Cermin

Kenapa kamu menangis?

Apakah kamu bersedih? Sedetik yang lalu kulihat kau masih tertawa. Apakah tawa itu tulus? Ataukah sebuah kamuflase?

Bagaimana aku bisa memahamimu? Apakah aku harus melindungimu? Ataukah aku harus membiarkanmu menyelesaikannya sendiri, sehingga sayapmu dapat terkembang dengan sempurna. Tidak lemah dan tak berguna.

Apa? Aku tidak bisa mendengar. Mereka bilang mereka tidak membutuhkanmu? Bukan? Lantas apa? Mendekatlah. Agar aku bisa mendengar dengan lebih jelas. Aku tidak bisa memahami kata-katamu jika kau jauh disana. Sini, mendekatlah. Biar ku dekap tubuh gemetarmu, agar hilang raut sedih dari wajahmu. Peluk aku, lepaskan tangismu. Berteriaklah jika kau merasa lega setelahnya. Aku disini untuk mendengarmu. Mendengar semua ceritamu yang tak mampu kau utarakan kepada orang lain.

Jangan takut. Aku akan selalu berada di sisimu. Wahai sosok di seberang cermin.

Advertisements

FAQ #4

Question:

“Dulu homeschoolingnya seperti apa, mbak?”

Answer:

Disclaimer dulu ya, saya dulu homeschooling hanya 2 tahun, setahun saat usia 8 tahun di kelas 4 dan ketika keluar dari pondok di kelas 1 SMP. Sisanya, saya menjalani home based education.

Meski hanya 2 tahun, saya cukup mengalami turbulence yang sering dialami oleh mereka yang baru menjalani homeschooling. Ketika SD, saya sangat senang dengan homeschooling, karena saya bisa belajar dimana saja dan kapan saja. Saya bisa belajar di atas pohon jambu, di tempat mandi bola, di ragunan, dan masih banyak lagi. Saya juga belajar langsung dengan cara praktek, sehingga saya tidak bosan.

Saat itu, saya tidak mengenal apa itu jadwal, dan apa saja yang harus saya pelajari di luar text book. Saya hanya mengikuti kegiatan yang sudah di desain oleh ibu saya. Celakanya, ketika saya menjalani homeschooling di SMP (kelas 5 dan 6 SD saya masuk kembali ke sekolah karena harus pindah ke Salatiga, dan saat itu homeschooling tidak diakui sebagai satuan pendidikan legal di Salatiga) ibu saya sudah tidak sanggup lagi mengajari saya dengan pelajaran yang semakin beragam, akhirnya saya mencari buku paket dan belajar sendiri.

Karena hanya memindahkan kurikulum sekolah ke rumah, akhirnya saya menjadi bosan dan jenuh. Saya lebih menikmati ikut ibu saya berkeliling Indonesia untuk seminar Jarimatika, dibanding di rumah dan belajar sendirian. Sudah begitu, bapak saya saat itu masih sangat galak, jadi kami sering berantem.

Setelah melihat metode homeschooling yang dijalani oleh adik saya, saya sadar bahwa saat itu saya salah. Seharusnya homeschooling bukanlah memindahkan kurikulum sekolah ke rumah, tapi lebih berfokus pada apa yang diinginkan anak, dijalankan dan dikaji lebih dalam sehingga menjadi projek yang terstruktur.

Seperti kurikulum 13 yang memiliki tema pembelajaran, homeschooling pun begitu.

Review Drama: Kill Me Heal Me

Ini super iseng sih, karena kalau lagi senggang suka nontonin drama korea, jadi sekalian aja nulis disini buat share tentang drakor yang udah ditonton, karna saya cukup picky juga.

So, here is the first one: Kill Me Heal Me!

Bercerita mengenai seorang lelaki yang memiliki 7 kepribadian, shin se gi yang preman abis, perry park yang kocak, yoo sub yang sering melakukan percobaan bunuh diri, nana, mr. X, cha do hyun, dan yang paling epic adalah Yoo na, which turns the main character into completely different person (my most favorite one hoho).

