Komunikasi Produktif (2)

My friend will come this saturday, and I might be away from home for a night. We plan to go to Temanggung, because there will be Pasar Papringan (a market in the middle of bamboo forest) this Sunday, and we wanna go to that event together. Moreover, my friend just built a start up that focus on farming, maybe this can be a fresh idea for him or at least he could build many good relations there.

Anyway, today’s drama started from the early morning, where I insisted to go to Temanggung by motorcycle, eventhough last night I couldn’t sleep because of the influenza I had. Bapak forced me not to go until I’m totally recover. Meanwhile, I can’t be a bad host that abandon my guest.

The little me inside really just want to be rebel, by just doing what I want, and not thinking of what gonna happened next. Luckily, the mature me can calm myself down, and starting to try finding an agreement with Bapak. In the end, we both agree that I could still go to Temanggung but using bus, not motorcycle (altho it has more complicated route).

I learned that everything can be settled once we calm and communicate each other’s opinion. Easy to say, but difficult to do :’)

WhatsApp Image 2017-11-06 at 21.01.06
Degan bakar papringan. Tersedap.
Advertisements

Komunikasi Produktif (1)

Sebetulnya beberapa hari terakhir ini tidak pernah ada masalah antar anggota di keluarga kami, rasanya komunikasi kami jadi membaik dibandingkan dulu awal-awal sebelum saya merantau. Iseng-iseng saya mulai melakukan pengamatan mengenai hal-hal yang berubah di dalam keluarga, biar makin yakin kalau memang komunikasinya yang membaik, bukan kami yang menghindar dari masalah.

Kalau dilihat-lihat intonasi bicara ketika kami bercakap-cakap makin riang dan nggak banyak ngajak gelut. Saya rasa ini adalah bagian terpenting, dibandingkan dengan pemilihan diksi dalam berbicara. Intonasi yang menyenangkan akan mengundang kebahagiaan dari orang lain, sebaliknya, meski kata-kata yang digunakan baik, intonasi yang tidak enak bisa membuat segalanya jadi runyam. Mm… pantes aja ya kalau ngobrol via chat sering miskom, intonasinya kan ga kedengeran.

Tapi selain intonasi, raut wajah ketika ngobrol juga penting. Apalagi bapak adalah orang paling sarkas sejagad raya, kalau raut wajahnya mencurigakan, intonasi yang menyenangkan tadi jadi dipenuhi tanda tanya. Saya pun begitu, seringkali nggak bisa kontrol raut wajah, apalagi kalau ditanyain masalah kerjaan. Maklum ya, punya orang tua sekaligus atasan itu kan double degree sesuatunya (mereka yang ngelanjutin usaha keluarga itu…. TANGGUH), ngobrol santai aja bisa berujung ribut. Yang satu merasa diserang, yang satu lagi merasa “lah kan gue cuman nanya,” atau “lah gue kan cuman cerita.”

IMG_20170519_113418
Ini adalah contoh raut muka ngajak ribut + patut dicurigai

Makanya, setiap aspek saat ngobrol jadi penting, apalagi kalau ngebahas hal yang serius (terutama NIKAH! Huft).

Yang saya rasakan beberapa hari ini, pemosisian peran serta penataan hati itu penting banget sebelum ngobrol. Yang biasanya saya lakuin selama ini ya set mood dulu, apalagi kalau pembahasannya serius. Kudu legawa. Kalau udah set mood, baru deh masukin peran + pembawaannya. Misal, hari ini jadi anak kecil: ceria, murah senyum, fun, ceplas ceplos. Atau, hari ini jadi ketua yayasan: serius, cerdas, pembawaannya tegas.

Boleh dong di share, apa hal-hal yang dilakukan oleh teman-teman, terutama buat yang punya intonasi suara tinggi dan default muka ngajak berantem seperti saya, huhuuu.

 

Komunikasi Produktif (0)

Assalamu’alaikum semuanya~

Lama tak melihat postinganku mengenai Ibu Profesional ya, itu semua dikarenakan sebuah kesibukan dan ke-skip-an saya untuk daftar lagi dari cuti Bunda Sayang yang tertunda. Ah sudahlah.

