Tentang Pangandaran (1)

12 Mei 2017

Pagi ini, aku, Gungun dan Qaulan sudah sibuk kesana kemari membeli berbagai perlengkapan untuk menuju ke Pangandaran. Semalam sebelumnya, aku dan Qaulan pun sudah mulai keliling bergerilya mengambil berbagai buku yang sudah terkumpul di beberapa titik. Yaps! Kami akan membuat sebuah rumah belajar di Pangandaran. Rumah belajar pertama FIM KECE (Forum Indonesia Muda Regional Bandung) di luar Bandung, semoga lancar ya Allah.

Setelah bagasi penuh dengan berbagai perkakas rumbel, saatnya menjemput teh Elis, senior kami di FIM sekaligus seorang ventriloquist professional, untuk kemudian langsung cuss menuju ke Pangandaran.

Ini pertama kalinya aku ke Pangandaran, jadi deg-degan pisan euy.¬† Seharusnya perjalanan ini akan kami tempuh selama 6 jam, namun karena ini adalah hari Jum’at, jadi kami berhenti sebentar di Tasik untuk Gungun menunaikan kewajiban sholat Jum’at. Sembari menunggu Gungun, kami ciwi-ciwi mencari berbagai jajanan yang bisa kami makan ^^ urusan perut itu penting.

Sepanjang perjalanan kami habiskan untuk bercengkrama, saling berkenalan dan bercerita berbagai hal. Kami berhenti dulu di Banjar untuk mengambil buku dan (alhamdulillahnya dapet) makan. Dari Banjar menuju Batu Karas, Pangandaran menghabiskan waktu 2,5-3 jam, memasuki wilayah Pangandaran kami disuguhkan dengan perkampungan khas pesisir, angin yang berhembus pun sudah hawa-hawa pantai. Duh, makin tidak sabar.

Sekitar jam 7 malam kami sampai di rumah keluarga besar tante Ilva, seorang kawan dari grup homeschooling (senengnya sama group ini, sangat helpful banget jika ada berbagai kegiatan), setelah menaruh berbagai barang dan tag kamar, kami lanjut survey ke lokasi untuk acara besok. Serunya di Pangandaran, kami harus back to the old way, menggunakan GPS untuk mencari lokasi. Eits, bukan Global Positioning System yak, tapi Gunakan Penduduk Sekitar. HAHAHAHA.

Saat menuju ke lokasi, aku nyoba untuk nyetir manual, setelah 3 tahun nyetir matic terus. Dan dengan epicnya, baru mundur aja udah mengeluarkan teriakan “OY! Ini gas sama remnya sebelah mana?!”

Terus disuruh pindah ke kursi penumpang. Selesai. Gak berani nyoba lagi hahahahaha. At least, nggak dengan mobil orang lain (mobilnya luxio, gede, posisinya beda, kzl).

Back to the topic, ternyata ada miskom antara narahubung di Pangandaran dengan kami, disangkanya kami mau menggunakan penginapan koperasi, padahal kami mau nengok lokasi. Akhirnya, kami jalan-jalan di pantai (yang sedang pasang) aja malem-malem. So romantic! Hahahaha.

Perjalanan pulang kembali ke tempat penginapan kami harus melalui jalanan yang super duper gelap tanpa penerangan satupun kecuali lampu mobil kami. Di saat seperti itu, teh Elis justru bercerita horor, tentang seorang temannya yang pergi ke Bali, sebut saja dia Mawar ^^ Mawar diberitahu oleh penduduk sekitar untuk ikut berdo’a di pura, berdo’a saja sesuai dengan agama masing-masing, intinya meminta keselamatan selama berada di lokasi. Tapi, karena dia berpikir bahwa itu hanya takhayul, Mawar tidak mau mengikuti hal tersebut. Ketika waktunya makan malam, Mawar yang bertugas memasak dikelilingi oleh banyak monyet. Monyetnya tidak melakukan apa-apa, hanya diam menatap ke arah Mawar. Untungnya, salah satu teman Mawar ada yang datang dan melihat bahwa Mawar……. SEDANG MEMOTONG JARINYA SENDIRI!!!!!!

Kebayang kan pas lagi gelap pisan jalanan, diceritain begitu, kek mana ekspresi kita. Hahaha, intinya, orang lokal nows the best about their place, jadi ikutin aja yang mereka minta meskipun terdengar absurd. For your own sake, guys.

Akhirnya, malam ditutup dengan kami yang langsung tepar di kamar masing-masing. Menunggu 4 mobil lagi yang akan datang menyusul.

