Menjadi Guru

Pada hari guru tahun ini, tepat 4 bulan sudah saya mengajar. Berbagai lika-liku sudah saya lalui. Mulai dari berkeringat dingin ketika pertama kali mengajar, bingung harus mengatakan apa, tidak punya kurikulum, serba salah, di protes orang tua, dsb.

Hingga akhirnya saya bisa menikmati setiap menit yang saya lalui bersama para bocah. Tidak setiap saat saya mendapatkan situasi kelas yang kondusif untuk saya mengajar, ada waktunya dimana saya frustasi karena tidak bisa menyampaikan materi sesuai dengan yang saya harapkan. Di lain waktu saya sangat bahagia hingga rasanya tidak ingin lepas dari anak-anak.

Namun, apapun kondisinya, saya selalu bisa dibuat kagum dengan perilaku mereka dan kebijaksanaan yang sudah terlihat dalam tubuh kecil tersebut. Seringkali mereka justru memberikan insight baru pada kehidupan saya, mereka yang menjadi penguat dikala saya merasa tidak berarti di muka bumi ini. Mereka yang memaksa saya untuk terus belajar agar pantas memberikan yang terbaik bagi mereka.

Selamat hari guru! Untuk seluruh guru hebat di penjuru nusantara 🙂

Advertisements

Guru dan Mahasiswa

Saya tergelitik dengan istilah yang dipakai di Indonesia, namun sebelumnya, mari kita melihat definisi dari istilah yang dipakai tersebut.

MAHA- /ma.ha-/ bentuk terikat 1. sangat; amat; teramat; 2. besar

GURU – a spiritual teacher; a teacher and especially intellectual guide in matters of fundamental concern; one who is an acknowledged leader or chief opponent; a person with knowledge or expertise

Saya mencoba mencari tahu asal mula dibentuknya kata “Mahasiswa,” namun belum bisa menemukannya. Karena ini unik, di dalam bahasa Inggris, seluruh murid dari TK hingga Universitas dipanggil dengan sebutan students. Begitupula di dalam bahasa lain (hasil coba-coba dari google translate hehe), kalau diketik kata siswa dan mahasiswa tidak ada bedanya. Hanya di Indonesia yang disematkan kata “Maha” yang berarti besar/teramat di belakang kata “siswa.”

Saya membayangkan, dibalik penyematan kata Maha, terdapat pengharapan besar bahwa Indonesia akan menjadi lebih baik di tangan para Mahasiswa. Begitu pula dengan “Guru,” di luar negeri hanya orang yang paling ahli dan dihormati lah yang layak menyandang sebutan Guru, sedangkan pengajar di sekolah-sekolah disebut “teacher.” Di Indonesia, setiap pengajar mendapat sebutan Guru, pahlawan tanpa tanda jasa. Seseorang yang berjuang demi majunya pendidikan rakyat Indonesia.

“Yang paling hebat bagi seorang Guru adalah mendidik, dan rekreasi yang paling indah adalah mengajar.” – K.H Maimun Zubair

Seorang Guru di luar dikenal dengan kebijaksanaannya yang luar biasa, semangatnya yang terus berkobar serta pengetahuannya yang mumpuni. Maka, dibandingkan mengubah istilah, saya lebih senang jika kita memiliki kesadaran untuk bertingkah laku sesuai dengan “jabatan” yang kita sandang tersebut. Karena rumusnya “Be-Do-Have,” menjadi/bertingkah laku sesuai dengan yang kita inginkan (be, then do), sehingga kita layak untuk mendapatkan apa yang kita harapkan (have).

Jadilah seorang Mahasiswa yang layak menyandang status “Maha” dibalik siswa, lebih banyak aksi dibandingkan keluhan. Jadilah seorang Guru yang layak menyandang status “Guru”, bijaksana, semangat serta mumpuni dalam bidangnya. Pantaskan diri agar mampu untuk “digugu lan ditiru.”

Postingan ini saya buat bukan untuk menggurui, melainkan untuk menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa ada tanggung jawab yang dipikul oleh masing-masing gelar. Tugas kita adalah memantaskan diri untuk layak memikul jabatan tersebut.

