RAQ #2

Question:

“Dulu gimana ceritanya bisa nyasar ke Shafco?” – pertanyaan dari seorang teman di Shafco

Answer:

Once upon a time….

Adik saya dijapri oleh bu Feny Mustafa, founder Shafco untuk mengantar keluarga beliau berkeliling Singapura, mencari sekolah untuk anak-anak beliau. Kala itu, saya belum tahu, apa itu Shafira, Zoya, dan kawan-kawannya. Maklum ya, di Salatiga nggak begitu update. Udah gitu, tiap pulang ke Indonesia ga banyak waktu buat main ke mall (padahal mah emang ga suka hahahaha).

Saat bu Feny berkata bahwa beliau memiliki perusahaan baju di Bandung, saya kira beliau hanya memiliki satu toko dan jualan baju-baju mahal ala ibu-ibu sosialitah atau ibu-ibu arisan. Ternyata, ketika saya diajak berkunjung ke pabrik beliau di Bandung, perusahaannya gede juga (duh, ketauan kudet nih).

Karena saya adalah anak yang hobinya magang ke berbagai tempat –pengalaman magang pertama saya ketika saya berusia 14 tahun di UOB Kayhian Solo, sebagai customer service dan bendahara– jadilah saya bertanya apakah saya diijinkan untuk magang di Shafco?

Dan begitulah, awal mula saya mendamparkan diri di Shafco. Hingga akhirnya saya bertemu bapak Gilarsi yang saat ini menjabat sebagai direktur utama PT Pos Indonesia, yang membuat saya bertahan lama di Shafco.

Advertisements

FAQ #4

Question:

“Dulu homeschoolingnya seperti apa, mbak?”

Answer:

Disclaimer dulu ya, saya dulu homeschooling hanya 2 tahun, setahun saat usia 8 tahun di kelas 4 dan ketika keluar dari pondok di kelas 1 SMP. Sisanya, saya menjalani home based education.

Meski hanya 2 tahun, saya cukup mengalami turbulence yang sering dialami oleh mereka yang baru menjalani homeschooling. Ketika SD, saya sangat senang dengan homeschooling, karena saya bisa belajar dimana saja dan kapan saja. Saya bisa belajar di atas pohon jambu, di tempat mandi bola, di ragunan, dan masih banyak lagi. Saya juga belajar langsung dengan cara praktek, sehingga saya tidak bosan.

Saat itu, saya tidak mengenal apa itu jadwal, dan apa saja yang harus saya pelajari di luar text book. Saya hanya mengikuti kegiatan yang sudah di desain oleh ibu saya. Celakanya, ketika saya menjalani homeschooling di SMP (kelas 5 dan 6 SD saya masuk kembali ke sekolah karena harus pindah ke Salatiga, dan saat itu homeschooling tidak diakui sebagai satuan pendidikan legal di Salatiga) ibu saya sudah tidak sanggup lagi mengajari saya dengan pelajaran yang semakin beragam, akhirnya saya mencari buku paket dan belajar sendiri.

Karena hanya memindahkan kurikulum sekolah ke rumah, akhirnya saya menjadi bosan dan jenuh. Saya lebih menikmati ikut ibu saya berkeliling Indonesia untuk seminar Jarimatika, dibanding di rumah dan belajar sendirian. Sudah begitu, bapak saya saat itu masih sangat galak, jadi kami sering berantem.

Setelah melihat metode homeschooling yang dijalani oleh adik saya, saya sadar bahwa saat itu saya salah. Seharusnya homeschooling bukanlah memindahkan kurikulum sekolah ke rumah, tapi lebih berfokus pada apa yang diinginkan anak, dijalankan dan dikaji lebih dalam sehingga menjadi projek yang terstruktur.

Seperti kurikulum 13 yang memiliki tema pembelajaran, homeschooling pun begitu.

FAQ #3

Question:

“Apa yang bikin mbak Enes merasa dunia pendidikan adalah bagian dari mbak Enes?”

Answer:

Hmm.. Saya lupa saya sudah pernah cerita mengenai ini atau belum. Tapi, kalaupun sudah, saya tidak keberatan untuk menceritakannya lagi.

