Semua Anak adalah Bintang #3

Sudah satu tahun aku menjalankan bisnis fashion sendiri, tabunganku sudah mulai habis, partner kerjaku menyebalkan, ditambah lagi aku sendiri tidak terlalu menyukai kegiatanku. Ada sih beberapa hal yang aku suka, tapi sepertinya itu bukan core activity dari bisnisku. Hm.

Setahun artinya waktu untuk aku mengevaluasi, akan kulanjutkan atau kuhentikan. Kutimbang-timbang betul kala itu, kurang lebih 1-2 bulan ku pikirkan dengan seksama, apa saja implikasi yang akan terjadi dari keputusanku berikut opportunity cost keduanya.

Ku putuskan untuk betul-betul mencari tahu, sebetulnya apa yang aku ingin lakukan. Diurutkan lagi, apa yang menjadi kekuatanku, apa yang sudah kulakukan selama ini, apa yang sangat ingin aku lakukan, dan berbagai pertanyaan lain yang berkecamuk di dalam pikiranku. Kala itu, aku juga sempat bertanya pada manusia yang kini jadi suamiku ehe. Ternyata yah, jodoh mah ga kemana.

Anyway, kembali ke permasalahanku. Ku buang jauh-jauh dulu gengsiku, masak sih udah dewasa tapi masih gengsian juga. Ternyata, aku memang sangat senang apabila bisa berkegiatan dengan anak-anak. Yang membuatku galau karena aku tidak punya ilmunya, aku sering kepentok dengan orang tua serta kesulitan untuk menangani anak dalam jumlah banyak.

Dan ketika ku pikir lagi, tidak ada salahnya kalau aku mulai mencoba. Dan aku pun melangkah….

Advertisements

Semua Anak adalah Bintang #2

Kisah ini bermula ketika saya remaja, sebagai jiwa muda dengan semangat berapi-api dan mood naik turun, saya saat itu kekeuh, tidak mau disamakan dengan ibu saya. Bagaimanapun saya akan menjadi pribadi sendiri!

Namun tak bisa saya elakkan, bahwa saya menyukai dunia pendidikan ibu dan anak. Seringkali saya mengajar anak-anak TK kala itu, beranjak ke Singapura saya memberikan les privat pada anak SD, hingga akhirnya saya lulus dan pindah ke Bandung, saya berganti kegiatan menjadi teman kumpul ibu muda.

Setiap topik mengenai pernikahan, rumah tangga, maupun pengasuhan anak saya akan tangkap dengan semangat.

Banyak yang bertanya, “mbak Enes bukannya jurusan keuangan dulu? Kok sekarang malah di fashion?”, “kenapa nggak kerja di bank mbak?” Begitulah pipel, sering kepow.

Semua perjalanan saya mencapai titik baliknya pada suatu hari…..

Semua Anak adalah Bintang #1

Hamdalah setelah saya menikah merupakan libur panjang dalam sejarah kelas bunsay saya, meski ada yang hampa karena tidak mengerjakan apapun. Tidak pula memeras otak buat mikir “nulis apa lagi ya.” Pun tidak juga dikejar-kejar deadline.

Kali ini saya akan mengerjakan kelas bunsay sebagai Enes yang baru, Enes yang udah jadi istri orang. wkwkwkw. Meski belom punya anak, dan tetep weh sama dengan kelas pranikah, tapi tak apa. Yang penting kita tetap menulis dan mengerjakan.

Di edisi kali ini, saya diharuskan untuk menuliskan tentang kegiatan yang membuat saya berbinar, dan kali ini kegiatan itu adalah ngobrol bersama suamik #eh berkegiatan di dunia pendidikan anak usia dini serta pengembangan ibu muda. Mungkin karena topik ini sangat relatable untuk saya, sehingga saya merasa enjoy menjalankannya. Ditambah lagi, selalu ada hal baru yang bisa saya dapatkan selama menjalankan proses ini.

Prosesnya memang lama dan tak mudah, sepertinya saya pernah menceritakan sepenggal kisah mengenai hal ini. Tapi tak apa, marilah saya ceritakan lagi….

 

Apresiasi Tulisan Temanmu! #6

Seperti biasa fellas. Saya konsisten dalam mengapresiasi tulisan dari teh Zelina Venesia. Ahahahahahah.

Seperti biasa ya, beliao memang bisa melihat sesuatu secara sederhana dan terstruktur. Jadi, si teteh ini bisa dilihat di blognya kalau tulisannya itu rinci dan memberikan pandangan lain. Bisa dibilang yin dan yang banget dengan tulisan ku yang cerita sampe ke mana-mana, bahkan masa lalu dibawa-bawa. HAHAHAHA.

