Budaya Membaca #5

Sesungguhnya netizen, disini saya sudah mulai bingung, mau nulis apa lagi. Karena memang kalau baca buku tidak secepat membalikkan telapak tangan. Sehingga apa pula yang akan saya tulis disini. Hm. Biarkan saya berpikir sejenak.

Mari kali ini kita berbicara mengenai cara saya untuk memahami isi buku. Tiap jenis buku membutuhkan cara sendiri-sendiri agar isinya bisa long lasting di otak saya, kalau enggak. um. Poof. Hilang.

(dan ini sering)

Oke back to the topic, untuk buku-buku ringan seperti novel, biasanya saya akan mengingat alur ceritanya cukup lama, paling tidak garis besarnya. Kalau cukup berkesan bagi saya, maka saya bisa juga menghafal nama karakternya, tapi ini case yang sangat amat juarang terjadi (sampe pemborosan kata nih). Oh iya untuk buku jenis ini biasanya saya hanya butuh 1-2 hari untuk menyelesaikannya.

Kemudian kalau bukunya berbobot tapi related dengan keseharian saya, maka akan lebih mudah masuk dalam otak saya, cuman singgahnya memang tidak bisa diperkirakan. Bisa setahun, dua tahun, lima tahun, bisa juga besoknya lupa, atau menit berikutnya harus baca ulang karena nge blank. Tidak apa-apa, itu wajar. Buku jenis ini membutuhkan 1-2 minggu untuk menyelesaikannya.

Buku yang terakhir adalah buku yang berbobot tapi ga related dengan keseharian, kayak buku-buku tenang bisnis, dsb. Nah buku yang kayak gini biasanya saya butuh baca berkali-kali, pelan-pelan banget, dan diresapi dengan sepenuh hati. Setelahnya pun saya harus bikin review, agar saya menuliskan kembali dan bisa lebih mengerti. Buku jenis ini butuh 1-2 bulan untuk menyelesaikannya. Tergantung mood dan aktifitas.

Yap, kurang lebih seperti itu cara saya mengkategorikan buku. Biasanya sih saya mix and match beberapa buku yang saya baca, jadi dalam satu waktu saya bisa baca 2-3 buku sekaligus, biar ga bosen. Nah, 2-3 buku ini terdiri dari kelompok yang berbeda, porsi terbanyak tentu datang dari kelompok pertama hehehe.

Sampai jumpa lagi~

Advertisements

Budaya Membaca #4

Karena sudah tinggal menghitung hari hingga tanggal pernikahan, tema bacaan saya pun semakin banyak merepet ke seputar persiapan pernikahan. Salah satu yang direkomendasikan oleh teman saya adalah Mengukir Peradaban karya Fahmi dan Zahra.

Duh, baca bukunya saya kok merasa jadi mahluk paling hina ya. Apalah saya dibanding Fahmi dan Zahra yang begitu cintanya pada Al-Qur’an dan sangat menjaga interaksi di antara keduanya. Inspiratif sekali.

Kalau bisa saya bilang, mereka berdua itu paket komplit dari pintar, santun dan sholeh/ah.

Buku yang ditulis oleh keduanya juga menyenangkan sekali, tidak hanya ada personal touch nya, melainkan juga pandangan secara ilmu agama dan teori akademis. Bagi saya yang memang sedang mempersiapkan, relatable banget apayang diceritakan oleh keduanya di dalam buku.

Kalau disuruh merekomendasikan buku ini, saya rasa paling tepat buku ini dibaca oleh mereka yang memang sedang mempersiapkan. Kalau bisa sih pas ada rambu-rambu akan diajak taaruf, langsung lah beli buku ini wkwk. Saya bisa terbilang agak telat belinya, udah proses terakhir, tinggal akad doang coy. Meski begitu, banyak kok yang bisa saya pelajari, terutama dalam mengembalikan niat awal mengapa ingin menikah.

Untuk yang belum terlihat hilal jodohnya juga bisa baca buku ini buat referensi, cuman ya gitu, rada ngawang jadinya (seperti saya ketika baca buku tentang nikah beberapa tahun silam. Hambar) wkwk.

Kurang lebih begitu ya fellow netijen, sampai jumpa di review buku saya berikutnya.

