Cermin

Kenapa kamu menangis?

Apakah kamu bersedih? Sedetik yang lalu kulihat kau masih tertawa. Apakah tawa itu tulus? Ataukah sebuah kamuflase?

Bagaimana aku bisa memahamimu? Apakah aku harus melindungimu? Ataukah aku harus membiarkanmu menyelesaikannya sendiri, sehingga sayapmu dapat terkembang dengan sempurna. Tidak lemah dan tak berguna.

Apa? Aku tidak bisa mendengar. Mereka bilang mereka tidak membutuhkanmu? Bukan? Lantas apa? Mendekatlah. Agar aku bisa mendengar dengan lebih jelas. Aku tidak bisa memahami kata-katamu jika kau jauh disana. Sini, mendekatlah. Biar ku dekap tubuh gemetarmu, agar hilang raut sedih dari wajahmu. Peluk aku, lepaskan tangismu. Berteriaklah jika kau merasa lega setelahnya. Aku disini untuk mendengarmu. Mendengar semua ceritamu yang tak mampu kau utarakan kepada orang lain.

Jangan takut. Aku akan selalu berada di sisimu. Wahai sosok di seberang cermin.

FAQ #4

Question:

“Dulu homeschoolingnya seperti apa, mbak?”

Answer:

Disclaimer dulu ya, saya dulu homeschooling hanya 2 tahun, setahun saat usia 8 tahun di kelas 4 dan ketika keluar dari pondok di kelas 1 SMP. Sisanya, saya menjalani home based education.

Meski hanya 2 tahun, saya cukup mengalami turbulence yang sering dialami oleh mereka yang baru menjalani homeschooling. Ketika SD, saya sangat senang dengan homeschooling, karena saya bisa belajar dimana saja dan kapan saja. Saya bisa belajar di atas pohon jambu, di tempat mandi bola, di ragunan, dan masih banyak lagi. Saya juga belajar langsung dengan cara praktek, sehingga saya tidak bosan.

Saat itu, saya tidak mengenal apa itu jadwal, dan apa saja yang harus saya pelajari di luar text book. Saya hanya mengikuti kegiatan yang sudah di desain oleh ibu saya. Celakanya, ketika saya menjalani homeschooling di SMP (kelas 5 dan 6 SD saya masuk kembali ke sekolah karena harus pindah ke Salatiga, dan saat itu homeschooling tidak diakui sebagai satuan pendidikan legal di Salatiga) ibu saya sudah tidak sanggup lagi mengajari saya dengan pelajaran yang semakin beragam, akhirnya saya mencari buku paket dan belajar sendiri.

Karena hanya memindahkan kurikulum sekolah ke rumah, akhirnya saya menjadi bosan dan jenuh. Saya lebih menikmati ikut ibu saya berkeliling Indonesia untuk seminar Jarimatika, dibanding di rumah dan belajar sendirian. Sudah begitu, bapak saya saat itu masih sangat galak, jadi kami sering berantem.

Setelah melihat metode homeschooling yang dijalani oleh adik saya, saya sadar bahwa saat itu saya salah. Seharusnya homeschooling bukanlah memindahkan kurikulum sekolah ke rumah, tapi lebih berfokus pada apa yang diinginkan anak, dijalankan dan dikaji lebih dalam sehingga menjadi projek yang terstruktur.

Seperti kurikulum 13 yang memiliki tema pembelajaran, homeschooling pun begitu.

Review Drama: Kill Me Heal Me

Ini super iseng sih, karena kalau lagi senggang suka nontonin drama korea, jadi sekalian aja nulis disini buat share tentang drakor yang udah ditonton, karna saya cukup picky juga.

So, here is the first one: Kill Me Heal Me!

Bercerita mengenai seorang lelaki yang memiliki 7 kepribadian, shin se gi yang preman abis, perry park yang kocak, yoo sub yang sering melakukan percobaan bunuh diri, nana, mr. X, cha do hyun, dan yang paling epic adalah Yoo na, which turns the main character into completely different person (my most favorite one hoho).

Meskipun bikin gregetan, tapi berbagai kepribadiannya itu super menghibur di tiap episodenya. Proses pelepasan satu per satu karakternya dengan memenuhi tujuan tiap-tiap karakter bikin film ini jadi ga ketebak dan yang paling kusuka adalah, endingnya yang asik abis. Ga kayak rata-rata drama korea.

I give 11/10!!!

Sekolah itu BUKAN Pengganti Orang Tua

Tidak jarang ditemui orang tua siswa yang menyalahkan sekolah akan ketidak mampuan anaknya atau perubahan yang terjadi pada anak tersebut. Menurut saya, fenomena ini super lucu, bahkan udah melebihi srimulat.

Anak merupakan tanggung jawab penuh orang tua dan sekolah merupakan support system untuk membantu orang tua dalam memberikan warna baru dalam hidup sang anak. Ibarat orang tua adalah penjahit, sekolah merupakan mesin jahitnya, atau bahkan hanya berupa gunting kainnya. Penjahit harus memilih mesin jahit dan guntingnya sendiri, agar menghasilkan produk yang sesuai dengan keinginan. Kalau hasilnya kurang memuaskan, coba dilihat lagi, jangan-jangan penjahitnya memilih mesin jahit yang tidak compatible, atau ternyata ada yang salah dengan teknik jahitnya.

