Cerdas Finansial #6

Untuk bisa merumuskan Wealth dan Pengeluaran itu meski tidak terlalu susah, tapi tidak bisa dikatakan gampang. Apalagi menentukan kategorinya.

Karna kami berdua sama-sama suka analisa, jadi seluruh kategori itu dimunculkan untuk keperluan analisa nanti. Misal, kita pengen ngeliat, sebenernya kita lebih banyak pengeluaran di kebutuhan atau keinginan, maka kita pisahkan lagi kategori-kategorinya.

Ada juga kategori lain, yaitu regular atau irregular. Apakah pengeluaran ini biasa dilakukan, atau jarang banget nih. Misal, kebutuhan mudik, itu kan setahun sekali. Jadi masuknya irregular.

Setelah ini kita masuk di bagian paling seru!

Advertisements

Cerdas Finansial #5

Awalnya makan dan jajan kami jadikan satu dalam food. Namun, seiring berjalannya waktu, kami merasa ini tidak sesuai dengan prinsip finansial untuk mengutamakan kebutuhan di atas keinginan. Sehingga, makan itu adalah kebutuhan, sedangkan jajan adalah keinginan. Agak tricky sih membedakannya, harus dilihat, apakah kalau kita tidak beli itu, maka tidak apa-apa? Atau memang ia masuk ke dalam kategori harus ada demi kesehatan perut?

Untuk transport tidak ada yang berbeda, seperti biasa saja.

Fashion ini kami anggarkan tidak terlalu banyak, dan modelnya “budget setahun segini” boleh langsung dibeli di satu waktu, boleh murah-murah tapi bermacam-macam. BEBASSS.

Home and tools itu peralatan rumah tangga, seperti ember, obeng, dkk. Asumsinya, semua yang hanya dibeli 1x dan baru beli lagi ketika sudah rusak.

Clean ya semua yang berhubungan dengan kebersihan. Baik itu alat-alat kebersihan hingga jasa bebersih.

Health ini mencakup obat, biaya perawatan hingga upaya untuk menjaga kesehatan. Seperti saya mengambil kelas yoga hehehe.

Phone itu kebutuhan pulsa dan internet. Meanwhile tech itu kebutuhan mas Pandu sebagai anak IT.

Social adalah uang yang kita keluarkan untuk bersosialisasi, seperti mentraktir teman, menyumbang, memberikan pinjaman, dsb.

Family uang yang kita berikan kepada keluarga, baik berupa uang maupun hadiah.

Supplies adalah sesuatu yang bisa habis dan perlu diisi ulang, tapi itu-itu aja barangnya, seperti gas, air galon, dsb.

Work and school itu peralatan yang dibutuhkan untuk menunjang pekerjaan dan sekolah, seperti pulpen.

Administration diperuntukkan bagi biaya-biaya administrasi bank, ataupun membership-membership lainnya.

Personal dev di anggarkan karena tagline keluarga kami adalah: Belajar, Berkarya, Berbagi.

Fun is for our leisure.

ZIS seperti biasa ya, zakat infaq shodaqoh. Eh temen-temen udah tahu perbedaannya kan? Nanti lah kita bahas juga.

Perbedaan antara unexpected, untracked dan others adalah: unexpected itu yang tidak terduga (so far belum ada sih), mungkin seperti harus membayar sesuatu dalam jumlah besar saat ini juga! Kalau untracked itu adalah selisih dari catatan dan realita. Sedangkan others adalah sesuatu yang tidak bisa dimasukkan ke dalam salah satu kategori yang bejibun itu hahaha.

Waste adalah sesuatu yang tidak seharusnya terjadi: makanan basi, tiket hangus, dsb.

Angsuran jika ada cicilan yang harus dimasukkan.

Cukup banyak yaaa… Kategori selain pengeluaran juga ada banyak wkwk. Seperti ketika ada perpindahan dari akun bank ke online wallet, itu ada. Cashback pun kita hitung.

