Gaya Belajar – Day 4

Di postingan kali ini saya janji untuk memberitahukan dengan detil gaya belajar saya, baik ketika sekolah maupun setelah lulus. Sebetulnya untuk terus bisa belajar setelah lulus menjadi hal yang tricky sih. Karena tidak ada lagi yang “memaksa” kita untuk terus belajar.

Anyway, back to the topic, ketika dulu saya sekolah saya akan menyempatkan waktu 1 jam setiap harinya untuk mereview atau belajar materi yang akan datang. Saya prefer corat coret buku paket sih (termasuk buku  paket sekolah juga saya corat-coret, pssttt… rahasia kita ya), karena ketika saya memberikan catatan, saya jadi bisa lebih paham. Selain itu, saya suka stabilo-stabiloin biar ada warnanya.

Kalo udah selesai satu bab, baru tuh saya tulis ulang dalam bentuk mindmap. Saya menyukai mindmap karena hanya perlu menulis keyword-keywordnya, sehingga saya bisa elaborasi menggunakan bahasa saya sendiri. Kalau saya sedang rajin, saya juga suka bikin gambar-gambar yang lucu biar makin ingat. Pokoknya semakin rumit karya yang saya hasilkan untuk sebuah rangkuman, biasanya saya semakin jago dalam pembahasan itu.

Hasil dari berbagai mindmap atau gambar kemudian saya tempelkan di kamar. Jadi kamar saya pasti penuh dengan berbagai tempelan.

Jika ternyata saya membutuhkan hafalan, maka saya akan membuat jembatan keledai atau bikin cerita-cerita unik biar nempel terus di ingatan saya. Kadang sambil gerak-gerak juga (told ya I’m a combination), pernah ketika harus menghafalkan Km, Hm, Dam, dsb saya dan Ara sambil meloncat-loncat dan menyanyi.

Intinya sih, saya tipikal anak yang lebih senang porsi kecil tapi konsisten. Ketika sudah bekerja pun saya selalu berusaha konsisten untuk membaca buku atau artikel agar tetap update dengan perkembangan terbaru. Dan….. Ruangan saya pasti penuh dengan tempelan. Dulu pernah di kantor ada kunjungan dari SMK di suatu daerah, dan tempelan saya dikira mading, terus difoto-foto wkwk.

Ini gaya belajarku, gimana gaya belajarmu?

Advertisements

Gaya Belajar – Day 3

Lanjut dari postingan sebelumnya, bagaimana sih cara orang tua menumbuhkan rasa tanggung jawab untuk belajar pada anak?

Meski mungkin bapak sama ibu belum tahu ilmunya dulu ketika kami masih kecil, tapi secara tidak langsung bapak dan ibu memberi tahukan pada kami mengenai konsekuensi dari setiap pilihan serta memberikan kebebasan penuh pada kami untuk memilih.

Kami selalu menerapkan setiap masuk ke suatu area baru, kami harus tahu bagaimana cara keluar, pintu darurat dimana saja, dsb. Begitu pula dengan sekolah, ketika kami memilih untuk masuk, bapak dan ibu memberitahukan bahwa jika mau keluar, maka kami harus menyelesaikan 1 tahun ajaran (2 semester), baru diperbolehkan untuk keluar. Kalau masih di tengah-tengah, kami harus bertahan, mencari cara agar bisa fit dengan kondisi yang ada disana.

Kemudian, setiap tahun, saya dan adik-adik pasti ditanya masih mau lanjut di sekolah yang sekarang atau mau berganti? Kalau mau berganti, berganti ke sekolah yang mana? A, B, C atau homeschooling?

Dari situ kami belajar bahwa semua yang kami lakukan harus kami jalani dengan penuh kesadaran, bukan keterpaksaan. Maka dari itu, kami jadi bertanggung jawab untuk menjadi yang terbaik sebagai definisi dari prinsip kami: High energy ending!

Next artikel bakal lebih detil membahas tentang gaya belajar saya dari tahun ke tahun, tunggu ya!

Gaya Belajar – Day 2

Hari ini, di Lebah Putih sudah mulai kegiatan Semester Ceria! Yeay! Buat yang belum tau, Semester Ceria adalah kegiatan PAS (Pelatihan Akhir Semester) ala Lebah Putih yang kadang suka nganeh-nganehi. Untuk kali ini, temanya masih belum bisa move on dari Open House, yaitu…

Treasury Hunting!

Setiap anak nantinya bisa membawa pulang sesuatu ketika sudah menyelesaikan seluruh rangkaian PAS hari itu.

Melihat anak-anak bersiap untuk ujian, saya jadi teringat, biasanya weekend sebelum ujian saya sibuk menghias kamar atau (semenjak UN SD saya jadi suka) spa. Karena menurut penelitian juga, otak akan bekerja dengan lebih baik dalam keadaan rileks, jadi salah banget buat yang suka SKS (sistem kebut semalam) nih.

Oh dan dari dulu sampai sekarang saya tidak pernah merepotkan orang tua untuk belajar, karena saya dan adik-adik sudah dilatih untuk bisa bertanggung jawab dengan cara belajar mandiri. Kami sendiri yang memilih masuk ke sekolah formal, maka bentuk tanggung jawab kami adalah dengan lulus sesuai dengan sistem sekolah tersebut.

Kalau saya senang membuat rangkuman dan mind map jauh-jauh hari sebelum ujian. Biasanya dulu kalau tidak ada PR, saya suka iseng ngerangkum-ngerangkum atau bikin gambar yang memudahkan saya memahami atau menghafal sesuatu. Kebiasaan ini berguna ketika saya sudah kuliah, saya jadi terbiasa untuk membaca materi sebelum masuk ke kelas, meski hanya nge stabilo-stabilo in, tapi udah lumayan lah untuk amunisi.

Gimana sih cara orang tua saya membentuk rasa tanggung jawab untuk belajar? Tunggu post berikutnya ya :)))

Gaya Belajar – Day 1

Ah~ Setelah gagal di dua challenge sebelumnya (iye, iye ga usah ngebatin, saya emang cuma sukses di challenge 1. Huhuu), saya kembali lagi dengan challenge ke-4 mengenai gaya belajar. Udah pada tau kan kalo ada tiga jenis gaya belajar pada umumnya? Ada visual, auditori dan kinestetik.

Saya pribadi sih menganalisa gaya belajar saya semata untuk mendapatkan teknik terbaik dalam memahami suatu subjek. Yang selalu saya wanti-wanti, jangan sampai dengan mengetahui gaya belajar kita, akhirnya kita jadi menutup diri dengan gaya belajar lainnya. Karena dunia berubah, waktu berjalan, dan kita terus berkembang. Tidak selamanya kita menjadi orang yang sama.

Kalau saya pribadi sih, dari 3 jenis belajar, saya cenderung ke visual, dilanjut dengan kinestetik dan auditori yang terakhir. Terlihat dari catatan saya yang penuh doodle disana sini, energi saya yang berlebih, dan pemahaman instruksi secara direct yang kurang.

Dari sana, saya menjadi sangat senang menggunakan mind map dalam setiap catatan saya. Lebih menyenangkan dan mudah bagi saya.

Kurang lebih begitu cerita saya, tunggu lagi lain waktu ya 🙂