A Dandelion (5)

Day 4

Hari ini ibu harus pulang, meski aku berusaha untuk nggak menunjukkannya, tetap saja ada rasa takut tinggal di rumah ini sendirian. Mana sepanjang jalanan baru ada 3 rumah, satu di kanan dan satu di kiriku, di depan rumahku hanya bukit ilalang dengan berbagai kunang-kunang yang berkelap kelip menghias sang malam.

Untungnya, berawal dari rasa tak tega, akhirnya ibu mengirim Ara dan Elan untuk gantian menemaniku, hitung-hitung aku belajar untuk beradaptasi terlebih dahulu, sebelum akhirnya benar-benar berani sendiri.

Ibu pulang bertepatan dengan pagar raksasa yang menakjubkan itu datang. Ia menakjubkan bukan hanya karena ukurannya, tapi juga harganya yang mencapai 5 juta itu!!! Betulkan, semakin lama tukang-tukang itu disini makin pening pula kepalaku. Antara bingung dan cemas bercampur, aku dan ibu mulai berdebat, suasana tidak terlalu menyenangkan. Ah.. Aku jadi tidak bisa tenang kalau begini caranya. Om Agus membantuku mencari solusi, mulai dari meringankan beban biayaku sampai ide untuk menjual pagarnya setelah selesai masa kontrak.

Akupun tidak kalah gigih, mencoba menghubungi ibu kontrakan untuk bernegosiasi. Alhamdulillah, setelah perdebatan yang cukup panjang, akhirnya ibu kontrakan bersedia mengganti uang perbaikan rumah dengan perpanjangan masa sewaku. Lumayan, setidaknya meringankan rasa bersalahku.

Malampun tiba, dan sudah waktunya ibu untuk pulang. Rasanya sedih ditinggal ibu, apalagi masih ada segudang PR yang harus kulakukan agar rumah ini semakin nyaman ditinggali, salah satunya adalah membeli LPJ. Dan aku baru tahu kalau ribet sekali prosedur untuk membelinya…. Berlanjut di A Dandelion (6)

 

Advertisements

Being An Agent of Change

The first time I heard about this in NHW (Nice Home Work) of Institut Ibu Profesional, I suddenly remember about a story of being a good agent of Muslim in Europe when I read “99 Cahaya di Negeri Eropa” a book by Hanum Raies. The book tells us about how we keep being good to others in spite of the way they treat us.

To be a change agent, we don’t have to do big things, but it’s a must to be consistent. Because we often out thinking what we’re gonna do, just to end up not doing anything. In order to prevent that, start with a small step, and do not stop walking.

What I have in mind to correlate that idea to my activities and my focus study in life, I want to empower people around me by involving them in my business, Busana Eneska. Because my business focus on doing family and female clothing on many different segments, so my idea is to employ maybe diffabels to be our tailors and household mothers to be our admins/distributors. I will also train them regularly and give many other skill that they may want to have such as driving, cooking, crafting, etc. So they’ll have many experiences which is good for themselves and for their future.

I will also mentor a young person (around teenager age) to encourage them to have their own business by doing an intenship in my business. The goal is to at least introduce a professional world to that person and improve their skill.

And because I love to learn and share (and also analyzing), I want to share any knowledge that I have once a month to public, for those who can’t come could access the content in my blog or youtube channel.

Those are a temporary things that I will do in my mind, hopefully there will be more things I can be done along with the grow of my business and experience.

A Dandelion (3)

Day 2

Pagi-pagi setelah bersih-bersih rumah dan membuka beberapa kardus, teman ibu, om Agus datang dan langsung melakukan inspeksi, hihi. Om Agus ini adalah salah satu vendor yang membangun jalan-jalan tol di Indonesia, jadi semua tentang konstruksi bangunan kurang lebih paham lah yaw, ditambah lagi rumah om Agus sendiri di blok C (rumahku blok B) dibangun berdasarkan instruksi beliau. Maka, saya sebagai anak magang (eh) pasrah saja pada sesepuh.

