Tantrum

Kata tantrum merupakan hal yang tak lagi asing di kalangan para orang tua. Tantrum sendiri merupakan hal alamiah yang dialami setiap anak pada usia dini (10 bulan – 4 tahun) ketika sang anak bingung untuk mengekspresikan emosi yang ia rasakan. Ketika anak masih tantrum pada usia-usia balita ke atas, bisa jadi menandakan bahwa ada yang salah dengan pola asuh anak tersebut.

Saya sendiri dulu masih sering tantrum hingga kelas 5 SD, ketika saya tantrum, pasti saya akan mencari objek untuk dilayangkan atau dibanting. Pernah satu kali saya tidak dapat mengerjakan soal matematika dan tidak ada orang yang bisa saya tanyai, seketika saya bingung dan tidak tahu harus bagaimana sehingga emosi meluap dan menghancurkan seisi kamar saya.

Nah, sebetulnya gimana sih cara mencegah anak agar tidak menjadi-jadi ketika tantrum? Berikut beberapa cara yang dilakukan pak Dodik dan bu Septi selaku “ketua geng” Padepokan Margosari:

1. Lakukan komunikasi yang “selesai” dengan pasangan

Komunikasi yang berbeda antara ayah dengan bunda dapat membuat anak bingung sehingga semakin memperparah emosinya. Contoh, ketika anak merengek pada ibu tidak dihiraukan, namun ketika melakukannya pada ayah selalu membuahkan hasil.

Artikel mengenai pola komunikasi keluarga dapat dilihat disini

2. Ajarkan anak untuk meminta dengan baik

Sebagai orang tua anda harus tega dan mampu menahan emosi ketika anak sudah mulai tantrum. Jangan pernah meladeni sikap tantrum anak, apalagi buru-buru memberikan apa yang ia minta. Tunggu beberapa saat hingga emosinya mereda (anda hanya perlu memastikan tidak ada barang-barang berbahaya disekitarnya), kemudian ajak anak berdiskusi tentang perilakunya tesebut. Buatlah kesepakatan bersama mengenai sikap yang baik ketika meminta sesuatu.

3. Beritahukan kepada anak beberapa cara untuk menyalurkan emosinya

Karena saya bukanlah anak yang senang mengungkapkan sesuatu secara verbal, maka saya menggunakan tulisan sebagai media untuk mengungkapkan berbagai hal yang saya rasakan. Kala itu, saya diajarkan oleh ibu untuk membuat blog, dimana saya bisa mencurahkan seluruh pikiran saya dengan bebas, dan yang terpenting, orang tua bisa memantau emosi anak melalui blog tersebut.

Itu untuk kasus saya, untuk kasus putra-putri ayah bunda bisa berbeda lagi, so, let’s find out!

4. Puji anak ketika ia berbuat benar

Ketika anak sudah meminta dengan baik, maka respon anak dengan sikap yang positif. Seperti memberikan apa yang ia minta, jika belum mampu, maka anda harus menjelaskan alasannya kepada anak. Jangan sampai anak berpikir bahwa, “ah meminta secara baik juga ternyata tidak di respon, sama saja.”

5. Konsisten

Ini nih, hal yang seringkali menjadi hal yang paling susah bagi orang tua, konsisten dengan apa yang sudah disepakati. Entah karena tekanan ekonomi, emosi kita yang sedang labil, atau bisa juga karena gengsi sehingga mengesampingkan apa yang sudah disepakati.

Kembali ke point nomer 1, hal ini dapat memunculkan kebingungan dan rasa tidak percaya anak kepada orang tuanya. Tentu kita sebagai orang tua tidak ingin hal itu terjadi bukan?

 

Yang paling mengetahui tentang anak adalah orang tuanya sendiri, maka dari itu wajib bagi ayah bunda untuk mendampingi putra-putrinya terutama diumur 0-12 tahun, dimana anak masih sangat membutuhkan orang tuanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s