Sex Education #8 Penyimpangan Seksualitas

Penyimpangan seksualitas merupakan hal-hal di luar normal dan norma yang ada di masyarakat. Semisal ketika seseorang melakukan perilaku untuk mencapai orgasme di luar hubungan heteroseksual, dengan sesama jenis, partner yang belum dewasa, dsb.

Penyebabnya ada banyak sekali, seperti yang pernah saya kemukakan juga pada edisi sex education sebelumnya, salah satu penyebabnya adalah kesalahan pada pengasuhan. Ketidak mampuan orang tua untuk ikhlas menerima gender dari sang anak bisa menjadi malapetaka di kemudian hari. Seperti contohnya anak laki-laki yang sering dipakaikan baju perempuan, tidak diperbolehkan bermain yang kotor, dan hal-hal tidak wajar lainnya.

Penyebab lain yang datang dari diri sendiri merupakan pengalaman di masa lalu, bisa jadi karena mengalami kekerasan seksual atau melihat adegan seksual. Ketika seseorang sulit mengekspresikan perasaan dan memulai hubungan dengan orang lain juga bisa menyebabkan penyimpangan ini. Atau ketika ia mendapatkan aktivitas seksual yang menyenangkan berulang kali terhadap situasi atau objek tertentu.

Dari faktor biologis, ada 2 hal yang mempengaruhi: kelainan struktur dan kinerja otak, serta kadar hormon abnormal. Baik faktor biologis maupun psikologis, diperlukan pemeriksaan yang mendalam agar tidak salah diagnosa.

Dan, baik biologis maupun psikologis WAJIB hukumnya untuk ditangani oleh profesional, jangan pernah coba-coba sendiri. Saya pernah mendapat cerita mengenai seorang anak di suatu desa yang cukup terpelosok, ia menderita hyper-sexual, dan sebagai jalan menanganinya ia akhirnya mengajak beberapa laki-laki untuk melakukan kegiatan seksual. Ibu dan bapaknya yang merasa malu akhirnya mengambil jalan pintas untuk menyelesaikan masalah ini, dengan meminta anaknya untuk melakukan hubungan seksual dengan si bapak. Na’udzubillah.

Lagi-lagi untuk urusan ini, penting sekali bagi orang tua untuk sering berkegiatan bersama anak. Pakai rumus Ibu Profesional: Main Bareng, Ngobrol Bareng, Berkegiatan Bareng. Gunanya untuk deteksi dini apabila ada ketidak wajaran yang terjadi pada anak. Serta menciptakan rasa nyaman dalam rumah.

Sumber: Presentasi kelompok 8 Bunda Sayang Pranikah #4

Sex Education #7 Menjaga Diri dari Kejatahatan Seksual

Kejahatan seksual terhadap anak menurut UU No 35 Tahun 2014, merupakan setiap perbuatan terhadap anak yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, psikis, seksual dan/atau penelantaran, termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum.

1 dari 5 anak perempuan dan 1 dari 13 anak laki-laki melaporkan pernah mengalami kekerasan seksual saat usia anak/remaja (WHO 2016)

Penyebab dari kejahatan seksual ada bermacam-macam, beberapa di antaranya adalah:

  1. Ada anak yang berpotensi menjadi korban
  2. Ada anak atau orang dewasa yang berpotensi menjadi pelaku kekerasan
  3. Adanya peluang kekerasan
  4. Ada pencetus dari korban dan pelaku

Jadi ingat bang Napi nggak sih dengan slogannya, “kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat dari pelakunya, tapi karena ada kesempatan. Waspadalah! Waspadalah!”

Itu juga yang harus kita waspadai, kalau orang tua saya pasti selalu melihat letak kamar mandi dari suatu sekolah. Karena kamar mandi yang terpencil, kotor dan kumuh biasanya menjadi sarang terjadinya kejahatan. Udah berapa banyak coba bully dan kekerasan seksual dilakukan di kamar mandi. Jadi buibu, pilihlah sekolah yang kamar mandinya di depan, bersih dan terang benderang.

Orang tua juga perlu untuk melakukan beberapa hal untuk mencegah kejahatan seksual terjadi pada putra putri kita. Salah satunya dengan membangun kedekatan dengan anak, selain agar anak terbuka dengan kita (sehingga jika terjadi sesuatu bisa diselesaikan), kedekatan dengan orang tua juga mengurangi keinginan anak untuk mencari-cari sosok “orang tua” lain yang bisa saja diberikan oleh pelaku.