Meskipun bikin gregetan, tapi berbagai kepribadiannya itu super menghibur di tiap episodenya. Proses pelepasan satu per satu karakternya dengan memenuhi tujuan tiap-tiap karakter bikin film ini jadi ga ketebak dan yang paling kusuka adalah, endingnya yang asik abis. Ga kayak rata-rata drama korea.

I give 11/10!!!

Sekolah itu BUKAN Pengganti Orang Tua

Tidak jarang ditemui orang tua siswa yang menyalahkan sekolah akan ketidak mampuan anaknya atau perubahan yang terjadi pada anak tersebut. Menurut saya, fenomena ini super lucu, bahkan udah melebihi srimulat.

Anak merupakan tanggung jawab penuh orang tua dan sekolah merupakan support system untuk membantu orang tua dalam memberikan warna baru dalam hidup sang anak. Ibarat orang tua adalah penjahit, sekolah merupakan mesin jahitnya, atau bahkan hanya berupa gunting kainnya. Penjahit harus memilih mesin jahit dan guntingnya sendiri, agar menghasilkan produk yang sesuai dengan keinginan. Kalau hasilnya kurang memuaskan, coba dilihat lagi, jangan-jangan penjahitnya memilih mesin jahit yang tidak compatible, atau ternyata ada yang salah dengan teknik jahitnya.

Oh, dan jangan lupa, satu orang guru itu mengampu 20 orang murid minimal. Bisa mencapai 50 bahkan. Bandingkan dengan orang tua yang maksimal memiliki 5-10 anak (jaman sekarang ya, kalau jaman dulu bisa sampai 19 hohoho), kalau apple to apple jelas lebih unggul orang tua dong.

Maka, plis plis dan plissss banget. Jangan sampai anda melewatkan privilege yang sudah anda miliki tanpa perlu bersusah payah, privilege untuk mengasuh anak. Terutama di Indonesia, yang kalau orang tuanya masih fakir ilmu pun anaknya nggak ditarik negara. Bayangkan anda di Eropa, yang nggak mengajak anak jalan-jalan selama 1 x 24 jam saja bisa diperkarakan.

Jadilah orang tua yang profesional, not a baby that has a baby. Untuk sekolah juga jadilah support system keluarga yang profesional, bukan mesin penghancur masa depan anak. Jangan berjuang sendiri, berat. Mending bareng-bareng.

Tertanda,

Murid yang sekarang menjadi guru.

KTP Hilang

Kemarin aku akhirnya mengambil KTP yang baru diurus di kecamatan! Bahagia pisan akhirnya bisa punya KTP lagi setelah sempat hilang sekitar sebulan. Nah, di kesempatan kali ini, aku mau sharing tentang apa saja hal yang harus dilakukan ketika KTP hilang.

Tarik nafas dan tetap tenang

Coba dicari dulu, siapa tahu ternyata keselip di tempat-tempat yang tidak terbayangkan. Kalau memang bener nggak ada, maka lanjut ke step berikutnya.

Minta surat keterangan kehilangan ke Polsek terdekat

Untuk mendapatkan surat ini caranya gampang banget, tinggal mendatangi Polsek di bagian kehilangan. Beritahukan estimasi lokasi dan waktu hilangnya KTP tersebut, bapak polisi akan membuatkan surat keterangan kehilangan yang sudah dicap, kita tinggal tanda tangan dan memeriksa detil mengenai KTP nya.

Oh ya, surat ini berlaku 14 hari ya.

Mengunjungi pak RT dan RW

Nah, kebetulan banget nih, aku belom pernah ketemu sama pak RT sama sekali, karena waktu pertama bikin KTP formulirnya yang dikirim ke rumah. Melalui musibah ini, akhirnya bisa kenalan dan silaturahmi dengan pak RT dan pak RW. Apalagi RT di tempatku itu bentuknya memanjang, jadi sulit untuk saling ketemu kalau memang nggak disempatkan.

