Gaya Belajar – Day 10

Hamdalah, postingan ini telah mencapai batas minimum bunda sayang. Jika ada postingan setelah ini, maka itu bonus kebaikan hati saya untuk tetap menulis ehehehe.

Anyway, karena gaya belajar saya adalah visual, maka saya sangat suka membaca buku. Meski saat ini frekuensi membaca buku saya saat ini berkurang karena kendala waktu, tapi saya selalu mencoba untuk menyempatkan paling tidak membaca 1 buku baru selama sebulan.

Dulu pernah rekor saya mencapai 5 buku dalam sebulan, namun memang 2 atau 3 diantaranya adalah novel. Khusus untuk novel saya tidak ada kesulitan untuk melahap habis dalam sehari, bahkan ada yang dalam beberapa jam saja.

Yang sulit dari komitmen ini adalah konsisten. Karena harus meluangkan waktu, lebih memilih membaca dibandingkan nonton youtube-youtube ga jelas (mon maap, kadang saya masih menikmati hoax hoax Indonesia ehehe). Kemudian tentu saja memahami isi dari bacaan tersebut serta mengamalkannya, untuk itu saya bikin sesi literasi di Lebah Putih, sehingga saya bisa langsung berbagi dan praktek hal yang baru saja saya baca.

Longlife learner is a must, and by knowing your learning style, it will be easier for you to keep learning in a great environment!

Advertisements

Gaya Belajar – Day 9

Gimana sih caranya membersamai anak dengan gaya belajar kinestetik?

Sering sekali ada orang tua yang bertanya seperti ini pada saya. Hm.. tiap anak unik sih ya, jadi tidak ada hal baku yang bisa jadi sarana “mencontek” orang tua. Saya coba share yang selama ini saya lakukan di Lebah Putih ya.

Sebelum belajar, kami ada kegiatan morning activity, dimana anak bisa bebas memilih ingin berkegiatan apa. Tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan setiap anak, yang senang bergerak bisa lari-larian sampai puas, yang seneng baca juga bisa pilih mau baca apa, dsb.

Dengan begitu, anak sudah terpenuhi dulu kebutuhan dasarnya. Barulah kita masuk ke kebutuhan selanjutnya. Karena memegang satu kelas dengan banyak kepala, maka kakak akan berusaha memenuhi karakter setiap anak dalam sehari. Jadi ada sesi yang melibatkan gerak, ada yang melibatkan bacaan, ada juga yang melibatkan presentasi, diskusi, nonton film, dsb.

Biasanya, anak yang kinestetik akan suka diajak berkegiatan di alam terbuka. Maka, ada beberapa opsi, memang pembelajaran melibatkan alam sekitar (seperti meneliti bunga, dsb), atau pembelajaran bertempat di alam sekitar (mengerjakan worksheet di luar kelas), atau pembelajaran dengan metode bergerak (lari sana sini, dsb).

Yang pasti sih harus pandai-pandai menyiasati, biar tenaga kita ga habis juga hehehe.

Yak, sekian dulu ya tips dari saya, nantikan postingan selanjutnya!

Gaya Belajar – Day 8

Ketika aku SD kelas 1, aku sangat tidak tahan terhadap gangguan suara ketika sedang belajar, meski itu hanya suara tetangga di jalanan depan ataupun suara adekku yang berisik. Aku menjadi cepat marah karena tidak bisa dengan mudah berkonsentrasi.

Akhirnya, aku mencoba untuk melatih diriku sendiri dengan membiasakan mendengar musik. Ingat sekali aku waktu itu, lagunya koleksi album Vina Panduwinata yang dimainkan di tape recorder kesayangan milik keluarga kami. Terkadang, jika suaranya mulai tidak jelas, kami harus cek lagi, jangan-jangan ada kabel yang tersangkut. Jika ada, maka kami harus merapikannya dengan sabar dan hati-hati.

Setelah beberapa lama, alhasil saya mulai terbiasa dengan keberadaan suara lain ketika saya membutuhkan untuk berkonsentrasi. Hari ini, saya sudah tidak begitu mempedulikan suara-suara pengganggu, bahkan jika saya sedang membaca buku yang disukai, semua suara di sekitar saya seakan menghilang. Saya sampai harus ditepuk untuk bisa kembali ke dunia nyata hehehe.

Nah, siapa bilang gaya belajar tidak bisa dilatihkan. Bisa kok, jika memang dirasa mengganggu, bisa konsultasi langsung dengan ahlinya yaa~

Gaya Belajar – Day 7

Hari ini adalah hari nostalgia sejagad raya, karena diminta ibu nyari dokumen-dokumen yang membuatku harus melihat foto-foto lama, semua masa lalu.

Kemudian… aku menemukan catatan dari buku orang tua jaman TK. Dulu, ketika saya TK, saya termasuk anak yang bagus secara akademis, sudah bisa baca koran dan Qur’an di usia 2,5 tahun, termasuk cepat menyerap sesuatu, cuman saya tidak percaya diri dan tidak suka bersosialisasi.

Beda banget kan dengan saya yang sekarang.

Dulu itu saya nggak mau ketemu sama orang, malu untuk mengekspresikan diri, nggak mau tanya atau apapun di forum luas. Saya cenderung sering marah dan cemberut karena menutupi rasa malu. Dari situ saya merasa, “nggak seharusnya saya seperti ini, saya harus berubah.”