Jadilah sosok orang tua yang hangat, terbuka dan tegas, sehingga anak bisa melihat role model yang baik dalam sosok orang tuanya. Kenalkan anggota tubuh mana saja yang boleh disentuh dan tidak boleh disentuh. Pada anak usia dini, perkenalkan perbedaan laki-laki dan perempuan. Pada usia remaja, perkenalkan aktivitas sexual secara ilmiah dan bagaimana kaitannya dengan agama, bahwa aktivitas itu hanya bisa dilakukan oleh orang yang sudah menikah.

Sumber: Presentasi kelompok 7 Bunda Sayang Pranikah #4

 

Sex Education #6 Pengaruh Media Digital

Pernah merasa ngeri nggak sih dengan kemudahan untuk masuk yang diberikan oleh media sosial. Anak-anak SD, SMP udah punya akun, bahkan beberapa ibu bikinin akun buat anaknya yang baru lahir.

Media sosial atau secara luasnya menjadi media digital ini bagaikan sebuah alat yang bisa kita gunakan untuk meraih tujuan kita atau justru memberdaya kita apabila kita tidak pandai mengelolanya.

Jadi, sebetulnya apa sih media digital itu?

Media digital adalah media yang kontennya berbentuk gabungan data, teks, suara dan berbagai jenis gambar yang disimpan dalam format digital dan disebarluaskan melalui jaringan berbasis kabel optic broadband, satelit, dan sistem gelombang mikro – Flew 2008

Pada koridor sex education, apabila media digital digunakan dengan tepat, media ini dapat menjadi media informasi dan pendidikan dalam memberikan pengetahuan mengenai organ secara biologis dengan pengawasan orang tua. Selain itu membantu orang tua untuk lebih sadar akan bahaya penyimpangan gender dan seksualitas dengan adanya berita yang terjadi di lingkungan sekitar.

Sehingga nih, para ibu millenial yang merupakan gabungan antara kejadulan dan teknologi ini bisa update dengan berita-berita yang terkini. Jadi, jangan dipakai hanya untuk eksis saja ya buibu. Karena, kerugian yang mengintai pada media digital seputar sex education pun banyak. Misal, anak terpapar pornografi. Jangankan anak kita yang udah melek banget dengan dunia digital, di SMP saya saja pernah tuh nobar video porno pas jam kosong. Ngeri banget kan.

Selain itu, media digital juga bisa meningkatkan peluang terjadinya kejahatan seksual, tonton deh video documentary tentang anak-anak yang meninggal karena termakan buaian kenalannya di media sosial, atau disuruh ngerekam ini itu dan sebagainya. Dan yang lagi hype akhir-akhir ini adalah mengalami kebingungan gender atau seks karena pengaruh budaya yang ditampilkan melalui hiburan seperti film atau musik.

Seorang teman saya yang lama tinggal di Amerika mengatakan, salah satu issue yang sering dibicarakan disana bahwa sudah sangat jarang lelaki yang “laki” di Amerika. Udah mah lelaki jumlahnya makin susut kan, eh sekarang lelaki yang beneran laki susut lagi. Yassalam.

Itulah mengapa sex education dan etika berselancar di dunia digital harus lah diajarkan pada anak sedari kecil, karena menurut penelitian, jika seorang anak terpapar pornografi hingga menjadi kecanduan, efeknya lebih parah dibandingkan anak tersebut terpapar narkoba. Na’udzubillah.

Eits, tapi jangan ngeri dulu, ingat tadi di awal, bahwa media digital hanyalah alat. Mau menjadikannya seperti apa sepenuhnya ada pada kita pilihannya. Maka dari itu, sebagai orang tua kita harus bijak mempertimbangkan waktu terbaik untuk memberikan gadget pada anak sesuai dengan usia perkembangannya. Sering lihat anak yang belum bisa ngomong tapi udah fasih banget buka youtube?

Buat kesepakatan dengan anak dalam penggunaan gadget. Orang tua terlibat dalam kegiatan anak di media digital. Serta jaga agar komunikasi dengan anak tetap baik, sehingga apapun yang terjadi, hal-hal yang mau ditanyakan, anak akan nyaman bercerita dengan orang tuanya.

Sumber: presentasi kelompok 7 Bunsay Pranikah #4

Sex Education #5 Pentingnya Aqil dan Baligh secara Bersamaan

Akan ada suatu fase dimana ananda mencapai usia aqil baligh, untuk itu penting bagi ayah dan bunda untuk mengetahui tentang kedua istilah tersebut. Aqil adalah matang secara psikologis atau secara bahasa diartikan sebagai berakal. Aqil dapat dikatakan memiliki kecakapan berpikir yang matang berdasarkan acuan shahih dalam agama. Sedangkan baligh merupakan fase matang secara fisik atau secara bahasa diartikan sebagai “sampai”. Sedangkan secara syara’, baligh artinya adalah seseorang telah sampai pada masa pemberian beban hukum syariat atau taklif.