Di tempat pak RT, kita akan mendapatkan satu formulir yang harus diisi dan ditandatangani oleh pak RT, RW dan Lurah. Perbaruan KK pun begitu, akan dapet formulirnya dari pak RT. Oh ya, karena KTP nya hilang, maka ada satu lembar lagi keterangan kehilangan dari kantor RT.

Membawa berkas ke Kelurahan

Di kelurahan ini, harus sudah komplit berkas-berkasnya:

  • Fotocopy Surat keterangan kehilangan dari Kepolisian (2 lbr)
  • Surat keterangan kehilangan dari Kepolisian yang asli (1 lbr)
  • Fotocopy akta kelahiran/ijazah (2 lbr)
  • Formulir permohonan pembuatan KTP
  • Pas foto 2×3 (3 lbr)
  • Fotocopy KK (2 lbr)
  • Materai (2-3 lbr)

Karena aku mau mengubah status dari mahasiswa jadi wiraswasta, jadi nggak pakai akta kelahiran, tapi fotocopy ijazah. Karena ini bukan pembuatan yang pertama kali, jadi pengurusan berkas ini bisa diwakilkan (jangan lupa pakai surat kuasa ya) jika pemohon berhalangan hadir.

Kalau nggak salah dari kelurahan dapet surat pernyataan lagi yang menyatakan bahwa kita akan mengembalikan KTP yang lama seandainya ditemukan.

Mengurus ke Kecamatan

Selesai cek berkas serta mendapatkan tanda tangan pak Lurah, selanjutnya tinggal memasukkan berkas ke Kecamatan. Karena sudah ada file e-ktp sebelumnya, maka tidak perlu lagi ada sesi foto. Pembuatan bisa lebih cepat. Sekitar 2 minggu kemudian, KTP sudah bisa diambil.

Semua proses ini tidak ada yang dikenai biaya ya man teman, jadi jangan sampai tertypu oleh calo-calo di luar sana. Sekian sharing dari saya, semoga bermanfaat.

 

 

Komunikasi Produktif (1)

Sebetulnya beberapa hari terakhir ini tidak pernah ada masalah antar anggota di keluarga kami, rasanya komunikasi kami jadi membaik dibandingkan dulu awal-awal sebelum saya merantau. Iseng-iseng saya mulai melakukan pengamatan mengenai hal-hal yang berubah di dalam keluarga, biar makin yakin kalau memang komunikasinya yang membaik, bukan kami yang menghindar dari masalah.

Kalau dilihat-lihat intonasi bicara ketika kami bercakap-cakap makin riang dan nggak banyak ngajak gelut. Saya rasa ini adalah bagian terpenting, dibandingkan dengan pemilihan diksi dalam berbicara. Intonasi yang menyenangkan akan mengundang kebahagiaan dari orang lain, sebaliknya, meski kata-kata yang digunakan baik, intonasi yang tidak enak bisa membuat segalanya jadi runyam. Mm… pantes aja ya kalau ngobrol via chat sering miskom, intonasinya kan ga kedengeran.

Tapi selain intonasi, raut wajah ketika ngobrol juga penting. Apalagi bapak adalah orang paling sarkas sejagad raya, kalau raut wajahnya mencurigakan, intonasi yang menyenangkan tadi jadi dipenuhi tanda tanya. Saya pun begitu, seringkali nggak bisa kontrol raut wajah, apalagi kalau ditanyain masalah kerjaan. Maklum ya, punya orang tua sekaligus atasan itu kan double degree sesuatunya (mereka yang ngelanjutin usaha keluarga itu…. TANGGUH), ngobrol santai aja bisa berujung ribut. Yang satu merasa diserang, yang satu lagi merasa “lah kan gue cuman nanya,” atau “lah gue kan cuman cerita.”

IMG_20170519_113418
Ini adalah contoh raut muka ngajak ribut + patut dicurigai

Makanya, setiap aspek saat ngobrol jadi penting, apalagi kalau ngebahas hal yang serius (terutama NIKAH! Huft).

