Sex Education #10 FAQ

Materi terakhir ini cukup menarik, saatnya membahas mengenai Frequently Asked Questions yang diajukan oleh anak-anak. Mari kita mulai:

  1. Ibu, menikah itu apa?
    • Menikah itu menjadi suami dan istri, seperti ibu dan ayah. Menikah hanya boleh dilakukan oleh orang yang sudah dewasa.
  2. Seks itu apa?
    • Seks itu jenis kelamin, ada yang laki-laki dan ada yang perempuan

Tentunya, kita juga harus mengklarifikasi apa yang sebetulnya ditanyakan oleh anak, jangan buru-buru menjawab. Jangan sampai kita menjelaskan apa, yang dimaksud anak apa, seperti cerita ini,

“Ayah, aku itu dari mana sih?”

“Oh… Hmmm. Hmmm jadi ayah dan ibu menikah, kemudian sperma dan ovum bersatu, sehingga kamu ada di perut ibu selama 9 bulan. Kemudian kamu lahir. Memangnya, kenapa kamu bertanya begitu?”

“Enggak, tadi temenku bilang dia dari Amerika, makanya aku pengen tahu aku dari mana.”

Jreng jreng….

Dulu, ketika saya kecil, ibu menggunakan video Harun Yahya untuk menjelaskan konsep sperma bertemu ovum, sehingga kami mengetahui cara kami “tercipta” dari video itu.

Kalau ayah dan bunda bagaimana?

Advertisements

Sex Education #9 Peran Lingkungan dan Perlindungan dari Kejahatan Seksual

Seperti sudah kita ketahui, dampak dari kejahatan seksual bertahan lama pada anak dan memiliki kemungkinan lebih besar untuk merusak mentalnya. Ia bisa mengalami depresi, gangguan stres pasca trauma, kegelisahan, kecenderungan untuk menjadi korban lebih lanjut di masa depan. YUP, bayangkan, menjadi korban satu kali saja sudah traumatis, apalagi ada kemungkinan untuk menjadi korban berikutnya.

Salah satu situasi yang mendukung hal ini untuk terjadi adalah karena tidak adanya pemahaman yang baik pada masyarakat. Biasanya, korban dari pelecehan seksual dianggap sebagai “pelaku” juga. Loh, kok bisa? Korban dianggap melakukan atau menggunakan sesuatu yang “memancing” pelaku, secara tidak langsung masyarakat menurunkan harga diri korban serendah-rendahnya. Sekali, dua kali mendengar hal seperti itu mungkin masih kuat, jika berkali-kali bahkan hingga bulanan, tahunan, pasti korban juga ikut menjatuhkan harga dirinya sendiri. Dan akhirnya menjadi tidak defensive ketika ada yang melakukan kekerasan seksual padanya.

Jahatnya lagi, pelaku biasanya justru yang mengetahui bahwa korban pernah terkena pelecehan seksual, “ah kamu kan dulu juga udah pernah, no big deal lah kalau sekali lagi.” Astaghfirullah.

Selain itu, bisa juga justru korban lah yang di masa depan menjadi pelaku dari kejahatan seksual. Untuk hal ini saya tidak terlalu paham teorinya, nanti coba saya cari sumber terpercaya dulu. Keluarga yang tidak harmonis dan menimbulkan kekurangan kasih sayang juga memiliki andil besar dalam membuat seseorang menjadi pelaku kejahatan seksual. Bisa juga seseorang benci pada anak-anak atau memiliki kelainan seksual yang membuatnya menjadi pelaku kejahatan, dan masih banyak faktor penyebab lainnya.

Untuk itu, diperlukan bantuan dari orang tua untuk bisa memilihkan lingkungan yang baik bagi anak. Pun pengasuhan yang tepat sehingga membentuk anak dengan karakter yang kuat, salah satunya melalui pendidikan seks yang benar. Hendaknya pengetahuan mengenai pendidikan seks diberikan secara bertahap, sedikit demi sedikit, sehingga anak mudah untuk mencerna dan tidak kaget. Pendidikan seks terbanyak diberikan ketika menjelang anak memasuki masa puber, sekitar 10-14 tahun.

Di beberapa artikel sebelum ini ada banyak hal yang bisa diterapkan pada kegiatan keluarga mengenai pendidikan seks. Bukan untuk menakut-nakuti orang tua, namun untuk mempersiapkan orang tua dan ananda untuk mantap menghadapi situasi yang terjadi di masa kini.