Oh, dan jangan lupa, satu orang guru itu mengampu 20 orang murid minimal. Bisa mencapai 50 bahkan. Bandingkan dengan orang tua yang maksimal memiliki 5-10 anak (jaman sekarang ya, kalau jaman dulu bisa sampai 19 hohoho), kalau apple to apple jelas lebih unggul orang tua dong.

Maka, plis plis dan plissss banget. Jangan sampai anda melewatkan privilege yang sudah anda miliki tanpa perlu bersusah payah, privilege untuk mengasuh anak. Terutama di Indonesia, yang kalau orang tuanya masih fakir ilmu pun anaknya nggak ditarik negara. Bayangkan anda di Eropa, yang nggak mengajak anak jalan-jalan selama 1 x 24 jam saja bisa diperkarakan.

Jadilah orang tua yang profesional, not a baby that has a baby. Untuk sekolah juga jadilah support system keluarga yang profesional, bukan mesin penghancur masa depan anak. Jangan berjuang sendiri, berat. Mending bareng-bareng.

Tertanda,

Murid yang sekarang menjadi guru.

KTP Hilang

Kemarin aku akhirnya mengambil KTP yang baru diurus di kecamatan! Bahagia pisan akhirnya bisa punya KTP lagi setelah sempat hilang sekitar sebulan. Nah, di kesempatan kali ini, aku mau sharing tentang apa saja hal yang harus dilakukan ketika KTP hilang.

Tarik nafas dan tetap tenang

Coba dicari dulu, siapa tahu ternyata keselip di tempat-tempat yang tidak terbayangkan. Kalau memang bener nggak ada, maka lanjut ke step berikutnya.

Minta surat keterangan kehilangan ke Polsek terdekat

Untuk mendapatkan surat ini caranya gampang banget, tinggal mendatangi Polsek di bagian kehilangan. Beritahukan estimasi lokasi dan waktu hilangnya KTP tersebut, bapak polisi akan membuatkan surat keterangan kehilangan yang sudah dicap, kita tinggal tanda tangan dan memeriksa detil mengenai KTP nya.

Oh ya, surat ini berlaku 14 hari ya.

Mengunjungi pak RT dan RW

Nah, kebetulan banget nih, aku belom pernah ketemu sama pak RT sama sekali, karena waktu pertama bikin KTP formulirnya yang dikirim ke rumah. Melalui musibah ini, akhirnya bisa kenalan dan silaturahmi dengan pak RT dan pak RW. Apalagi RT di tempatku itu bentuknya memanjang, jadi sulit untuk saling ketemu kalau memang nggak disempatkan.

Di tempat pak RT, kita akan mendapatkan satu formulir yang harus diisi dan ditandatangani oleh pak RT, RW dan Lurah. Perbaruan KK pun begitu, akan dapet formulirnya dari pak RT. Oh ya, karena KTP nya hilang, maka ada satu lembar lagi keterangan kehilangan dari kantor RT.

Membawa berkas ke Kelurahan

Di kelurahan ini, harus sudah komplit berkas-berkasnya:

  • Fotocopy Surat keterangan kehilangan dari Kepolisian (2 lbr)
  • Surat keterangan kehilangan dari Kepolisian yang asli (1 lbr)
  • Fotocopy akta kelahiran/ijazah (2 lbr)
  • Formulir permohonan pembuatan KTP
  • Pas foto 2×3 (3 lbr)
  • Fotocopy KK (2 lbr)
  • Materai (2-3 lbr)

Karena aku mau mengubah status dari mahasiswa jadi wiraswasta, jadi nggak pakai akta kelahiran, tapi fotocopy ijazah. Karena ini bukan pembuatan yang pertama kali, jadi pengurusan berkas ini bisa diwakilkan (jangan lupa pakai surat kuasa ya) jika pemohon berhalangan hadir.

Kalau nggak salah dari kelurahan dapet surat pernyataan lagi yang menyatakan bahwa kita akan mengembalikan KTP yang lama seandainya ditemukan.

Mengurus ke Kecamatan

Selesai cek berkas serta mendapatkan tanda tangan pak Lurah, selanjutnya tinggal memasukkan berkas ke Kecamatan. Karena sudah ada file e-ktp sebelumnya, maka tidak perlu lagi ada sesi foto. Pembuatan bisa lebih cepat. Sekitar 2 minggu kemudian, KTP sudah bisa diambil.

Semua proses ini tidak ada yang dikenai biaya ya man teman, jadi jangan sampai tertypu oleh calo-calo di luar sana. Sekian sharing dari saya, semoga bermanfaat.

 

 

Komunikasi Produktif (1)

Sebetulnya beberapa hari terakhir ini tidak pernah ada masalah antar anggota di keluarga kami, rasanya komunikasi kami jadi membaik dibandingkan dulu awal-awal sebelum saya merantau. Iseng-iseng saya mulai melakukan pengamatan mengenai hal-hal yang berubah di dalam keluarga, biar makin yakin kalau memang komunikasinya yang membaik, bukan kami yang menghindar dari masalah.

Kalau dilihat-lihat intonasi bicara ketika kami bercakap-cakap makin riang dan nggak banyak ngajak gelut. Saya rasa ini adalah bagian terpenting, dibandingkan dengan pemilihan diksi dalam berbicara. Intonasi yang menyenangkan akan mengundang kebahagiaan dari orang lain, sebaliknya, meski kata-kata yang digunakan baik, intonasi yang tidak enak bisa membuat segalanya jadi runyam. Mm… pantes aja ya kalau ngobrol via chat sering miskom, intonasinya kan ga kedengeran.