Yang saya rasakan beberapa hari ini, pemosisian peran serta penataan hati itu penting banget sebelum ngobrol. Yang biasanya saya lakuin selama ini ya set mood dulu, apalagi kalau pembahasannya serius. Kudu legawa. Kalau udah set mood, baru deh masukin peran + pembawaannya. Misal, hari ini jadi anak kecil: ceria, murah senyum, fun, ceplas ceplos. Atau, hari ini jadi ketua yayasan: serius, cerdas, pembawaannya tegas.

Boleh dong di share, apa hal-hal yang dilakukan oleh teman-teman, terutama buat yang punya intonasi suara tinggi dan default muka ngajak berantem seperti saya, huhuuu.

 

Komunikasi Produktif (0)

Assalamu’alaikum semuanya~

Lama tak melihat postinganku mengenai Ibu Profesional ya, itu semua dikarenakan sebuah kesibukan dan ke-skip-an saya untuk daftar lagi dari cuti Bunda Sayang yang tertunda. Ah sudahlah.

Eniwei, saya kembali lagi ketika keadaan sudah damai dan tenang (entah kenapa saya selalu skip tahap awal di IIP. Sungguh anak founder yang kurang teladan :’ mungkin tugas saya memang melanjutkan di yang kedua dan seterusnya ya #acie). Seperti yang sebelumnya (dan tidak pernah saya kerjakan di Bunsay 1), kelas pertama Bunsay mengenalkan mengenai Komunikasi Produktif, bagaimana kita harus menyamakan FOR (frame of reference) dan FOE (frame of experience) kita dan pasangan lawan bicara (duh ga usah ngaku-ngaku pasangan deh, mblo).

Hal ini penting banget karena kita sebagai pihak yang mengkomunikasikan mempunyai kewajiban dan kepentingan untuk memastikan apa yang kita komunikasikan mampu tersalur dengan benar. Karena, apa yang diterima oleh orang yang mendengarkan merupakan tanggung jawab mereka yang mengkomunikasikan sepenuhnya, jadi jangan gampang menyalahkan lawan bicara ya, rubah cara komunikasimu! (mengutip dari tulisan Profesor Doktor Bunda Agung Septi Peni Wulandani, Guru Besar Institut Ibu Profesional).

Di tantangan pertama kali ini, saya disuruh untuk memilih satu anggota keluarga yang mau ditingkatkan lagi pola komunikasinya, dan saya memilih…. eng ing eng.. setelah pariwara yang berikut ini #digaplokpembaca.

Oke, back to topic, saya memilih Bapak untuk menjadi partner tantangan saya kali ini. Alasannya super simpel, karena beliau adalah teman berantem saya sejak jaman orde baru sampe millenial (berapa periode coba kami lalui bersama. Unch). Jarang sekali kami berdiskusi hal serius tanpa adu urat, selalu saja ada bahan untuk kami permasalahkan bersama, dan ujung-ujungnya komunikasi kedua belah pihak tidak tersalur dengan baik.

Well, kami berdua sama-sama keras kepala dan gengsinya tinggi, jadi susah untuk menurunkan ego masing-masing dan mencoba untuk saling mengerti. Maka, di hari ini, saya mencoba mengerti apa yang menjadi FOR dan FOE bapak (bohong banget! seharian kamu di luar rumah Nes) saya berkomunikasi dengan bapak seperti biasa, kami mengobrol sembari perjalanan menuju ke Lebah Putih, banyak membicarakan Ara dan tidak membicarakan saya (pengalih isu).

Oke. Aku mau pengakuan dosa aja deh. Hari ini saya belum membuat improvement apa-apa dengan bapak, masih seperti biasa, hanya tidak ada hal yang membuat kami bersitegang saja. Besok karena akan berada seharian di rumah, saya berjanji akan berkomunikasi lebih baik lagi dengan bapak, mencoba memahami FOR dan FOE bapak, agar ada FOR dan FOE kita.

Terimakasih Ibu Profesional, yang telah menyatukan lagi aku dan bapakku (jiga program tali kasih wkwkwk).

IMG_20170518_140728

Gambar 1. Bapak mencoba mendinginkan kepalanya menggunakan keranjang buah. Sepertinya efektif, boleh dicoba manteman.