Sex Education #2 Fitrah Seksualitas

Setelah mengetahui perbedaan gender dan perkembangannya di jaman sekarang, sekarang mari kita masuk ke dalam fitrah seksualitas. Fitrah seksualitas sendiri adalah tentang bagaimana seseorang berfikir, merasa dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai lelaki atau perempuan sejati (Harry Santosa, 2017).

Pasti pernah mendengar bahwa seorang anak terlahir suci bagaikan selembar kertas kosong, orang tuanya lah yang membuat ia menjadi Muslim, Kristen, dsb. Sama dengan fitrah seksualitas, seorang anak lahir tentu membawa bakat-bakat dalam dirinya yang akan menjadi bekal bagi dirinya untuk menjalankan perannya. Menurut Abu Salma, ketika seorang anak mengetahui fitrah seksualitasnya, maka ia akan mengetahui tentang identitas seksualnya, mengenali peran seksualitasnya dan mampu menempatkan dirinya sesuai peran tersebut serta mampu melindungi diri dari kejahatan seksual.

Lantas, bagaimana cara mengajarkan mengenai fitrah seksualitas pada ananda? Berikut tahapannya disadur dari website http://www.ibuprofesional.com:

0-2 tahun dekatkan anak dengan ibunya melalui ASI. Ini mengapa penting untuk seorang ibu nenenin langsung anaknya, karena disitu akan terbangun kedekatan.

3-6 tahun dekatkan dengan kedua orang tua, sehingga anak bisa belajar dari interaksi bapak dan ibunya.

7-10 tahun dekatkan sesuai gender, anak perempuan dengan ibu dan anak laki-laki dengan ayah. Di usia ini, ananda sudah mulai melihat perbedaan gendernya, maka penting untuknya mengetahui bagaimana ia harus berperan dalam masyarakat dengan baik.

11-14 tahun dekatkan lintas gender, anak perempuan dengan ayahnya dan anak laki-laki dengan ibunya. Hal ini dikarenakan ananda sudah mulai memiliki ketertarikan pada lawan jenis di usia ini. Sangat baik bagi orang tua untuk memenuhi kebutuhan ananda sekaligus mengenalkan bagaimana masing-masing gender memberlakukan lawan jenisnya.

Di atas 15 tahun anak sudah memahami perannya dan dapat melakukan perannya dengan baik.

Melalui tahapan-tahapan di atas, kita bisa melihat pentingnya kedua orang tua untuk hadir dalam tumbuh kembang ananda, ayah berperan memberikan suplai maskulinitas dan ibu berperan memberikan suplai femininitas. Idealnya, seorang anak laki-laki mendapatkan 75% suplai maskulinitas dan 25% suplai femininitas. Sedangkan perempuan sebaliknya, 75% femininitas dan 25% maskulinitas.

Perlu dipahami bahwa tidak ada gender yang lebih baik dari yang lainnya, semua memiliki peran setara. Hal itu pulalah yang perlu dipahami anak, sehingga ia bisa bangga dengan gendernya sendiri dan mampu merespon lawan gendernya dengan baik.

Sumber: presentasi kelompok 2 Bunda Sayang Pranikah Batch 4

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s