak. Itu sering terjadi pada saya, dan salah satu cara menyiasatinya adalah dengan berhenti sejenak. Mengatur nafas dan memilih kata yang akan diucapkan selanjutnya.

Lucunya, ketika ibu saya mulai tinggi intonasinya, bapak saya menjadi rendah dan renyah. Begitu pula sebaliknya. Seringkali tidak terduga-duga siapa yang tinggi dan siapa yang rendah. Seimbang di antara keduanya 🙂

Komunikasi Produktif – Day 5

*Hape masih tidak bisa digunakan. Sudah seminggu. Bukan detox.

*kinda frustrated.

 

Okay, jadi mood swing lagi bener-bener parah banget hari ini. But, luckily, using my friend’s phone, I can talk with my father, and he told me that my communication is getting better. Bapak bilang, “kamu udah pinter ya, udah bisa memilih bahasa yang baik untuk menghadapi Eyang yang sedang ngambek.”

Kuncinya adalah kita nggak baperan. Meski kita tahu saat itu Eyang sedang ngambek, tapi jangan terpengaruh dengan kalimat-kalimat ngambeknya, lebih banyak ngobrol tentang selanjutnya akan seperti apa? Eyang ingin bagaimana? Dan kalau Eyang sudah memilih, maka tugas kita hanya meng-iya-kan dan melaksanakan. Jangan ikut-ikutan ngambek.

Itu sedikit cerita tentang komunikasi produktif hari ini. Terus saran bapak, aku harus menjaga intonasi suara agar tidak terlalu tinggi dan berkesan ngajak berantem. Well, aku kalo panic langsung auto tinggi gitu suaranya, mana tadi anak-anak lagi rame-ramenya, jadi khawatir suaranya ga kedengeran sama bapak dan ibu. Jadi begitu deh.