Bagian belakang rumah, di dekat dapur diberi saluran air serta ditinggikan beberapa cm untuk mesin cuci. Bagian samping diberi pagar tambahan, dan di bagian depan ditambahkan jalan untuk sepeda motor masuk, sehingga aku tidak kesusahan angkat-angkat sepeda motor. Belum lagi ditambah keinginan ibu untuk cat ulang beberapa bagian di rumah. Huft rasanya banyak sekali yang harus dikerjakan 😦

Rencananya, besok pagi tukang-tukang sudah mulai berdatangan untuk membereskan rumah, hari ini kami mau pergi dulu mencari furniture-furniture yang dibutuhkan, kemarin aku sudah membuat denah petak rumahnya. Waktunya berburu!

Pemberhentian pertama, Jl Ahmad Yani. Sepanjang jalan ini dipenuhi dengan toko-toko mebel, tentunya akan banyak option yang bisa kami pilih disini. Meskipun aku bukan tipe pemilih sih, asalkan sesuai kriteria dan memenuhi budget, angkut! Di toko pertama kami mencari kasur dan lemari, kriterianya Queen (agar muat sampe nanti menikah, hihi, tapi tidak menuh-menuhin kamar yang hanya 3,5×3,5 m) dan tanpa dipan. Dapat yang kualitas medium (lupa merknya) dengan harga Rp 3jt.

Furniture lainnya kami memilih untuk beli di informa, selain modelnya yang lucu-lucu, biayanya jadi lebih murah jika memiliki kartu kredit, karena bisa mendapatkan cicilan up to 2 tahun dengan bunga 0%.

Setelah capek berkeliling, kami makan sebentar, kemudian pulang dan menunggu barang-barang yang dipesan datang. Oh ya, untuk informa biasanya dikirim 3 hari setelah pembelian dan di instalasi 1 hari setelah dikirim.

What a long day, rumah sekarang sudah terang (habis beli lampu), lumayan bersih, tapi kami masih tidur di bawah karena belum beli sprei huehehe.

 

Bersambung ke “A Dandelion (4)”….

A Dandelion (2)

Day 1

Hari ini waktunya packing dan pindahan, deg-degan banget karena akan beranjak dari sarang ternyaman se-Bandung Raya, mana toko Eiger baru buka lagi di sebelah. Deket banget sama jalan raya dan diapit dua supermarket besar. Kurang nyaman apa kos ini. Tapi ya, kita tidak akan berkembang jika terus berada di zona nyaman. Bismillah, waktunya melangkah.

Kontrakan baruku berada di Komplek Girimekar Permai, aku mendapatkan infonya dari teman SMA ibu, om Agus Himawan, yang juga tinggal disana. At least, ada tempat untuk dimintai tolong jika ada hal-hal urgent. Yang bikin aku kesengsem sama rumah ini adalah suasananya yang masih di kampung, hawa pegunungannya serta perumahannya dijaga satpam, sehingga lebih aman untuk aku tinggali.

Rumahnya luas, tipe 45 dengan 2 kamar dan 1 kamar mandi. Dapurnya super luas dan terletak di area belakang yang meski dikelilingi tembok, tapi masih tembus ke halaman depan rumah. Ada taman kecil yang bisa ditanami serta garasi mobil (siapa tahu nanti mobilnya datang menyusul). Airnya super dingin dan bersih, katanya sih sebetulnya air disini bisa diminum langsung jika pipa-pipanya didesain untuk itu.