Eniwei, saya kembali lagi ketika keadaan sudah damai dan tenang (entah kenapa saya selalu skip tahap awal di IIP. Sungguh anak founder yang kurang teladan :’ mungkin tugas saya memang melanjutkan di yang kedua dan seterusnya ya #acie). Seperti yang sebelumnya (dan tidak pernah saya kerjakan di Bunsay 1), kelas pertama Bunsay mengenalkan mengenai Komunikasi Produktif, bagaimana kita harus menyamakan FOR (frame of reference) dan FOE (frame of experience) kita dan pasangan lawan bicara (duh ga usah ngaku-ngaku pasangan deh, mblo).

Hal ini penting banget karena kita sebagai pihak yang mengkomunikasikan mempunyai kewajiban dan kepentingan untuk memastikan apa yang kita komunikasikan mampu tersalur dengan benar. Karena, apa yang diterima oleh orang yang mendengarkan merupakan tanggung jawab mereka yang mengkomunikasikan sepenuhnya, jadi jangan gampang menyalahkan lawan bicara ya, rubah cara komunikasimu! (mengutip dari tulisan Profesor Doktor Bunda Agung Septi Peni Wulandani, Guru Besar Institut Ibu Profesional).

Di tantangan pertama kali ini, saya disuruh untuk memilih satu anggota keluarga yang mau ditingkatkan lagi pola komunikasinya, dan saya memilih…. eng ing eng.. setelah pariwara yang berikut ini #digaplokpembaca.

Oke, back to topic, saya memilih Bapak untuk menjadi partner tantangan saya kali ini. Alasannya super simpel, karena beliau adalah teman berantem saya sejak jaman orde baru sampe millenial (berapa periode coba kami lalui bersama. Unch). Jarang sekali kami berdiskusi hal serius tanpa adu urat, selalu saja ada bahan untuk kami permasalahkan bersama, dan ujung-ujungnya komunikasi kedua belah pihak tidak tersalur dengan baik.

Well, kami berdua sama-sama keras kepala dan gengsinya tinggi, jadi susah untuk menurunkan ego masing-masing dan mencoba untuk saling mengerti. Maka, di hari ini, saya mencoba mengerti apa yang menjadi FOR dan FOE bapak (bohong banget! seharian kamu di luar rumah Nes) saya berkomunikasi dengan bapak seperti biasa, kami mengobrol sembari perjalanan menuju ke Lebah Putih, banyak membicarakan Ara dan tidak membicarakan saya (pengalih isu).

Oke. Aku mau pengakuan dosa aja deh. Hari ini saya belum membuat improvement apa-apa dengan bapak, masih seperti biasa, hanya tidak ada hal yang membuat kami bersitegang saja. Besok karena akan berada seharian di rumah, saya berjanji akan berkomunikasi lebih baik lagi dengan bapak, mencoba memahami FOR dan FOE bapak, agar ada FOR dan FOE kita.

Terimakasih Ibu Profesional, yang telah menyatukan lagi aku dan bapakku (jiga program tali kasih wkwkwk).

IMG_20170518_140728

Gambar 1. Bapak mencoba mendinginkan kepalanya menggunakan keranjang buah. Sepertinya efektif, boleh dicoba manteman.

October Journey (2)

1 Oktober 2017 – The D Day

Memasuki ruangan seminar, vibe semangatnya mulai terasa. Satu dua wajah yang tak lagi asing, senyum terkembang bersamaan dengan ratusan pasang mata yang memandang tatkala nama kami disebut. Sensasi ini, sudah lama tidak aku rasakan.

Kami bertiga duduk di bangku tamu, tepat di depan panggung. Ku perhatikan dekorasi panggung kali ini tidak main-main, bunga-bunga kertas bernuansa abu-navy ukuran besar tersebar di berbagai penjuru, tidak lupa dengan kain-kain jersey yang mempermanis panggung utama. Panitia pun mengenakan baju dan jilbab yang senada warnanya dengan dekorasi panggung. Semua terlihat apik dan ditata dengan sungguh-sungguh. Tidak heran, kemarin Mbak Ami – ketua panitia yang menjemput kami – langsung pamit ijin kembali ke lokasi acara karena panitia masih ramai menyiapkan acara.

