October Journey (4)

2 Oktober 2017 – Perjalanan Panjang

16.25 WIB

Kami berangkat menuju ke kediaman Eyang Bambang Ismawan di Bogor, jika sesuai dengan google map, maka kami hanya membutuhkan 30 menit untuk menuju kesana. Karena Eyang Bambang baru ada di rumah setelah jam 17.00, should be having enought time lah ya kita.

Namun, mobil grab yang kami tumpangi memilih jalan-jalan kecil yang katanya-lebih–cepat-sampai-dan-menghindari-macet, tapi kok ya daritadi kayaknya never ending journey gitu ya. Hmm…

17.01 WIB

Duh kok di google map daritadi tulisannya 36 menit lagi akan sampai ya. Ini google mapnya yang eror, mas grabnya yang salah jalan, apa sayanya yang ga paham-paham ya. Kulihat Elan dan Ara yang masih tertidur lelap, berharap mereka bangun dan merasakan kepanikan yang sama.

Well, seharusnya kami sudah sampai disana, lagipula janjian ketemuannya jam 17.00! huff… tarik nafas, lepaskan… tarik nafas, lepaskan….all is well….

17.38 WIB

Tetiba mas grabnya bingung karena nggak nyampe-nyampe ke lokasi tujuan. Kamipun sudah panik, seharusnya tidak memakan waktu selama ini, apa bener ini jalannya?

Buka google map, ada sedikit perubahan, yang tadinya 36 menit, menjadi 22 menit lagi. But still, it’s not helping! Because we are already late. Moreover, mas-mas grabnya malah marah ke kita, bilang-bilang harusnya udah nyampe, ini jalannya kemana, dsb. Lah? Sampeyan sehat? Kudunya kita yang marah, bukan sampeyan.

Tarik napas, istighfar, tahan… Jangan marah-marah. Laa taghdab walakal jannah.

18.05 WIB

Sampai juga akhirnya kami di kediaman Eyang Bambang, gerbang besar yang terlihat gelap dari luar tersebut terbuka, menyambut kami untuk memasuki pekarangan yang sangat luas dan rimbun. Pekarangan Eyang Bambang selalu mengingatkanku pada kampung halaman Yangti di Ngawi, penuh dengan pepohonan yang besar menaungi bagai atap dari terik matahari dan derasnya hujan. Kerikil yang tersebar di seluruh pekarangan menjadi solusi di kala hujan, sekaligus alat refleksi di pagi atau sore hari.

Tak berapa lama kemudian, muncullah sesosok lelaki lanjut usia yang sangat karismatik, jalannya masih tegap, menunjukkan semangatnya yang tak kalah dengan usia. Beliau adalah alasan mengapa kami datang mengunjungi rumah ini, Eyang Bambang yang selalu penuh dengan cerita mengenai perjuangan beliau menegakkan hak-hak rakyat kecil.

Suara beliau yang ramah dan tegas menyapa kami semua, mempersilahkan untuk duduk di kursi teras sembari mengobrol bertukar sapa dan kabar. Melalui beliau kami belajar bahwa “untuk bisa memberi, kita harus kaya. Kaya dalam berbagai hal, bukan hanya mengenai harta. Kalau harta ya jelas saya kalah dari Silvi (eyang Mami, istri eyang Bambang), saya nggak punya apa-apa. Tapi setiap ada orang yang membutuhkan bantuan, saya selalu bisa refer mereka ke orang yang saya kenal, karena saya kaya network.”

“Saya ini generalis,” kata beliau, “i know a little about many things, till I know nothing about all of that.”

“Kebalikannya adalah spesialis,” tambah Eyang, “those who knows a lot about one thing, till they know a lot about nothing. Hahahhaha.”

Selalu menyenangkan mendengar dongeng dari Eyang, banyak hal yang bisa kami dapatkan dari beliau. Bertemu dan berbicang dengan beliau menghapus kepanikan serta kekesalan kami sepanjang perjalanan. It’s really worth it after all.

There are still a lot of things we have to learn from you Eyang, we wish you to have a long and wonderful life ahead.

3 Oktober 2017 – Perjuangan

08.00 WIB

Kami bertiga memanggil mobil online untuk menuju ke stasiun Depok Lama, hari ini kami akan bertemu abah Rama, founder dari Talents Mapping (TM) di daerah Tebet. Jika lancar, perkiraan kami sampai disana sekitar jam 10.00-an.