13 Mei 2017

Akhirnya rombongan kedua datang juga, bertepatan dengan adzan shubuh hari ini. Sebenarnya, kami mau lihat sunrise, tapi berhubung kondisinya tidak memungkinkan, akhirnya kami memilih mencari sarapan saja. Di rombongan kedua ini ada 5 orang, Litya, teh Amel, teh Nay, Umam (teman Litya) dan Abdul (temen SMP ku yang kuliah di ITB).

Lokasi penginapan kami tidak jauh dari pasar, sehingga kami tinggal perlu berjalan sedikit untuk mencari sarapan. Menu hari ini adalah nasi lengko! Murah meriah, hanya 10rb per bungkus, sudah bisa mendapatkan nasi/lontong+bihun+kuah yang yumm yumm. Berbeda dengan nasi lengko Cirebon, nasi lengko di Pangandaran lebih seperti soto, manis dan berkuah.

Selepas makan, kami langsung siap-siap menuju lokasi, karena acara akan dimulai jam 09.00. Beberapa jam sebelum berangkat, akhirnya rombongan ketiga serta rombongan Aruna (2 mobil) sampai juga. Rombongan Aruna menginap di wisma koperasi pinggir pantai Batu Karas, sedangkan rombongan FIM tetap di penginapan awal di Cijulang.

Peresmian rumah belajar FIM x Aruna dihadiri oleh ketua Koperasi Mina Karas sekaligus pemilik madrasah yang menjadi lokasi rumbel kami, kepala desa serta pengajar madrasah. Selesai acara pembukaan, kami langsung menuju ke madrasah untuk berkegiatan bersama adek-adek SD Batu Karas.

Seru bangeeeet, mulai dari sharing mengenai profesi dari Yuli Setiawan (staff Kemendikbud), Panglima Nagari (staff Limakilo) serta Indraka Fadhillah (founder Aruna Indonesia). Disini kami ingin mengenalkan ke adik-adik Batu Karas, bahwa apapun tidak ada cita-cita yang sepele dan tidak mungkin digapai, asalkan bersungguh-sungguh berusaha menggapainya. Pengenalan berbagai jenis profesi ini juga diharapkan membuka wawasan adik-adik Batu Karas bahwa setiap profesi itu penting, apalagi kalau menjadi petani dan nelayan, sumber kehidupan di negara agraris dan maritim ini.

Acara ditutup dengan dongeng dari teh Elis dan Cetta (bonekanya), luar biasa sekali kemampuan teh Elis mendongeng, bahkan kami yang sudah dewasa pun dibuat terpukau oleh teh Elis. Keren pisan lah.

Selesai acara, tim FIM terpisah menjadi dua, satu bantu nukang di rumah belajar, satu lagi menuju ke SMK Bakti Karya Parigi milik salah satu senior FIM Kece untuk sesi sharing. Edisi nukang kali ini penuh dengan keprimitifan, mulai dari masang paku pakai batu, besi, dan berbagai alat yang ada. Karna gasuka susah anaknya teh, aku samperin aja rumah tetangga buat pinjem palu dan berbagai alat nukang lainnya wkwkwk.

Menjelang ashar, akhirnya rumah belajar kami jadi juga. So proud of every effort we’ve put. Terharu.

Tim FIM melanjutkan perjalanan ke SMK Bakti Karya, sedangkan tim Aruna memilih untuk beristirahat di penginapan. Sesampainya di Bakti Karya, kami disuguhkan dengan sebuah sekolah beruangan super kreatif. Setiap ruangan memiliki tema yang unik, ada ruang facebook yang bergambarkan laman facebook berukuran besar di salah satu dindingnya, ada juga ruang musik, ruang baca, dsb. Terlihat sekali bahwa anak-anak serta guru disini sangat diberikan kebebasan untuk berekspresi. Setiap hari sebelum memulai kelas, tiap anak diharuskan untuk membaca selama 15 menit, dan ketika sudah selesai membaca mereka akan presentasi di kelasnya masing-masing.

Selepas sesi sharing, kami diajak untuk bermain game mengurai rafia. Setiap kelompok berisikan 3 orang, dan kami harus mempresentasikan yel-yel masing-masing sebelum memulai kegiatan. Kala itu, aku sekelompok dengan kang Ijal dan kang Yuli, kami menamai kelompok kami “Bajigur.”

Yel-yelnya simpel, cukup meneriakkan… “teng-tereng-teng-teng, bajigur, bajigur, bajigur, OYE!” Hahahahhaa.