Cerita ini dimulai dari lama, namun baru menemukan titik baliknya ketika saya harus menentukan apakah saya akan melanjutkan Busana Eneska atau tidak. Dulu, saya sangat tidak suka bergerak di bidang pendidikan, karena sama saja saya terjun ke dunia dimana saya pasti akan dibandingkan dengan ibu saya. Maka dari itu, di usia 16 tahun saya memilih untuk kuliah di jurusan keuangan, bukan pendidikan.

But, saya bukan salah jurusan kok (bagian ini saya ceritakan lebih detilnya nanti, di postingan lain ya ^^), saya menyukai keuangan dengan segala renik-reniknya. Namun, ketika ditanya, “apa yang membuat mata saya berbinar? Apa yang membuat saya ingin terus melakukannya meski berbagai rintangan menghalang?” membuat saya menilik kembali hidup saya jauh ketika saya masih berusia 9 tahun. Kala itu, ibu saya sedang bersinar dengan Jarimatika, dan saya menjadi pengajar termuda di Jarimatika sebagai pengampu kelas level 1 yang berisikan murid kelas 1 dan TK. Mereka memanggil saya, Bu Enes.

Kemudian dilanjutkan ketika saya pergi ke Singapura, salah satu jalur rejeki saya adalah pendidikan, melalui private tutoring saya bisa memenuhi kebutuhan hidup saya sehari-hari. Dan saya menikmati setiap detik bersama anak-anak. Bahkan tidak jarang saya diajak lomba lari, atau bermain berbagai hal yang lucu-lucu.

Akhirnya, saya putuskan, apapun yang terjadi, saya akan memilih pendidikan sebagai jalur hidup saya. Meski nanti akan diremehkan atau dipandang sebelah mata, saya tidak apa-apa, karena saya sudah yakin memilih dengan berbagai konsekuensinya.

So, here I am, in the middle of my beloved students and my solid team. And I love my life.

 

DSC00489.JPG

RAQ #1

Karena sebelumnya saya bikin sesi FAQ, kali ini ada yang nyelempit di antara FAQ-FAQ yang ditanyakan oleh pemirsa. Nah, pertanyaan nyelempit ini saya sebut dengan RAQ atau Rarely Asked Question. Hehe, wiyos lah nya. So here are my first RAQ from one of my friends.

Question:

“Menurut lo, bagaimanakah bentuk/definisi pendidikan yang ideal?”

Answer:

Sejujurnya, ketika ditanya mengenai kondisi pendidikan yang ideal, saya pribadi juga bingung. Karena ideal untuk satu daerah belum tentu ideal menurut yang lainnya. But, I’ll try to answer it based on my experience in the past one year of my activity in School of Life Lebah Putih.

Sebuah pendidikan yang ideal adalah ketika setiap daerah bisa memiliki karakteristiknya sendiri dalam mendidik, sesuai dengan local wisdomnya. Karena, saat ini pendidikan kita memiliki standar baku yang sama dari Sabang hingga Merauke, padahal, karakteristik serta fasilitas yang dimiliki berbeda-beda.

Selama saya mengajar, saya tidak pernah memaksakan seorang anak untuk menguasai setiap bidang, dan ini akan masuk ke pertanyaan berikutnya….

 

Question:

” Apa yang membedakan murid yang sukses dan yang tidak sukses.”

Answer:

Setiap anak lahir dengan misi dan bakat yang dibawanya. Saya yakin bahwa seorang anak bisa hidup meski hanya memiliki satu keahlian. Dan itu terjadi di budhe saya, budhe saya mengidap down syndrome yang membuat beliau dipandang berbeda dari anak sepantarannya. Tapi beliau mampu hidup hanya dengan satu keahlian, beliau bisa mengkristik (cross stich, bukan kritik ya :p). Dari situ beliau bisa mendapatkan penghasilan dan bisa mendapatkan aktualisasi dirinya juga bahwa beliau mampu untuk menghasilkan karya.