Tapi selain intonasi, raut wajah ketika ngobrol juga penting. Apalagi bapak adalah orang paling sarkas sejagad raya, kalau raut wajahnya mencurigakan, intonasi yang menyenangkan tadi jadi dipenuhi tanda tanya. Saya pun begitu, seringkali nggak bisa kontrol raut wajah, apalagi kalau ditanyain masalah kerjaan. Maklum ya, punya orang tua sekaligus atasan itu kan double degree sesuatunya (mereka yang ngelanjutin usaha keluarga itu…. TANGGUH), ngobrol santai aja bisa berujung ribut. Yang satu merasa diserang, yang satu lagi merasa “lah kan gue cuman nanya,” atau “lah gue kan cuman cerita.”

IMG_20170519_113418
Ini adalah contoh raut muka ngajak ribut + patut dicurigai

Makanya, setiap aspek saat ngobrol jadi penting, apalagi kalau ngebahas hal yang serius (terutama NIKAH! Huft).

Yang saya rasakan beberapa hari ini, pemosisian peran serta penataan hati itu penting banget sebelum ngobrol. Yang biasanya saya lakuin selama ini ya set mood dulu, apalagi kalau pembahasannya serius. Kudu legawa. Kalau udah set mood, baru deh masukin peran + pembawaannya. Misal, hari ini jadi anak kecil: ceria, murah senyum, fun, ceplas ceplos. Atau, hari ini jadi ketua yayasan: serius, cerdas, pembawaannya tegas.

Boleh dong di share, apa hal-hal yang dilakukan oleh teman-teman, terutama buat yang punya intonasi suara tinggi dan default muka ngajak berantem seperti saya, huhuuu.

 

Komunikasi Produktif (0)

Assalamu’alaikum semuanya~

Lama tak melihat postinganku mengenai Ibu Profesional ya, itu semua dikarenakan sebuah kesibukan dan ke-skip-an saya untuk daftar lagi dari cuti Bunda Sayang yang tertunda. Ah sudahlah.

Eniwei, saya kembali lagi ketika keadaan sudah damai dan tenang (entah kenapa saya selalu skip tahap awal di IIP. Sungguh anak founder yang kurang teladan :’ mungkin tugas saya memang melanjutkan di yang kedua dan seterusnya ya #acie). Seperti yang sebelumnya (dan tidak pernah saya kerjakan di Bunsay 1), kelas pertama Bunsay mengenalkan mengenai Komunikasi Produktif, bagaimana kita harus menyamakan FOR (frame of reference) dan FOE (frame of experience) kita dan pasangan lawan bicara (duh ga usah ngaku-ngaku pasangan deh, mblo).

Hal ini penting banget karena kita sebagai pihak yang mengkomunikasikan mempunyai kewajiban dan kepentingan untuk memastikan apa yang kita komunikasikan mampu tersalur dengan benar. Karena, apa yang diterima oleh orang yang mendengarkan merupakan tanggung jawab mereka yang mengkomunikasikan sepenuhnya, jadi jangan gampang menyalahkan lawan bicara ya, rubah cara komunikasimu! (mengutip dari tulisan Profesor Doktor Bunda Agung Septi Peni Wulandani, Guru Besar Institut Ibu Profesional).

Di tantangan pertama kali ini, saya disuruh untuk memilih satu anggota keluarga yang mau ditingkatkan lagi pola komunikasinya, dan saya memilih…. eng ing eng.. setelah pariwara yang berikut ini #digaplokpembaca.

Oke, back to topic, saya memilih Bapak untuk menjadi partner tantangan saya kali ini. Alasannya super simpel, karena beliau adalah teman berantem saya sejak jaman orde baru sampe millenial (berapa periode coba kami lalui bersama. Unch). Jarang sekali kami berdiskusi hal serius tanpa adu urat, selalu saja ada bahan untuk kami permasalahkan bersama, dan ujung-ujungnya komunikasi kedua belah pihak tidak tersalur dengan baik.

Well, kami berdua sama-sama keras kepala dan gengsinya tinggi, jadi susah untuk menurunkan ego masing-masing dan mencoba untuk saling mengerti. Maka, di hari ini, saya mencoba mengerti apa yang menjadi FOR dan FOE bapak (bohong banget! seharian kamu di luar rumah Nes) saya berkomunikasi dengan bapak seperti biasa, kami mengobrol sembari perjalanan menuju ke Lebah Putih, banyak membicarakan Ara dan tidak membicarakan saya (pengalih isu).

Oke. Aku mau pengakuan dosa aja deh. Hari ini saya belum membuat improvement apa-apa dengan bapak, masih seperti biasa, hanya tidak ada hal yang membuat kami bersitegang saja. Besok karena akan berada seharian di rumah, saya berjanji akan berkomunikasi lebih baik lagi dengan bapak, mencoba memahami FOR dan FOE bapak, agar ada FOR dan FOE kita.

Terimakasih Ibu Profesional, yang telah menyatukan lagi aku dan bapakku (jiga program tali kasih wkwkwk).