Selamat Hari Guru 🙂

Starting From Km 0

Dalam artikel “Ilmu dan Saya”, saya mendedikasikan diri saya untuk mempelajari perihal pranikah sembari menunggu sang pangeran datang. Selain ilmu pranikah, saat ini sendiri saya sedang menekuni bidang fashion melalui media Busana Eneska, baju keluarga/sarimbit custom untuk menunjukkan keunikan keluarga ayah dan bunda.

Sebagai perwujudan dari kesungguhan saya dalam mempelajari jurusan yang telah saya pilih di dalam universitas kehidupan ini, saya membuat checklist dari berbagai hal yang harus saya lakukan secara konsisten di “Menjadi Saya, Menjadi Istri dan Menjadi Ibu“. Meski semangat masih membara, namun prakteknya saya masih belum konsisten menjalankan apa yang saya tulis tersebut. Beberapa hari ini saya masih sibuk mengatur ritme bekerja serta belajar saya, sehingga seringkali saya justru melewatkan berbagai hal yang sudah saya tulis. Ah… Saya perlu mulai melakukan apa yang saya tulis tersebut mulai dari sekarang. Bismillah.

Yang paling seru tentu saja di artikel “Hai Calon Imam”, tolong itu lirikannya nggak usah penuh arti begitu, iya saya tahu saya jomblo. Memiliki misi hidup sebagai seorang “pembabat alas”, tentu bukan sesuatu yang mudah, namun saya yakin Allah telah memberikan tools yang saya butuhkan dalam menjalankan misi tersebut.

Di artikel kali ini, saya akan membahas lebih lanjut mengenai misi hidup. Selama ini saya sering diributkan dengan bidang apa yang harus saya tekuni, karena tergiur dengan ucapan berbagai orang sukses bahwa, “pekerjaan yang paling menyenangkan adalah hobi yang dibayar.” Akhirnya saya sibuk mencari hobi apa yang sangat saya sukai hingga membawa saya menuju kesuksesan.

Namun ternyata, itu hanya menghabiskan waktu saya – yang tidak banyak – dan menjadi excuse bagi saya menolak berbagai hal yang hadir di depan saya karena “nggak gue banget.” Akhirnya, sejak saya tinggal di Singapura, saya berusaha untuk melakukan berbagai hal yang hadir di depan saya dengan sebaik-baiknya, siapa tahu dari situlah jalan hidup saya bermula. Dan saya pun masuk ke Shafira Corporation karena bertemu dengan foundernya yang ciamik, ibu Feny Mustafa, di detik-detik terakhir menjelang kelulusan.

Hampir dua tahun saya mengeksplorasi dunia kerja bersama Shafco, hingga akhirnya saya lulus pada Agustus 2016 lalu dan mulai membuka usaha saya sendiri di bidang baju keluarga. Awal mulanya cukup simpel, bisa dilihat di “Awal Mula Busana Eneska,” disitu saya menceritakan berbagai pertimbangan kenapa memilih bidang ini, meski awalnya saya sangat buta mengenai fashion.

Seiring berjalannya waktu, saya semakin meyakini bahwa apapun bidangnya, saya terlahir dengan peran sebagai seorang pembabat alas, yaitu mereka yang memasuki hal baru dan setting up the system. Dengan peran tersebut, apapun bidang yang saya masuki, saya harus sadar diri bahwa saya akan selalu mengalami masa-masa berat meraba dan mempelajari berbagai hal yang di luar jangkauan saya.

Setiap manusia hebat pasti berjalan dari KM 0, tidak ada kesuksesan yang tiba-tiba. Maka, saya perlu menentukan KM 0 saya, agar saya tahu kapan saya akan sampai ke tujuan. Menilik ke life plan saya sendiri, saya ingin sukses (dengan artian dapat melepas bisnis secara mandiri) di usia 25 tahun, 5 tahun kurang dari sekarang. Jika sebulan saya bekerja selama 25 hari, maka saya memiliki waktu kurang lebih 56 bulan lagi, atau 1.400 hari untuk menggapai mimpi saya. Jika menurut teori, seseorang bisa sukses setelah 10.000 jam, maka saya harus mendedikasikan waktu 7 jam setiap harinya agar bisa sukses di usia 25 tahun.

Karena ada 2 jurusan yang saya ambil, maka saya akan membaginya ke dalam 7 jam pranikah dan 4 jam desain dan textile.