Sumber: Presentasi kelompok 9 Bunda Sayang Pranikah #4

Sex Education #8 Penyimpangan Seksualitas

Penyimpangan seksualitas merupakan hal-hal di luar normal dan norma yang ada di masyarakat. Semisal ketika seseorang melakukan perilaku untuk mencapai orgasme di luar hubungan heteroseksual, dengan sesama jenis, partner yang belum dewasa, dsb.

Penyebabnya ada banyak sekali, seperti yang pernah saya kemukakan juga pada edisi sex education sebelumnya, salah satu penyebabnya adalah kesalahan pada pengasuhan. Ketidak mampuan orang tua untuk ikhlas menerima gender dari sang anak bisa menjadi malapetaka di kemudian hari. Seperti contohnya anak laki-laki yang sering dipakaikan baju perempuan, tidak diperbolehkan bermain yang kotor, dan hal-hal tidak wajar lainnya.

Penyebab lain yang datang dari diri sendiri merupakan pengalaman di masa lalu, bisa jadi karena mengalami kekerasan seksual atau melihat adegan seksual. Ketika seseorang sulit mengekspresikan perasaan dan memulai hubungan dengan orang lain juga bisa menyebabkan penyimpangan ini. Atau ketika ia mendapatkan aktivitas seksual yang menyenangkan berulang kali terhadap situasi atau objek tertentu.

Dari faktor biologis, ada 2 hal yang mempengaruhi: kelainan struktur dan kinerja otak, serta kadar hormon abnormal. Baik faktor biologis maupun psikologis, diperlukan pemeriksaan yang mendalam agar tidak salah diagnosa.

Dan, baik biologis maupun psikologis WAJIB hukumnya untuk ditangani oleh profesional, jangan pernah coba-coba sendiri. Saya pernah mendapat cerita mengenai seorang anak di suatu desa yang cukup terpelosok, ia menderita hyper-sexual, dan sebagai jalan menanganinya ia akhirnya mengajak beberapa laki-laki untuk melakukan kegiatan seksual. Ibu dan bapaknya yang merasa malu akhirnya mengambil jalan pintas untuk menyelesaikan masalah ini, dengan meminta anaknya untuk melakukan hubungan seksual dengan si bapak. Na’udzubillah.

Lagi-lagi untuk urusan ini, penting sekali bagi orang tua untuk sering berkegiatan bersama anak. Pakai rumus Ibu Profesional: Main Bareng, Ngobrol Bareng, Berkegiatan Bareng. Gunanya untuk deteksi dini apabila ada ketidak wajaran yang terjadi pada anak. Serta menciptakan rasa nyaman dalam rumah.

Sumber: Presentasi kelompok 8 Bunda Sayang Pranikah #4

Sex Education #7 Menjaga Diri dari Kejatahatan Seksual

Kejahatan seksual terhadap anak menurut UU No 35 Tahun 2014, merupakan setiap perbuatan terhadap anak yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, psikis, seksual dan/atau penelantaran, termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum.

1 dari 5 anak perempuan dan 1 dari 13 anak laki-laki melaporkan pernah mengalami kekerasan seksual saat usia anak/remaja (WHO 2016)

Penyebab dari kejahatan seksual ada bermacam-macam, beberapa di antaranya adalah:

  1. Ada anak yang berpotensi menjadi korban
  2. Ada anak atau orang dewasa yang berpotensi menjadi pelaku kekerasan
  3. Adanya peluang kekerasan
  4. Ada pencetus dari korban dan pelaku

Jadi ingat bang Napi nggak sih dengan slogannya, “kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat dari pelakunya, tapi karena ada kesempatan. Waspadalah! Waspadalah!”

Itu juga yang harus kita waspadai, kalau orang tua saya pasti selalu melihat letak kamar mandi dari suatu sekolah. Karena kamar mandi yang terpencil, kotor dan kumuh biasanya menjadi sarang terjadinya kejahatan. Udah berapa banyak coba bully dan kekerasan seksual dilakukan di kamar mandi. Jadi buibu, pilihlah sekolah yang kamar mandinya di depan, bersih dan terang benderang.