IMG_20170518_140728

Gambar 1. Bapak mencoba mendinginkan kepalanya menggunakan keranjang buah. Sepertinya efektif, boleh dicoba manteman.

Tentang Pangandaran (1)

12 Mei 2017

Pagi ini, aku, Gungun dan Qaulan sudah sibuk kesana kemari membeli berbagai perlengkapan untuk menuju ke Pangandaran. Semalam sebelumnya, aku dan Qaulan pun sudah mulai keliling bergerilya mengambil berbagai buku yang sudah terkumpul di beberapa titik. Yaps! Kami akan membuat sebuah rumah belajar di Pangandaran. Rumah belajar pertama FIM KECE (Forum Indonesia Muda Regional Bandung) di luar Bandung, semoga lancar ya Allah.

Setelah bagasi penuh dengan berbagai perkakas rumbel, saatnya menjemput teh Elis, senior kami di FIM sekaligus seorang ventriloquist professional, untuk kemudian langsung cuss menuju ke Pangandaran.

Ini pertama kalinya aku ke Pangandaran, jadi deg-degan pisan euy.  Seharusnya perjalanan ini akan kami tempuh selama 6 jam, namun karena ini adalah hari Jum’at, jadi kami berhenti sebentar di Tasik untuk Gungun menunaikan kewajiban sholat Jum’at. Sembari menunggu Gungun, kami ciwi-ciwi mencari berbagai jajanan yang bisa kami makan ^^ urusan perut itu penting.

Sepanjang perjalanan kami habiskan untuk bercengkrama, saling berkenalan dan bercerita berbagai hal. Kami berhenti dulu di Banjar untuk mengambil buku dan (alhamdulillahnya dapet) makan. Dari Banjar menuju Batu Karas, Pangandaran menghabiskan waktu 2,5-3 jam, memasuki wilayah Pangandaran kami disuguhkan dengan perkampungan khas pesisir, angin yang berhembus pun sudah hawa-hawa pantai. Duh, makin tidak sabar.

Sekitar jam 7 malam kami sampai di rumah keluarga besar tante Ilva, seorang kawan dari grup homeschooling (senengnya sama group ini, sangat helpful banget jika ada berbagai kegiatan), setelah menaruh berbagai barang dan tag kamar, kami lanjut survey ke lokasi untuk acara besok. Serunya di Pangandaran, kami harus back to the old way, menggunakan GPS untuk mencari lokasi. Eits, bukan Global Positioning System yak, tapi Gunakan Penduduk Sekitar. HAHAHAHA.

Saat menuju ke lokasi, aku nyoba untuk nyetir manual, setelah 3 tahun nyetir matic terus. Dan dengan epicnya, baru mundur aja udah mengeluarkan teriakan “OY! Ini gas sama remnya sebelah mana?!”

Terus disuruh pindah ke kursi penumpang. Selesai. Gak berani nyoba lagi hahahahaha. At least, nggak dengan mobil orang lain (mobilnya luxio, gede, posisinya beda, kzl).

Back to the topic, ternyata ada miskom antara narahubung di Pangandaran dengan kami, disangkanya kami mau menggunakan penginapan koperasi, padahal kami mau nengok lokasi. Akhirnya, kami jalan-jalan di pantai (yang sedang pasang) aja malem-malem. So romantic! Hahahaha.

Perjalanan pulang kembali ke tempat penginapan kami harus melalui jalanan yang super duper gelap tanpa penerangan satupun kecuali lampu mobil kami. Di saat seperti itu, teh Elis justru bercerita horor, tentang seorang temannya yang pergi ke Bali, sebut saja dia Mawar ^^ Mawar diberitahu oleh penduduk sekitar untuk ikut berdo’a di pura, berdo’a saja sesuai dengan agama masing-masing, intinya meminta keselamatan selama berada di lokasi. Tapi, karena dia berpikir bahwa itu hanya takhayul, Mawar tidak mau mengikuti hal tersebut. Ketika waktunya makan malam, Mawar yang bertugas memasak dikelilingi oleh banyak monyet. Monyetnya tidak melakukan apa-apa, hanya diam menatap ke arah Mawar. Untungnya, salah satu teman Mawar ada yang datang dan melihat bahwa Mawar……. SEDANG MEMOTONG JARINYA SENDIRI!!!!!!

Kebayang kan pas lagi gelap pisan jalanan, diceritain begitu, kek mana ekspresi kita. Hahaha, intinya, orang lokal nows the best about their place, jadi ikutin aja yang mereka minta meskipun terdengar absurd. For your own sake, guys.

Akhirnya, malam ditutup dengan kami yang langsung tepar di kamar masing-masing. Menunggu 4 mobil lagi yang akan datang menyusul.

13 Mei 2017

Akhirnya rombongan kedua datang juga, bertepatan dengan adzan shubuh hari ini. Sebenarnya, kami mau lihat sunrise, tapi berhubung kondisinya tidak memungkinkan, akhirnya kami memilih mencari sarapan saja. Di rombongan kedua ini ada 5 orang, Litya, teh Amel, teh Nay, Umam (teman Litya) dan Abdul (temen SMP ku yang kuliah di ITB).

Lokasi penginapan kami tidak jauh dari pasar, sehingga kami tinggal perlu berjalan sedikit untuk mencari sarapan. Menu hari ini adalah nasi lengko! Murah meriah, hanya 10rb per bungkus, sudah bisa mendapatkan nasi/lontong+bihun+kuah yang yumm yumm. Berbeda dengan nasi lengko Cirebon, nasi lengko di Pangandaran lebih seperti soto, manis dan berkuah.