KM 0 saya akan saya mulai pada Senin, 14 November 2016. Sepanjang KM 0 – KM 1 (1 tahun), saya akan mempelajari tentang: berbagai macam jenis kain, design, dan ilmu management. Dari sisi pranikah sendiri, saya akan menulis buku, serta menuntaskan ilmu komunikasi pranikah, bagaimana caranya saya berkomunikasi dengan suami, anak, saudara dari suami, keluarga dari suami, mertua, serta keluarga kita sendiri. Karena saya kelak akan menjadi representatif dari keluarga kandung saya dan juga keluarga kecil saya sendiri.

Bismillah, langkah-langkah awal memang tidak selalu mudah, namun jika bisa konsisten berjalan selangkah demi selangkah, insyaa Allah kita akan mencapai tujuan.

Awal Mula Busana Eneska

Assalamu’alaikum ayah dan bunda, di postingan kali ini saya mau sharing cerita tentang awal mula saya membuat bisnis ini.

Semenjak kecil saya memang sudah diajari oleh bapak dan ibu untuk menjadi pribadi yang produktif, bukan konsumtif. Ketika anak-anak lain sibuk jajan ini itu di sekolah, saya justru berinisiatif menjajakan berbagai kebutuhan sekolah, mulai dari makanan hingga alat tulis. Dari situ, saya belajar bagaimana mengelola uang, membaca kebutuhan pasar, dsb. Dari situ pulalah saya bercita-cita untuk menjadi seorang pengusaha, seperti ibu dan bapak.

Memasuki usia remaja, saya harus hidup mandiri karena jauh dari orang tua. Saat itu saya tinggal di negeri seberang tanpa ada saudara maupun kenalan sama sekali. Kemampuan berbisnis saya semakin ditantang ketika harus menawarkan barang kepada orang yang tidak dikenal sama sekali. Dari situ saya belajar, bahwa saya akan lebih optimal ketika menjual sesuatu yang memiliki value daripada sekadar menjual sesuatu yang sedang laris.

Lulus kuliah di usia 18 tahun, saya memasuki sebuah perusahaan untuk belajar bagaimana handling bisnis dalam skala besar. Selama saya bekerja, berulang kali saya pikirkan, akan bergerak di bidang apakah bisnis saya? Training? Pendidikan? Konsultan? Hingga detik-detik terakhir akan “lulus” dari perusahaan tersebut, saya masih blank akan mengerjakan bisnis apa.

Suatu saat, saya dan keluarga PadepokanMargosari berinisiatif untuk membuat baju keluarga yang tidak pernah kami miliki sama sekali sebelumnya, hihihi. Selama proses pembuatan baju, ada banyak request dari bapak, ibu @septipw, @arakusuma, dan @elanjm dari sisi model, belum lagi bapak sangat riwil urusan kualitas jahitan. Dari situlah saya berpikir bahwa solusi masalah yang kami hadapi bisa jadi merupakan solusi bagi banyak keluarga juga.

Maka, muncullah @busanaeneska , sebuah perusahaan yang bergerak di bidang customized Sarimbit yang memungkinkan ayah, bunda dan juga ananda untuk memilih baju dengan model serta bahan yang paling cocok untuk karakteristik sifat maupun kegiatan setiap anggota keluarga.

Eneska sendiri merupakan singkatan nama panjang saya Nurul Syahid Kusuma, eN eS Ka. Insyaa Allah, do’a yang diberikan bapak kepada saya, menjadi do’a yang sama bagi usaha saya ini. Aamiin Ya Rabb.

Alhamdulillah, selama 3 bulan running, saya semakin enjoy dalam menjalani hari demi hari membangun usaha ini. Moment yang paling saya sukai selama menjalankan bisnis ini adalah ketika baju yang saya buat bisa membawa senyum dan kebahagiaan, serta semakin memperkuat ikatan di keluarga ayah dan bunda.

Semoga kami bisa terus meningkatkan kualitas dalam segi apapun, baik produk hingga pelayanan. Serta bisa bermanfaat bagi masyarakat di sekitar tempat kami berada.