Ku bersyukur bisa mengenal si teteh in person. Jadi bisa menjadi rem buat aku yang seluruh pedalnya berisi gas ini.

Aliran Rasa Matematika Logis

Alhamdulillah selesai lah sudah tugas 10 hari menuliskan mengenai matematika logis. Jujur, ini adalah tugas yang paling bikin saya bingung. Secara, apa pula matematika logis yang ada di sekitar saya. Namun dengan berbekal pengetahuan yang minim, dibumbui dengan imajinasi dan kemampuan bercerita, bisa juga tugas ini terselesaikan.

Ya begimana ya, saya belum punya anak buat diajarin matematika e. Anak yang di Lebah Putih udah ada sendiri yang ngajarin, takutnya kalo pas saya nawarin diri buat ngajarin matematika malah kena zonk suruh ngajar seharian penuh hahahaha.

Saya juga berterimakasih banyak buat mas Pandu yang mau diajak ngobrol dan sampe nyariin di google sebenernya apa sih matematika logis dan bagaimana kita mengaplikasikan dalam kehidupan. You are my saviour!

Buat temen-temen lain yang berhasil menyelesaikan tantangan ini, boleh lah kita berbahagia bersama. Hihi. Setahap menuju lulusan bunda sayang!

Matematika Logis #10

Sebagai penutup pada artikel terakhir mengenai matematika logis, saya mau bercerita mengenai pengalaman saya sebagai seorang wanita. Jujur, dibandingkan teman wanita, saya lebih banyak memiliki teman lelaki dibandingkan perempuan. Mungkin karena seringkali saya gemes dengan kerempongan perempuan (termasuk diri saya sendiri) dalam mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari. Bisa juga karena saya perempuan, jadi ya tertariknya sama lelaki. Ngapain pulak saya tertarik sama perempuan. Hellowww.

Untuk urusan berlogika sebetulnya saya cukup faseh, bagaimana tidak, di rumah dididik langsung oleh bapak saya untuk itu. Kalau ga ada sebab akibat, nggak bisa memberitahukan alasan, atau tiba-tiba ngamuk ga jelas, siap-siap aja bakal disidang atau kena hukuman. Tapi saya juga tetap seorang perempuan yang perasaannya lebih halus dibandingkan lelaki, jadi tetep gampang nangis, tetep gampang emosi, dan tetep ada hal-hal yang “perempuan banget”.

Cuman, kembali lagi ke rumus logika vs perasaan, ketika logika menguat, perasaan melemah. Perasaan menguat, logika melemah. Dan kita harus bisa mencari titik ternyaman agar bisa bahagia dalam menjalankan serta tidak menyakiti orang lain dalam berkegiatan. Mengenai logika dan perasaan ini memang tidak ada habisnya, mematikan salah satu dan mengunggulkan yang lain pun tidak akan pernah benar. Yang penting kita punya kontrol terhadapnya dan tidak menjadi pribadi yang tidak kita sukai.

Logika tersimpel dalam hidup: lakukanlah yang menurutmu benar dan hindari hal-hal yang kau tau salah. Selamat bertumbuh!

Matematika Logis #9

Kalau kemarin ngobrolin tentang pengaturan jadwal di matematika logis, mari sekarang kita ngobrolin tentang masak memasak. Ada banyak sekali peran matematika dalam menunjang keberhasilan suatu masakan. Meski tetap jam terbang tidak bisa mengalahkan teori ya, tapi paling tidak dengan teori yang baik kita yang pemula bisa menghasilkan makanan yang “acceptable”.

Ketika memasak, kita pasti pertama akan memikirkan mengenai takaran untuk setiap bahan makanan. Belum lagi  ketika kita tidak punya timbangan bahan atau alat ukur yang mumpuni, maka kreatifitaslah yang bermain. Mulai dari mengira-ira, sampai mencari alat-alat lain dengan daya takar yang hampir mendekati.

Kemudian masuk ke dalam masak-memeasak, diperlukan logika yang tepat agar bahan makanan bisa matang secara bersamaan, tidak gosong sebagian pun masih mentah. Bahan-bahan dengan tingkat kematangan lebih lama seperti daging, atau sayuran keras pastinya harus dimasukkan terlebih dahulu sebelum bahan-bahan yang bersifat cepat matang.

Alhamdulillah hingga sekarang belum ada yang keracunan makan hasil masakan saya. Ndak tau deh nanti suami seperti apa ekekekeke.