Okay, back to the packing, karena barangku tidak terlalu banyak (well, kos seluas 3x4m bisa menampung berapa banyak sih), jadi hanya diperlukan waktu kurang dari 1 hari untuk mengepak semua barang ke dalam beberapa koper dan kardus. Tadinya kami mau membawa barang-barangnya pakai go box, hanya saja setelah di cek harganya, kok ya tidak masuk akal budget. Dari kos ku ke kontrakan hanya berjarak +/- 5km, tapi biaya angkutnya bisa mencapai Rp200 rb, kan sesuatu. Setelah bingung, galau, dan uring-uringan, akhirnya dapet juga kontak supir mobil box dari om Agus (untung ada teman ibu!). Dan kamipun meluncur~

Saat itu keadaan rumah masih super kotor dan sangat gelap. Hanya ada 1 lampu yang terpasang serta belum ada furniture apapun. Pokoknya keadaan rumah mirip banget sama pengungsian korban bencana alam, kardus belom dibuka, kami tidur menggunakan kasur gulung yang dibawa dari kontrakan. Makan juga apa yang ada dan apa yang lewat aja. Malam ini kami tidur dengan super gelap.

 

Bersambung ke “A Dandelion (3)”….

A Dandelion (1)

Tahun ke enam lepas dari sarang induk, sejak perjalanan dari Singapura hingga ke Bandung. Dan akhirnya tepat di umur ke- 20, mulai membuka usaha sendiri, yaitu Busana Eneska yang bergerak di bidang baju keluarga.

Awalnya saya hanya meng-handle bagian marketing saja dan menyerahkan produksi ke orang lain, tapi karena ingin memberikan pelayanan yang lebih baik pada customer, akhirnya saya memutuskan untuk memiliki production house sendiri, which is  saya harus pindah dari kos nan menyenangkan ke kontrak rumah sendiri. Jujur, saya lebih parno tinggal di Indonesia ketimbang Singapura, jadi perpindahan dari kos ke kontrakan ini benar-benar dihitung mulai dari cost hingga kenyamanan.

Alhamdulillah, sudah hampir 2 bulan menempati rumah baru, saya sudah mulai terbiasa dan kerasan. Walau di awal  (sampai sekarang juga sih hehe) masih banyak shock nya. Mari kita mulai dari hari pertama pindah….

 

Bersambung ke “A Dandelion (2)”….

Awal Mula Busana Eneska

Assalamu’alaikum ayah dan bunda, di postingan kali ini saya mau sharing cerita tentang awal mula saya membuat bisnis ini.

Semenjak kecil saya memang sudah diajari oleh bapak dan ibu untuk menjadi pribadi yang produktif, bukan konsumtif. Ketika anak-anak lain sibuk jajan ini itu di sekolah, saya justru berinisiatif menjajakan berbagai kebutuhan sekolah, mulai dari makanan hingga alat tulis. Dari situ, saya belajar bagaimana mengelola uang, membaca kebutuhan pasar, dsb. Dari situ pulalah saya bercita-cita untuk menjadi seorang pengusaha, seperti ibu dan bapak.

Memasuki usia remaja, saya harus hidup mandiri karena jauh dari orang tua. Saat itu saya tinggal di negeri seberang tanpa ada saudara maupun kenalan sama sekali. Kemampuan berbisnis saya semakin ditantang ketika harus menawarkan barang kepada orang yang tidak dikenal sama sekali. Dari situ saya belajar, bahwa saya akan lebih optimal ketika menjual sesuatu yang memiliki value daripada sekadar menjual sesuatu yang sedang laris.

Lulus kuliah di usia 18 tahun, saya memasuki sebuah perusahaan untuk belajar bagaimana handling bisnis dalam skala besar. Selama saya bekerja, berulang kali saya pikirkan, akan bergerak di bidang apakah bisnis saya? Training? Pendidikan? Konsultan? Hingga detik-detik terakhir akan “lulus” dari perusahaan tersebut, saya masih blank akan mengerjakan bisnis apa.

Suatu saat, saya dan keluarga PadepokanMargosari berinisiatif untuk membuat baju keluarga yang tidak pernah kami miliki sama sekali sebelumnya, hihihi. Selama proses pembuatan baju, ada banyak request dari bapak, ibu @septipw, @arakusuma, dan @elanjm dari sisi model, belum lagi bapak sangat riwil urusan kualitas jahitan. Dari situlah saya berpikir bahwa solusi masalah yang kami hadapi bisa jadi merupakan solusi bagi banyak keluarga juga.

