Budaya Membaca #8

“Pelajaran Bahasa Indonesia itu ada 6 SKS selama 12 tahun. Masih ditambah juga di kuliah. Tapi kenapa hasilnya banyak anak yang tidak bisa presentasi dengan proper, menulis makalah dengan baik, memahami journal maupun buku. Apa yang salah?”

Kalimat yang dilontarkan oleh pak Ery Djunaedi, dosen Telkom University yang juga merupakan adek angkatan bapak saya di ITB. Dari sana, masuklah kita dalam pembahasan diskusi singkat, “apa yang salah? Bagaimana memperbaikinya?”

Salah satu kesimpulan yang bisa kita tarik adalah, “ketidak adaannya rasa cinta terhadap Bahasa Indonesia dan rasa cinta terhadap belajar itu sendiri” sehingga anak-anak juga tidak mengulik lebih jauh bagaimana mereka bisa memperbaiki diri dari segi Bahasa Indonesia.

Kemudian, masih ditambah dengan tidak relevannya apa yang diajarkan dengan kebutuhan sehari-hari maupun kebutuhan yang akan datang. Jika memang ditujukan sebagai sarana untuk “berkenalan” dengan Bahasa Indonesia sih tidak apa-apa belajar berbagai hal. Ya puisi, ya karangan, ya artikel ilmiah, semuanya. Tapi bagi saya, 6 SKS selama 12 tahun rasa-rasanya kepanjangan ya untuk coba-coba.

Hm.

Lantas bagaimana cara yang benar? Mari kita bahas di artikel selanjutnya.

(diirit-irit bu, nanti kehabisan bahan tulisan gak lulus bunda sayang kon. matek)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s