Bagi saya, murid yang sukses adalah ia yang tidak pernah menyerah. Ia yang tidak kalah oleh rintangan di sekitarnya. Dan deifinisi sukses bagi setiap orang berbeda-beda, cukuplah kita saling menghargai dan membantu, tanpa perlu membandingkan.

 

Question:

“Apa yang membedakan pengajar yang sukses dan yang tidak sukses.”

Answer:

Pengajar, atau saya lebih suka menyebut dengan fasilitator. Sekolah yang memiliki fasilitas yang buruk namun fasilitator yang baik memiliki kesempatan sukses lebih tinggi dibandingkan sekolah dengan fasilitas baik namun fasilitator yang buruk. Nah, fasilitator yang baik dalam pandangan saya adalah ia yang bisa melihat kelebihan dari setiap anak dan memaksimalkan potensi anak tersebut.

Fasilitator yang baik juga tidak akan menyerah dengan berbagai keadaan dan tantangan yang dihadapi, justru ia bisa membalikkan kekurangan menjadi kelebihan bagi proses belajar mengajar.

Kelihatannya klise ya, tapi memang begitulah kenyataannya. Mereka yang sukses bukanlah mereka yang mengeluh, tapi yang mencari solusi dalam setiap tantangan.

 

Regards,

 

Enes sang Motivator

FAQ #2

Question:

“Kok bisa dari homeschooling terus sekolah di Singapura dan lulus S1 di usia 18 tahun?”

Answer:

Sebelumnya, mau meluruskan dulu. Jadi, saya pertama kali homeschooling ketika duduk di kelas 4 SD pada tahun 2004, saat itu keluarga kami masih menetap di Depok. Untuk kota sebesar Depok saja, homeschooling masih dianggap aneh dan tidak diterima oleh pemerintah, sehingga kami harus menginduk ke sekolah payung (kalau gak salah Ruhama namanya) untuk melaksanakan ujian.

Di tahun 2004 akhir, Yangkung sakit parah hingga harus menginap di rumah sakit beberapa minggu, saat itu kami sekeluarga memutuskan untuk pindah ke Salatiga. Di Salatiga, homeschooling layaknya gojek 5 tahun yang lalu. Ada tapi tidak terdengar. Kebetulan, ada SD Muhammadiyah di dekat rumah Yangti yang mau mati, muridnya bisa lah dihitung menggunakan jari. Setelah ngobrol-ngobrol dengan pihak manajemen, saya bisa masuk ke sana dengan syarat harus tetap terdaftar sebagai siswa dan mengikuti berbagai kegiatan belajar mengajar. Sebagai keringanannya, kalau nilai-nilai saya bagus, saya boleh banyak ijin dari sekolah, jadi seperti semi homeschooling kalau saat ini.

Ketika itu, setiap awal buku LKS dibagikan, saya selalu semangat untuk mengerjakan semuanya sampai selesai. Dalam 2 minggu saya kumpulkan seluruh buku LKS untuk diperiksa, dan kemudian saya ijin tidak masuk sekolah dan ikut ibu seminar kemana-mana hehehe.

Memasuki SMP aku memilih untuk ke SMP Negeri karena ingin merasakan berbagai keseruan dan lika-likunya bertahan hidup di SMP Negeri yang pelajarannya banyak, gurunya kaku, seniornya galak, peraturannya ga masuk akal, tapi ekskulnya seru-seru. Banyak banget pengalaman yang saya dapatkan selama berada di SMP Negeri.

Karena keinginan sejak lulus SD untuk merantau, penasaran dengan kehidupan di tempat lain yang jauh dari bapak ibu, sendirian. Semangat untuk mencoba hal baru dan keingin tahuan bisa atau tidaknya mandiri dan bertahan hidup sendiri, membuat saya akhirnya memutuskan untuk melanjutkan SMA di Singapura. Ritual di keluarga kami, setiap akan memasuki sekolah baru, maka kami akan mengunjungi sekolah tersebut untuk memastikan apakah suasananya menyenangkan, vibenya dapet, lingkungannya seperti apa, guru-gurunya bagaimana.