Acara dimulai dengan sambutan dari ketua koordinator IIP Jakarta serta ketua panitia, dan dilanjutkan dengan prosesi wisuda kelas matrikulasi batch 4. Teringat ketika aku masih merupakan wisudawati kelas matrikulasi batch 2 tepat setahun yang lalu. Rasanya seru sekali berkenalan dengan banyak teman baru, serta berhasil menyelesaikan 9 NHW (Nice Home Work). Setidaknya, seorang Enes Kusuma masih pantas menyandang takdir sebagai anak ibu Septi Peni, founder IIP. Hehehehe.

Tepat sebelum sesi kami, para wisudawati mempersembahkan drama yang menceritakan dua tipe ibu yang berbeda. Yang pertama merupakan wanita karier yang menghadapi tantangan dalam pekerjaannya dan mulai merasa gelisah karena sering meninggalkan keluarga. Yang kedua merupakan ibu rumah tangga total yang bingung mau melakukan apa selain hanya bebersih rumah dan printilannya. Keduanya pun berkenalan dengan IIP dan lika-liku pengerjaan NHW nya, hingga akhirnya tanpa sadar, mereka sudah sangat jatuh cinta dengan IIP.

Drama yang di desain jenaka namun penuh makna ini sangat menghibur kami, meski aku sendiri masih tetap grogi karena akan tampil. Berkali-kali membolak-balik script, mengecek ulang apa yang harus dikatakan, mempersiapkan materi presentasi di HP, karena layar yang posisinya terlalu di depan, membuatku tidak bisa melihat isi slide berikutnya. Ketegangan sebelum maju ke depan yang berkesan serius, tercampur dengan kebodoran karena mau memakai pointer pemberian adek ibu yang super canggih tapi nirfungsi karena tidak kami pasangi batre. Semacam punya laptop canggih yang bisa download drama korea 500 episode dalam waktu 5 menit, tapi kagak ada internetnya. Percumah. Akhirnya kembalilah kami ke cara primitif, “Next mbak…”

Akhirnya, tiba juga saatnya ketika nama kami dipanggil. Ara dan Elan sudah bersekongkol untuk membuatku menjadi presenter tunggal di acara ini, mereka berdua hanya akan menjadi mesin penjawab pertanyaan peserta. Huft. Kerjasama adek memang mengerikan.

Meski sudah mencoba menarik nafas berkali-kali dan berusaha untuk setenang mungkin dalam presentasi, tetap saja keringat dingin mengalir tanpa henti, ditambah dengan tangan yang tidak berhenti bergetar. Masih bagus aku tidak mengeluarkan suara terjepit bak penyanyi falset yang salah lirik lagu.

15 menit terasa begitu lama. Tatapan mata peserta yang menyiratkan berjuta makna makin membuatku tidak karuan. Belum lagi, Elan berpesan untuk anak-anak kecil diminta tenang atau keluar, karena presentasi kali ini tergolong berat, berbicara tentang arsitek peradaban.

Selesai menyampaikan presentasi, dibukalah sesi tanya jawab, sesi yang paling menyenangkan – bagiku – karena bisa mengetahui apa yang diinginkan oleh peserta. Beberapa pertanyaan yang masih aku ingat merupakan seputar adab, HS (homeschooling), dan metode pembelajaran di rumah.

Q: Kapan kira-kira anak mulai kalem? Karena anak saya masih sangat aktif berlarian dan menanyakan berbagai macam hal.

Sebetulnya, tidak ada patokan pasti kapan anak akan kalem (serta kenapa pula anak harus kalem, emak-emak juga banyak yang pecicilan), ada banyak faktor yang bermain. Bisa dari lingkungan, tipe serta pembawaan anak, pengalaman yang sudah dijalani oleh anak, dan masih banyak lagi.

Yang perlu dikenalkan bukanlah mengenai anak harus menjadi kalem, tapi bahwa anak paham mengenai adab di berbagai tempat. Ketika di rumah, silahkan pecicilan sepuasnya, di lapangan maupun tempat bermain pun boleh. Hanya saja, ketika sedang berkunjung ke rumah orang lain, menghadiri acara orang dewasa, dikunjungi oleh tamu di rumah, dsb. anak harus bisa menempatkan diri dengan baik. Istilah Jawanya, empan papan, tau tempat.