Orang tua juga perlu untuk melakukan beberapa hal untuk mencegah kejahatan seksual terjadi pada putra putri kita. Salah satunya dengan membangun kedekatan dengan anak, selain agar anak terbuka dengan kita (sehingga jika terjadi sesuatu bisa diselesaikan), kedekatan dengan orang tua juga mengurangi keinginan anak untuk mencari-cari sosok “orang tua” lain yang bisa saja diberikan oleh pelaku.

Jadilah sosok orang tua yang hangat, terbuka dan tegas, sehingga anak bisa melihat role model yang baik dalam sosok orang tuanya. Kenalkan anggota tubuh mana saja yang boleh disentuh dan tidak boleh disentuh. Pada anak usia dini, perkenalkan perbedaan laki-laki dan perempuan. Pada usia remaja, perkenalkan aktivitas sexual secara ilmiah dan bagaimana kaitannya dengan agama, bahwa aktivitas itu hanya bisa dilakukan oleh orang yang sudah menikah.

Sumber: Presentasi kelompok 7 Bunda Sayang Pranikah #4

 

Sex Education #6 Pengaruh Media Digital

Pernah merasa ngeri nggak sih dengan kemudahan untuk masuk yang diberikan oleh media sosial. Anak-anak SD, SMP udah punya akun, bahkan beberapa ibu bikinin akun buat anaknya yang baru lahir.

Media sosial atau secara luasnya menjadi media digital ini bagaikan sebuah alat yang bisa kita gunakan untuk meraih tujuan kita atau justru memberdaya kita apabila kita tidak pandai mengelolanya.

Jadi, sebetulnya apa sih media digital itu?

Media digital adalah media yang kontennya berbentuk gabungan data, teks, suara dan berbagai jenis gambar yang disimpan dalam format digital dan disebarluaskan melalui jaringan berbasis kabel optic broadband, satelit, dan sistem gelombang mikro – Flew 2008

Pada koridor sex education, apabila media digital digunakan dengan tepat, media ini dapat menjadi media informasi dan pendidikan dalam memberikan pengetahuan mengenai organ secara biologis dengan pengawasan orang tua. Selain itu membantu orang tua untuk lebih sadar akan bahaya penyimpangan gender dan seksualitas dengan adanya berita yang terjadi di lingkungan sekitar.

Sehingga nih, para ibu millenial yang merupakan gabungan antara kejadulan dan teknologi ini bisa update dengan berita-berita yang terkini. Jadi, jangan dipakai hanya untuk eksis saja ya buibu. Karena, kerugian yang mengintai pada media digital seputar sex education pun banyak. Misal, anak terpapar pornografi. Jangankan anak kita yang udah melek banget dengan dunia digital, di SMP saya saja pernah tuh nobar video porno pas jam kosong. Ngeri banget kan.

Selain itu, media digital juga bisa meningkatkan peluang terjadinya kejahatan seksual, tonton deh video documentary tentang anak-anak yang meninggal karena termakan buaian kenalannya di media sosial, atau disuruh ngerekam ini itu dan sebagainya. Dan yang lagi hype akhir-akhir ini adalah mengalami kebingungan gender atau seks karena pengaruh budaya yang ditampilkan melalui hiburan seperti film atau musik.

Seorang teman saya yang lama tinggal di Amerika mengatakan, salah satu issue yang sering dibicarakan disana bahwa sudah sangat jarang lelaki yang “laki” di Amerika. Udah mah lelaki jumlahnya makin susut kan, eh sekarang lelaki yang beneran laki susut lagi. Yassalam.

Itulah mengapa sex education dan etika berselancar di dunia digital harus lah diajarkan pada anak sedari kecil, karena menurut penelitian, jika seorang anak terpapar pornografi hingga menjadi kecanduan, efeknya lebih parah dibandingkan anak tersebut terpapar narkoba. Na’udzubillah.

Eits, tapi jangan ngeri dulu, ingat tadi di awal, bahwa media digital hanyalah alat. Mau menjadikannya seperti apa sepenuhnya ada pada kita pilihannya. Maka dari itu, sebagai orang tua kita harus bijak mempertimbangkan waktu terbaik untuk memberikan gadget pada anak sesuai dengan usia perkembangannya. Sering lihat anak yang belum bisa ngomong tapi udah fasih banget buka youtube?

Buat kesepakatan dengan anak dalam penggunaan gadget. Orang tua terlibat dalam kegiatan anak di media digital. Serta jaga agar komunikasi dengan anak tetap baik, sehingga apapun yang terjadi, hal-hal yang mau ditanyakan, anak akan nyaman bercerita dengan orang tuanya.