Di awal game, setiap kelompok diberikan rafia kusut untuk kemudian berlomba untuk menjadi yang paling cepat mengurai. Game ini memiliki makna bahwa setiap orang memiliki masalah masing-masing yang dianalogikan dengan rafia kusut, ada yang sangat banyak masalahnya, sehingga menjadi sangat kusut rafianya dan lama mengurainya. Ada yang sedikit masalahnya, sehingga lebih cepat waktu penguraiannya. Namun, baik itu banyak atau sedikit, yang paling penting adalah kesabaran kita untuk mengurainya. Bagi yang memiliki rafia dengan lebih sedikit kekusutan, sebaiknya lah untuk saling menolong dan memberikan semangat pada mereka yang memiliki rafia lebih kusut.

Sesi berikutnya, kami disuguhkan dongeng perwayangan dari guru tersepuh di SMK Bakti Karya yang juga merupakan seorang dalang. Pengetahuan beliau dalam dunia wayang tidak perlu diragukan lagi, terlihat dari kefasihan beliau dalam menuturkan kata demi kata menjadi sebuah cerita yang mampu membuat kami tertarik sekaligus tertawa terbahak-bahak ketika satu dua lelucon disampaikan.

Berikutnya, setiap anak FIM diminta untuk memperkenalkan diri, kemudian siswa-siswi Bakti Karya akan memilih siapa yang akan mereka “culik” untuk digali lebih lanjut mengenai kegiatannya. Seru banget, jadi kayak sesi mini mentoring gitu.

Kegiatan di Bakti Karya ditutup dengan pentas karya siswa-siswi Bakti Karya yang diadakan setiap malam minggu. Ada yang menampilkan drama, lagu, puisi, dsb. Anak-anak disini sangat PD dengan kemampuan mereka, dan itu jarang sekali terlihat dari anak-anak SMP, SMA maupu SMK saat ini. Salut banget buat bang Ai yang mampu mendidik putra dan putri bangsa ini. Dan, terlebih lagi, anak-anak disini merupakan anak-anak daerah perbatasan Indonesia. Memang, di sekolah ini, anak-anak diajarkan menerima perbadaan suku-suku bangsa di Indonesia, ada anak dari Aceh, Batak, Pangandaran, dan berbagai suku bangsa lainnya. Pokoknya must visit banget sekolah ini!

Karena sudah malam, akhirnya kami pamit kembali ke penginapan.

14 Mei 2017

Hari terakhir kami di Pangandaran. Pagi-pagi sekali, aku dan segenap geng konsumsi sudah jalan-jalan ke pasar untuk membeli bahan-bahan sarapan hari ini. Yaps, kami akan masak-masak untuk hari ini. Yay!

Agenda kami hari ini full rekreasi, kami akan menikmati jasa river tubing yang dikelola oleh anak-anak SMK Bakti Karya. Setelah sarapan dan packing, kami menuju ke lokasi river tubing. Sebuah lapangan dengan joglo-joglo yang terletak di beberapa titik menjadi tempat kami berkumpul untuk mengenakan peralatan dan briefing singkat. WE ARE READY!

Yang berbeda dari river tubing lainnya, river tubing Bakti Karya langsung membuka perjalanan dengan lompat dari atas jembatan setinggi 10m. Buat aku yang emang udah lama pengen banget loncat-loncat begitu, udah kayak dream comes true banget! Langsung aja ngacung buat jadi cewek pertama yang loncat. Meskipun ketika berada di pinggir jembatan, rasanya langsung gemeter pisan. Duh, hilang semua keberanian di awal. Tapi, da udah terlanjut, malu lah kalo balik lagi. Bismillah, HAP! Eta rasanya, duh, lamaaaaa pisan sampe akhirnya menyentuh air. Tapi nagih! HAHAHAHA.

Rute river tubing kali ini super seru. Kami menyusuri goa tanpa cahaya sembari menyanyikan lagu-lagu perjuangan (ett.. berasa diujung itu bakal ditembak belanda aja kite, siap mati bosque!). Ada satu spot untuk loloncatan lagi di ujung perjalanan kami. Bisa loncat gitu aja, bisa naik ke atas pohon terus loncat juga. Dan… saya pilih yg naik ke atas pohon HAHAHAHA. Sampe orang tour guidenya nanya, “itu cewek yang loncat?”

Perjalanan ditutup dengan mengunjungi goa lanang yang cukup mendebarkan karena jalanannya yang naik turun, licin, dan kecil. Overall, kami sukaaaakkkk sekali dengan trip kali ini. Terimakasih Bakti Karya :)))

Akhirnya rombongan kami kembali ke “habitat” nya masing-masing. Terimakasih Pangandaran untuk 3 hari dua malam yang tak terlupakan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s