Menjadi Saya, Menjadi Istri dan Menjadi Ibu

Sebagai seorang the bright bride to be, tentu saja saya tidak boleh berleha-leha dan terus bergerak menjadi versi diri yang lebih baik. Sudah dua minggu ini saya mengikuti kelas matrikulasi IIP Bandung, sungguh luar biasa melihat semangat para ibu untuk terus belajar dan belajar. Tugas-tugas yang diberikan juga tidak main-main, it really feels likethe old time, back when I was in University.

So, tugas kali ini cukup menyita pikiran, karena saya harus membayangkan apa yang harus saya perbaiki dari diri saya andai kata saya adalah seorang istri DAN seorang ibu. Jeng-jeng-jeng, waktunya memejamkan mata dan mencoba melompati waktu dimana saya sudah memiliki suami dan anak. Rasanya lucu, karna wajah suami seperti apa saja masih belum terbayang (jomblo cuy). Bismillah, mari kita menjelajah waktu…

Yang harus saya perbaiki dari segi:

INDIVIDU

  • Tidak tidur setelah shubuh dan mengisi kegiatan dengan membaca/mengaji
  • Mengikuti kelas/seminar tentang parenting tiap minggu.
  • Menulis di blog 1D1P serta menulis buku min. 2 halaman per hari
  • Menghafal Qur’an minimal 1 Ayat 1 Hari

(ANDAI) ISTRI

  • Mempelajari ilmu komunikasi dengan pasangan, sehingga meminimalisir adanya konflik
  • Membuat goals bersama setiap minggunya
  • Mempelajari 2 menu masakan baru tiap minggu
  • Belajar untuk mendengarkan dan mengapresiasi setiap suami bercerita

(ANDAI) IBU

  • Belajar cara mendongeng
  • Mempelajari 1 mainan anak setiap harinya
  • Belajar mendengarkan dan mengapresiasi setiap anak bercerita
  • Belajar 2 menu baru tentang bekal anak setiap minggunya

Wow… Rasanya lucu ketika membayangkan hal-hal tersebut. Bercerita bersama suami, bermain bersama anak, fun cooking bersama. Kya kya, jadi makin ga sabar nih.

Untuk target individu akan dilakukan rutin selama 3 bulan, mempelajari ilmu komunikasi sebagai istri, mendongeng, dan mainan anak akan dimulai dari sekarang, targetnya nanti saat menikah sudah bisa menguasai hal-hal tersebut. Sisanya, nunggu pangerang dateng dulu ya, yuhuuu~

All of these will be reviewed every 3 months.

 

 

Ilmu dan Saya

“Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat”

Menuntut ilmu merupakan hak (saya lebih suka menyebut demikian, karena nature kita untuk menghindari kewajiban dan menuntut hak-hak kita hihi) bagi setiap manusia yang lahir di bumi ini. Tanpa pandang bulu, tanpa terkecuali. Seringkali kita mengkaitkan ilmu pada suatu tempat tertentu, seperti sekolah, tempat pengajian, dsb. Padahal, sejatinya kita bisa menuntut ilmu dimana saja, kapan saja, dengan siapa saja, bahkan dari orang yang kita benci sekalipun. Saking banyaknya sumber ilmu di dunia ini, sehingga seringkali kita bingung akan apa yang mau difokuskan.

 

Saya sendiri sangat menyukai dunia pernikahan baik dari persiapannya, hari H, hingga setelahnya. Karena saya merasa ada banyak hal yang bisa dipelajari berkaitan dengan hal ini. Mungkin juga karena saya sendiri masih terus mempersiapkan diri menuju hari istimewa tersebut, sehingga saya menjadi lebih fokus mempelajari ilmu-ilmunya. Yang pasti, alasan terkuat saya untuk terus belajar untuk kelak menjadi makmum terbaik bagi imam saya serta ibu terbaik bagi malaikat-malaikat kecil semata karena saya tidak ingin menyesal karena telah menelantarkan amanah yang diberikan oleh Allah SWT. Ketika Allah gerakkan hati seseorang untuk datang mengetuk pintu rumah saya dan melamar saya, saya yakin bahwa Allah percaya saya akan menjadi pendamping terbaik bagi seseorang itu. Ketika Allah tiupkan ruh pada mahluk kecil di rahim saya, saya yakin bahwa Allah percaya saya mampu menjadi ibu terbaik bagi bayi-bayi kecil tersebut.