Sesampainya di Singapura, saya diberitahu kalau mau ambil kuliah jurusan bisnis tidak perlu masuk SMA biasa, masuk saja program foundation selama 6 bulan (semacam kelas matrikulasi) kemudian bisa ambil kuliah. Mendengar hal tersebut tentu saja saya senang sekali, bisa menghemat waktu dan uang hahaha.

Jadi, saya tidak aksel sama sekali ya saudara-saudara, tapi memang prosesnya seperti itu. Karena, kalau aksel itu ketika materi yang seharusnya 3 tahun dipadatkan menjadi 2 tahun, sehingga menjadi tidak ideal, menghilangkan banyak waktu untuk melakukan hal lain. Sedangkan yang saya ambil, memang programnya sudah dibuat sedemikian rupa sehingga saya juga masih punya banyak waktu luang untuk mengikuti kegiatan lain di luar sekolah. Itulah mengapa saya bisa lulus di usia 18 tahun hehehe.

Nah, untuk homeschooling saya tidak bisa menceritakan pengalaman saya sendiri, jadi saya akan bercerita sebagai “kakak” dari anak-anak homeschooling lainnya yang rata-rata seumuran sama Elan (bungsu di keluarga kami). Ketika seseorang memilih untuk menggunakan jalur homeschooling, maka dia akan dihadapkan dengan berbagai pilihan yang luas sekali. Tergantung dari tujuan masing-masing individu. Bisa mengambil paket A, B, C untuk mereka yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi di Indonesia. Bisa mengambil GRE, SAT, ACT, dsb untuk mereka yang mau melanjutkan ke perguruan tinggi di luar.  Atau bisa juga fokus magang dari satu tempat ke tempat lain, mentoring, membuat bisnis sendiri untuk mereka yang mau fokus pada perusahaan.

Saat ini saya rasa, menjadi homeschooler memberikan banyak kebebasan, terutama bagi mereka yang sudah paham akan hal-hal yang ingin ditekuni. Di kala anak sekolah harus mempelajari 13 mata pelajaran yang belum tentu dipakai separuhnya, anak homeschooling bisa fokus pada bidang yang ia tekuni. Tidak, saya tidak mendiscreditkan sekolah, ataupun mengkafirkannya. Toh saya sangat menyukai sekolah hehehe. Hanya saja, selayaknya ada 1000 jalan menuju Roma, maka ada 1000 jalan juga menuju impian setiap orang. Saling menghargai jalan masing-masing adalah kunci kerjasama terbaik untuk membangun Indonesia kita tercinta.

Lini manapun yang dipilih untuk menuju impian, ketika berbicara mengenai edukasi, faktor terpenting adalah fasilitator utamanya, baik di sekolah swasta maupun negeri, homeschooling, unschooling, travelschooling, uncollege, dsb. Di sekolah tanpa sarana apapun, selama fasilitatornya mampu mendeliver pembelajaran dengan baik, maka anak-anaknya pun bisa unggul. Sama dengan di homeschooling, orang tua sebagai fasilitator utama, ketika tidak bisa membersamai anak dengan baik (ps. hingga usia SD hingga SMP awal, di atas itu anak sudah mampu memfasilitasi dirinya sendiri), ya hancurlah.

Tolong dipahami baik-baik bahwa anak berhak memilih jalur yang diinginkannya, hanya perlu dikenalkan dan diajarkan untuk konsisten. Jangan sampai memilih homeschooling karena orang tuanya merasa itu bagus, padahal anaknya nggak mau. Dan hati-hati juga, jangan sampai salah menjadi school at home. Mengundang guru les untuk 13 mata pelajaran yang dipelajari di sekolah, membuatkan jadwal sama dengan sekolah, hanya lokasinya saja pindah ke rumah. Jangan juga homeschooling dijadikan pelarian ketika anaknya dibully di sekolah, ajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya. Dulu saya dibully, sekarang saya membully (ups) bisa membela diri, karena memang diajarkan bahwa kalau benar jangan takut.

Huhuu, maaf jadi banyak kata-kata “jangan”, tapi ini penting banget soalnya. Sering saya miris melihat anak yang menjalani kehidupannya karena egoisme orang tua. Merdekakan anak untuk memilih, belajar sesuai yang diinginkannya, ajari ia iman, adab, akhlak dan bicara, namun bebaskan ia menentukan apa bidang yang ingin ditekuninya.