Selepas makan, kami langsung siap-siap menuju lokasi, karena acara akan dimulai jam 09.00. Beberapa jam sebelum berangkat, akhirnya rombongan ketiga serta rombongan Aruna (2 mobil) sampai juga. Rombongan Aruna menginap di wisma koperasi pinggir pantai Batu Karas, sedangkan rombongan FIM tetap di penginapan awal di Cijulang.

Peresmian rumah belajar FIM x Aruna dihadiri oleh ketua Koperasi Mina Karas sekaligus pemilik madrasah yang menjadi lokasi rumbel kami, kepala desa serta pengajar madrasah. Selesai acara pembukaan, kami langsung menuju ke madrasah untuk berkegiatan bersama adek-adek SD Batu Karas.

Seru bangeeeet, mulai dari sharing mengenai profesi dari Yuli Setiawan (staff Kemendikbud), Panglima Nagari (staff Limakilo) serta Indraka Fadhillah (founder Aruna Indonesia). Disini kami ingin mengenalkan ke adik-adik Batu Karas, bahwa apapun tidak ada cita-cita yang sepele dan tidak mungkin digapai, asalkan bersungguh-sungguh berusaha menggapainya. Pengenalan berbagai jenis profesi ini juga diharapkan membuka wawasan adik-adik Batu Karas bahwa setiap profesi itu penting, apalagi kalau menjadi petani dan nelayan, sumber kehidupan di negara agraris dan maritim ini.

Acara ditutup dengan dongeng dari teh Elis dan Cetta (bonekanya), luar biasa sekali kemampuan teh Elis mendongeng, bahkan kami yang sudah dewasa pun dibuat terpukau oleh teh Elis. Keren pisan lah.

Selesai acara, tim FIM terpisah menjadi dua, satu bantu nukang di rumah belajar, satu lagi menuju ke SMK Bakti Karya Parigi milik salah satu senior FIM Kece untuk sesi sharing. Edisi nukang kali ini penuh dengan keprimitifan, mulai dari masang paku pakai batu, besi, dan berbagai alat yang ada. Karna gasuka susah anaknya teh, aku samperin aja rumah tetangga buat pinjem palu dan berbagai alat nukang lainnya wkwkwk.

Menjelang ashar, akhirnya rumah belajar kami jadi juga. So proud of every effort we’ve put. Terharu.

Tim FIM melanjutkan perjalanan ke SMK Bakti Karya, sedangkan tim Aruna memilih untuk beristirahat di penginapan. Sesampainya di Bakti Karya, kami disuguhkan dengan sebuah sekolah beruangan super kreatif. Setiap ruangan memiliki tema yang unik, ada ruang facebook yang bergambarkan laman facebook berukuran besar di salah satu dindingnya, ada juga ruang musik, ruang baca, dsb. Terlihat sekali bahwa anak-anak serta guru disini sangat diberikan kebebasan untuk berekspresi. Setiap hari sebelum memulai kelas, tiap anak diharuskan untuk membaca selama 15 menit, dan ketika sudah selesai membaca mereka akan presentasi di kelasnya masing-masing.

Selepas sesi sharing, kami diajak untuk bermain game mengurai rafia. Setiap kelompok berisikan 3 orang, dan kami harus mempresentasikan yel-yel masing-masing sebelum memulai kegiatan. Kala itu, aku sekelompok dengan kang Ijal dan kang Yuli, kami menamai kelompok kami “Bajigur.”

Yel-yelnya simpel, cukup meneriakkan… “teng-tereng-teng-teng, bajigur, bajigur, bajigur, OYE!” Hahahahhaa.

Di awal game, setiap kelompok diberikan rafia kusut untuk kemudian berlomba untuk menjadi yang paling cepat mengurai. Game ini memiliki makna bahwa setiap orang memiliki masalah masing-masing yang dianalogikan dengan rafia kusut, ada yang sangat banyak masalahnya, sehingga menjadi sangat kusut rafianya dan lama mengurainya. Ada yang sedikit masalahnya, sehingga lebih cepat waktu penguraiannya. Namun, baik itu banyak atau sedikit, yang paling penting adalah kesabaran kita untuk mengurainya. Bagi yang memiliki rafia dengan lebih sedikit kekusutan, sebaiknya lah untuk saling menolong dan memberikan semangat pada mereka yang memiliki rafia lebih kusut.

Sesi berikutnya, kami disuguhkan dongeng perwayangan dari guru tersepuh di SMK Bakti Karya yang juga merupakan seorang dalang. Pengetahuan beliau dalam dunia wayang tidak perlu diragukan lagi, terlihat dari kefasihan beliau dalam menuturkan kata demi kata menjadi sebuah cerita yang mampu membuat kami tertarik sekaligus tertawa terbahak-bahak ketika satu dua lelucon disampaikan.

Berikutnya, setiap anak FIM diminta untuk memperkenalkan diri, kemudian siswa-siswi Bakti Karya akan memilih siapa yang akan mereka “culik” untuk digali lebih lanjut mengenai kegiatannya. Seru banget, jadi kayak sesi mini mentoring gitu.