Cerdas Finansial #4

Setelah mengetahui jumlah persebaraan kekayaan kami (hahaha udah kayak kekayaan Negara ga sih, millenial banget), akhirnya kami masuk ke pencatatan keuangan yang sudah kami lakukan selama sebulan. Alhamdulillah sekarang di warung-warung kecil pun menerima pembayaran menggunakan online money, sehingga pencatatan kami pasti nyaris tidak berselisih. Adapun selisih hanya berkisar di 10.000 an, which is tollerable.

Pengeluaran kami bagi menjadi beberapa kategori: makan, jajan, transport, fashion, home and tools, clean, health, phone, tech, social, family, supplies, work and school, administration, personal development, fun, ZIS, unexpected, waste, utilities, untracked, angsuran, dan others.

Mari saya jelaskan satu per satu…

Cerdas Finansial #3

Budgeting dimulai dengan menjabarkan seluruh kekayaan yang kami punya. Disana kami membagi menjadi: cash, bank (terbagi lagi ke dalam akun-akun bank), online wallet (seluruh online wallet yang kami punya), investasi, dan tabungan cash (kami commit untuk menabung seluruh 20.000 an yang kami punya hehehe, nanti dibahas ya).

Dari sini, kami jadi tahu, sebetulnya kita perlu mengurangi pengeluaran, atau bisa menambah pemasukkan? Sudah bisa investasi kah? Bagaimana dengan dana darurat?

Kemudian kita masuk ke hal yang lebih detail…

Cerdas Finansial #2

Karena mendekati hari H semakin sensitiflah orang-orang, maka kami bersepakat untuk tidak membahas mengenai ini sampai setelah menikah. Setelah menikah pun kami berencana untuk membuat budgeting di akhir bulan ke-2.

Mencari titik tengah, mencoba menggabungkan caraku dengan cara mas Pandu.

Akhirnya, selama sebulan kami hanya rajin mencatat saja. Mas Pandu yang memang senang utak-utik excel sampai hafal semua rumus-rumusnya, membuatkan platform untuk kami bisa mencatat dengan bahagia.

Semua happy ending, dan ketika sudah harus waktunya budgeting, kami pun bisa melakukan dengan bahagia….

Cerdas Finansial #1

Dahulu kala, sebelum menikah, finansial merupakan bahasan pemicu berantem. Bukan, bukan karena adanya kekurangan, melainkan karena cara menyusun pencatatan yang berbeda antara aku dengan mas pandu.

Mas Pandu ingin akuĀ mengandaikan jika nanti di Bandung, maka akan pergi kemana saja? Akan bekerja di area mana saja? Dsb. Menurut mas Pandu, dengan cara itu, kita bisa mencapai bottom up, budget yang sesuai dengan kebutuhan, bukan keinginan.

Tapi bagi saya, astaghfirullahal’adzim ya, susahnya setengah mati. Karena saya paling tidak bisa mengandai-andai, dan posisi saya masih di Salatiga, dengan kegiatan yang tidak tetap di Bandung. Saya tidak akan secara rutin pergi ke satu wilayah, bisa saja hari ini berdiam diri di rumah, esoknya jalan-jalan. Jadi saya tidak sanggup untuk menuliskan budgeting sesuai dengan yang mas Pandu mau, karena saya tahu, hasilnya pasti akan sangat jauh dari realita, dan akan menjadi pemicu pertengkaran berikutnya: kenapa gede banget kebutuhannya?

Selama ini, saya selalu memakai cara yang sama: jalani dulu selama sebulan, yang penting dicatat, dari situ baru diotak atik.

Akhirnya kami mencapai sebuah kesepakatan…..

Semua Anak adalah Bintang #10

Pada akhirnya, kita kembali pada judul segment kali ini, Semua Anak adalah Bintang. Tidak peduli berapa tua usiamu, pada akhirnya kita tetaplah seorang anak, setiap manusia unik, setiap manusia berhak bersinar pada bidangnya masing-masing, setiap manusia berhak bahagia.

Saya sangat merasakan, meski kita sudah menikah, tidak lantas mematikan “how we used to be”, namun memberi warna baru pada diri kita. Menjadikan kita dan pasangan kita menjadi dua insan yang unik dan saling memberi kebaikan.

Tetaplah menjadi bintang, dimanapun kita berada.