Saya mulai belajar senyum. YES! BELAJAR SENYUM. Terus saya coba menchallenge diri dengan keluar dari zona nyaman, salah satunya adalah dengan memiliki kartu nama dan approach orang lain yang sama sekali tidak saya kenal.

17 tahun berlalu.

Saya masih tetap sebagai Enes yang pemalu, tapi sedikit lebih liar aja. He euh, sedikit doang kok. Ehehe.

Gaya Belajar – Day 6

Eh… Nulis apalagi yak. Hihi, udah memasuki hari kelima udah mulai bingung deh nih, mau share tentang apa. Maklum ya, ada masa-masa dimana hidup saya flat banget sampe ga ada yang bisa diceritain.

Umm.. Oh iya, selain visual abis, saya suka banget belajar sambil gerak-gerak. Ampun deeehhh. Kalo ada yang anaknya sama kayak saya, jangan bingung ya buibu muda, tandanya anaknya jenius #eh

Jadi, dari jaman baheula itu saya suka banget belajar sambil nangkring di atas pohon. Dulu juga punya rumah pohon yang cuman saya doang yang bisa naik, soalnya ga ada tangganya. Yoa! Buat naik ke atas, tangannya harus meraih dahan yang paling rendah, terus ngelempar diri dan kakinya ngerangkul dahan itu, angkat badan ke atas, sampai lah kamu di… DAHAN PERTAMA. Masih kudu manjat lagi baru sampe. Ga tinggi sih, cuman effort. Hahahaha.

Anyway, meski tidak banyak berpengaruh pada kecerdasan otak saya, tapi da emang dari sananya saya suka gerak, jadi ya saya kudu gerak. Kekeuh.

Waktu kecil, saya selalu dibilang, “Enes itu ga bisa jalan. Dia lari.” Dan ya, sampai sekarang saya masih berlebih energinya (asal jangan disuruh beres-beres rumah aja ahahaha).

Gaya Belajar – Day 5

Dari dulu saya sangat suka gambar-gambar simpel, terutama manga dan doodle. Meski begitu, saya tidak menekuni dengan serius, jadi ya sekedar hobi aja. Kalau lagi mood bisa, kalo nggak mood mending yang lain hehehe.

Nah, ini ngaruh banget ke cara saya mencatat sesuatu. Kalau melihat ke dalam buku catatan saya, terutama catatan untuk seminar (kalo notulensi meeting saya suka yang bentuk standar, lebih gampang dibaca dan dibuat) pasti penuh dengan berbagai gambar dan bentuk. Saya bikin se kreatif mungkin, biar besok-besok saya baca lagi, jadi ga bosen.

Berlanjut terus hingga sekarang, entah kenapa saya senang setiap kali diminta jadi notulen, dan hasilnya pasti dapat apresiasi dari banyak orang. Tidak jarang catatan saya dipinjam oleh orang lain, hasil notulensi saya dinilai rapi, dsb.

Saya senang kalau apa yang saya hasilkan bisa berguna bagi orang lain.

 

Gaya Belajar – Day 4

Di postingan kali ini saya janji untuk memberitahukan dengan detil gaya belajar saya, baik ketika sekolah maupun setelah lulus. Sebetulnya untuk terus bisa belajar setelah lulus menjadi hal yang tricky sih. Karena tidak ada lagi yang “memaksa” kita untuk terus belajar.

Anyway, back to the topic, ketika dulu saya sekolah saya akan menyempatkan waktu 1 jam setiap harinya untuk mereview atau belajar materi yang akan datang. Saya prefer corat coret buku paket sih (termasuk bukuĀ  paket sekolah juga saya corat-coret, pssttt… rahasia kita ya), karena ketika saya memberikan catatan, saya jadi bisa lebih paham. Selain itu, saya suka stabilo-stabiloin biar ada warnanya.

Kalo udah selesai satu bab, baru tuh saya tulis ulang dalam bentuk mindmap. Saya menyukai mindmap karena hanya perlu menulis keyword-keywordnya, sehingga saya bisa elaborasi menggunakan bahasa saya sendiri. Kalau saya sedang rajin, saya juga suka bikin gambar-gambar yang lucu biar makin ingat. Pokoknya semakin rumit karya yang saya hasilkan untuk sebuah rangkuman, biasanya saya semakin jago dalam pembahasan itu.

Hasil dari berbagai mindmap atau gambar kemudian saya tempelkan di kamar. Jadi kamar saya pasti penuh dengan berbagai tempelan.

Jika ternyata saya membutuhkan hafalan, maka saya akan membuat jembatan keledai atau bikin cerita-cerita unik biar nempel terus di ingatan saya. Kadang sambil gerak-gerak juga (told ya I’m a combination), pernah ketika harus menghafalkan Km, Hm, Dam, dsb saya dan Ara sambil meloncat-loncat dan menyanyi.

Intinya sih, saya tipikal anak yang lebih senang porsi kecil tapi konsisten. Ketika sudah bekerja pun saya selalu berusaha konsisten untuk membaca buku atau artikel agar tetap update dengan perkembangan terbaru. Dan….. Ruangan saya pasti penuh dengan tempelan. Dulu pernah di kantor ada kunjungan dari SMK di suatu daerah, dan tempelan saya dikira mading, terus difoto-foto wkwk.

Ini gaya belajarku, gimana gaya belajarmu?