FAQ #1

Question:

“Gimana rasanya jadi anak bu Septi dan pak Dodik?”

Answer:

Nano-nano! Panjang kalau diceritain semuanya, but lemme summarize it in an enjoyable way for you 🙂

Gambaran gampangnya, jadi anak orang terkenal itu harus siap dengan berbagai ekspektasi dan asumsi khalayak ramai yang (bahkan) nggak kamu kenal. Harus bisa menerima ketika orang lain hanya menggumam, “pantes, kan anaknya bu Septi dan pak Dodik,” ketika kita meraih sesuatu. Serta harus menyiapkan mental untuk komentar, “padahal anaknya bu Septi sama pak Dodik, ternyata kayak gitu ya kelakuannya.”

Dulu, ketika saya masih remaja (duh ketahuan udah tua), sering banget menghindar dan langsung blocking diri ketika ada orang yang menyangkut pautkan berbagai hal yang saya lakukan dengan bapak dan ibu. Itu pula yang menjadi alasan kuat bagi saya untuk memilih kuliah di Singapura, memulai lagi dari awal kehidupan saya, dimana tidak ada yang mengenal siapa itu ibu Septi Peni Wulandani dan bapak Dodik Mariyanto.

Ini merupakan fase penting bagi setiap remaja, menurut saya. Karena nggak hanya mereka yang anak seorang public figure, hampir setiap anak pasti pernah mengalami dibanding-bandingkan, atau dibayang-bayangi sosok orang disekitarnya. Entah itu orang tua, saudara, teman dekat, kerabat, ada aja deh pokoknya bahan untuk membanding-bandingkan satu sama lain. Dan ini bahaya banget kalau terjadi ketika masa pembentukan jati diri, bisa-bisa kalau nggak tahan, sang anak bisa melabeli dirinya “not worth it.”

Berada di Singapura menjadi turning point bagi saya untuk bisa menerima diri sendiri, bahwa saya itu berbeda dan saya itu juga berbakat kok. Hingga beberapa waktu yang lalu, saya masih kesulitan setiap kali mengisi bagian “prestasi” di CV setiap diminta menjadi pembicara. Karena bagi kebanyakan orang, prestasi itu ya yang terlihat, ada pialanya, ada piagamnya. Padahal, menurut saya, bisa hidup dengan bahagia di Singapura, menjadi anak rantau, mencari penghasilan sendiri itu adalah sebuah prestasi. Berhasil berdamai dengan diri sendiri itu prestasi. Menjadi anak yang berbakti pada orang tua itu prestasi.

Intinya, carilah bagian dari dirimu yang bisa membuatmu sangat bangga. Dan percaya bahwa dirimu itu adalah manusia unik yang paling berharga sedunia.

Seru banget deh pokoknya jadi anaknya bu Septi dan pak Dodik, tapi saya yakin, setiap orang pasti ditempatkan di tempat terbaik dengan keluarga terbaiknya. Karena setiap perjalanan itu seru, tergantung dari sisi mana kita melihatnya. So, nggak boleh iri-irian, nggak boleh sombong-sombongan orang tua ya. Hati-hati dengan kata-kata multi tafsir seperti, “tapi aku tetep lebih milih sama orang tua aku, meskipun bla bla bla, tapi bla bla bla.” Bisa jadi bermakna bahwa orang tua yang lain tidak sebaik orang tua temen-temen. Hati-hati juga dengan kalimat, “enak ya kamu orang tuanya bla bla bla, jadi bisa sukses, bisa pinter, kalo aku kan bla bla bla.” Eits, cik coba atuh ditukar orang tuanya, apakah kamu tetep bisa se-berprestasi dia? Belum tentu.

Selamat menerima diri dan lingkunganmu. Ayo bertumbuh bersama 🙂

Advertisements

2 thoughts on “FAQ #1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s