Sex Education #9 Peran Lingkungan dan Perlindungan dari Kejahatan Seksual

Seperti sudah kita ketahui, dampak dari kejahatan seksual bertahan lama pada anak dan memiliki kemungkinan lebih besar untuk merusak mentalnya. Ia bisa mengalami depresi, gangguan stres pasca trauma, kegelisahan, kecenderungan untuk menjadi korban lebih lanjut di masa depan. YUP, bayangkan, menjadi korban satu kali saja sudah traumatis, apalagi ada kemungkinan untuk menjadi korban berikutnya.

Salah satu situasi yang mendukung hal ini untuk terjadi adalah karena tidak adanya pemahaman yang baik pada masyarakat. Biasanya, korban dari pelecehan seksual dianggap sebagai “pelaku” juga. Loh, kok bisa? Korban dianggap melakukan atau menggunakan sesuatu yang “memancing” pelaku, secara tidak langsung masyarakat menurunkan harga diri korban serendah-rendahnya. Sekali, dua kali mendengar hal seperti itu mungkin masih kuat, jika berkali-kali bahkan hingga bulanan, tahunan, pasti korban juga ikut menjatuhkan harga dirinya sendiri. Dan akhirnya menjadi tidak defensive ketika ada yang melakukan kekerasan seksual padanya.

Jahatnya lagi, pelaku biasanya justru yang mengetahui bahwa korban pernah terkena pelecehan seksual, “ah kamu kan dulu juga udah pernah, no big deal lah kalau sekali lagi.” Astaghfirullah.

Selain itu, bisa juga justru korban lah yang di masa depan menjadi pelaku dari kejahatan seksual. Untuk hal ini saya tidak terlalu paham teorinya, nanti coba saya cari sumber terpercaya dulu. Keluarga yang tidak harmonis dan menimbulkan kekurangan kasih sayang juga memiliki andil besar dalam membuat seseorang menjadi pelaku kejahatan seksual. Bisa juga seseorang benci pada anak-anak atau memiliki kelainan seksual yang membuatnya menjadi pelaku kejahatan, dan masih banyak faktor penyebab lainnya.

Untuk itu, diperlukan bantuan dari orang tua untuk bisa memilihkan lingkungan yang baik bagi anak. Pun pengasuhan yang tepat sehingga membentuk anak dengan karakter yang kuat, salah satunya melalui pendidikan seks yang benar. Hendaknya pengetahuan mengenai pendidikan seks diberikan secara bertahap, sedikit demi sedikit, sehingga anak mudah untuk mencerna dan tidak kaget. Pendidikan seks terbanyak diberikan ketika menjelang anak memasuki masa puber, sekitar 10-14 tahun.

Di beberapa artikel sebelum ini ada banyak hal yang bisa diterapkan pada kegiatan keluarga mengenai pendidikan seks. Bukan untuk menakut-nakuti orang tua, namun untuk mempersiapkan orang tua dan ananda untuk mantap menghadapi situasi yang terjadi di masa kini.

Sumber: Presentasi kelompok 9 Bunda Sayang Pranikah #4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s