Budaya Membaca #3

Beberapa hari ini saya sedang tidak terlalu bersemangat melakukan apapun. Rasanya banyak sekali yang harus saya lakukan, tapi ketika akan memilih satu, rasanya hilang keinginan untuk mengerjakan. Begitu terus selama berhari-hari.

Akhirnya saya mencoba mendobrak ruang vacuum ini, dimulai dari sesuatu yang saya sukai: membaca. Saya budayakan kembali untuk membaca minimal 1 jam sehari. Apalagi saya masih berupaya untuk mengimbangi bacaan mas yang cukup berbobot, aduh bisa gawat kalo sayanya males-malesan gini. Mau dikemanakan IQ yang di atas rata-rata itu? #SHOMBONG

Selain membaca wajib, saya juga biasakan kalau sedang tidak ada kerjaan atau sedang malas melakukan sesuatu, saya memilih untuk membaca. Sehingga setiap waktu paling tidak menjadi produktif.

Turns out it works really well, hidup saya jadi makin tertata, dan waktu yang terbuang sia-sia pun juga relatif berkurang. Hello new life!

Budaya Membaca #2

Masih dalam budaya membaca, sekarang saya mau review mengenai buku yang menemani saya dalam pergantian tahun 2 minggu lalu. Sebuah buku mengenai waktu, judulnya Menata Kala.

img-20170217-wa0028

Buku ini terbagi dalam 4 bab: Kala Bersama Dirimu Sendiri, Kala Bersama Allah, Kala Bersama Orang Lain dan Mengeja Kala.

Di bab pertama disajikan banyak cerita serta pemikiran dari Mbak Nisa dan mbak Novie mengenai kiat-kiat menata waktu ketika sedang sendiri. Sudahkah kita mengoptimalkan waktu kita? Sudahkah kita amanah dalam menghabiskan waktu yang sudah diberikan pada kita?

Bab kedua ini paling jleb sih untuk saya, karena bercerita tentang waktu kita dengan Allah. Banyak merenung dan bikin saya mikir lagi, selama ini teh saya ngapain aja? Sangat menjadi bahan refleksi di awal tahun.

Kala bersama orang lain menceritakan berbagai hal mengenai interaksi sebagai mahluk sosial, bagian dari satuan kelompok masyarakat. Bagaimana kita dengan teman, sahabat, maupun keluarga.

Terakhir mengeja Kala lebih bersifat teknis dan perencanaan. Bagaimana kita bisa memperbaiki kebiasaan kita bercengkerama dengan waktu.

Buku ini bersifat cukup personal, kebanyakan berisi catatan penulis mengenai interaksi dengan orang lain serta buku yang penulis baca maupun pengalaman pribadi penulis. Jika teman-teman merupakan penikmat karya tulis yang seperti ini, this book might be for you.

Budaya Membaca

Some of you may know that I will be getting married soon. And yap! I’m so excited, not because I finally am getting married, but because I will have him as my partner soon. I’m so glad that we found each other, apart from our differences (which is a lot!), I believe that we’ll become a strong team.

Okay, enough of the sweet talk. Now, let’s get into the serious part.

Kami berdua sama-sama suka membaca, dan tentunya kami ingin anak kami kelak juga punya kebiasaan membaca yang baik. Saking sukanya sama buku, saya bahkan request serah-serahannya buku aja, yang tergagalkan karena serah-serahan itu haknya mama mertua (so long my books), dan mama mertua saya menghendaki serah-serahan normal. Hiks sedih gitu aku tu. Tapi gapapa, shopping time baby! Karena serah-serahan udah gagal, terinspirasi sama bapak yang ngasih mahar satu set buku “Api Sejarah” (if I’m not mistaken), akhirnya aku masih kode-kode biar maharnya ada bukunya ehehe. Lumayan kan, seruangan penuh isi buku gitu misalnya #eh (ngelunjak gitu anaknya).

Okay, back to the topic.

Ketika kemarin mas main ke Salatiga, ada satu pagi dimana mas lagi baca dan aku makan gorengan (penting banget peran aku coy wkwk) beberapa kali mas ngasih kindlenya ke aku, terus kita diskusi bareng tentang topik di buku itu. And I really love that! Pengennya sih nanti habit itu bisa terus ada di keluarga kami.

Dan pas banget dengan materi bunsay, tentang menumbuhkan minat baca pada anak, aku juga mau mengembalikan lagi kebiasaan baca buku. Karena aku percaya anak tidak akan salah mencontoh perilaku orang tuanya.