Namun, perlu di highlight bahwa adab bukanlah pengekang bagi anak, justru dengan adab, anak jadi paham bahwa pecicilan pada tempatnya itu boleh banget (kalau di kasus ini mengenai pecicilan), bukan suatu hal yang tabu.

Q: Bagaimana metode ibu mengajarkan mengenai adab pada Ara, Enes dan Elan? Kan pasti berbeda-beda ya cara belajarnya.

Setiap kali mengajarkan sesuatu pada kami, ibu selalu melihat cara ternyaman bagi kami untuk belajar. Ketika bersama saya yang visual, maka ibu mengajarkan melalui buku-buku. Ibu yang tidak suka membaca pun juga ikut baca buku, agar bisa nyambung diskusi dengan saya. Lain lagi saat bersama Ara, doi sangat auditory, sehingga ibu akan merekamkan berbagai hal untuk didengarkan Ara saat mau tidur.

Untuk Elan yang kinestetik, selain menggunakan metode belajar sambil bergerak, ibu juga memperbanyak kegiatan yang penuh dengan gerak di awal pembelajaran. Sehingga, ketika Elan sudah capek, dia akan lebih fokus memperhatikan.

Itu tentang perbedaan cara belajar, untuk mengajarkan adab, ibu dan bapak lebih banyak memberi contoh pada kami. Setiap pergi ke acara-acara penting, atau berkunjung ke rumah teman bapak dan ibu, kami selalu di bawa. Sehingga kami tidak canggung ketika berada dalam situasi yang serupa.

Sejak kecil, kami sudah terbiasa untuk menginap di rumah saudara atau teman bapak dan ibu. Setiap kali akan menginap, kami selalu dikenalkan mengenai adab di rumah tersebut, karena berbeda dengan akhlak yang universal, adab sangatlah bervariasi. Maka, setiap akan mengunjungi tempat baru, kami sekeluarga akan bersama-sama belajar mengenai adab setempat.

Q: Apa yang dirasakan sebagai anak Homeschooling? Dan bagaimana caranya agar bisa lulus S1 di usia 18 tahun?

Disclaimer, saya hanya menjalani homeschooling selama 3 tahun, dengan 2 tahun semi homeschooling (menginduk ke sekolah payung). Sejujurnya, saya merupakan anak yang senang sekolah dari sisi non akademisnya. Ketika SMP pun tujuan saya untuk masuk adalah demi bisa berorganisasi sebanyak-banyaknya. Sedangkan adek saya yang kedua, Ara, dia sangat menyukai sekolah dari sisi akademisnya. Nilainya selalu bagus, setiap mengerjakan tugas pasti diteliti berulang kali, pokoknya the straight A kids banget deh. Barulah si bungsu, Elan, merupakan satu-satunya anak yang kekeuh memilih homeschooling sejak TK.

Bagi saya, baik homeschooling maupun sekolah formal atau informal merupakan pilihan yang sah-sah saja, tidak ada yang lebih baik satu dari yang lainnya. Karena ada 1000 jalan menuju roma, begitupun jalan menuju ke cita-cita seseorang. Sehingga, tidak perlu semua orang menempuh jalan yang sama, yang penting tempuhlah jalan yang benar untuk mencapai tujuan.

Saya bisa lulus pada usia 18 tahun, murni karena kehebatan ibu dalam mencari informasi mengenai sekolah dan kenekatan saya untuk pergi ke luar negeri. Saat itu usia saya 14 tahun dan berniat untuk keluar dari Salatiga. Kepergian kami ke negeri Singa pun untuk mencari SMA normal, atau A Level. Salah satu sekolah yang kami kunjungi menawarkan program business foundation untuk anak-anak yang akan mengambil jurusan bisnis S1 nya. Business foundation ini bisa dibilang pengganti SMA yang fokus hanya membahas tentang hal-hal seputar bisnis saja. Jika SMA biasa memakan waktu 3 tahun, business foundation hanya memerlukan 6 bulan, dan saya bisa langsung melanjutkan S1 setelahnya. Begitulah kenapa saya lulus S1 di usia 18 tahun, no acceleration, just different process.