Baligh pada anak perempuan ditandai dengan haid sedangkan pada anak laki-laki ditandai dengan mimpi basah. Namun, baligh belum tentu aqil, seperti kita lihat bahwa di masa ini, ananda yang sudah haid maupun mimpi basah masih bersikap kekanak-kanakan, beberapa bahkan tidak mampu hidup jika tidak ditopang oleh orang tua.

Untuk itu, orang tua harus menyiapkan anak untuk mencapai aqil dan baligh secara bersamaan, salah satunya dengan cara belajar memimpin baik dirinya maupun orang lain. Selain itu, ia harus juga mempelajari tentang basic life skill, atau kemampuan bertahan hidup, dengan mengurus segala kemampuan mendasarnya sendiri. Mencari nafkah dan merawat makhluk hidup, baik laki-laki maupun perempuan harus memiliki dua kemampuan ini, dimana penitik beratannya yang berbeda. Bagi laki-laki harus ditekankan mengenai skill mencari nafkah serta untuk perempuan mengenai merawat makhluk hidup. Last but not least, latih ananda untuk fokus pada solusi, bukan masalah. Sehingga kelak ia akan menjadi insan yang bermanfaat bagi lingkungannya.

Sumber: presentasi kelompok 5 Bunda Sayang Pranikah batch 4

Sex Education #4 Peran Ayah

Sudah dijelaskan pada beberapa artikel sebelumnya bahwa kedua orang tua berperan penting dalam kesuksesan pendidikan seksualitas ananda. Nah, kali ini kita akan fokus pada peran-peran yang harus dijalani oleh ayah serta dampak pada anak yang ayahnya tidak hadir dalam keseharian mereka.

Ketika seorang ayah tidak hadir baik secara hati atau hingga secara fisik dalam kehidupan ananda, akan ada beberapa dampak yang mungkin dirasakan oleh ananda. Dampak-dampak tersebut antara lain: kemiskinan, karena ayah biasanya adalah tulang punggung keluarga; pernikahan dini untuk mencari sosok ayah atau karena efek domino dari kemiskinan; bullying, baik sebagai korban maupun pelaku; penyalah gunaan miras maupun narkoba; rentan masuk penjara; drop out; serta menjadi LGBT.

Perlu digaris bawahi bahwa hadir disini tidak hadir secara fisik, namun juga secara hati dan waktu. Dengan keberadaan seorang ayah, anak jadi mengerti bagaimana seseorang dengan peran pemimpin keluarga bersikap di rumah. Hadirkan sosok anda yang tegas dan juga lembut dalam satu waktu. Ajarkan pada anak bahwa laki-laki juga bisa melakukan pekerjaan rumah tangga dan bagaimana anda berbagi peran dengan istri anda.

Bagaimana jika ayah betul-betul tidak bisa hadir karena kematian, cerai, maupun pekerjaan yang mengharuskan ayah tidak hadir dalam waktu yang lama. Maka, tugas bunda untuk menghadirkan sosok ayah melalui cerita-cerita bunda mengenai ayah atau jika ada video-video tentang ayah yang bunda miliki. Seperti dalam cerita Sabtu bersama Bapak. Jika ayah hanya terpisah jarak, maka hadirkan melalui berbagai teknologi yang ada. Selain itu, bunda juga bisa mendekatkan ananda dengan sosok ayah pada pamannya, kakeknya atau kerabat lainnya yang bunda nilai memiliki karakter ayah yang baik.

Sumber: presentasi kelompok 4 Bunda Sayang Pranikah batch 4

Sex Education #3 Peran Orang Tua

Di postingan sebelumnya kita sudah mengetahui tahapan-tahapan dari pendidikan fitrah seksualitas sesuai dengan umurnya masing-masing. Nah kali ini, coba kita bedah lebih dalam, apa sih yang harus dilakukan oleh orang tua dalam membersamai anak pada tahapan-tahapan tersebut.

Masih disadur dari web http://www.ibuprofesional.com, di usia 0-2 tahun, ketika anak dekat dengan ibunya, maka ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh sang ibu. Ibu dapat menumbuhkan rasa malu pada anak dengan tidak mengumbar aurat anak sembarangan, biasanya kan mentang-mentang anaknya masih kecil ketika mau ganti baju, pipis/mengganti popok, mandi, dsb nyaman aja dilakukan di publik. Padahal, ketika anak masih kecil, bukan berarti ia tidak merekam berbagai hal yang terjadi di sekitarnya. Untuk itu, kita perlu berhati-hati dalam menjaga kehormatan ananda. Termasuk dengan tidak melakukan hubungan seksual di depan ananda.