 

Untuk mendapatkan kepercayaan tersebut tidaklah semudah membalik tangan, karena sangatlah berbahaya ketika sebuah tanggung jawab diberikan dalam keadaan tidak siap. Tentulah banyak hal yang harus saya persiapkan dimulai dari hari ini, akan ada biaya yang WAJIB disisihkan untuk menuntut ilmu, akan ada waktu dan tenaga yang dikorbankan. Sayangnya, semangat pasti akan naik dan turun seiring berjalannya waktu, untuk itulah saya membentuk komunitas The Bright Bride, wadah bagi calon para mempelai wanita untuk saling sharing dan menuntut ilmu bersama. Dari kelompok inilah diharapkan lahir calon-calon ibu yang siap untuk mendidik generasi-generasi penerus bangsa.

 

Ilmu tidak akan datang pada ia yang menolaknya (meski secara tidak sadar), maka dari itu saya harus terus memperbaiki adab dalam menuntut ilmu. Satu hal jelek saya adalah ketidak mampuan untuk mendengarkan dan menganggap enteng suatu ilmu yang sedang disampaikan (seringkali malah fokus ke hal-hal yang OOT). Karena itu, mulai dari sekarang saya akan mencoba untuk mendengarkan dan menerima dulu semua hal yang disampaikan dalam forum ilmu, baru saya saring kemudian. Membuka rasa ingin tahu sebesar-besarnya, agar lebih banyak lagi ilmu yang bisa diserap.

Terus belajar, terus semangat. The Bright Bride, be the right bride

 

Bandung, 22 Oktober 2016

Tugas dari kelas Matrikulasi IIP Batch 2

Ramadhan Notes #1

TARAWIH DAN ANAK ANAK

Alhamdulillah, masih dapat berjumpa kembali dengan Ramadhan tahun ini dalam keadaan sehat wal’afiat.

Salah satu hal yang paling dinantikan selama bulan Ramadhan adalah pergi ke masjid untuk sholat tarawih, karena hobi saya untuk mencoba tarawih di berbagai masjid. Mencoba berbagai style yang berbeda. Tsaahh.

Hampir di setiap masjid yang saya kunjungi memiliki kendala yang sama. Anak-anak. Maklum, bulan Ramadhan hanya setahun sekali, jadi pastilah para ibu tidak mau ketinggalan merasakan nikmatnya tarawih di masjid bari gossip, eh maksudnya silaturahmi. Tak jarang sang anak yang masih usia belia diajak juga ke masjid dengan dalih, “biar kenal sama masjid.” Sip. Nggak ada yang salah sama kalimat tersebut, hanya sering kali para ibu lupa (atau tidak tahu) untuk mengajarkan adab selama berada di masjid. Walhasil, DYAR, ricuh lah para anak. 11-12 lah sama penonton sepak bola Indonesia, hahaha.

Jujur, saya merasa sedikit terganggu dengan kehadiran mahluk-mahluk kecil tersebut. Akhirnya saya keluar dengan ide “Tarawih Child Care” yang dikelola oleh mereka-mereka yang sedang berhalangan sholat. Menurut saya ide ini win-win solution sih, anak-anak senang karena mereka bisa tetap bermain (it’s their nature though, we shouldn’t break it, but facilitate it), para remaja dan orang tua yang sholat bisa khusyu’, dan yang sedang berhalangan bisa (insyaa Allah) mendapatkan pahala tambahan.

Untuk memenuhi keinginan para ibu memperkenalkan masjid pada anak-anak, maka materi child care bisa berisi pengetahuan seputar Ramadhan dan Masjid. Tidak lupa, adab apabila berada di masjid juga disertakan. Mereka yang sudah bisa memahami adab-adab di masjid, maka bisa di lepas untuk belajar menjalankan aktifitas-aktifitas di masjid: sholat, mendengarkan ceramah, mengaji, dsb.

Ada baiknya juga, jika dibentuk kelas persiapan Ramadhan yang di inisiasi oleh remaja masjid setempat. Untuk mempersiapkan adik-adiknya menyambut bulan nan suci ini. Dengan begitu, hawa Ramadhannya juga terasa jauh sebelum bulan ini datang.

Tertarik untuk mencoba?