Semoga perjalanan kali ini bisa memberi banyak insight bagi teman-teman ya :)))

October Journey (1)

Bulan ini dimulai dengan sebuah keseruan, tepat tanggal 1 aku dan adik-adik akan menjadi pembicara di acara wisuda matrikulasi IIP Jakarta. Kupandangi lagi kalender di buku catatanku, Oktober akan menjadi bulan tersibuk di tahun ini, atau setidaknya bulan tersibuk setelah aku pindah ke Salatiga.

Bismillah, dan kami pun mulai melangkah menuju bandara.

Sabtu, 30 September 2017

14.35 WIB

Bandara hari ini terlihat lebih ramai dari biasanya, ditambah dengan adanya jerit tangis seorang perempuan yang usut punya usut ternyata istri dari napi yang sedang dipindahkan. Aku melihat berkeliling, teras bandara Ahmad Yani yang tidak besar menambah sumpeknya suasana siang kali ini.

Untunglah antrian di line pesawat kami tidak panjang, sehingga kami bisa menyelesaikan rangkaian check and re-check bandara dalam waktu singkat. Sembari menunggu, aku menyelesaikan satu dua bacaan webtoon dan sesekali berbincang dengan bapak, ibu, ara dan elan.

15.45 WIB

Panggilan untuk boarding bagi pesawat kami, akhirnya, sesaat lagi aku bisa duduk dengan tenang dan melanjutkan tidur. I LOVE SLEEPING SO MUCH.

17.09 WIB

Aku terbangun karena merasakan guncangan saat roda pesawat mulai bersentuhan dengan landasan di lapangan terbang. Berbeda dari saat aku masih SMP, saat ini para penumpang pesawat sudah lebih sabar untuk menunggu pesawat berhenti sebelum mengambil bagasi kabin. Tinggal mengasah sedikit lagi rasa sabar mereka untuk tidak segera mengutak-utik HP sebelum berada di dalam gedung bandara.

Perjalanan singkat yang cukup melelahkan, rasanya ingin segera merebahkan diri di kasur, belum lagi script presentasi untuk besok belum selesai aku buat. Ugh, cepatlah selesai perjalanan ini, aku mulai tidak tenang.

17.30 WIB

Setelah memastikan bahwa tidak ada bagasi yang tertinggal, Aku serta adik-adik berpisah dengan bapak dan ibu. Yap, kami akan melakukan kegiatan bersamaan esok pagi, hanya saja terpisah sejauh 101 km. Aku, Ara dan Elan akan pergi menuju Jakarta Kota, bapak dan ibu akan pergi menuju Serang.

Selepas berpamitan dengan bapak dan ibu, kami memilih kursi tunggu yang terletak di dalam bandara. Simpel saja, di luar sangat panas, udara Jakarta tidak pernah bisa bersahabat dengan kulit kami semenjak kecil. Itu pula yang menjadi alasan kami pindah ke Salatiga 13 tahun silam.

17.48 WIB

Mulai bosan menunggu, Ara mengeluarkan HP nya dan mulai bermain game pengasah otak yang baru saja di downloadnya, setelah ia berhasil menamatkan cryptogram dan candy crush saga. Anak itu memang sangat terobsesi untuk mempertahankan predikat pintarnya, sehingga tak sembarang game ia mainkan.

Game baru ini sangat seru, ia memiliki beberapa tingkatan level dengan permainan yang berbeda di setiap levelnya. Mulai dari mengurutkan angka hingga estimasi hari dan tanggal menggunakan sekian rumus aljabar.

18.35 WIB

Akhirnya, panitia yang ditunggu-tunggu datang juga. Macetnya Jakarta memang selalu menjadi alasan klasik bagi keterlambatan, tapi kami maklum, kasihan juga mendengar cerita perjalanan dua orang ibu supel yang menembus Jakarta dari Depok dalam waktu 4 jam. Terbayang jeritan kopling mobil yang diinjak berkali-kali, mungkin kalau bisa berbicara dia akan minta dipindahkan ke Salatiga juga dibanding tersiksa hidup di Jakarta.

