RAQ #1

Karena sebelumnya saya bikin sesi FAQ, kali ini ada yang nyelempit di antara FAQ-FAQ yang ditanyakan oleh pemirsa. Nah, pertanyaan nyelempit ini saya sebut dengan RAQ atau Rarely Asked Question. Hehe, wiyos lah nya. So here are my first RAQ from one of my friends.

Question:

“Menurut lo, bagaimanakah bentuk/definisi pendidikan yang ideal?”

Answer:

Sejujurnya, ketika ditanya mengenai kondisi pendidikan yang ideal, saya pribadi juga bingung. Karena ideal untuk satu daerah belum tentu ideal menurut yang lainnya. But, I’ll try to answer it based on my experience in the past one year of my activity in School of Life Lebah Putih.

Sebuah pendidikan yang ideal adalah ketika setiap daerah bisa memiliki karakteristiknya sendiri dalam mendidik, sesuai dengan local wisdomnya. Karena, saat ini pendidikan kita memiliki standar baku yang sama dari Sabang hingga Merauke, padahal, karakteristik serta fasilitas yang dimiliki berbeda-beda.

Selama saya mengajar, saya tidak pernah memaksakan seorang anak untuk menguasai setiap bidang, dan ini akan masuk ke pertanyaan berikutnya….

 

Question:

” Apa yang membedakan murid yang sukses dan yang tidak sukses.”

Answer:

Setiap anak lahir dengan misi dan bakat yang dibawanya. Saya yakin bahwa seorang anak bisa hidup meski hanya memiliki satu keahlian. Dan itu terjadi di budhe saya, budhe saya mengidap down syndrome yang membuat beliau dipandang berbeda dari anak sepantarannya. Tapi beliau mampu hidup hanya dengan satu keahlian, beliau bisa mengkristik (cross stich, bukan kritik ya :p). Dari situ beliau bisa mendapatkan penghasilan dan bisa mendapatkan aktualisasi dirinya juga bahwa beliau mampu untuk menghasilkan karya.

Bagi saya, murid yang sukses adalah ia yang tidak pernah menyerah. Ia yang tidak kalah oleh rintangan di sekitarnya. Dan deifinisi sukses bagi setiap orang berbeda-beda, cukuplah kita saling menghargai dan membantu, tanpa perlu membandingkan.

 

Question:

“Apa yang membedakan pengajar yang sukses dan yang tidak sukses.”

Answer:

Pengajar, atau saya lebih suka menyebut dengan fasilitator. Sekolah yang memiliki fasilitas yang buruk namun fasilitator yang baik memiliki kesempatan sukses lebih tinggi dibandingkan sekolah dengan fasilitas baik namun fasilitator yang buruk. Nah, fasilitator yang baik dalam pandangan saya adalah ia yang bisa melihat kelebihan dari setiap anak dan memaksimalkan potensi anak tersebut.

Fasilitator yang baik juga tidak akan menyerah dengan berbagai keadaan dan tantangan yang dihadapi, justru ia bisa membalikkan kekurangan menjadi kelebihan bagi proses belajar mengajar.

Kelihatannya klise ya, tapi memang begitulah kenyataannya. Mereka yang sukses bukanlah mereka yang mengeluh, tapi yang mencari solusi dalam setiap tantangan.

 

Regards,

 

Enes sang Motivator

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s