Kegiatan di Bakti Karya ditutup dengan pentas karya siswa-siswi Bakti Karya yang diadakan setiap malam minggu. Ada yang menampilkan drama, lagu, puisi, dsb. Anak-anak disini sangat PD dengan kemampuan mereka, dan itu jarang sekali terlihat dari anak-anak SMP, SMA maupu SMK saat ini. Salut banget buat bang Ai yang mampu mendidik putra dan putri bangsa ini. Dan, terlebih lagi, anak-anak disini merupakan anak-anak daerah perbatasan Indonesia. Memang, di sekolah ini, anak-anak diajarkan menerima perbadaan suku-suku bangsa di Indonesia, ada anak dari Aceh, Batak, Pangandaran, dan berbagai suku bangsa lainnya. Pokoknya must visit banget sekolah ini!

Karena sudah malam, akhirnya kami pamit kembali ke penginapan.

14 Mei 2017

Hari terakhir kami di Pangandaran. Pagi-pagi sekali, aku dan segenap geng konsumsi sudah jalan-jalan ke pasar untuk membeli bahan-bahan sarapan hari ini. Yaps, kami akan masak-masak untuk hari ini. Yay!

Agenda kami hari ini full rekreasi, kami akan menikmati jasa river tubing yang dikelola oleh anak-anak SMK Bakti Karya. Setelah sarapan dan packing, kami menuju ke lokasi river tubing. Sebuah lapangan dengan joglo-joglo yang terletak di beberapa titik menjadi tempat kami berkumpul untuk mengenakan peralatan dan briefing singkat. WE ARE READY!

Yang berbeda dari river tubing lainnya, river tubing Bakti Karya langsung membuka perjalanan dengan lompat dari atas jembatan setinggi 10m. Buat aku yang emang udah lama pengen banget loncat-loncat begitu, udah kayak dream comes true banget! Langsung aja ngacung buat jadi cewek pertama yang loncat. Meskipun ketika berada di pinggir jembatan, rasanya langsung gemeter pisan. Duh, hilang semua keberanian di awal. Tapi, da udah terlanjut, malu lah kalo balik lagi. Bismillah, HAP! Eta rasanya, duh, lamaaaaa pisan sampe akhirnya menyentuh air. Tapi nagih! HAHAHAHA.

Rute river tubing kali ini super seru. Kami menyusuri goa tanpa cahaya sembari menyanyikan lagu-lagu perjuangan (ett.. berasa diujung itu bakal ditembak belanda aja kite, siap mati bosque!). Ada satu spot untuk loloncatan lagi di ujung perjalanan kami. Bisa loncat gitu aja, bisa naik ke atas pohon terus loncat juga. Dan… saya pilih yg naik ke atas pohon HAHAHAHA. Sampe orang tour guidenya nanya, “itu cewek yang loncat?”

Perjalanan ditutup dengan mengunjungi goa lanang yang cukup mendebarkan karena jalanannya yang naik turun, licin, dan kecil. Overall, kami sukaaaakkkk sekali dengan trip kali ini. Terimakasih Bakti Karya :)))

Akhirnya rombongan kami kembali ke “habitat” nya masing-masing. Terimakasih Pangandaran untuk 3 hari dua malam yang tak terlupakan.

October Journey (5)

4 Oktober 2017

Hari ini waktunya silaturahmi, setelah semalam menginap di rumah tante Dita, pagi ini aku akan bertemu dengan bu dosen Unisba cantik, tante Titiek. Ini pertama kalinya aku ketemuan sama tante di kantor beliau, FK Unisba, duh semoga ada mahasiswa yang ganteng #eh

Ketika menunggu di sofa dekat kantor tante, tiba-tiba terdengar suara yang sudah khas, “Bellaaaa! ayo sini!”

Yaps! Aku dipanggil sama tante dengan panggilan Bella, bukan Enes. Gegara saking seringnya pulang (tengah) malam selama di Bandung, kata beliau udah kayak vampire, jadinya dipanggil Bella, pencari Edward, HAHAHAHAHA. Anyway, ketemu sama tante bener-bener recharge energi, dari yang awalnya udah gamang mau S2 atau enggak, kehilangan semangat, nggak tahu harus mulai dari mana, setelah ke klinik tongfang ngobrol sama tante jadi lebih clear harus mulai dari mana.

Saatnya mengumpulkan niat untuk bikin paper! Yosh! Go Bella!

Sepulang dari tante Titiek, aku order gojek untuk pulang ke rumah. Berkali-kali order dan di cancel, aku baru tahu kalau sekarang rumahku sudah menjadi zona merah untuk para gojek online. Duh, sedih kali. Itu ojek-ojek pangkalan nggak bisa nyante apa ya, udah mah harganya mahal banget, udah kayak harga daging di bulan Ramadhan. Huft.

Akhirnya ada juga yang mau accept order ku, dan perjalanan mencari rute aman baru saja dimulai. Seharusnya, rumahku lebih dekat kalau masuk melalui sindanglaya jika dari arah kota, tapi, terpampang tulisan besar “NO OJEK/MOBIL ONLINE”. Ugh. Maju lagi mencari jalan lain, melalui perumahan setelah SMAN 24, lagi-lagi terpampang besar-besar spanduk larangan bagi ojek online. Matek aku. Alternatif terakhir kalau nggak bisa masuk, ya aku turun di Ruko Ujungberung, terus naik ojek atau minta dianter sama temen.

