October Journey (2)

1 Oktober 2017 – The D Day

Memasuki ruangan seminar, vibe semangatnya mulai terasa. Satu dua wajah yang tak lagi asing, senyum terkembang bersamaan dengan ratusan pasang mata yang memandang tatkala nama kami disebut. Sensasi ini, sudah lama tidak aku rasakan.

Kami bertiga duduk di bangku tamu, tepat di depan panggung. Ku perhatikan dekorasi panggung kali ini tidak main-main, bunga-bunga kertas bernuansa abu-navy ukuran besar tersebar di berbagai penjuru, tidak lupa dengan kain-kain jersey yang mempermanis panggung utama. Panitia pun mengenakan baju dan jilbab yang senada warnanya dengan dekorasi panggung. Semua terlihat apik dan ditata dengan sungguh-sungguh. Tidak heran, kemarin Mbak Ami – ketua panitia yang menjemput kami – langsung pamit ijin kembali ke lokasi acara karena panitia masih ramai menyiapkan acara.

Acara dimulai dengan sambutan dari ketua koordinator IIP Jakarta serta ketua panitia, dan dilanjutkan dengan prosesi wisuda kelas matrikulasi batch 4. Teringat ketika aku masih merupakan wisudawati kelas matrikulasi batch 2 tepat setahun yang lalu. Rasanya seru sekali berkenalan dengan banyak teman baru, serta berhasil menyelesaikan 9 NHW (Nice Home Work). Setidaknya, seorang Enes Kusuma masih pantas menyandang takdir sebagai anak ibu Septi Peni, founder IIP. Hehehehe.

Tepat sebelum sesi kami, para wisudawati mempersembahkan drama yang menceritakan dua tipe ibu yang berbeda. Yang pertama merupakan wanita karier yang menghadapi tantangan dalam pekerjaannya dan mulai merasa gelisah karena sering meninggalkan keluarga. Yang kedua merupakan ibu rumah tangga total yang bingung mau melakukan apa selain hanya bebersih rumah dan printilannya. Keduanya pun berkenalan dengan IIP dan lika-liku pengerjaan NHW nya, hingga akhirnya tanpa sadar, mereka sudah sangat jatuh cinta dengan IIP.

Drama yang di desain jenaka namun penuh makna ini sangat menghibur kami, meski aku sendiri masih tetap grogi karena akan tampil. Berkali-kali membolak-balik script, mengecek ulang apa yang harus dikatakan, mempersiapkan materi presentasi di HP, karena layar yang posisinya terlalu di depan, membuatku tidak bisa melihat isi slide berikutnya. Ketegangan sebelum maju ke depan yang berkesan serius, tercampur dengan kebodoran karena mau memakai pointer pemberian adek ibu yang super canggih tapi nirfungsi karena tidak kami pasangi batre. Semacam punya laptop canggih yang bisa download drama korea 500 episode dalam waktu 5 menit, tapi kagak ada internetnya. Percumah. Akhirnya kembalilah kami ke cara primitif, “Next mbak…”

Akhirnya, tiba juga saatnya ketika nama kami dipanggil. Ara dan Elan sudah bersekongkol untuk membuatku menjadi presenter tunggal di acara ini, mereka berdua hanya akan menjadi mesin penjawab pertanyaan peserta. Huft. Kerjasama adek memang mengerikan.

Meski sudah mencoba menarik nafas berkali-kali dan berusaha untuk setenang mungkin dalam presentasi, tetap saja keringat dingin mengalir tanpa henti, ditambah dengan tangan yang tidak berhenti bergetar. Masih bagus aku tidak mengeluarkan suara terjepit bak penyanyi falset yang salah lirik lagu.

15 menit terasa begitu lama. Tatapan mata peserta yang menyiratkan berjuta makna makin membuatku tidak karuan. Belum lagi, Elan berpesan untuk anak-anak kecil diminta tenang atau keluar, karena presentasi kali ini tergolong berat, berbicara tentang arsitek peradaban.

Selesai menyampaikan presentasi, dibukalah sesi tanya jawab, sesi yang paling menyenangkan – bagiku – karena bisa mengetahui apa yang diinginkan oleh peserta. Beberapa pertanyaan yang masih aku ingat merupakan seputar adab, HS (homeschooling), dan metode pembelajaran di rumah.

Q: Kapan kira-kira anak mulai kalem? Karena anak saya masih sangat aktif berlarian dan menanyakan berbagai macam hal.

Sebetulnya, tidak ada patokan pasti kapan anak akan kalem (serta kenapa pula anak harus kalem, emak-emak juga banyak yang pecicilan), ada banyak faktor yang bermain. Bisa dari lingkungan, tipe serta pembawaan anak, pengalaman yang sudah dijalani oleh anak, dan masih banyak lagi.