Tahapan berikut, di usia 3-6 tahun, kenalkan pada ananda dengan organ tubuhnya melalui istilah yang benar. Sebutkan penis dan vagina, bukan istilah lain seperti burung, dsb. Di usia ini, anak perlu mengetahui bagian-bagian mana yang boleh dan tidak boleh disentuk oleh orang lain, serta batas-batas aurat masing-masing gender. Ayah dan bunda juga bisa memberikan pakaian/aksesoris sesuai dengan gender ananda. Saya pernah melihat salah satu video seorang homoseksual yang bercerita bahwa ia menjadi seperti itu karena sering dipakaikan baju perempuan (ia laki-laki) oleh ibunya dan tidak diijinkan untuk bermain kotor-kotoran.

7-10 tahun, ananda sudah bersiap untuk memasuki fase pubertas, maka dari itu perlu dikenalkan dengan fungsi organ seksualnya. Pisahkan tempat tidur anak perempuan dengan lelaki, selain itu, jika masih tidur satu kamar dengan orang tua, di usia ini lah anak harus mulai tidur sendiri. Maskulinitas dan femininitas dikuatkan di fase ini.

Bagi beberapa anak, usia 10-14 tahun sudah mengalami haid/mimpi basah, terutama perempuan. Untuk itu, harus semakin dikuatkan mengenai pengertian siapa saja mahram dari sang anak, tekankan juga bahwa ia harus mulai menutup aurat dari mereka yang bukan mahramnya serta menjaga pandangan. Ibu mulai sering mengajak anak laki-laki bercerita untuk memahami lawan jenisnya, begitu pula dengan ayah dan anak perempuannya.

Sumber: rangkuman presentasi kelompok 3 Bunda Sayang Pranikah batch 4

Sex Education #2 Fitrah Seksualitas

Setelah mengetahui perbedaan gender dan perkembangannya di jaman sekarang, sekarang mari kita masuk ke dalam fitrah seksualitas. Fitrah seksualitas sendiri adalah tentang bagaimana seseorang berfikir, merasa dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai lelaki atau perempuan sejati (Harry Santosa, 2017).

Pasti pernah mendengar bahwa seorang anak terlahir suci bagaikan selembar kertas kosong, orang tuanya lah yang membuat ia menjadi Muslim, Kristen, dsb. Sama dengan fitrah seksualitas, seorang anak lahir tentu membawa bakat-bakat dalam dirinya yang akan menjadi bekal bagi dirinya untuk menjalankan perannya. Menurut Abu Salma, ketika seorang anak mengetahui fitrah seksualitasnya, maka ia akan mengetahui tentang identitas seksualnya, mengenali peran seksualitasnya dan mampu menempatkan dirinya sesuai peran tersebut serta mampu melindungi diri dari kejahatan seksual.

Lantas, bagaimana cara mengajarkan mengenai fitrah seksualitas pada ananda? Berikut tahapannya disadur dari website http://www.ibuprofesional.com:

0-2 tahun dekatkan anak dengan ibunya melalui ASI. Ini mengapa penting untuk seorang ibu nenenin langsung anaknya, karena disitu akan terbangun kedekatan.

3-6 tahun dekatkan dengan kedua orang tua, sehingga anak bisa belajar dari interaksi bapak dan ibunya.

7-10 tahun dekatkan sesuai gender, anak perempuan dengan ibu dan anak laki-laki dengan ayah. Di usia ini, ananda sudah mulai melihat perbedaan gendernya, maka penting untuknya mengetahui bagaimana ia harus berperan dalam masyarakat dengan baik.

11-14 tahun dekatkan lintas gender, anak perempuan dengan ayahnya dan anak laki-laki dengan ibunya. Hal ini dikarenakan ananda sudah mulai memiliki ketertarikan pada lawan jenis di usia ini. Sangat baik bagi orang tua untuk memenuhi kebutuhan ananda sekaligus mengenalkan bagaimana masing-masing gender memberlakukan lawan jenisnya.

Di atas 15 tahun anak sudah memahami perannya dan dapat melakukan perannya dengan baik.

Melalui tahapan-tahapan di atas, kita bisa melihat pentingnya kedua orang tua untuk hadir dalam tumbuh kembang ananda, ayah berperan memberikan suplai maskulinitas dan ibu berperan memberikan suplai femininitas. Idealnya, seorang anak laki-laki mendapatkan 75% suplai maskulinitas dan 25% suplai femininitas. Sedangkan perempuan sebaliknya, 75% femininitas dan 25% maskulinitas.

Perlu dipahami bahwa tidak ada gender yang lebih baik dari yang lainnya, semua memiliki peran setara. Hal itu pulalah yang perlu dipahami anak, sehingga ia bisa bangga dengan gendernya sendiri dan mampu merespon lawan gendernya dengan baik.

Sumber: presentasi kelompok 2 Bunda Sayang Pranikah Batch 4