Sex Education #3 Peran Orang Tua

Di postingan sebelumnya kita sudah mengetahui tahapan-tahapan dari pendidikan fitrah seksualitas sesuai dengan umurnya masing-masing. Nah kali ini, coba kita bedah lebih dalam, apa sih yang harus dilakukan oleh orang tua dalam membersamai anak pada tahapan-tahapan tersebut.

Masih disadur dari web http://www.ibuprofesional.com, di usia 0-2 tahun, ketika anak dekat dengan ibunya, maka ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh sang ibu. Ibu dapat menumbuhkan rasa malu pada anak dengan tidak mengumbar aurat anak sembarangan, biasanya kan mentang-mentang anaknya masih kecil ketika mau ganti baju, pipis/mengganti popok, mandi, dsb nyaman aja dilakukan di publik. Padahal, ketika anak masih kecil, bukan berarti ia tidak merekam berbagai hal yang terjadi di sekitarnya. Untuk itu, kita perlu berhati-hati dalam menjaga kehormatan ananda. Termasuk dengan tidak melakukan hubungan seksual di depan ananda.

Tahapan berikut, di usia 3-6 tahun, kenalkan pada ananda dengan organ tubuhnya melalui istilah yang benar. Sebutkan penis dan vagina, bukan istilah lain seperti burung, dsb. Di usia ini, anak perlu mengetahui bagian-bagian mana yang boleh dan tidak boleh disentuk oleh orang lain, serta batas-batas aurat masing-masing gender. Ayah dan bunda juga bisa memberikan pakaian/aksesoris sesuai dengan gender ananda. Saya pernah melihat salah satu video seorang homoseksual yang bercerita bahwa ia menjadi seperti itu karena sering dipakaikan baju perempuan (ia laki-laki) oleh ibunya dan tidak diijinkan untuk bermain kotor-kotoran.

7-10 tahun, ananda sudah bersiap untuk memasuki fase pubertas, maka dari itu perlu dikenalkan dengan fungsi organ seksualnya. Pisahkan tempat tidur anak perempuan dengan lelaki, selain itu, jika masih tidur satu kamar dengan orang tua, di usia ini lah anak harus mulai tidur sendiri. Maskulinitas dan femininitas dikuatkan di fase ini.

Bagi beberapa anak, usia 10-14 tahun sudah mengalami haid/mimpi basah, terutama perempuan. Untuk itu, harus semakin dikuatkan mengenai pengertian siapa saja mahram dari sang anak, tekankan juga bahwa ia harus mulai menutup aurat dari mereka yang bukan mahramnya serta menjaga pandangan. Ibu mulai sering mengajak anak laki-laki bercerita untuk memahami lawan jenisnya, begitu pula dengan ayah dan anak perempuannya.

Sumber: rangkuman presentasi kelompok 3 Bunda Sayang Pranikah batch 4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s