Mendongeng #3

Eyang putri sudah ambil peran, ibu pun sudah, teman imajinasi juga sudah habis masanya, kali ini giliran Eyang kakung dan bapak muncul perannya.

Ketika kami remaja, kami tidak lagi terbuai dengan cerita-cerita khayalan. Kami masih suka kalua didongengi, tapi kami tahu mana yang nyata dan mana yang buatan. Sehingga, cerita yang kala itu kami sukai bergeser menjadi kisah heroic masa lalu, baik itu Yangkung dengan masa gerilyanya, maupun bapak dengan masa-masa sebagai demonstran (oh tidak, bapakku tidak pernah turun ke jalan, nanti kena matahari ga mulus lagi dong kulitnya hohoho).

Meski keduanya cukup galak eh, keras, namun cerita-ceritanya sangat berkesan dalam jiwa korsa kami berdua (hahahah). Kami jadi mengerti bahwa kemerdekaan ini bukan sesuatu yang gratis, ada banyak nyawa yang harus dibayarkan sebagai ganti dari kemerdekaan. Jika sudah begitu, bukankah kita harus banyak berterimakasih kepada kakek dan nenek kita yang sudah berjuang.

Dari bapak, saya belajar mengenai keberanian untuk tetap berdiri jika yakin kita benar. Meski rintangan banyak menghalang, namun kita tak pernah gentar.

“Bola akan terpantul tinggi di atas alas yang keras, bukan empuk,” menjadi quote yang paling saya ingat dari bapak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s