October Journey (3)

1 October 2017 – Masih di Jakarta

Selepas dari kegiatan Ibu Profesional, kami segera bertolak ke apartemen Kuningan untuk kemudian bertemu dengan bapak dan ibu. Jika ada aplikasi yang bisa melihat alur gerakan seseorang, mungkin pertemuan keluarga kami memiliki pattern yang unik. Bertemu – terbagi 2 – bertemu – terbagi 5 – bertemu – terbagi 3, dan seterusnya. Memasuki usia dewasa, aku dan Ara mulai sering memiliki kegiatan sendiri di luar kota, begitupun dengan Elan yang tidak mau kalah. Jadilah keluarga kami sering melakukan kegiatannya masing-masing di berbagai kota yang berbeda.

Sepanjang perjalanan, aku, Ara, Elan dan Rahma (anak salah seorang ibu profesional yang merupakan mantan peserta Masterchef Indonesia Junior dan juga atlit golf – duh dek, jangan terlalu bersinar, aku tak sanggup) bercerita tentang berbagai macam hal serta mengomentari beberapa pengemudi kendaraan yang melintas. Maafkan kids jaman now yang suka alay ini, hahaha.

Sesampainya di Kuningan Suites, kami langsung merebahkan badan, menghilangkan seluruh rasa capek yang melanda. Rasanya, tenagaku sudah tinggal sisa-sisa kehidupan saja. Lemes sebadan-badan karena harus membawakan materi yang baru pertama kali dipresentasikan. Tremor hayati bang~

Kami selalu menyukai apartemen ini, selain karena kamar yang bagus dengan interior yang tertata rapi, elemen paling penting bagi keluarga kami adalah: ia memiliki ruang tamu yang luas. Bagi kami yang sangat menyukai ngobrol bareng, serta sesekali mengadakan meeting keluarga, ruangan besar menjadi sesuatu yang hampir wajib sifatnya. Sesekali kami pun menonton CSI atau NCIS bersama ketika sudah lelah dengan topik serius yang diangkat dalam diskusi keluarga.

Bapak dan ibu baru sampai di apartemen sekitar jam 9 malam. Bertukar cerita mengenai betapa ibu juga grogi saat membawakan materi (yang juga baru bagi ibu) di Serang. Ah, memang kami masih harus banyak belajar. Semoga jadwal manggung selanjutnya, penampilanku sudah lebih baik lagi. Sekarang waktunya istirahat sembari menunggu si bungsu pulang dari jalan-jalan bersama gengnya.

2 Oktober 2017 – Berpisah untuk Bertemu Lagi

Pagi-pagi sekali Ara sudah siap menuju ke Bogor, meninggalkan kami yang masih lusuh baru bangun tidur. Salah satu kliennya di Spedagi sedang mantu, sebagai kenalan yang baik, ia hadir untuk memberikan beberapa kado. Karyawan teladan sekali anak itu. Sayangnya, ia pergi dengan meninggalkan banyak barang yang belum di packing dan menjadi PR bagi kita semua. Ah sudahlah~ namanya juga saudara kan, kalau nggak menyusahkan ya disusahkan #eh.

Tepat jam 10 aku dan Elan yang gantian berangkat ke Depok, anak lanang itu harus menemui beberapa temannya untuk meeting, entah apa pula yang dibicarakan, semoga sesuatu yang bisa bermanfaat bagi dirinya, syukur-syukur bagi ummat. Tinggallah bapak dan ibu di hotel yang pusing dengan banyaknya barang yang harus dibawa. Padahal, tidak sedikit pula yang sudah di oper ke aku dan Elan untuk dititip bawa melalui bulek – adek bapak. Serunya mengisi di acara IIP ya begini, penuh kejutan dan hadiah, bikin kita awet muda setiap waktunya :)))

Sesampainya di Depok, Elan langsung menuju ke Margo City, bahkan belum genap ia berpamitan denganku, sudah ngacir saja menjumpai teman-temannya. Memang tega nian dua adikku itu, ndak tau pula mereka kakaknya ini juga mau jalan-jalan ke Bogor menemui seorang teman. Sayangnya, rencana itu harus kubatalkan, karena tidak mungkin barang-barang ini bisa bergerak sendiri tanpa ada yang membawa dan menatanya dengan rapi disudut kamar seperti yang saat ini sedang kulakukan.

Rumah bulek terlihat lengang, karena separuh penghuninya sedang beraktifitas di ibu kota, tinggallah mbak Sarmi, ART bulek dan om Arief, suami bulek yang sedang cuti untuk memasang pintu jaring agar kucing-kucing tidak bisa masuk rumah mereka sembarangan. Layaknya rumah sendiri, langsung saja aku pilih spot ternyaman untuk selonjor dan guling-guling meregangkan badan yang terasa kaku setelah 1,5 jam perjalanan. Segelas teh hangat dari mbak Sarmi terasa begitu sedap di tengah siang yang mendung.

Tidak begitu lama setelahnya, Ara datang dari Bogor, meski 2 jam lagi kami tiga bersaudara pun kembali menuju Bogor. Memang sudah seperti setrikaan saja perjalanan si tengah itu. Beginilah kami, berpisah untuk bertemu kembali, atau bertemu untuk berpisah lagi. Namanya juga hidup, terkadang kita berada di jalan yang sama untuk kemudian kembali menapaki jalannya masing-masing. Disyukuri dan nikmati saja, selama masih bisa bernafas, selalu ada kemungkinan untuk menjadi lebih baik.

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s