Sumber: presentasi kelompok 7 Bunsay Pranikah #4

Sex Education #5 Pentingnya Aqil dan Baligh secara Bersamaan

Akan ada suatu fase dimana ananda mencapai usia aqil baligh, untuk itu penting bagi ayah dan bunda untuk mengetahui tentang kedua istilah tersebut. Aqil adalah matang secara psikologis atau secara bahasa diartikan sebagai berakal. Aqil dapat dikatakan memiliki kecakapan berpikir yang matang berdasarkan acuan shahih dalam agama. Sedangkan baligh merupakan fase matang secara fisik atau secara bahasa diartikan sebagai “sampai”. Sedangkan secara syara’, baligh artinya adalah seseorang telah sampai pada masa pemberian beban hukum syariat atau taklif.

Baligh pada anak perempuan ditandai dengan haid sedangkan pada anak laki-laki ditandai dengan mimpi basah. Namun, baligh belum tentu aqil, seperti kita lihat bahwa di masa ini, ananda yang sudah haid maupun mimpi basah masih bersikap kekanak-kanakan, beberapa bahkan tidak mampu hidup jika tidak ditopang oleh orang tua.

Untuk itu, orang tua harus menyiapkan anak untuk mencapai aqil dan baligh secara bersamaan, salah satunya dengan cara belajar memimpin baik dirinya maupun orang lain. Selain itu, ia harus juga mempelajari tentang basic life skill, atau kemampuan bertahan hidup, dengan mengurus segala kemampuan mendasarnya sendiri. Mencari nafkah dan merawat makhluk hidup, baik laki-laki maupun perempuan harus memiliki dua kemampuan ini, dimana penitik beratannya yang berbeda. Bagi laki-laki harus ditekankan mengenai skill mencari nafkah serta untuk perempuan mengenai merawat makhluk hidup. Last but not least, latih ananda untuk fokus pada solusi, bukan masalah. Sehingga kelak ia akan menjadi insan yang bermanfaat bagi lingkungannya.

Sumber: presentasi kelompok 5 Bunda Sayang Pranikah batch 4

Sex Education #4 Peran Ayah

Sudah dijelaskan pada beberapa artikel sebelumnya bahwa kedua orang tua berperan penting dalam kesuksesan pendidikan seksualitas ananda. Nah, kali ini kita akan fokus pada peran-peran yang harus dijalani oleh ayah serta dampak pada anak yang ayahnya tidak hadir dalam keseharian mereka.

Ketika seorang ayah tidak hadir baik secara hati atau hingga secara fisik dalam kehidupan ananda, akan ada beberapa dampak yang mungkin dirasakan oleh ananda. Dampak-dampak tersebut antara lain: kemiskinan, karena ayah biasanya adalah tulang punggung keluarga; pernikahan dini untuk mencari sosok ayah atau karena efek domino dari kemiskinan; bullying, baik sebagai korban maupun pelaku; penyalah gunaan miras maupun narkoba; rentan masuk penjara; drop out; serta menjadi LGBT.

Perlu digaris bawahi bahwa hadir disini tidak hadir secara fisik, namun juga secara hati dan waktu. Dengan keberadaan seorang ayah, anak jadi mengerti bagaimana seseorang dengan peran pemimpin keluarga bersikap di rumah. Hadirkan sosok anda yang tegas dan juga lembut dalam satu waktu. Ajarkan pada anak bahwa laki-laki juga bisa melakukan pekerjaan rumah tangga dan bagaimana anda berbagi peran dengan istri anda.

Bagaimana jika ayah betul-betul tidak bisa hadir karena kematian, cerai, maupun pekerjaan yang mengharuskan ayah tidak hadir dalam waktu yang lama. Maka, tugas bunda untuk menghadirkan sosok ayah melalui cerita-cerita bunda mengenai ayah atau jika ada video-video tentang ayah yang bunda miliki. Seperti dalam cerita Sabtu bersama Bapak. Jika ayah hanya terpisah jarak, maka hadirkan melalui berbagai teknologi yang ada. Selain itu, bunda juga bisa mendekatkan ananda dengan sosok ayah pada pamannya, kakeknya atau kerabat lainnya yang bunda nilai memiliki karakter ayah yang baik.

Sumber: presentasi kelompok 4 Bunda Sayang Pranikah batch 4