Matematika Logis #10

Sebagai penutup pada artikel terakhir mengenai matematika logis, saya mau bercerita mengenai pengalaman saya sebagai seorang wanita. Jujur, dibandingkan teman wanita, saya lebih banyak memiliki teman lelaki dibandingkan perempuan. Mungkin karena seringkali saya gemes dengan kerempongan perempuan (termasuk diri saya sendiri) dalam mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari. Bisa juga karena saya perempuan, jadi ya tertariknya sama lelaki. Ngapain pulak saya tertarik sama perempuan. Hellowww.

Untuk urusan berlogika sebetulnya saya cukup faseh, bagaimana tidak, di rumah dididik langsung oleh bapak saya untuk itu. Kalau ga ada sebab akibat, nggak bisa memberitahukan alasan, atau tiba-tiba ngamuk ga jelas, siap-siap aja bakal disidang atau kena hukuman. Tapi saya juga tetap seorang perempuan yang perasaannya lebih halus dibandingkan lelaki, jadi tetep gampang nangis, tetep gampang emosi, dan tetep ada hal-hal yang “perempuan banget”.

Cuman, kembali lagi ke rumus logika vs perasaan, ketika logika menguat, perasaan melemah. Perasaan menguat, logika melemah. Dan kita harus bisa mencari titik ternyaman agar bisa bahagia dalam menjalankan serta tidak menyakiti orang lain dalam berkegiatan. Mengenai logika dan perasaan ini memang tidak ada habisnya, mematikan salah satu dan mengunggulkan yang lain pun tidak akan pernah benar. Yang penting kita punya kontrol terhadapnya dan tidak menjadi pribadi yang tidak kita sukai.

Logika tersimpel dalam hidup: lakukanlah yang menurutmu benar dan hindari hal-hal yang kau tau salah. Selamat bertumbuh!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s