Dalam perjalanan menuju hotel, kami disambut oleh kemacetan yang cukup lumayan, meski tidak separah jalanan yang berada di seberang kami. Ah, aku tidak lagi paham dengan kota ini, dengan segala kesusahannya, tetap saja banyak orang yang betah tinggal disini.

21.00 WIB

Akhirnya kami tiba di hotel, tanpa banyak bicara, langsung saja kutenggelamkan badanku ke kasur. Laptop yang sudah kupersiapkan untuk ku jamahi demi sebuah presentasi yang baik esok hari tak kuasa kusentuh. Mata ini terlalu berat meski hanya sekedar untuk berpindah tempat. Jika bukan karena rintihan perut, mungkin aku lebih memilih tidur ketimbang makan.

Esok hari yang mendebarkan menanti, semoga saja semua berjalan dengan baik dan menyenangkan.

AKU LULUUSSS

untitled

Pengumuman kelulusan Program Matrikulasi IIP Batch 2 diumumkan bertepatan dengan hari ibu, 22 Desember 2016. Setelah 9 minggu mati-matian mengerjakan tugas, yang disebut NHW (Nice Home Work), akhirnya kami lulus juga.

Padahal saya anaknya founder IIP, tapi kok ya masih kepontal-pontal ya ngerjainnya. Selalu deadliners yang mengumpulkan paling cepat hari Sabtu (deadlinenya setiap Minggu sore), bahkan pernah 2 NHW ditumpuk jadi satu ngiriminnya, karena ga sempet ngerjain pas lagi tour jakarta-bandung bolak-balik. Hanya satu NHW yang saya kumpulkan sehari setelah tugas diberikan, NHW 9, which is yang terakhir! Yippie! High Energy Ending! HAHAHHAHA *maafkan geje, saking senengnya.

Jadi, untuk semua ibu yang berhasil menyelesaikan NHW, bahkan mengumpulkan sangat-sangat tepat waktu, saya super duper salut. Karena saya yang single aja udah telolet banget ngerjainnya, hahaha.

Harus saya akui, program matrikulasi IIP ini sangat-sangat terstruktur dan luar biasa, saya yang anaknya bu Septi saja sampai kagum melihat kecerdasan ibu saya (hampura bu, da di rumah ibu dijadiin bahan bully wae >v<). Dan hebatnya lagi, setiap NHW yang diberikan membuat semua pesertanya berpikir keras, istilah kerennya mah, ber-tafakur gitu yah. Kualitas hasilnya juga bisa terlihat, mana yang hanya teori saja, dan mana yang sudah langsung praktek menjalankan.

Pokoknya program matrikulasi IIP best banget deh, salut. Setelah ini, giliran saya menggarap program matrikulasi untuk pranikah. Super challenging juga, karena broad banget yang harus dirangkum, tapi insyaa Allah mah bisa! Bismillah.

 

Being An Agent of Change

The first time I heard about this in NHW (Nice Home Work) of Institut Ibu Profesional, I suddenly remember about a story of being a good agent of Muslim in Europe when I read “99 Cahaya di Negeri Eropa” a book by Hanum Raies. The book tells us about how we keep being good to others in spite of the way they treat us.

To be a change agent, we don’t have to do big things, but it’s a must to be consistent. Because we often out thinking what we’re gonna do, just to end up not doing anything. In order to prevent that, start with a small step, and do not stop walking.

What I have in mind to correlate that idea to my activities and my focus study in life, I want to empower people around me by involving them in my business, Busana Eneska. Because my business focus on doing family and female clothing on many different segments, so my idea is to employ maybe diffabels to be our tailors and household mothers to be our admins/distributors. I will also train them regularly and give many other skill that they may want to have such as driving, cooking, crafting, etc. So they’ll have many experiences which is good for themselves and for their future.

I will also mentor a young person (around teenager age) to encourage them to have their own business by doing an intenship in my business. The goal is to at least introduce a professional world to that person and improve their skill.

And because I love to learn and share (and also analyzing), I want to share any knowledge that I have once a month to public, for those who can’t come could access the content in my blog or youtube channel.

Those are a temporary things that I will do in my mind, hopefully there will be more things I can be done along with the grow of my business and experience.