Yang perlu dikenalkan bukanlah mengenai anak harus menjadi kalem, tapi bahwa anak paham mengenai adab di berbagai tempat. Ketika di rumah, silahkan pecicilan sepuasnya, di lapangan maupun tempat bermain pun boleh. Hanya saja, ketika sedang berkunjung ke rumah orang lain, menghadiri acara orang dewasa, dikunjungi oleh tamu di rumah, dsb. anak harus bisa menempatkan diri dengan baik. Istilah Jawanya, empan papan, tau tempat.

Namun, perlu di highlight bahwa adab bukanlah pengekang bagi anak, justru dengan adab, anak jadi paham bahwa pecicilan pada tempatnya itu boleh banget (kalau di kasus ini mengenai pecicilan), bukan suatu hal yang tabu.

Q: Bagaimana metode ibu mengajarkan mengenai adab pada Ara, Enes dan Elan? Kan pasti berbeda-beda ya cara belajarnya.

Setiap kali mengajarkan sesuatu pada kami, ibu selalu melihat cara ternyaman bagi kami untuk belajar. Ketika bersama saya yang visual, maka ibu mengajarkan melalui buku-buku. Ibu yang tidak suka membaca pun juga ikut baca buku, agar bisa nyambung diskusi dengan saya. Lain lagi saat bersama Ara, doi sangat auditory, sehingga ibu akan merekamkan berbagai hal untuk didengarkan Ara saat mau tidur.

Untuk Elan yang kinestetik, selain menggunakan metode belajar sambil bergerak, ibu juga memperbanyak kegiatan yang penuh dengan gerak di awal pembelajaran. Sehingga, ketika Elan sudah capek, dia akan lebih fokus memperhatikan.

Itu tentang perbedaan cara belajar, untuk mengajarkan adab, ibu dan bapak lebih banyak memberi contoh pada kami. Setiap pergi ke acara-acara penting, atau berkunjung ke rumah teman bapak dan ibu, kami selalu di bawa. Sehingga kami tidak canggung ketika berada dalam situasi yang serupa.

Sejak kecil, kami sudah terbiasa untuk menginap di rumah saudara atau teman bapak dan ibu. Setiap kali akan menginap, kami selalu dikenalkan mengenai adab di rumah tersebut, karena berbeda dengan akhlak yang universal, adab sangatlah bervariasi. Maka, setiap akan mengunjungi tempat baru, kami sekeluarga akan bersama-sama belajar mengenai adab setempat.

Q: Apa yang dirasakan sebagai anak Homeschooling? Dan bagaimana caranya agar bisa lulus S1 di usia 18 tahun?

Disclaimer, saya hanya menjalani homeschooling selama 3 tahun, dengan 2 tahun semi homeschooling (menginduk ke sekolah payung). Sejujurnya, saya merupakan anak yang senang sekolah dari sisi non akademisnya. Ketika SMP pun tujuan saya untuk masuk adalah demi bisa berorganisasi sebanyak-banyaknya. Sedangkan adek saya yang kedua, Ara, dia sangat menyukai sekolah dari sisi akademisnya. Nilainya selalu bagus, setiap mengerjakan tugas pasti diteliti berulang kali, pokoknya the straight A kids banget deh. Barulah si bungsu, Elan, merupakan satu-satunya anak yang kekeuh memilih homeschooling sejak TK.

Bagi saya, baik homeschooling maupun sekolah formal atau informal merupakan pilihan yang sah-sah saja, tidak ada yang lebih baik satu dari yang lainnya. Karena ada 1000 jalan menuju roma, begitupun jalan menuju ke cita-cita seseorang. Sehingga, tidak perlu semua orang menempuh jalan yang sama, yang penting tempuhlah jalan yang benar untuk mencapai tujuan.

Saya bisa lulus pada usia 18 tahun, murni karena kehebatan ibu dalam mencari informasi mengenai sekolah dan kenekatan saya untuk pergi ke luar negeri. Saat itu usia saya 14 tahun dan berniat untuk keluar dari Salatiga. Kepergian kami ke negeri Singa pun untuk mencari SMA normal, atau A Level. Salah satu sekolah yang kami kunjungi menawarkan program business foundation untuk anak-anak yang akan mengambil jurusan bisnis S1 nya. Business foundation ini bisa dibilang pengganti SMA yang fokus hanya membahas tentang hal-hal seputar bisnis saja. Jika SMA biasa memakan waktu 3 tahun, business foundation hanya memerlukan 6 bulan, dan saya bisa langsung melanjutkan S1 setelahnya. Begitulah kenapa saya lulus S1 di usia 18 tahun, no acceleration, just different process.

Semoga perjalanan kali ini bisa memberi banyak insight bagi teman-teman ya :)))

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s