Akhir kata, sebagai siapapun kita, anak maupun orang tua, belajar untuk memahami pihak lain. Pendidikan itu milik bersama, because it takes a village to raise a child. Maka, musyawarahkan, pilih, dan jalani!

FAQ #1

Question:

“Gimana rasanya jadi anak bu Septi dan pak Dodik?”

Answer:

Nano-nano! Panjang kalau diceritain semuanya, but lemme summarize it in an enjoyable way for you 🙂

Gambaran gampangnya, jadi anak orang terkenal itu harus siap dengan berbagai ekspektasi dan asumsi khalayak ramai yang (bahkan) nggak kamu kenal. Harus bisa menerima ketika orang lain hanya menggumam, “pantes, kan anaknya bu Septi dan pak Dodik,” ketika kita meraih sesuatu. Serta harus menyiapkan mental untuk komentar, “padahal anaknya bu Septi sama pak Dodik, ternyata kayak gitu ya kelakuannya.”

Dulu, ketika saya masih remaja (duh ketahuan udah tua), sering banget menghindar dan langsung blocking diri ketika ada orang yang menyangkut pautkan berbagai hal yang saya lakukan dengan bapak dan ibu. Itu pula yang menjadi alasan kuat bagi saya untuk memilih kuliah di Singapura, memulai lagi dari awal kehidupan saya, dimana tidak ada yang mengenal siapa itu ibu Septi Peni Wulandani dan bapak Dodik Mariyanto.

Ini merupakan fase penting bagi setiap remaja, menurut saya. Karena nggak hanya mereka yang anak seorang public figure, hampir setiap anak pasti pernah mengalami dibanding-bandingkan, atau dibayang-bayangi sosok orang disekitarnya. Entah itu orang tua, saudara, teman dekat, kerabat, ada aja deh pokoknya bahan untuk membanding-bandingkan satu sama lain. Dan ini bahaya banget kalau terjadi ketika masa pembentukan jati diri, bisa-bisa kalau nggak tahan, sang anak bisa melabeli dirinya “not worth it.”

Berada di Singapura menjadi turning point bagi saya untuk bisa menerima diri sendiri, bahwa saya itu berbeda dan saya itu juga berbakat kok. Hingga beberapa waktu yang lalu, saya masih kesulitan setiap kali mengisi bagian “prestasi” di CV setiap diminta menjadi pembicara. Karena bagi kebanyakan orang, prestasi itu ya yang terlihat, ada pialanya, ada piagamnya. Padahal, menurut saya, bisa hidup dengan bahagia di Singapura, menjadi anak rantau, mencari penghasilan sendiri itu adalah sebuah prestasi. Berhasil berdamai dengan diri sendiri itu prestasi. Menjadi anak yang berbakti pada orang tua itu prestasi.

Intinya, carilah bagian dari dirimu yang bisa membuatmu sangat bangga. Dan percaya bahwa dirimu itu adalah manusia unik yang paling berharga sedunia.

Seru banget deh pokoknya jadi anaknya bu Septi dan pak Dodik, tapi saya yakin, setiap orang pasti ditempatkan di tempat terbaik dengan keluarga terbaiknya. Karena setiap perjalanan itu seru, tergantung dari sisi mana kita melihatnya. So, nggak boleh iri-irian, nggak boleh sombong-sombongan orang tua ya. Hati-hati dengan kata-kata multi tafsir seperti, “tapi aku tetep lebih milih sama orang tua aku, meskipun bla bla bla, tapi bla bla bla.” Bisa jadi bermakna bahwa orang tua yang lain tidak sebaik orang tua temen-temen. Hati-hati juga dengan kalimat, “enak ya kamu orang tuanya bla bla bla, jadi bisa sukses, bisa pinter, kalo aku kan bla bla bla.” Eits, cik coba atuh ditukar orang tuanya, apakah kamu tetep bisa se-berprestasi dia? Belum tentu.

Selamat menerima diri dan lingkunganmu. Ayo bertumbuh bersama 🙂