08.30 WIB

Entah mengapa, jalan menuju ke stasiun sangat macet hari ini, padahal di hari lain biasanya sudah lowong jam-jam segini. Huft. Awal perjalanan yang sudah bikin kami gagal sampai di tempat bertemu tepat waktu, masih ditambah dengan rel kereta yang anjlok di Manggarai, membuat kereta berhenti sekitar 20 menit di setiap stasiun. Suasana panik dan banyaknya penumpang kereta membuat gerbong kami jadi sangat pengap.

Untunglah abah bilang beliau sedang tidak ada jadwal untuk hari ini, sehingga tetap menunggu jam berapapun kami sampainya. Aku hanya membayangkan kalau ada dari salah satu penumpang di KRL ini yang harus mengejar kereta jarak jauh via Gambir, bagaimana perasaannya saat ini. Ah tentunya dia akan panik sekali.

11.30 WIB

Akhirnya sampai juga di Tebet, langsung saja kami memesan mobil online lagi, suasana stasiun tidak kalah ricuhnya dengan di dalam kereta. Para penumpang yang gerah menunggu di dalam memutuskan untuk duduk-duduk di luar, memenuhi lorong stasiun. Ah… Jakarta… Jakarta…

12.00 WIB

Ketika masih di dekat stasiun jalanan super duper macet, namun semakin jauh mendekati tujuan, jalanan menjadi semakin longgar. Akhirnya, kami sampai juga di kantor abah, disambut dengan hujan yang tak bisa turun dengan santai. Kantor abah yang baru merupakan sebuah ruko tiga lantai, tidak luas namun nyaman, homie banget, saking homie-nya, begitu memasuki ruangan kami langsung disuguhi sayur bening dan gorengan buat makan siang. Seru banget deh.

Setelah saling bertukar kabar dan bercerita kesana kemari mengenai berbagai hal yang terjadi di Indonesia, terutama mengenai anak-anak muda zaman now.

13.00 WIB

Karena aku harus mengejar kereta ke Bandung jam 15.30, meski di google map tertulis hanya 30 menit dari kantor abah menuju stasiun gambir, namun kami memutuskan untuk pamit sekarang, mengingat kemacetan di luar schedule yang terjadi berkali-kali hari ini.

15.00 WIB

Tuh kan… Bener…. kami hanya tinggal 1km dari lokasi, tapi macetnya luar biasa paraaaaah. Bener-bener mandek ga jalan, kalaupun jalan sedikit-sedikit banget. Huft. Tarik napas…. Keluarkan…. Tarik Napas…. Keluarkan…. Everything’s gonna be fine.

15.15 WIB

Alhamdulillah, akhirnya nyampe juga di stasiun, langsung aja aku lari-lari menuju kereta. Kali kedua nih naik kereta dari gambir baru nyampe 15 menit sebelum keberangkatan. Ingin nangis rasanya…. Huhu… Luar bi(n)asa.

18.30 WIB

Lagi-lagi sampai di tempat tujuan disambut dengan hujan yang sangat deras. Berkali-kali mencoba untuk pesen go-blu*bird namun gagal, akhirnya aku pun memutuskan untuk pesen melalui layanan call center blu*bird. Sayangnya, aku tidak mendapatkan jawaban yang pasti dari mas-mas call center. Duh, gini-gini amat idup, mas-mas call center aja ga mampu ngasih kepastian :’ #plak

Iseng-iseng aku menuju lobby stasiun dan melihat kalau-kalau ada taksi kosong yang bisa aku pesan. Pas sampai di depan lobby, saat itu juga ada taxi yang baru menurunkan penumpang, langsung aja aku masuk. Lucunya, saat menyebutkan lokasi tujuan, mas supirnya bengong, terus bilang “lah, barusan saya jemput dari sana mbak, balik  lagi ke tujuan awal ya saya.”

HAHAHA. Hidup ini penuh dengan kejutan. Pengalaman hari ini mengajarkan saya untuk pintar-pintar menata hati, jangan terpaku  pada hal-hal negatif, namun pada apa yang harus dilakukan ketika bertubi-tubi hal yang tidak disukai datang. Stay positive and keep smile!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s