Untungnya rute terakhir terverifikasi aman menurut bapak gojek, naiklah kita melalui Cijambe. Perjalanan aman hingga beberapa ratus meter sebelum rumah, aku teringat nenek tetangga sebelah suka ngajak nongkrong ojek pangkalan di gardu satpam depan rumah, bisa berabe nih kalo ketemu mereka. Akhirnya aku memilih turun sebelum sampai di rumah, demi menyelamatkan sang bapak gojek.

Sesampainya aku di depan rumah, tiba-tiba aku dihampiri oleh seorang satpam, “Teh, kemarin Senin pintunya kebuka, tapi nggak ada siapa-siapa di rumah. Kami sampe masuk ke dalam rumah takut ada yang sembunyi, tapi nggak ada siapa-siapa.”

HAAAAAAH?

HAAAHHHHHHHH?!!!

HHHHAAAAAAAHHHHHHH???!!!!!

Beberapa detik setelah mencerna perkataan bapak satpam, aku pun memilih masuk ke rumah dan mengecek berbagai perabotan yang ada. Memang benar ruang tamu terlihat kotor seperti ada jejak seseorang, tapi anehnya, aku merasa baik-baik saja, tidak deg-degan ataupun tegang. Setelah mengucapkan terimakasih kepada pak Satpam, aku mulai memeriksa lebih teliti lagi, seorang teman yang punya kunci cadangan rumah kami pun kutanyai. Anehnya, tidak ada yang hilang satupun, dan pintu rumahku dalam keadaan terkunci. Hhmmm… Sebuah misteri yang menegangkan.

Setelah berpikir dan menimbang beberapa hal, mengingat malam ini aku harus pergi ke Pangandaran dengan anak-anak KECE, kuputuskan untuk meminta tolong seorang teman membelikan beberapa grendel dan gembok. Waktunya nukang.

Saat ini, rumahku memiliki kunci 3 lapis (gilz, udah kayak rumah pejabat aja), yang membuatku super duper repot saat keluar rumah. Huhuuu. Tapi gapapa lah ya, demi keamanan, sebelum malam ini kutinggal ke Pangandaran….

Bismillah.

October Journey (4)

2 Oktober 2017 – Perjalanan Panjang

16.25 WIB

Kami berangkat menuju ke kediaman Eyang Bambang Ismawan di Bogor, jika sesuai dengan google map, maka kami hanya membutuhkan 30 menit untuk menuju kesana. Karena Eyang Bambang baru ada di rumah setelah jam 17.00, should be having enought time lah ya kita.

Namun, mobil grab yang kami tumpangi memilih jalan-jalan kecil yang katanya-lebih–cepat-sampai-dan-menghindari-macet, tapi kok ya daritadi kayaknya never ending journey gitu ya. Hmm…

17.01 WIB

Duh kok di google map daritadi tulisannya 36 menit lagi akan sampai ya. Ini google mapnya yang eror, mas grabnya yang salah jalan, apa sayanya yang ga paham-paham ya. Kulihat Elan dan Ara yang masih tertidur lelap, berharap mereka bangun dan merasakan kepanikan yang sama.

Well, seharusnya kami sudah sampai disana, lagipula janjian ketemuannya jam 17.00! huff… tarik nafas, lepaskan… tarik nafas, lepaskan….all is well….

17.38 WIB

Tetiba mas grabnya bingung karena nggak nyampe-nyampe ke lokasi tujuan. Kamipun sudah panik, seharusnya tidak memakan waktu selama ini, apa bener ini jalannya?

Buka google map, ada sedikit perubahan, yang tadinya 36 menit, menjadi 22 menit lagi. But still, it’s not helping! Because we are already late. Moreover, mas-mas grabnya malah marah ke kita, bilang-bilang harusnya udah nyampe, ini jalannya kemana, dsb. Lah? Sampeyan sehat? Kudunya kita yang marah, bukan sampeyan.

Tarik napas, istighfar, tahan… Jangan marah-marah. Laa taghdab walakal jannah.

18.05 WIB

Sampai juga akhirnya kami di kediaman Eyang Bambang, gerbang besar yang terlihat gelap dari luar tersebut terbuka, menyambut kami untuk memasuki pekarangan yang sangat luas dan rimbun. Pekarangan Eyang Bambang selalu mengingatkanku pada kampung halaman Yangti di Ngawi, penuh dengan pepohonan yang besar menaungi bagai atap dari terik matahari dan derasnya hujan. Kerikil yang tersebar di seluruh pekarangan menjadi solusi di kala hujan, sekaligus alat refleksi di pagi atau sore hari.

Tak berapa lama kemudian, muncullah sesosok lelaki lanjut usia yang sangat karismatik, jalannya masih tegap, menunjukkan semangatnya yang tak kalah dengan usia. Beliau adalah alasan mengapa kami datang mengunjungi rumah ini, Eyang Bambang yang selalu penuh dengan cerita mengenai perjuangan beliau menegakkan hak-hak rakyat kecil.

Suara beliau yang ramah dan tegas menyapa kami semua, mempersilahkan untuk duduk di kursi teras sembari mengobrol bertukar sapa dan kabar. Melalui beliau kami belajar bahwa “untuk bisa memberi, kita harus kaya. Kaya dalam berbagai hal, bukan hanya mengenai harta. Kalau harta ya jelas saya kalah dari Silvi (eyang Mami, istri eyang Bambang), saya nggak punya apa-apa. Tapi setiap ada orang yang membutuhkan bantuan, saya selalu bisa refer mereka ke orang yang saya kenal, karena saya kaya network.”