Maka, muncullah @busanaeneska , sebuah perusahaan yang bergerak di bidang customized Sarimbit yang memungkinkan ayah, bunda dan juga ananda untuk memilih baju dengan model serta bahan yang paling cocok untuk karakteristik sifat maupun kegiatan setiap anggota keluarga.

Eneska sendiri merupakan singkatan nama panjang saya Nurul Syahid Kusuma, eN eS Ka. Insyaa Allah, do’a yang diberikan bapak kepada saya, menjadi do’a yang sama bagi usaha saya ini. Aamiin Ya Rabb.

Alhamdulillah, selama 3 bulan running, saya semakin enjoy dalam menjalani hari demi hari membangun usaha ini. Moment yang paling saya sukai selama menjalankan bisnis ini adalah ketika baju yang saya buat bisa membawa senyum dan kebahagiaan, serta semakin memperkuat ikatan di keluarga ayah dan bunda.

Semoga kami bisa terus meningkatkan kualitas dalam segi apapun, baik produk hingga pelayanan. Serta bisa bermanfaat bagi masyarakat di sekitar tempat kami berada.

Menjadi Saya, Menjadi Istri dan Menjadi Ibu

Sebagai seorang the bright bride to be, tentu saja saya tidak boleh berleha-leha dan terus bergerak menjadi versi diri yang lebih baik. Sudah dua minggu ini saya mengikuti kelas matrikulasi IIP Bandung, sungguh luar biasa melihat semangat para ibu untuk terus belajar dan belajar. Tugas-tugas yang diberikan juga tidak main-main, it really feels likethe old time, back when I was in University.

So, tugas kali ini cukup menyita pikiran, karena saya harus membayangkan apa yang harus saya perbaiki dari diri saya andai kata saya adalah seorang istri DAN seorang ibu. Jeng-jeng-jeng, waktunya memejamkan mata dan mencoba melompati waktu dimana saya sudah memiliki suami dan anak. Rasanya lucu, karna wajah suami seperti apa saja masih belum terbayang (jomblo cuy). Bismillah, mari kita menjelajah waktu…

Yang harus saya perbaiki dari segi:

INDIVIDU

  • Tidak tidur setelah shubuh dan mengisi kegiatan dengan membaca/mengaji
  • Mengikuti kelas/seminar tentang parenting tiap minggu.
  • Menulis di blog 1D1P serta menulis buku min. 2 halaman per hari
  • Menghafal Qur’an minimal 1 Ayat 1 Hari

(ANDAI) ISTRI

  • Mempelajari ilmu komunikasi dengan pasangan, sehingga meminimalisir adanya konflik
  • Membuat goals bersama setiap minggunya
  • Mempelajari 2 menu masakan baru tiap minggu
  • Belajar untuk mendengarkan dan mengapresiasi setiap suami bercerita

(ANDAI) IBU

  • Belajar cara mendongeng
  • Mempelajari 1 mainan anak setiap harinya
  • Belajar mendengarkan dan mengapresiasi setiap anak bercerita
  • Belajar 2 menu baru tentang bekal anak setiap minggunya

Wow… Rasanya lucu ketika membayangkan hal-hal tersebut. Bercerita bersama suami, bermain bersama anak, fun cooking bersama. Kya kya, jadi makin ga sabar nih.

Untuk target individu akan dilakukan rutin selama 3 bulan, mempelajari ilmu komunikasi sebagai istri, mendongeng, dan mainan anak akan dimulai dari sekarang, targetnya nanti saat menikah sudah bisa menguasai hal-hal tersebut. Sisanya, nunggu pangerang dateng dulu ya, yuhuuu~

All of these will be reviewed every 3 months.