Matematika Logis #6

Ketika berada di bangku SD dan SMP dulu, seperti apakah sistem pemberian uang jajan teman-teman? Apakah harian? Mingguan? Atau bulanan? Apakah sudah ditentukan orang tua? Atau teman-teman yang mengajukan besarannya?

Saat saya SD, saya ingat sekali jumlah uang saku kala itu Rp2.500 seminggu, atau Rp500 per hari. Pertama kali saya diberi uang saku ketika saya berada di kelas 4, kurang lebih 15 tahun yang lalu. Hehehe. Kala itu, dengan Rp500 saya bisa memilih, apakah mau dibelanjakan untuk es teler seharga Rp300 atau telor puyuh ceplok seharga Rp100 per telurnya. Atau bisa juga saya belanjakan mainan seharga Rp100 hingga Rp1.000, tergantung kebutuhan dan keinginan saya saat itu.

Di akhir semester, karena pembangunan sekolah sudah selesai, saya tidak lagi masuk setengah hari, maka saya butuh untuk makan siang. Harga catering makan siang subsidi dari sekolah adalah Rp1.000. Maka uang saku saya ditambah menjadi Rp1.500 per hari.

Disini saya diberikan uang per minggu, sehingga saya harus mengatur bagaimana caranya saya bisa bahagia dengan uang sebesar itu. Kalau kurang, ya jualan lah, apalagi. Udah baca artikel saya yang sebelumnya kan? Hehehe.

Alhamdulillah kala itu saya cukup rajin melakukan pencatatan. Kemudian bisa menabung juga, sedikit-sedikit cari pendapatan sampingan. Kayak kerja jadi tukang ketik di perusahaan ibu saya. Dari aktifitas mengelola keuangan di saat SD, saya mendapati diri saya sebagai seorang anak kecil memiliki kemampuan mengontrol keinginan saya untuk menghabiskan uang dengan baik. Sehingga saya nyaris tidak pernah untuk meminta uang orang tua saya, kecuali jika dikasih, saya tidak menolak ahhahaha.

Di SMP, saya diminta untuk mengajukan proposal mengenai berapa uang saku per hari yang ingin saya dapatkan, dan itu akan dibelanjakan untuk apa saja. Kala itu saya meminta Rp5.000 per hari, atau Rp125.000 per bulan. Dari sini saya akan menyisihkan uang untuk beli buku pelajaran tambahan (dari SD saya sangat suka mengerjakan soal. I know, hobi yang aneh. Yet, saya ga pernah menang lomba. Jadi saya juga bingung, saya ngapain aja sih sebenernya hahaha), kemudian biaya iuran kelas, serta seragam kelas (biar gaul).

Tips yang saya dapatkan dari dulu hingga sekarang, irit-iritlah di awal dalam batas wajar, maka nanti kamu akan mengakhiri bulan dengan penuh foya-foya hahaha. Kadang-kadang kalau saya diajakin ke cafe sama temen-temen tapi budget saya ga ada, ya saya cuma pesen minum es teh atau ga pesen apa-apa, dengan berbagai alasan yang dikemukakan. Enggak, saya masih punya harga diri dan empati lah! Bukan model manusia yang cuma pesen es teh tapi nongkrongnya 24 jam.

Bagi yang mengikuti kisah hidup saya pasti tahu setelah lulus SMP saya langsung kuliah di Singapura. Ketika teman-teman yang lain struggle untuk mengatur keuangan, saya sudah terbiasa, dan ini merupakan skill penting yang menunjang kelangsungan hidup saya di Singapura hingga sekarang hihihi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s