“Saya ini generalis,” kata beliau, “i know a little about many things, till I know nothing about all of that.”

“Kebalikannya adalah spesialis,” tambah Eyang, “those who knows a lot about one thing, till they know a lot about nothing. Hahahhaha.”

Selalu menyenangkan mendengar dongeng dari Eyang, banyak hal yang bisa kami dapatkan dari beliau. Bertemu dan berbicang dengan beliau menghapus kepanikan serta kekesalan kami sepanjang perjalanan. It’s really worth it after all.

There are still a lot of things we have to learn from you Eyang, we wish you to have a long and wonderful life ahead.

3 Oktober 2017 – Perjuangan

08.00 WIB

Kami bertiga memanggil mobil online untuk menuju ke stasiun Depok Lama, hari ini kami akan bertemu abah Rama, founder dari Talents Mapping (TM) di daerah Tebet. Jika lancar, perkiraan kami sampai disana sekitar jam 10.00-an.

08.30 WIB

Entah mengapa, jalan menuju ke stasiun sangat macet hari ini, padahal di hari lain biasanya sudah lowong jam-jam segini. Huft. Awal perjalanan yang sudah bikin kami gagal sampai di tempat bertemu tepat waktu, masih ditambah dengan rel kereta yang anjlok di Manggarai, membuat kereta berhenti sekitar 20 menit di setiap stasiun. Suasana panik dan banyaknya penumpang kereta membuat gerbong kami jadi sangat pengap.

Untunglah abah bilang beliau sedang tidak ada jadwal untuk hari ini, sehingga tetap menunggu jam berapapun kami sampainya. Aku hanya membayangkan kalau ada dari salah satu penumpang di KRL ini yang harus mengejar kereta jarak jauh via Gambir, bagaimana perasaannya saat ini. Ah tentunya dia akan panik sekali.

11.30 WIB

Akhirnya sampai juga di Tebet, langsung saja kami memesan mobil online lagi, suasana stasiun tidak kalah ricuhnya dengan di dalam kereta. Para penumpang yang gerah menunggu di dalam memutuskan untuk duduk-duduk di luar, memenuhi lorong stasiun. Ah… Jakarta… Jakarta…

12.00 WIB

Ketika masih di dekat stasiun jalanan super duper macet, namun semakin jauh mendekati tujuan, jalanan menjadi semakin longgar. Akhirnya, kami sampai juga di kantor abah, disambut dengan hujan yang tak bisa turun dengan santai. Kantor abah yang baru merupakan sebuah ruko tiga lantai, tidak luas namun nyaman, homie banget, saking homie-nya, begitu memasuki ruangan kami langsung disuguhi sayur bening dan gorengan buat makan siang. Seru banget deh.

Setelah saling bertukar kabar dan bercerita kesana kemari mengenai berbagai hal yang terjadi di Indonesia, terutama mengenai anak-anak muda zaman now.

13.00 WIB

Karena aku harus mengejar kereta ke Bandung jam 15.30, meski di google map tertulis hanya 30 menit dari kantor abah menuju stasiun gambir, namun kami memutuskan untuk pamit sekarang, mengingat kemacetan di luar schedule yang terjadi berkali-kali hari ini.

15.00 WIB

Tuh kan… Bener…. kami hanya tinggal 1km dari lokasi, tapi macetnya luar biasa paraaaaah. Bener-bener mandek ga jalan, kalaupun jalan sedikit-sedikit banget. Huft. Tarik napas…. Keluarkan…. Tarik Napas…. Keluarkan…. Everything’s gonna be fine.

15.15 WIB

Alhamdulillah, akhirnya nyampe juga di stasiun, langsung aja aku lari-lari menuju kereta. Kali kedua nih naik kereta dari gambir baru nyampe 15 menit sebelum keberangkatan. Ingin nangis rasanya…. Huhu… Luar bi(n)asa.

18.30 WIB

Lagi-lagi sampai di tempat tujuan disambut dengan hujan yang sangat deras. Berkali-kali mencoba untuk pesen go-blu*bird namun gagal, akhirnya aku pun memutuskan untuk pesen melalui layanan call center blu*bird. Sayangnya, aku tidak mendapatkan jawaban yang pasti dari mas-mas call center. Duh, gini-gini amat idup, mas-mas call center aja ga mampu ngasih kepastian :’ #plak

Iseng-iseng aku menuju lobby stasiun dan melihat kalau-kalau ada taksi kosong yang bisa aku pesan. Pas sampai di depan lobby, saat itu juga ada taxi yang baru menurunkan penumpang, langsung aja aku masuk. Lucunya, saat menyebutkan lokasi tujuan, mas supirnya bengong, terus bilang “lah, barusan saya jemput dari sana mbak, balik  lagi ke tujuan awal ya saya.”

HAHAHA. Hidup ini penuh dengan kejutan. Pengalaman hari ini mengajarkan saya untuk pintar-pintar menata hati, jangan terpaku  pada hal-hal negatif, namun pada apa yang harus dilakukan ketika bertubi-tubi hal yang tidak disukai datang. Stay positive and keep smile!