Sex Education #7 Menjaga Diri dari Kejatahatan Seksual

Kejahatan seksual terhadap anak menurut UU No 35 Tahun 2014, merupakan setiap perbuatan terhadap anak yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, psikis, seksual dan/atau penelantaran, termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum.

1 dari 5 anak perempuan dan 1 dari 13 anak laki-laki melaporkan pernah mengalami kekerasan seksual saat usia anak/remaja (WHO 2016)

Penyebab dari kejahatan seksual ada bermacam-macam, beberapa di antaranya adalah:

  1. Ada anak yang berpotensi menjadi korban
  2. Ada anak atau orang dewasa yang berpotensi menjadi pelaku kekerasan
  3. Adanya peluang kekerasan
  4. Ada pencetus dari korban dan pelaku

Jadi ingat bang Napi nggak sih dengan slogannya, “kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat dari pelakunya, tapi karena ada kesempatan. Waspadalah! Waspadalah!”

Itu juga yang harus kita waspadai, kalau orang tua saya pasti selalu melihat letak kamar mandi dari suatu sekolah. Karena kamar mandi yang terpencil, kotor dan kumuh biasanya menjadi sarang terjadinya kejahatan. Udah berapa banyak coba bully dan kekerasan seksual dilakukan di kamar mandi. Jadi buibu, pilihlah sekolah yang kamar mandinya di depan, bersih dan terang benderang.

Orang tua juga perlu untuk melakukan beberapa hal untuk mencegah kejahatan seksual terjadi pada putra putri kita. Salah satunya dengan membangun kedekatan dengan anak, selain agar anak terbuka dengan kita (sehingga jika terjadi sesuatu bisa diselesaikan), kedekatan dengan orang tua juga mengurangi keinginan anak untuk mencari-cari sosok “orang tua” lain yang bisa saja diberikan oleh pelaku.

Jadilah sosok orang tua yang hangat, terbuka dan tegas, sehingga anak bisa melihat role model yang baik dalam sosok orang tuanya. Kenalkan anggota tubuh mana saja yang boleh disentuh dan tidak boleh disentuh. Pada anak usia dini, perkenalkan perbedaan laki-laki dan perempuan. Pada usia remaja, perkenalkan aktivitas sexual secara ilmiah dan bagaimana kaitannya dengan agama, bahwa aktivitas itu hanya bisa dilakukan oleh orang yang sudah menikah.

Sumber: Presentasi kelompok 7 Bunda Sayang Pranikah #4

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s